Saya tidak ingin bicara kemiskinan yang jauh di luar sana, saya ingin bicara kemiskinan yang ada disekitar kita. dimana kita biasa beraktifitas. mulai dari berangkat ke kantor sampai pulang lagi ke rumah. pengemis ada dimana-mana. dilampu merah, di tempat makan, di halte, di bus kota. tampat-tempat umum, sangat ramai di “kuasai” oleh pengemis.persis seperti lagunya Iwan Fals.
saat ini tidak sulit menemukan orang-orang miskin yang secara ekstrim memperlihatkan kelemahannya di hadapan umum. mengemis atau meminta-minta. itulah cerminan kemiskinan paling menyakitkan sepanjang sejarah kehidupan manusia. sungguh, suatu pernyataan sikap yang sangat.. bagi saya, sangat mengerikan!
ada dua sikap yang paling menonjol saat berpapasan dengan seorang pengemis. Kasihan! atau Masa Bodo!
saat kita melihat dengan perasaan kasihan, itu berarti sisi nurani kita mulai tersentuh. dan saat perasaan masa bodo yang muncul, itu berarti sikap rasional kita yang menonjol.
melihat dengan perasaan miris. pakaian compang camping, cacat, membawa anak kecil. benar-benar mengenaskan. tidak adakah sarana yang paling ampuh yang bisa mengatasi keadaan seperti itu? ada apa sebenarnya dengan fakta sosial yang menyakitkan itu? apakah sudah begitu lemahnya manusia pengemis, sehingga ia harus merelakan harga dirinya dengan cara meminta-minta belas kasihan? berusaha dan pantang menyerah agar bisa menyentuh sisi baik orang lain. seakan tak perduli dengan sikap acuh orang lain.
suka tidak suka, itu fakta!
itulah refleksi sosial yang tak dapat di ingkari.
lalu apa yang bisa kita lakukan terhadap nasib saudara-saudara kita yang terlanjur meniti karir di jalur ngemis?
Yang paling mungkin kita lakukan adalah,berusahalah agar tidak terjerumus didalam lingkaran (maaf) mental pengemis.
Karena bisa jadi, realita pengemis hanya dijadikan sebagai sarana kritik terhadap pihak-pihak tertentu, yang dilakukan oleh pihak tertentu pula. tanpa adanya suatu perubahan dasar dalam diri masing-masing orang.
Walaupun dalam mekanisme keteraturan sosial, kritik dan saran diperlukan sebagai alat check and balance, tapi, kalau kritik dan saran hanya berada pada perbincangan kosong, apalah gunanya. hanya bisa dijadikan retorika dengan tujuan-tujuan yang tidak ada kejelasannya.Tidak memberikan perubahan spiritual yang berarti.
Lebih baik, mari kita melihat kemiskinan ini sebagai suatu fakta. Terjadi karena adanya suatu proses dan benturan sosial yang lepas kendali. yang tidak bisa di kontrol oleh penguasa sekalipun. yang bisa merubahnya hanyalah orang yang bersangkutan. pihak-pihak di luar itu hanya bisa memberikan rangsangan positif agar mereka termotivasi dan bisa keluar dari lingkaran kemiskinan.
Teman-temanku, maaf saya harus bertanya soal ini,
Bagaimana anda menyikapi fakta kemiskinan disekitar anda?
Mari kita berbagi….
Share



{ 43 comments… read them below or add one }
bagi saya jika berpaspasan atau ketemu pengemis,,ya pasti rasa kasihan yang muncul dalam pikiran..apalagi jika pengemis tersebut sudah tua, gak mungkin lagi dia untuk bekerja..tapi jika masih muda jarang skali saya memberi..dengan kita selalu memberi mereka(yang muda) maka mereka akan semakin malas, dan mengemis alkan dijadikan pekerjaan sampai tua, tanpa mau merubah nasibnya lagi…
salam sukses selalu
Rasional banget mas..
Memang dalam bersikap, diperlukan sikap-sikap yang pas, sesuai dengan prosinya.
Salam Hangat Sobat
Fenomena pengemis, hmmm…Sangat aneh memang dinegara kita pengemis sudah dijadi suatu profesi. Kalo saya pribadi menganggap fenomena ini salah. Karena banyak dari mereka yang berprofesi sebagai pengemis justru dengan kondisi segar bugar, yang notabene masih bisa memberikan/menjual jasa.
Ada orang yang membutuhkan uang, ada juga orang yang membutuhkan jasa. Maka itu manusia ditakdirkan untuk saling memberi dan menerima.
