Mengkritik dan di kritik. membongkar dan di bongkar. Akan memposisikan dua orang atau kelompok yang saling berbenturan antara dua kepentingan yang sama-sama krusial.
Sebenarnya banyak sekali contoh disekitar kita untuk menyadari prilaku kritik mengkritik ini. Di ranah politik, sekarang lagi hangat kasus pegawai pajak yang punya duit tidak wajar yang sangat besar. Informasi itu datang dari seorang Susno Duaji. Seorang yang bukan dari kalangan awam. Pahit manis dunia hukum tentu saja sudah bagian dari kehidupannya sebagai anggota polisi.
Namun sayangnya ia di cekal dengan prilaku kode etik yang secara institusional dianggap melanggar tata etik yang berlaku di instansinya. Sehingga issu nasional yang muncul adalah antara ”pelanggaran kode etik” dan ”adanya mafia kasus yang terjadi di tubuh polri”…
Kita sebagai masyarakat, tentu dibuat penasaran oleh hal ini. Sampai-sampai ada issue untuk memboikot membayar pajak. Khawatir akan diselewengkan kemudian. Reaksi yang masih terlalu dini menurut saya.
Saya mencermati ini sebagai bagian dari prilaku politik para elit kita. Kita diajak berfikir keras untuk melihat siapa yang benar dan siapa yang salah. Kita diajak untuk memperdalam pengetahuan tentang hukum. Dan belum tentu mayoritas masayarakat mengerti aturan hukum yang berlaku.Apalagi menyangkut hal-hal yang detail. selama ini kita hanya membaca dan menonton dari media massa yang ada.
Tentu saja, yang tidak biasa membaca pelajaran tentang hukum akan bingung tujuh keliling. Siapa yang benar dan siapa yang salah sebenarnya. Kondisi ini menguntungkan pihak-pihak tertentu yang memiliki keahlian untuk membentuk opini publik. Makanya yang kita tonton adalah pernyataan-pernyataan yang mencerminkan bahwa ”bukan saya yang salah, tapi Dia!”.
Perdebatan yang cukup melelahkan untuk diikuti. Tapi juga sekaligus membuat kita kritis akan situasi nasional kita.
Bisa jadi, karena kelelahan dan juga ketidak-tahuan, kita akan berfikir, kedua-duanya salah. Sesama aktor dilarang saling menyalahkan. Dan lain sebagainya…
Dari sini saya menarik sebuah modal berfikir. Bahwa haruskan kebenaran diungkap oleh orang suci, bersih bagai kapas yang putih dan halus? Seperti yang terjadi pada Mantan Kabareskim, Susno Duaji. Upayanya untuk mengungkap Mafia Kasus di tubuh polri harus di bersihkan dulu dengan tata cara yang masuk dalam kualifikasi prosesi yang sesuai dengan aturan main instansi Polri.
Sekaligus ini merupakan persoalan yang cukup rumit. Sebab jika kita ingin mengungkap sebuah kasus, yang mana jika seandainya kita mengetahui bahwa disitu ada sesuatu yang tidak beres. Mula-mula kita harus memastikan dulu, siapakah diriku ini. Jangan-jangan bukannya menolong, justru kita akan jadi sasaran peluang untuk menjadi tersangka. Karena ada aturan main yang tidak kita ketahui.
Ini merupakan efek psikologis massa yang perlu kita sadari. Ketakutan untuk mengungkap kebenaran, justru karena persoalan tata krama yang tidak substansial. Kenapa tidak dibuktikan saja, jika memang tidak terbukti. Baru deh proses kode etik dibereskan.
Jadi menurut saya, kritik mengkritik atau pada tingkatan yang lebih serius, tuntut menuntut. Memang, perlu pemahaman dan bukti yang kuat. Untuk mendukung upaya perbaikan-perbaikan.
Namun yang terlebih penting lagi harus ada “niatan” yang baik untuk membenahi secara keseluruhan. Dengan niat yang baik, maka persoalan-persoalan teknis akan bisa ditolerir. Atau minimal dikesampingkan dahulu, demi terungkapnaya kebenaran.

