Banyak dari kita yang mengelu oleh akibat-akibat yang ditimbulkan oleh prilaku sembarangan ini.
Kita mengeluh karena jalanan macet. Sebab musababnya, karena angkot berhenti di sembarangan tempat, pengendara lain menerobos lampu merah. Metro mini jalan pelan sementara didepannya jalanan masih kosong. Prilaku sembarang ini tentu membuat kita jengkel bukan main.
Dalam konteks pemandangan keindahan. Kita tentu terganggu dengan prilaku buang air kecil sembarangn. Buang sampah sembarangan. Semua dilakukan sembarangn. Karena prilaku sembarangan ini seakan sudah mendapat perstujuan dan pembiaran yang begitu bebas. Sehingga tidak akan ada ”konsekuensi jera” yang membuat seseorang menghentikan kebiasaan sembarangannya itu.
Apalagi kalau sembarangan memasukan uang negara ke reknening pribadi. Seperti yang dilakukan Gayus dan rekan-rekannya. Uang pajak yang seharusnya disetor ke kas negara, tapi dengan prilaku sembarangan, seenaknya saja menyetor ke rekening pribadinya. Sembarangan!
Masih banyak prilaku sembarangan yang membuat kita gerah dibuatnya. Tapi ya itulah kalau sudah menjadi kebiasaan yang membudaya. Apa daya kita? Kita hanya bisa jadi penonton dan berdecak dalam hati saja.
Inilah prilaku sembarangan. Produk dari proses induvidualistis, tak suka diatur, dan cenderung kembali ke prilaku primitif. Padahal efeknya sangat luas dan berdampak buruk pada porses keteraturan sosial kita selanjutnya.
Anda bisa bayangkan bagaimana jika prilaku sembarangan ini terus menerus berlangsung di bumi pertiwi ini? Apakah kita akan merasa nyaman, puas dan suka dengan kondisi seperti itu? Saya rasa kita sudah paham banget jawabannya.
Jangan heran kalau banjir masih terus terjadi, walaupun departemen sosial terus menerus menambah alat evakuasinya. Banjir tak akan tercegah, jika prilaku buang sampah sembarangan dan tebang pohon sembarangan masih terus berlangsung. Tidak ada kepedulian, kepekaan dan sikap kritis akan nasib bumi yang samakin mengenaskan.
Lalu bagaiamana mengatasi hal ini agar prilaku sembarangan ini tidak lagi menjadi tabiat anggota masyarakat kita? Tentu saja perlu adanya aturan main yang bagus. Tata tertib yang jadul harus segera diperbaharui. Sistem check and balance itu harus di terpkan secara serius. Kalau hanya untuk takut-takutin di awal saja, percuma. Kalau hanya kejar-kejar pedagang kaki lima, rasanya kok miris.
Penguasa sebagai pemegang kendali pengaturan sosial, harusnya berperan ekstra keras. Bukan ekstar galak yah.. anda tentu paham masud saya.
Diperlukan sebuah kesepakatan sosial yang besar, yang bisa dipahami dan dimengerti. Bukan hanya dari penguasa, tapi anggota masyarakat pun harus dirangsang sehingga bisa berperan aktif. Setidaknya memiliki kesadaran dini untuk menyikapi prilaku sembarangan yang sudah mengakar didalam dirinya.
Sebagai bagian dari anggota masyarakat, kita bisa mengontrol prilaku sembarangan ini. Dengan begitu, kita pun ikut membantu mencegah akibat buruk dan terpeliharanya kondisi yang diinginkan. Supaya situasi semakin kondusif, nyaman dan memungkinkan kita untuk melakukan aktifitas lain yang lebih besar.
Jika jalanan lancar, maka berada dijalanan adalah situasi yang mengenakkan. Kita bisa membaca dalam perjalanan, tidak melamun apalagi stress dengan bunyi-bunyi klakson yang bising, teriakan-teriakan caci maki yang mengotori telinga. berada diperjalanan pada akhirnya bisa jadi sebuah aktifitas wisata..
Jika tak ada prilaku sembarangan memasukkan rekening negara ke rekening pribadi, maka kita akan bangga menjadi bangsa indonesia yang bersih dari prilaku korup.
Jika secara keseluruhan kita bisa mengikis prilaku sembarangan ini, maka bisa diramalkan, betapa indahnya bumi pertiwi ini.
Tentu saja, tidak mudah membuat sebuah formula ampuh untuk merespon prilaku sembarangan ini. Sebab, sekarang ini semua hal bisa saja dirasionalisasikan. Bisa dilogiskan bisa dibenarkan dengan argumentasi yang hebat.