Salam sukses
bisa karena biasa.. karena sudah menjadi budaya. akhirnya mengemis dijadikan sebagai profesi…
yang penting kita bisa memetik hikma dibalik fenomena pengemis itu..
Salam Hangat Sobat..
Salam hangat Mas Fadly..
berbicara soal pengemis memang terkadang membingungkan…
betul sekali antara 2 sisi yang berlawanan akan muncul saat kita menemukan pengemis..
tapi beda soal seperti yang saya alami..setiap hari..
di tempat saya,,hampir setiap hari ada sekitar 10 pengemis per hari yang mampir menyiapkan telapak tangan untuk menerima uluran tangan kita..dan setelah saya amati tanpa membutuhkan wktu yang lama,,hampir dipastikan kalau pengemis2 itu adalah orang yang sama..(90% dari mereka terlihat bugar)
terkadang,,hati saya ragu apakah ikhlas memberikan sedikit uang untuk mereka,,seolah olah mereka punya (jatah wajib) atas kita..karena saat saya tidak memberi, muka mereka berubah masam..kusut dan seolah benci sekali melihat saya..
sekarang,,saat saya akan mmberikan sebagian yang sya punya,,saya harus memohon” Ya Allah, semoga pemberianku ikhlas”…
terima kasih untuk artikel ini…
semoga ini benar – benar menjadi pembelajaran buat kita semua..agar kita yang masih sehat bisa memanfaatkan untuk meraih kebaikan-kebaikan..AMiiinn
Untuk Mas Fadly,,maaf kalau komentarnya kebanyakan,,terlalu bersemangat,,hehe…
salam kenal buat semuanya
Salam Hangat Mas Ari..
itulah realita, karena mengemis sudah dijadikan sebagai profesi. jadi mereka menganggap ada suatu keharusan bagi orang lain untuk mengasihaninya. padahal mereka lupa bahwa mengemis bukanlah pekerjaan permanen…
Komentar yang sangat lengkap..
komentar panjang juga tidak apa-apa mas, yang penting berkaitan dengan artikel yang di bahas.
Salam
menurut saya kemiskinan harus dibrantas, namun tidak semudah itu karena beberapa faktor:
1. mental pengemis itu sendiri
2. faktor luar seperti tidak tersedianya pekerjaan. Mungkin ini naif, karena ada orang berkata” kerja apa saja kan bisa?” Tapi realita tidak semudah itu… Di sinilah pemerintah berperan dalam menyediakan lapangan kerja. Lihat lah banyak sarjana yang nganggur dan apakah dia harus bekerja seadanya ? misal jadi buruh atau kuli bangunan dsb.. klo misalnya iya.. saya yakin dalam hatinya mereka tidak terima atas usaha bersekolah selama ini.. siapa yang salah??? apakah para sarjana tidak pernah nglamar kerja?? atau lapangan kerja yang nggak ada buat mereka???
pertimbangan yang realistis mas Zam..
masalah mental dan budaya sudah susah di pisahkan.
mana yang budaya, mana yang mentalitas. karena keduanya sama-sama membentuk dan mendeskripsikan kondisi sosial
pertama: harus rajin.. rajin baca, rajin menulis dan rajin belajar hal2 yang baru
kedua: harus sadar diri, bahwa segala sesuatu di dunia ini pasti ada awal dan akhir, belajar dari awal untuk berhasil di akhir tujuan
ketiga: harus mau tahu, bahwa tidak ada yang instant di dunia ini.. semua harus mulai dari nol
keempat: harus mau bangkit jika gagal..
kelima: harus percaya kepada sang pencipta dan kepada diri sendiri
keenam: harus setengah isi dan setengah kosong, sering2 bertukar informasi, dan merasa diri harus terus belajar, gunakan ilmu padi
ketujuh: lama2 ini jadi artikel yaw? wakakaka.. harus berani nyontek ide orang lain, tapi diapresiasikan dalam karya sendiri
dsb
Saya suka deh kalau Mas Hengky sudah bicara filosofis dan inspiratif seperti ini…
thanks ya petuah-petuah berharganya Mas..:-)
Sepertinya PENGEMIS itu terbagi menjadi dua kelompok, yaitu: Pengemis yang betul-betul pengemis dan Pengemis yang hanya dijadikan profesi.
Perbedaan ini tentu harus disikapi secara berbeda pula. Untuk golongan pertama, saya lebih cenderung sepakat dengan komen Mas Yanuar namun untuk kelompok ke dua, inilah yang justru terkadang menjadi biang masalah dalam masyarakat.