{ 56 comments… read them below or add one }
:pertamax
Congratss
Untuk menyampaikan kritik ato menentukan sikap, perlu bukti-bukti otentik. Kadang dalam hal tertentu kita perlu “menjerumuskan diri” ke dalam kancah masalah yang akan kita kritisi.
Saya sendiri pernah mengalami seperti itu, dulu saat makan bangku kuliahan, orang-orang mengatakan organisasi A beralisan sesat. Saya penasaran, dan tidak lantas latah mengatakan sesat, melainkan menyelidik dan terjun ke dalam organisasi itu selama hampir dua tahun. dari situ baru dapat kesimpulan yang diambil dari fakta-fakta yang ditemukan di lapangan
Makan bangku kuliahan?? Hehehehe
Iya bun? ampe keras neh perut hehehehe…
anda termasuk orang yang perlu bukti yang lengkap sebelum melancarkan aksi kritik. salut dengan aksi untuk menjerumuskan diri kedalamnya.
dalam ranah hukum memang diperlukan bukti-bukti yang kuat dan akurat. tanpa itu, maka pernyataan kita hanya akan menjadi tuduhan balik.(pencemaran dan kode etik akan mengganjal proses hukum selanjutnya)
Haruskah dari orang suci? Engga juga…tp kritikan akan kembali kepada si pengkrtik….
betul bunda! “..tujuannya apa dan manfaatnya apa..”
kalau positif dan untuk kepentingan orang banyak, saya tetap respek, walau dia tidak masuk sebagai orang yang bersih.
sebenernya tulisan ini punya maksud ganda ya bang? wkwkwkwk.. salut! berani menyentil kuping sampe merah nih.. lanjutkan agan ganteng! :maho
Weh, mas Hengky ternyata punya indera penciuman yang sangat tajam. Sampe tau maksud ganda dari sebuah tulisan yang mengambail kasus politik sebagai contoh…wkwkwkwk
maklum deh mas, saya suka pilihan berganda waktu ulangan umum jaman sekolah dulu wakakakak :alay
bisa iya bisa tidak mas. tergantung pembacanya. memang ada celah kecil-kecilan untuk menggandakan maknanya…
kalau di dunia online, suatu saat akan saya terbitkan gan
saya juga mau buka penerbitan buku mas.. wekekekek… makin menggurita aja neh bisnis saya..
mantap dong mas…
jadi nanti saya ga repot lagi cari penerbit
wakakaakak…
100 buat mas Fadly…
:cendol
sudah masuk ranah politik bang
untuk menghapus rasa kangen aja mas
sebelum memngkritik carilah bukti2 yang valid, kalau menutrut saya kritikan bukan saja dari orangf suci
betul… yang penting apa yang disampaikan benar dan bermaksud baik…
dan itu juga yang diperintahkan Allah untuk buat orang yang beriman, dibutuhkan konfirmasi dan verifikasi berita agar kita tidak terjebak dalam fitnah dan agitasi (seperti termaktub dalam QS. 49:6)
Kita lihat saja akhir dari drama politik dan hukum yang terjadi mas. Kalo menurut saya, sebelum mengkritik memang harus bercermin dulu, apakah materi kritikan kita memang layak atau kurang layak. Bisa jadi nanti malah jadi blunder atau senjata makan tuan :hammer
bisa juga begitu mas. namun dalam kasus tertentu, apalagi dalam dunia politik. terkadang kita harus siap jadi tumbal untuk membongkar sebuah kebobrokan. dalam kasus Susno Duaji. bagaimanapun ia di gembosi denan kode etik. saya tetap angkat topi atas kesediannya menjadi simbol penggerak.
Salam kenal.
Kebenaran seperti yang kita tahu dan mengerti saat ini, lebih banyak pada kebenaran relatif. Bisa saja saat ini yang dianggap benar menjadi tidak benar kelak kemudian.