Namun tidak semua bisa sesuai dengan hati nurani. Tidak semua bisa dibenarkan secara emosional. Saya yakin banyak dari kita merasa tidak nyaman oleh prilaku-prilaku sembarangan ini. Tapi karena tidak bisa atau tidak berani mengungkap semuanya, sehingga jadilah perasaan itu hanya menjadi air tenang didalam lautan hati saja.
Oke.. semoga ini bisa menambah wacana kritis kita yah…

{ 70 comments… read them below or add one }
kalu nyebrang liat kanan kiri depan belakang
liat atas juga bun, siapa tau ada pesawat lewat..
bawah juga mas
siapa tahu ada recehan hehehe
liat depan dong nanti nabrak lagi…. :cd
sebenernya susah walau tetap dibuat aturan yang pas, tegas tapi tetep dilanggar oleh manusia yang menyepakati peraturan tersebut. Jangankan aturan yang dibuat manusia….aturan yang dibuat Tuhan pun banyak dilanggar… :cd
nah.. makanya antara pembuat dan wajib hukum harus sama-sama memiliki kepatuhan moral.. itu saja kok mas Zaki
yup bener banget…saya sampe sekarang juga belom tau apa sih sebenernya dunia yang damai itu…ngeliat lingkungan disekitar, kok berasa gimannaaaa gitu. tapi untungnya sih selama ini masih bisa menjaga hati…walau agak nyeleweng juga kadang2 gara2 gak kuat dapet tekanan dari luar :malu2
perlu perenungan dikit mas
Haiiii Fad,…
klu dikembalikan,apa penyebab org bisa berprilakuku sembarang( melakukan tanpa memikirkan sebab akibat)
- Faktor Usiakah –> byk org yg balig berbuat sembarang
- Faktor Ilmukah –> tdk sedikit Org yg ber ilmu/bahkan mennyandang byk titel berbuat sembarangan
- Faktor Hartakah –> Woww byk banget org berharta berbuat sembarangan
Bahkan buaaanyak org yg tahu bahwa yg dilakukan adalah perbuatan sembarangan tapi tetep dilakukan
* Allahu a’lamubishowab*
halo bung Idrus
…
sebab musababnya tentu banyak drus.. tapi kalau mengacu pada kategori usia, pendidikan dan status sosial. tentu saja hal itu bisa berpengaruh.. semesrinya.
tapi nyatanya banyak juga kok yang notabene memiliki latarbelakang yang bagus tapi berprilaku sembarangan. jadi muaranya kembali ke logika moral drus. Allahualam sih memang
Kalau menurut saya yang paling berperan besar adalah faktor lingkungan. kalau lingkungannya bersih saya yakin orang mau berbuat kotor tidak akan berani.
ada benarnya mas dimas..
tapi kalau boleh berpendapat, disitu ada sedikit celah yg perlu diwaspadai. bahwa pada dasarnya manusia itu independen. jadi lingkungan sebenarnya bisa diatasi dengan memperbesar kemandirian, integritas dan moralitas. sehingga faktor lingkungan bisa sedikit dan semakin di kikis pengaruh buruknya terhadap diri kita.
memang sih lingkungan pengaruhnya sangat kuat. tapi insyaAllah dengan keteguhan, saya yakin kita bisa mengatasi..:)
Holaa mas Fad…salam kenal dulu..baru komentar..hehehehe…Tulisannya memotivasi saya buat terus menulis.Terima kasih ya mas…
salam kenal mbak yanti…
terima kasih, dan mudah-mudahan betah mampir kesini yah..
semua kembali pada keyakinan, bahwa kita diciptakan bukan hanya untuk memenuhi hajat pribadi, tapi juga hajat orang banyak. Tuhan suka orang baik, karena Dia telah banyak memberikan kebaikan. Ketika suatu tatanan yang sudah baik dirusak oleh sebagian oknum hambaNya,maka muncullah berbagai kerusakan baik di daratan bumi maupun lautan. (seperti difirmankan olehNya dalam QS.30:41)
salam
subhanallah….
benar sekali makna-makan yang terkandung disitu mas..
sengaja dirusak oleh order baru gan…
perusak-perusak inilah yang musti di kikis perlahan atau serentak..
sepertinya hukum di masyarakat kita sudah tdk memiliki efek jera.
harus ada solusi untuk memperbaiki ini..ada yang punya.?
harus serentak mas. dan itu pekerjaan yang butuh waktu, kemauan, keseriusan yang porsinya harus diperbesar.