Memang ada benarnya bahwa tangan di atas akan jauh lebih baik daripada tangan di bawah, namun akan lebih bijak tentunya jika kita tahu sudah tepat atau belum tindakan kita dengan bersikap tangan diatas kepada kelompok ke dua.
Salam Istimewa!
itulah yang masih menjadi sebuah dilema sikap.
ada semacam rasa bersalah, jika memberikan sedikit uang kepada kelompok pengemis tertentu.
“apakah sikap kita sudah tepat atau belum”. inilah masalah yang sama-sama harus kita jawab.
Salam Hangat Sobat,
1. Sesekali, boleh lah kasihan pada pengemis, tetapi yang bener2 sudah tidak bisa mencari dengan berusaha menggunakan kekuatanya, fisik terutama. karena tdak ada salahnya shodaqoh..
2. Kalau mampu beri mereka pengertian dan pekerjaan ( lha.. saya aja susah nyari kerjaan,hehehe.)
3. Bener Mas Hengky.. Keep Learning every single day kayak yang di bilang Donald Trumph..
Salam Kenal Mas…
boleh deh… semoga saja tidak menjadikan mental pengemis semakin berkepanjangan..
Salam Kenal Mas Ahmad
Thanks Mas… Akhirnya Di balas juga.. Karena saya termasuk orang yang berpendidikan minimal, saya ingin berteman dengan orang2 yang ilmunya banyak.. biar ketularan Pinter, Dan biar ketularan mental Orang Kaya..
Sukses.. Mas..
saya acungkan jempol atas semangat belajar Anda Mas Ahmad.
Mari sama-sama kita pelihara suasana positif.
Sukses Ya Mas Ahmad
Salam Hangat
Selamat Pagi Mas Fadly, Artikelnya sangat menyentuh.
Benar Mas, kalau kita melihat pengemis dimana-mana kita menjadi prihatin.
Saya pernah survey bersama rekan-rekan melihat kehidupan mereka di jalan, memang pekerjaan mereka peminta2 tetapi mereka tetap mengikuti trend, seperti penggunaan Hand Phone, Waktu itu saya pernah berbicara dengan seseorang pemulung yg dekil dengan membawa karung tiba2 dia mngambil Hand Phone dari saku celananya kemudian dia malu2 untuk menerima telepon mungkin dari temannya (Serie HP nya pun baru ). Belum habis rasa aneh kami, kemudian saya melihat seorang pengemis yang sangat dekil berteduh disebuah pinggiran toko kebetulah lagi turun hujan dia sedang menelepon mungkin dng teman nya juga sambil tertawa 2.
Memang mereka tinggal di emper2 toko dan kolong jembatan, tetapi peminta-minta dan sebagai pemulung dijadikan Profesi untuk mencari uang dikota-kota besar, mungkin saja dikampung halaman mereka justru mempunyai tempat tinggal yang layak. Jika kita memanjakan mereka untuk terus memberi uang membuat mereka menjadi malas mereka terus Ter Motivasi karena mempunyai prinsip besokkan kalau kita minta 2 pasti ada yang memberi, itulah yang mereka ajarkan kepada anak-anaknya.
Jadi kesimpulan saya, kalau kita mau membantu mereka kita harus tahu dulu apa benar mereka miskin dan membutuhkan bantuan, sebaiknya bantulah mereka dengan memberkan lapangan kerja.
Salam sukses Mas Fadly.
ini lebih menarik lagi dong mas..
fenomena gaya hidup pengemis. saya pernah dengar cerita seperti itu. saya fikir itu cuman perasaan sinis saja. ternyata, mas Iwan membawa berita yang lebih valid..
semoga kita terhindar dari mental seperti itu.
Salam Hangat Sobat,
POVERTY…
mas fadly, ijin ya… saya bekomentar seperti short paper.. saya akan bahas sedikit pengalaman saya saat penelitian di daerah terpencil, kawasan transmigrasi lokal di daerah cianjur selatan. kasusnya mirip sekali dengan posting mas fadly. Masalah kemiskinan. Penelitian itu tahun 2007. Dan kondisinya daerah tersebut sangat miskin. Mereka memiliki tanah yang luas 2ha perkepala keluarga. tapi apa yang mereka miliki? tidak ada. mereka mengadu ke “ANGGOTA DEWAN YANG TERHORMAT” (semoga para pembaca posting ini mengerti siapa anggota itu) yang terjadi hanya sebagai bahan komoditas politik. kehidupan mereka tidak ada perubahan. pemerintah turun dengan penelitian “RISTEK” yang terjadi hanya ketergantungan dengan pemerintah. menanggapi istilah mas fadly “lingkaran (maaf) mental pengemis”
kejadiannyapun sama. akhirnya saya punya kesimpulan. Begini:
1. Setiap Orang tidak mau terlahir dalam keadaan miskin. Bukan dirinya yang menyebabkan keadaan itu.
2. Negara ini sudah terlalu “Miskin” yang akhirnya mengarah pada “Orang Kaya Semakin Kaya, Orang Miskin semakin Miskin”
3. Mengapa Negara ini kuantitas penduduk miskin semakin banyak? karena penduduk ini dibiarkan tidak memiliki “ILMU” yang banyak. kesempatan untuk mendapat pendidikan layak masih sangat minim.