Kunjung balik ya. Tks.
salam kenal Mas Anggara…
iya memang begitu. kebenaran memang bisa di kemas dalam sebuah propaganda sehingga jatuh-jatuhnya akan terjadi relatifitas dalam mendefinisikan kebenaran.
namun ada pendekatan yang paling menyejukkan, agama dan nurani kita ebagai manusia. saya yakin kebenaran sejatinya terdapat disitu..
kritik yang baik dalam bingkai saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran dilandasi keimanan dan amal saleh merupakan salah satu hal yang bisa menyelamatkan siapa saja dari kerugian dan penyesalan .. (tafsir bebas surat al-Ashr)
:cendol
ada pepatah Arab mengatakan, man qobilan nashiihah amina minal fadhiihah
silakan artikan sendiri, mashengky (lho jadi ke MH ya)
wah.. pemahaman agamanya dalam juga mas.. terima kasih yah..
wah dr segi politik lia gk bisa kasi komen… krn pusing sendiri memaknainya.. ehehehe..


tapi setuju banget dengan cerita diatas… Kembali melihat isi kritikan tsb… Suci tidak nya seseorang hanya anggapan kita saja.. terbuktikah validitas nya ?…. hanya Tuhan yg bisa memberikan pendapat tentang ini…
… Kadang kritik yg baik bisa muncul dr orang yg hina (lg2 menurut anggapan kita )……
Kembali apakah kritikan itu memang pantas atau tidak untuk diterima atau dilakukan (menurut kita ) ….
wahhh…….. aku ngomong apa sih ni…
he he he… gapapa Mbak, sekali-kali kita perlu kok ngomong politik
betul, terkadang menurut kacamata kita, ada orang yang tidak bersih tapi justru dari dialah kita bisa tersadar atas ucapan-ucapannya, kritik-kritikannya dan segala kelakuannya yang justru membuat kita jadi “ngeh”…
Satu hal yang pasti. Masyarakat Indonesia tidak bodoh. Mereka tahu mana yang pantas dibela. contoh nya artikel ini, bukan begitu mas ? hehe
salam kenal
kunjungan pertama
betul mas Ferry, saat ini masyarakat kita memang sudah terlihat lebih cerdas dan mulai berani bicara. karena alam demokrasi sudah semakin kondusif. walau memang, kecerdasan itu masih perlu di suguhi solidaritas yang berimbang dan tidak apatis, apalagi menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak.
salam kenal juga mas
mudah-mudahan betah disini
benar sekali mas fadly,kalau kritikan itu setidaknya dari orang suci,seperti ustad,pendeta,dan lain sebagainya.Merekalah yang biasanya memberikan kritikan yang tujuannya agar diri kita jauh lebih baik dari sebelumnya.
kebenaran manusia memang relatif. pembuktian menggunakan kaedah hukum manusia juga belum tentu mengungkap kebenaran sebenarnya. Jadi lebih bijaksana kalau mengkritik, kritiklah entitas-entitas yang bisa terukur, jangan sampai masuk kedalam wilayah yang samar-samar. Apalagi di dunia online… ketemu aja belom, tapi dah berani mengkritik personal…. (ada yang merasa tersendir ga ya
)
Salam Kreatif,
Octa Dwinanda
dalam bingkai politik apalagi berhubungan dengan hukum. maka kedua wilayah ini akan saling mensamarkan dan saling memperjelas.
kenyataannya memang begitu ma octa, ada yang membuat samar, ada juga yang berusaha mengungkap kebenaran. namun dalam kasus-kasus besar diranah publik, selalu saja berdampak pada relatifitas dan akhirnya kasusnya ga jelas.