Sulit memang kalau masih ada yang merasa bangga bisa mengangkangi hukum dengan berbagai alasan. Tanyakan kepada pelanggar lampu merah, kepada oknum polisi yang demen pungli atau pejabat yang merasa kebal hukum.
Mudah2an kita masih memiliki rasa malu jika melanggar hukum. Mulai dari diri sendiri, itu penting
manusia ini memang harus di atur mas. harus dihukum jika salah. makanya kenapa Tuhan menyiapkan neraka dan surga. karena Tuhan maha tau, bahwa manusia itu agresif dalam segala hal. makanya diperlukan akhlak dan aturan yang cocok untuk mengatasi kesemrawutan itu..
trims mas hery suara kritisnya.. (mana nih artikelnya? )
:cd segera Mas fadly :malu2
well memang demikian realitas yang terjadi mas. Satu2nya cara, iyalah kita yang waras..^_^tetap kekeuh bertahan untuk tidak terpengaruh ikut2an bersikap sembarangan (tetap mengontrol diri bersikap sesuai norma yang berlaku) supaya tidak menambah malapetaka yang udah terjadi :cendol
itu adalah langkah solutif paling dekat mas Alfred, saya fikir memang demikian tindakan yang perlu kita bangun sedini mungkin
kalo nyepam termasuk perilaku sembarangan gak mas, berhubung kadang kita gak ada unsur sengaja, hanya si aki aja yg kegenitan nangkep komeng kita
si aki minta sesajen mas
iya dong. nyepam itu prilaku sembarangan.. kalai si aki sembarangan, mungkin karena ada faktor x yg kita ga tau
bukan sembarang mas tapi semberono wkwkwk….
ok deh … :p
Dimulai dari diri sendiri pak
…. hikss hikss…
yang lia lihat prilaku sembarangan juga timbul karena ada yang memulai dan tidak ada yg mengambil tindakan tegas.. jadi secara alami yg lain juga ikut2an…
susah memberantas jika prilaku emosional telah mendarah daging…dan juga kebanyakan dari kita tidak mau mengambil resiko menjadi “pahlawan kesiangan “…..
Semoga kita semua tidak latah ikutan berprilaku seperti hal2 diatas ^_^
iya.. situasi ini sudah seperti udara.. dirasakan tapi tak bisa dilihat apalagi digenggam..
yang perlu dilakukan adalah membuat sirkulasi yang sehat, agar “udara” seperti itu bisa tersaring dan bersih
trims mbak delia, pendapat terdalamnya
Kembali ke diri masing-masing mas … bagaimana pun juga yang membuat maju bangsa kita adalah diri kita sendiri sebagai tuan rumahnya
betul mas teten.. apa khabar nih? sudah lama kita tak saling menyapa yah
Hmm, tulisan yang sangat bagus untuk jadi bahan renungan mas.
Semuanya memang harus berawal dari diri sendiri. Masalahnya ialah terletak pada masih rendahnya kesadaran. Entah itu kesadaran lingkungan, kesadaran moral, ataupun kesadaran nurani untuk berperilaku jujur.
Semuanya berkaitan dengan tingkat kesadaran manusia tersebut yang masih belum mencapai level kemanusiaan utuh. Boro-boro mau mencapai level kesadaran Ilahi :amazed:
saya petik poin pentingnya, “Kesadaran”
hal ini memang penting bahkan sangat penting mas is. hanya saja, menyadari dan menumbuh kembangkan kesadaran dalam diri kita, diperlukan rangasangan besar.. apalagi dalam situasi seperti sekarang ini.
setidaknya, sekali lagi saya sepakat dengan rekan-rekan diatas, dimulai dari diri sendiri, sejak dini.
Benar kak, jangan asal usil kalau nggak ingin diusilin nantinya. :thanks2 :peluk
saya suka usil lho :hammer
yes….mariska
yang usil biasanya, memang senang dengan “keterkecohan” orang lain
Sy Rasakan Perilaku diatas paling terasa saat Pulang KeJkt mas, Asli semrawut banget. Sementara dibeberapa daerah diluarkota, mulai dari Sumatra, Sulawesi, dsb. Masih banyak Sy temui perilaku yg jauh lebih beradab dibanding Orang2 diKota besar spt Jkt. Fenomena apakah ini? :bingung
ini fenomena keteraturan sosial yang sudah tercabik-cabik. penolakan secara massif akan aturan normatif..
kalo sesuatu keburukan sudah menjadi perilaku massa, obatnya biasanya berupa adzab…na’udzubillahi min dzalik
sebelum itu terjadi memang harus ada langkah konkrit
mulai dari diri sendiri, lalu keluarga, kerabat, teman-teman (termasuk teman ngeblog) dst …
jangan bosan suarakan terus apa yang mas fadly tulis ini
meski kadang seperti memukul udara, kadang juga membentur tembok (beton lagi)
betul pak, kalau dikatakan ini seperti menepuk angin atau meninju tembok kokoh. rasanya sakit dan hampa. tapi jika kesadaran ini (sprt komen mas iskandar) dibangun dan diperbesar. maka saya yakin efek positif tektonik akan terasa dikemudian hari..