4. Masih berstandar pendidikan 6 Tahun. Bahkan ada paradigma baru untuk bangsa ini.. Sekolah cukup sampai SMA. Toh lulusan SMA saja bisa jadi Presiden buat apa cape2 sekolah tinggi2. (Paradigma ini harus disikapi dengan bijak, jangan dijadikan standar)
Poin 2 sampai 4 itu hasil survey ya… jadi saya juga muohon komen yang sesuai… mungkin hasil survey yang pernah saya lakukan salah…. saya dengan senang hati menerima kesalahan dan koreksi teman2…
mas fadly terima kasih… saya komen panjang sekali… hehehehe…. tks mas…
he he he… bisa jadi satu artikel nih mas Boy.
tapi tidak apa-apa, kalau itu bisa memuaskan mas Boy dalammenuangkan fikiran.
Kalau sudah masuk pada zona implementasi-survey, sepertinya saya harus menjawabnya dalam bentuk artikel nih.. tapi ga sekarang yah mas. jadi PR deh, gapapa khan mas..??
Halo Mas Fadly,
Sepertinya hampir semua komentator berpendapat bahwa ada 2 jenis pengemis, yaitu mereka yang betul-betul mengemis dan mereka yang menjadikan pengemis sebagai suatu profesi.
Ada 1 lagi sebetulnya, yaitu mereka yang memiliki mental pengemis.
Saya pribadi tidak terlalu peduli dengan keberadaan mereka. Orang-orang seperti itu akan selalu ada disekeliling kita dan dimana saja, bahkan di negara maju sekalipun.
Bagi saya jika kita ingin bersosial, mulailah dari hal-hal kecil terlebih dahulu, yaitu dari saudara-saudara, tetangga dan teman-teman.
Salam sukses luar biasa Mas Fadly.
akhirnya… target yang saya maksud terserap juga oleh mas Arswino..
Bener Sekali Mas. Mental pengemis inilah yang paling berbahaya…
Andai bangsa ini kaya, mungkin ga akan ada pengemis (maksudnya baik secara fisik or mental) karena perpedoman dengan apa yang mereka liat, para wkil mereka di atas sana hanya sibuk mengemis jabatan dan untuk dapat kursi, kan malah jadi kebalik balik sekarang yang pengemis rakyat atau para wakilnya (tersirat dan tersurat), salam sukses mas
pemikiran seperti itu ada benarnya Mas Muklis..
Namun lebih baik kita fokus pada pengembangan diri kita. biarlah kondisi sosial kita jadikan sebagai motivasi inheren, dan kita jadikan sebagai penyulut semangat kita..
Salam Hangat Sobat,,
Thanks for article. Everytime like to read you.
Benar Mas…, keinginan berubah ybs yang menjadi kekuatan utama untuk berubah meniti jalur non pengemis.
Di Purwokerto dulu ada pengemis yang “bekerja” berdasarkan “target” pribadi. Kalau sudah mendapat uang “sekian”, meskipun masih pagi ybs akan pulang.
semua itu tergantung dari niat dan obsesi kita mas hade.
Salam Hangat Sobat
Ngomong-ngomong masalah pengemis ini sangat kental dinegara kita ini ya,mungkin ini berawal dari sebuah pelajaran yang diberikan oleh para oknum pejabat kita yang suka ngemis-ngemis ke daerah,untuk dibagikan tender atau sejenisnya.
Tapi ada cerita yang asli dari Daerah Madura, satu kampung hampir 85 % penduduknya pengemis, ini pernah diberitakan di sebuah TV swasta, tapi itu semua sebagai profesi, bahkan dari hasil ngemisnya itu ada yang sudah ber Haji
Kira-kira gimana ya kalo ini ditiru di daerah lain ?
Salang Sukses selalu mas
mirip dengan pegalaman Mas Iwan yg sudah melakukan survey..
Makin lengkap deh sudah. bahwa Mengemis adalah salah satu profesi yang masih menjanjikan.. Edan!
Salam Hangat Sobat.