*kalau masalah kritikan personal, diperlukan pengetahuan dan alasan tersendiri untuk melakukan itu mas
kalau masalah kritik tidak perlu memandang siapa yang mengucapkan. melainkan apa isi dari kritikan [yang di ucapakan]… begitu kira-kira :lapar
intisarii artikel ini juga berkata demikian mas Lendra..
saya komentari kritik secara umum, bukan dalam bingkai politik…
suatu kritikan bisa saja datang dari orang jahat, mungkin juga dilandasi dari niat buruk…… tapi kalau isinya baik, benar, dan bermanfaat bagi yg dikritik dan semua pihak, maka tetap saja itu kritikan yg bagus dan layak dilontarkan.
mending menyimak isi daripada menghakimi orangnya
nah ini yang menarik, kalimat terakhir. “lebih baik melihat isi daripada menghakimi orangnya”…
harapan dan semestinya memang seperti itu pak. namun ya itulah, kita ini hanya manusia biasa yang terkadang suka lupa, kalau diatas langit masih ada langit. jadi selalu saja merasa benar dan tak pantas dikritik..
trims pak tanggapannya
Wew….Udah sampe kearah Politik nih kritikannya….Ups Artikelnya…Hehee..
sekedar menghilangkan dahaga aja mas Rafi..
sudah lama rasanya tidak menyentuh wacana politik
Kritik yg hebat, adalah kritik yang bertujuan utk membangun yaa mas
betul mas..
kritik yang memiliki maksud baik. kalau sebaliknya itu sih sudah bukan kritik lagi. tapi penggembosan..
Dugaan saya semakin mendekati kenyataan nih. Blogger moderat telah bermetamorfosis. Besok, siapa lagi yang disentil ya?
:lapar
di tulis dong mas di blognya…ha ha ha
saya jadi keder nih. ternyata ada pengamat blogger
trima kasih mas, sumbangan pengamatannya
sip deh…
kalau tulisan saya nanti ada salah kata, mohon dikoreksi mas…
Anyway, nama saya kok belum masuk blogroll ya…
Tanya kenapa?
kenapa ayo..?
sabar mas.. masih belum sempat nih rapiin blogroll.
teman-teman yang lain juga masih banyak yang belum masuk.
:hotrit
saya termasuk yg bingung dengan fenomena para elit di negeri kita ini
tidak salah mas. itu berarti efeknya sudah menjalar ke pribadi-pribadi masyarakat indoensia
Keknya saya sependapat dengan pak suarakelana mas…:D
ok deh crit…:D
o alah mas, bagi orang kecil seperti saya ini, drama politik yang dimainkan oleh para bagawan di atas itu nggak terlalu ngerti. lha wong kadang-kadang sudah ketahuan salah kok malah berkelit, tapi kalo mbok minah yang nyolong semangka 3 biji langsung di krangkeng, dunia… dunia…, mungkin itu kali ya yang menyebabkan banyak orang bunuh diri, saya heran lho padahal hidup ini indah…………. :cd
yah gitulah mas realitanya. hukum rimba tetap berlaku dalam kemasan yang lebih elegan..
mudah-mudahan saja, generasi berikutnya bisa membawa angin segar yang lebih sejuk..
Saya kira, kalau kita mencari orang suci tidak akan pernah ketemu ya mas. Tumben juga mas fadly bahas politik? tapi memang bagaimanapun kita tidak bisa lepas begitu saja, kalaupun tidak terlibat didalamnya, setidaknya secara moral ada peran kita, bahkan Islam mengajarkan ini juga.
Untuk mengetahui siapa yang benar dan salah harus ada proses hukum dengan sistem yang bersih. Tapi apakah ada sekarang ini?
inilah yang perlu kita bungkus dalam aturan yang tepat saya kira mas. siapapun orangnya, sepanjang apa yang dikatakan bisa dipertanggungjawabkan, saya fikir patut dipertimbangkan dan diproses lebih serius..
Saya potong dijudulnya saja dulu;
eace:
kritikan tidak harus dari orang suci, siapa saja boleh mengkritik dengan catatan kritikan yang membangun. Dan saya percaya, orang berjiwa besar ( walaupun badannya kecil :cendol ), bisa menerima kritikan dari siapa saja.