Kebanyakan orang saat ini hanya bisa menghujat dan menghujat. Menuduh sana-sini. Tetapi lupa memerhatikan diri sendiri yang menyimpang dari jalur yang benar. Jika keadaan seperti itu terus berlangsung, maka perilaku sembarang akan terus berlanjut pula.
Dalam hal banjir misalnya, orang menghujat pemerintah yang tidak benar dalam mengatur daerah aliran dan resapan air, ada juga yang menyalahkan daerah lain dengan istilah “banjir kiriman”. Sementara diri sendiri masih gemar membuang sampah sembarangan ke sungai atao selokan, ada pula yang membuat tempat tinggal di daerah aliran dan resapan air.
Hal itu terjadi karena tidak ada rasa mawas diri
sebuah contoh yang sangat realisits mas erdien.. terima kasih atas tambahan yang lengkap ini
begitulah kira-kira salah satu motivasi saya menuliskan artikel ini..
Mas, komentar saya kayaknya masuk folder spam. Mohon dibebaskan yach. Kalo udah bebas, yang ini dihapus saja deh :tkp
sudah dibebaskan mas, tanpa syarat
jangan2 artikel ini muncul gara2 liat kenek metro mini yang kencing sembarangan di dpan busnya wekekekke
weq…. udah ga mampu bayar toilet umum atau udah kebelet tuh ? :ngakak
karena tidak bisa mengontrol diri saja rief…. :cendol
wahahahaha…..! saya rasa salah satunya iya
tapi, secara keseluruhan banyak kok mas fakta-fakta lapangan yang bisa memotivasi saya menuliskan ini..:)
salam sahabat, salam blogger indonesia
la terus kalo tindakan nyepam gimana tu?? :tkp
dibabat aja deh kalau spam
mari kita hindari perilaku sembarangan ini.. mulai dari yang terkecil sampek yang guedi.. biar negara kita tidak disebut negara sembarangan.. (hayah.. sembarangan aja komenmu crit..)
yuk……!
amin.. amin crit
diem,ceming, dan jadi ingin berubah untuk lebih menertibkan diri juga…
artikel yang penuh semangat berapi-api nich mas Fadly !!!! mantap !
yang bikin berapi-api ini karena gairah mas Khalid yang begitu bergemuruh .. ceile,…..:D
ass,pa kbr mas Fadly…?
singkat aja mas jawaban sy,itu semua krn g ada SELF RESPECT…
makin mantabbs nih blognya smpe Gayus pun mejeng dsni,hehe… :cendol
walaikum salam. khabar baik, bagaimana dengan dirimu mbak Sari, baik juga kah? semoga yah..
singkat dan tapat sasaran mbak sari.. maksih
Yang eni Mah kunjungan pagi aza Mas
pantau artikel terbaru yah mas? ntar yah lagi mau submit nih
Makanya saya ga mau sembarangan mas Fadly ….he..3x
he he he… iya bener mas nanti sembarangan masuk ruangan juga bahaya
sepertinya yang juga diperlukan adalah rasa malu
jika ada rasa malu maka untuk melakukan hal yg buruk dan melanggar aturan tentu akan berpikir berat untuk melakukannya.
maaf kalau komentar saya kesannya “sembarangan”
rasa malu? ini sih bukan komentar sembarangan mas
tapi tepat sasaran.
hanya sayang, rasa malu dinegeri ini ditempatkan pda hal-hal yang bersifat status dan tahta. dengan kepemilikan harta, semakin banyak harta dan semakin tinggi tahta, maka rasa malu akan semakin kecil.
Hanya menyimak saja Mas Fadly, tak bisa berkomentar lagi :norose:
masih dinas mas Aldy? semoga happy yah
Terima kasih atas panduan rambu-rambunya Mas Fadly. Semoga membuat saya lebih hati-hati dalam “meniti” kehidupan di alam dunia ini.
perilaku semacam itu harus dibuang jauh-jauh dari kita.
Perilaku yang sembarang akan membuat kita tidak disiplin sehingga semuanya itu akan membawa kita ke arah yang tidak baik.