Kalau aku liat sikon mas. Kalau pengemisnya udah tua, simpatik. Tapi kalau masih muda, udah gitu segar bugar, miris. Kenapa? karena seharusnya masih banyak hal yg bisa dilakukan daripada mengemis.
Yg lebih memprihatinkan lagi, pengemis udah jadi satu profesi yg bisa dikelola dengan management yg baik. Masih terekam di benak saya, ulasan Koran Jawa Pos yang mengulas masalah management pengemis.
YG memanage sampai punya CRV lho. Jadi kaya semacam organisasi pengemis. Whats… mau jadi apa bangsa ini kalau generasi penerusnya bermental pengemis semua!
Salam Sukses,
Arief Maulana | Student of Internet Marketing School
jelaslah sudah, bahwa fenomena pengemis ini. perlu kita sikapi tidak hanya menggunakan pendekatan rasa iba/kasihan. karena banyak sisi lain yang bisa kita lihat dan kita benahi. setidaknya dimulai dari diri masing-masing..
Salam Hangat Sobat,
Nb: Mulai ikut Asian Brain lagi mas?
Mengemis dan Pengemis memang suatu fakta yang tidak bisa kita hindari, oleh karena situasi ekonomi dan sosial akhir-2 ini sungguh sangat menunjang untuk setiap orang melakukan tindakan mengemis dan menjadi pengemis, coba perhatikan disetiap per-4 an jalan sekarang, 10 tahun yang lalu fenomena “An-Jal” ini belum terasa sama sekali tapi saat ini angkanya sungguh fantastis, ini juga karena ulah segelintir manusia yang tidak bertanggung jawab, ini juga akibat konsekwensi kemajuan dalam ilmu managemen, yaitu me memenege orang untuk menjadikan mereka pengemis…..!?? sekali lagi semua tergantung bagaimana kita menyikapi hal ini secara lebih dewasa lagi.. terserah anda.
sebaiknya kita petik yang baik, dan kita pangkas yang jelek.. setuju ?
Pengemis, fakta yg gak bisa dipungkiri bahwa pengemis sudah seperti pekerjaan yg diwariskan dari generasi ke generasi. Memang jika kita melihat dari kaca mata pribadi kita, sudah seharusnya kita menghindari sikap mengemis.
Suka atau tidak suka itulah variasi hidup ini. Semua berbeda antara satu dengan yg lain. Ada yg kaya, ada yg miskin. Ada yg bahagia, ada yg sedih. Ada yg berhasil, ada yg gagal. Tidak akan bisa semua menjadi bahagia… Tidak akan bisa semua jadi berhasil… Tidak akan bisa semua jadi kaya…
Karena itu adalah ketentuan dari-Nya. Tinggal bagaimana kita saja yg panda dalam mensyukuri apa yg sudah kita dapatkan. Ketika kita mendapat sebuah pendapatan yg mungkin kurang, syukuri. Selalu ingat : masih banyak yg belum beruntung dari saya.
SYUKUR.. SYUKUR.. dan SYUKUR… supaya kita terhindar dari sikap mengemis.
Artikel yg luar biasa mas Fadly..
kuncinya banya2 bersyukur dan ihtiar. jadikan fenomena sosial sebagai gesekan api yang menyulut semangat kita untuk berubah..
Makasih ilustrasinya mas Ardy..
Ya mas fadly. Dulu sbenernya ga pengen stop dari AB. Tapi duit kburu hbs. Namanya jg newbie, jd lum ada income.
Skrng alhamd bs nutup biaya bulanan AB. Yg luar biasa, bnyk perubahannya mas. Beda jauh ma materi2 yg dulu sy dapet. Jadi g rugi, walau start dr bln pertama lg.
Salam sukses,
arief maulana | Student of Internet Marketing School
berenti jadi murid Joko Susilo, masuk ke sekolah Anne Ahira.. Lutvi Avandi mau dikemanain mas?
saya senang dengernya.. Sukses yah Mas Arief.
pengemis tu bukan hanya butuh recehan tapi juga butuh bimbingan biyar bisa maju!!
setuju…
barangsiapa keluar rumah untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarganya dan dijauhkan dari sifat meminta-minta (mengemis.red) maka ia sudah berjuang di jalan Allah…So, hindari sifat ini tapi jangan sepelekan seorang pengemis…Justru pengemis inilah yang sedang berusaha membersihkan harta kita….kadang kita tdk menyadari hal ini.
salam…
satu lagi petuah mulia lahir dari mas Agung.
Patut di renungkan mas.. Thanks yah
kedua-duanya bisa menjadi motivasi dan media kritik