Nikmatnya Jadi Pekerja Metropolis

by Fadly Muin on March 23, 2011

Kedengarannya aneh. Sebenarnya saya hanya bingung mau kasih judul apa. Untuk sementara biarlah seperti  itu. Lalu apa latar belakang, alasan dan apa maksud dari judul pekerja metropolis tersebut?

Gini deh,

Coba kita perhatikan realitas sekeliling kita. Jika anda ke mall-mall, disana banyak sekali kafe-kafe. Banyak pula yang menyediakan hotspot gratis. Biasanya, ketika kita datang  sudah ada satu atau dua, bahkan mungkin tempat sudah penuh. Dan pemandangan yang ada tersebar dengan keren, pengunjung yang hadir,  sudah larut bersama layar komputpernya masing-masing.

Mereka biasanya sibuk dengan apa yang mereka lakukan didepan monitor. Bahkan, walau dalam satu meja yang di kepung oleh empat atau lima kursi lengkap dengan laptop masing-masing. Mereka seperti terasing satu sama lain. Mereka sibuk dengan apa yang sedang mereka kerjakan.

Seolah, kehadiran orang disekitarnya tidak begitu berarti dibandingkan kealpaan laptop kesayangannya. ringkasnya, mereka sudah sangat  terbiasa dengan gaya hidup seperti itu.

Jadi walaupun mereka sendirian, mereka tidak merasa kesepian. Justru mereka merasa asing, jika ada oang lain disitu, karena mereka seperti mendapatkan kewajiban untuk mengajak si teman bercakap-cakap. Jauh lebih free juka dia hanya berteman dengan laptop kesayangannya.

Oke, kembali ke laptop. Apa hubungannya dengan pekerja metropolis? Apakah realitas seperti itu salah? Menyimpang? Atau menimbulkan penyakit kota yang baru?

Justru, gaya hidup seperti itu, bisa sangat membantu kita. Mari kita liat dari sisi positifnya. Bahwasanya, kita sebenarnya tidak terlalu membutuhkan kantor untuk eksis dimanapun. Karena faktanya, orang lebih senang bekerja di kafe daripada di kantor. Karena di kafe kita merasa lebih bebas, rilex tapi tetap focus dan serius.

Yang kita butuhkan hanyalah  rencana. Kita hanya perlu memilih jalur apa yang ingin kita geluti. Jika sudah dapat jalurnya. Kita tinggal memperkuat dari segi:

  1. skill.
  2. Kemampuan management.
  3. Koneksi personalitas  yang bagus
  4. Keuangan yang memadai

Nah, dari 4 poin di atas, semuanya harus kita miliki. Setidaknya kita berusaha untuk menggenggam poin itu dalam keadaan terbaik kita. Kita bisa maksimalkan disitu.

Jadi walau kita bekerja sendiri. Tapi standar professional sudah bisa kita miliki. Walau kita tidak punya bendera perusahaan. Tapi secara personal pihak-pihak lain sudah mengenal dan mempercayai cara kerja kita. Jadi tinggal mempertahankan dan menjaga hubungan baik saja.

Nah itulah mungkin maksudnya apa yang saya sebut pekerja metropolis.

Kita tetap menikmati gaya hidup kota, tapi tidak hanya untuk gaya-gayaan. Tapi memang ada maksud dan rencana yang jelas. Sehingga, kita tidak akan merasa sia-sia mengeluarkan duit untuk nongkrong di salah satu kafe.

 

 

 

{ 14 comments… read them below or add one }

mh March 23, 2011 at 15:34

nikmat hidup di kampung mas :D

Reply

ABE Erdien March 24, 2011 at 05:42

Pendapat saya, konsep seperti Mas Fadly kemukakan itu akan efektif bagi orang yang memiliki integritas dan disiplin yang tinggi dengan profesi yang digelutinya. Tanpa integritas dan kedisiplinan, yang ada pastinya kekacauan hehe… :)

Reply

Khalid Abdullah March 24, 2011 at 05:46

setuju gan !

Reply

Erdien CSS March 24, 2011 at 05:44

Kalo tinjauannya suasana hidup, saya lebih pilih hidup di kampung yang masih asri *kampungan banget deh!* :D

Reply

Triagung March 24, 2011 at 05:45

Perubahan yang tidak bisa dihindari ya Mas, bahkan orang yang hidup dibawah kaki gunungpun bisa “menjelajah dunia” dan berpenghasilan lebih dari seorang direktur….

Reply

Khalid Abdullah March 24, 2011 at 05:51

saya setuju dengan kebebasan gaya hidup seperti yang mas paparkan, asalkan tetap fokus. yayayaya namun untuk suasana saya kayaknya lebih enjoy kalo diatas rumpur ditemani dengan semilir angin mas…. enakkkkkkk ademmmm , ( pas ada hujan rintik rintik, kaburrrrrrrrrrrrr )

Reply

Asop March 24, 2011 at 07:56

Kalau di Jakarta, bukan “pekerja metropolis” lagi, udah jadi “pekerja megalopolitan”. :D

*apaan sih*

Reply

dmilano March 24, 2011 at 09:10

salam sejahtera bung fadly,
saya suka dengan setiap postingan tentang motivasi,… banyak manfaatnya untuk memulai sesuatu.
sekalian sy blogwalking :)

Reply

Jasa SEO Murah March 24, 2011 at 10:52

menjadi pekerja metropolis perlu skill dan kemampuan bekerja keras yang tinggi

Reply

Catatan Hery March 24, 2011 at 13:08

Hehehe, gaya kerja seperti ini yang sudah 3 bulan belakangan ini aku lakukan. Hari ini kerja di cafe, besok di perpustakaan, besoknya lagi di rumah dst…

Skill pasti, time management mesti, jaringan koneksi relasi harus, keuangan memadai… tidak haruslah..kan bisa kerja dirumah kalo modal lagi cekak ;)

Reply

hasqan March 24, 2011 at 22:46

teman2 lihat ja…jika q berhasil..baru bisa q ungkap kan……..pengalaman saya di dunia maya ini…..hasan.ashari@ymail.com..
tlng di add y sobat

Reply

Arief Rizky Ramadhan March 25, 2011 at 16:37

waah ini kayaknya mirip saya, kalo ada orang lain di deket saya waktu saya main laptop agak risih kalo cuma diem-dieman wkwkwkwk…

btw lama gak berkunjung ke blog mas fadly hehe, apa kabar mas ? :D

Reply

aas maesyanurdin March 27, 2011 at 10:31

yang lebih nikmat biasanya yang kombinasi mas karena cenderung tidak membosankan. Gaya hidup metropolis individualis harus diimbangi juga dengan gaya masyarakat pedesaan yg sosialis.

Reply

budi "kelik" herprasetyo May 9, 2011 at 14:35

supaya bisa menikmati menjadi pekerja metropolis mungkin harus memiliki 3K, kemauan, kedisiplinan,ketekunan…salam kenal mas fadly..

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: