Tulisan ini terinspirasi dari sebuah artikel yang di tulisa oleh kawan saya. Erwyn Kurniawan. Tulisan ini di muat di web eramuslim. Saya membacanya lewat Note di Facebooknya. Erwyn adalah teman kuliah dulu. Saya mengenalnya sebagai pribadi yang aktif dan memang senang menyoroti politik dalam negeri.
Dalam tulisannya yang diberi judul, “Alangkah Lucunya Negeri ini” sebuah judul yang meminjam dari judul film besutan Dedy mizwar. Mencoba menyoroti realitas sosial-politik indonesia yang memerlukan pembenahan karakter.
Dalam tulisan itu, di paparkan sebuah pemikiran yang kontradiktif yang terjadi di negeri yang kita cinta ini. Bahwa dilain sisi, penguasa atau sebagian besar pihak yang berkepentingan telah menyebut bahwa negeri yang disebut Indonesia adalah Negara besar. Besar dalam berbagai aspek, termasuk jumlah penduduk, luas wilayah dan juga besar dalam prilaku korupsinya.
Kebesaran itu telah menjadi sebuah kebanggaan tak terhingga. Sehingga menjadikan siapapun individu yang berpijak di negeri ini akan merasa sangat bangga dan menyesal jika tidak bisa measakan kebesaran negeri ini.
Menurut Erwyn dalam tulisannya, ternyata kebesaran dalam konteks positif, ternyata tidak sejalan dengan cara-cara pengambilan keputusan dan penerapan kebijakan public di masayarakat. Itulah sebabnya Erwyn mengadopsi situasi ini sebagai sebuah kelucuan yang patut membuat kita geli.
Apa yang ingin saya sampaikan?
Garis besar pemikiran Erwyn saya sepakat, bahwa telah terjadi keganjilan di ngeri ini. Dilain sisi kita sudah mencapai posisi sebagai negera yang besar, tapi dilain sisi kita tidak mampu membuat sebuah keputusan yang mendukung pernyataan bahwa negeri kita ini besar.
Dilain sisi pula, tulisan Erwyn yang mengatakan bahwa ”negeri ini lucu” ternyata tak mampu membuat saya tertawa. (Sorry yah win ? )
Namun demikian esensinya bukan untuk menertawakan tulisan kawan saya itu. Tapi terlebih kepada upaya mengapresiasi tulisannya yang sangat kritis itu. Dilain sisi saya ingin katakan bahwa ternyata sesuatu yang di sebut lucu, belum tentu membuat kita mampu tertawa. Sesuatu yang disebut lucu belum tentu kita bisa melihatnya sebagai adegan yang jenaka.
Sebaliknya, sesuatu yang disebut lucu bisa jadi adalah sebuah ungkapan sentimentil. Sebuah kondisi “keganjilan” yang membuat kita merasa marah!
Jadi upaya actor kawakan seperti Dedy Mizwar masih perlu diperas lagi agar bisa membat kita tertawa oleh kelucuan yang dibuatnya.
Ringkasnya, saya ingin mengapresiasi tulisan-tulisan yang sifatnya menertawakan negeri ini. Sebuah tulisan yang coba menyemangati sifat kritis kita terhadap situasi sosial-politik di negeri ini. Jadi ini bukan anti tesisnya. Melainkan peleburan akan sesuatu yang mungkin selama ini kita anggap lucu.
- Jadi mulai sekarang, kita bisa sedikit memodifikasi makna “kelucuan” yang kita terima. Lucu bukan lagi sesuatu yang sifatnya jenaka dan menyenangkan. Tetapi sesuatu yang sifatnya menyentil dan mengungkap “keganjilan” yang terjadi.
Ok segitu dulu deh. Mudah-mudahan sifat kritis kita tidak luntur karena sebuah kelucuan hidup yang membuat kita terlena.
Thanks Erwin atas opininya.
Share

{ 66 comments… read them below or add one }
kontradiksi juga sih mas.
Masalahnya yg kita tertawakan justru negeri kita sendiri, dimana kita hidup dan bersosialiasi di dalamnya….
kesedihan yang ironis. dilain sisi kita mengkritik prilaku penyelenggara dan pihak kepentingan lainnya. dilain sisi, peran kita tidak begitu kuat untuk mengguncang kebijakan publik. inilah rasa “sakit hati” yang tak terungkap.
Ikut ketawa nggak ya ? . . .
ini buktinya, bahwa kelucuan belum tentu membuat orang lain tertawa
siapa nama pacarmu…..!
mas fadly,saya sudah pasang link situs anda di pasangbarisiklan.com.tolong di link balik ya dengan keyword pasang iklan baris.
makasih
wekekekekek… maksa nih ye?
Kenapa negeri ini lucu? Bukankah kita termasuk di dalamnya? Kenapa kita tidak membuat kebijakan besar buat negeri ini?
Menertawakan negeri ini berarti menertawakan diri sendiri
Hehehe…. Semua ada dalam area masing-masing, kita hanya mampu memberikan kontribusi buat negeri ini lewat kompetensi yang dimiliki. Tidak bisa langsung seperti mereka para politisi.
Pertanyaan yang muncul kemudian, “Kalo mo membuat kebijakan besar, kenapa tidak terjun menjadi orang yang punya kewenangan di sana?”
agag sentimentil nih kali ini mas erdien
mirip dengan pendapat saya terhadap @arief maulana di atas.
pada dasarnya masayarakat di tingkat non-kepentingan hanya bisa merasakan sebuah ironi kesedihan, tanpa mampu berbuat sesuatu yang merubah keadaan. jatuhnya kita akan terbentuk untuk bersikap individualistis. mungkin yah
untuk membuat kebijakan besar tidak mudah, minimal kita harus masuk ke lingkungan komunitas org2 besar. dan proses menuju kesana adalah proses pertentangan mentalitas seseorang. mampukah? itu pertanyaannya
Nih yang beginilah justru yang bisa membuat ketawa Mas. Saya sering merasa seperti itu. Seringkali tertawa melihat orang yang menertawakan orang lain dengan setumpuk krtikannya, sementara dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa ketika berada di area tertawaan itu. Bahkan untuk masuk ke area sana pun ngga bisa
termasuk saya dong ? wakakaka.. kena deh
hello mas Fadly -
ironis banget mas..
mau menertawakan.. tapi negara sendiri…
lebih baik diam saja dan banyak bekerja ya…..
hallo juga mas..
mudah-mudahan saja negeri kita akan semakin mebaik yah
Karena kita belum cukup dewasa untuk mentertawakan diri sendiri.
yup benar apa yg dikatakan omAl
manteb
salam hangat dari blue
ini respon dari seorang yang benar-benar bersikap sederhana dan legowo. tak banyak org yang bisa bersikap seperti itu mas Aldy.. salut
Sesekali Mas Fadly perlu menulis bagaimana kita mentertawakan diri sendiri dengan bijak.
Yang disampaikan oleh Suara Kelana dibawah saya kira cukup mewakili suara insan blogger yang sesungguhnya.
trims mas. insyaAllah yah
hahhaa ada lagi OM AL
Heeh…ada lagi yang lain ?
kalau saja itu sekedar parodi, mau lah saya tertawa lepas menikmati kelucuannya. Sayangnya, ini menyangkut realita hidup berjuta orang. Saya saksikan sendiri imbasnya di sekitar dan sama sekali tidak memicu urat tawa saya.
Penggunaan istilah lucu disana sebenarnya bergaya sinisme, dengan tujuan menyentil dsbnya. Hasilnya adalah senyum kecut para pendengarnya.
Saya lebih suka istilah lucu yang sebenarnya. Yang bisa membuat lepas derai tawa, tanpa tertahan bayangan derita sang obyeknya.
tepat sekali pak Hery..
kelucuan yang tulus lebih nikmat merenggangkan otot-otot syaraf kita.plong rasanya..
mudah-mudahan kelucuan dinegeri ini bisa berbuah kegembiraan..
Kalo ngomongin negeri ini….malah miris
Tapi begitulah banyak menertawakan hal2 yang sebenarnya gak lucu untuk ditertawakan….
Bingung T_T
setidaknya kita mulai dari diri sendiri saja mbak lia.. itu sudah cukup kok
Apakah setiap kelucuan harus ditertawakan?
pertanyaan filosofis crit
ew.. komengku tadi kemana? ikz….
aku liat di sel juga ga ada crit.. blm tersubmit kali…?
sms lucu saya lucu gak mas?
===> negeri ini sedang banyak cobaan jangan di ketawain dong, doakan kebaikan yang banyak! Hidup Indonesia!
smsnya lucu mas.. bahkan bisa membuat saya kreatif
oke deh, mari berdoa untuk bangsa kita ini
yuk kita budayakan! jangan cuma bisa menggugat dan menertawakan, karena bagaimanapun kita bagian dari negara besar ini…
kalo kita menertawakan negari ini, berarti kita telah menertawakan diri kita sendiri!
kenapa tidak kita sikapi keadaan negeri ini dengan pikiran jernih dan positif?
jangan malah memperkeruh keadaan negeri ini, dengan tertawaan yang gak ada faedahnya sama sekali.
sekali lagi, yuk kita berdoa untuk kebaikan seluruh elemen masyarakat Indonesia Tercinta!
maaf mas…kepanjangan ya…
ini bukan ceramah lho mas, hanya setitik pengingat u/ diri saya sendiri dan orang2 yang masih bisa berpikir jernih dan positif! thx ya
sip..sip…
ada jurang pemisah antara kritikus dan pecinta damai.
mudah-mudahan saja kita semakin tajam melihat, merasakan dan membuat sebuah langkah produktif kedepan.. amin
maju terus Indonesia!!
Maksudnya menyentil hal yang ganjil agar bisa dibenahi bersama.
maksud hati seperti itu bli.. semoga saja bisa menyentuh jantung pertahanan pembuat kebijakan dan mendapat respon positif dikalangan masyarakat
Indonesia adalah negara besar dengan wacana penduduk berbentuk piramida. Komposisi penduduk didominasi oleh usia anak-anak dan remaja. Maka nggak heran kalau keputusan yang diambil masih kekanak-kanakan.
nah kalau ini kelucuan yang menyentil..
miris campur gemes melihat fenomena ini mas..
Ehmmm tertarik mengenai piramida..
apakah kita harus menunggu saatnya seperti jepang atau singapore dimana pondasi dipenuhi generasi tua.. Hingga anak muda pun mulai ketakutan sebagai generasi penerus..tertekan.. dan apapun selalu dipandang serius. ? ehmmm membuat lia semakin bingung
sikap kekanak2an generasi muda bisa jadi karena mencontoh generasi sebelumnya yng sering membua atraksi aneh dan membuat kita berpikir apakah ini pantas untuk ditertawakan ?
seperti kata pak Fadly
… mari kita mulai dari diri sendiri..
CMMIW
tertawa adalah alami dan mesti jelas obyeknya…kalau dipaksakan kurang enak didengar…apalagi menertawakan bangsa dan negeri ini
sama dengan menertawakan ibu sendiri yah mas..
takut kualat anak bangsa ini..
Dugaan saya ternyata tepat saat membaca judul postingan ini, bahwa akan ada kaitannya dengan judul film terbaru Om Dedy Mizwar. Saya nggak nonton sih filmnya, tapi sempat menyimak sinopsisnya. Kelucuan yang sebenarnya tidak lucu memang. Malahan miris bin ironis. Kita suka membanggakan “kebesaran” negara kita, tapi di sisi lain, kita tidak mampu membuat kebesaran tersebut dirasakan oleh banyak penduduk negeri ini.
Ibarat ayam yang mati kelaparan di lumbung beras
Alangkah “lucunya” ya kalo begitu..
substansinya memang seperti itu mas is.
kita hanya perlu menjadikan realitas itu sebagai tolak ukur tersendiri, dan melakukan perubahan mendekat, dimualai dari diri sendiri..
kalo anda belajar sejarah dan kebudayaan bangsa Prancis, pasti anda sudah menjawab artikel di atas waktu ujian semesteran.
Kita pasti kenal kata komik dan komedi. Nah, komik adalah kata yang merujuk kepada kelucuan yang tidak lucu alias miris.
Komedi juga tidak jauh beda sebenarnya. Arti dari komedi adalah sebuah kelucuan yang dibuat2, tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya, namun terkesan mengritik pemerintah.
Jika anda ingin mengacu kepada arti lucu yang sebenarnya, gunakan kata HUMOR.. yang artinya menghibur orang.. mungkin dengan cara membuat orang lain tertawa.. lucu ya? wakakakakak..
Di Indonesia, kata komik, komedi dan humor sudah tidak jelas arahnya… mungkin karena kebanyakan diplesetin oleh stasiun tivi.
tumben panjang
lupa nginjek rem hihihi
trims tambahan pengetahuannya gan.
perbandingan antar bangsa memang bagus untuk memberikan warna yang berbeda terhadap cara pandang kita selama ini.
sekarang kita semakin mengertii khan, lucu, jenaka, humor komik dan hal-hal lain yang merujuk pada nilai yang mendukung tawa lepas kita itu, diperlukan pemahaman dan maksud yang cocok
yah,, itulah realita bangsaku,,,
yup
ibu pertiwi makin menangis sedih ,merasakan ,melihat ,tayangan “lucu” yang tak kunjung selesai . cuma suara genderang doa yang bisa dilantunkan sayup2 lemah tuk menghiburmu ibu.
makanya jangan sampai ibu pertiwi menangis karena anak bangsa tidak melakukan apa-apa, minimal untuk dirinya sendiri
Jangan ditertawakan mas, kasihan negara ini.
Mari kita doakan aja agar yang terbaik buat negara tercinta, semoga para pemimpin dibukakan hatinya agar senantiasa eling bahwa pertanggungjawaban mereka yang berat adalah nanti di akhirat dan tidak akan ada partai atau golongan yang akan bisa menolong kecuali amal dan ibadahnya..
iya deh..
mudah-mudahan doanya terkabul mas
ini bukan bahan lalucon kok. ini pun sebagai bentuk kilas balik kepada diri sendiri.. termasuk diriku..:D
“lucu” lupa cari untung heee…memberikan suatu kepuasan sangat susah, tergantung dari sisi mama kita melihatnya nasi sepiring buat saya mungkin kenyang, tapi buat yang terbiasa makan 2 piring mungkin belum kenyang, sudah menjadi kewajiban kita memberikan andil dalam setiap perkembangan negeri kita,dengan kekurangan yang kita miliki berbenah diri untuk yang lebih baik, sukses selalu buat negeri tercinta ini
sepakat, kontribusi individu sangat berarti untuk negeri ini.
yang lebih lucu lagi adalah saya malah ingin menangis
melihat banyolan2 yg tersaji di sekeliling kita
lucu plus filosofis mas..
Negeri ini memang benar2 lucu saking lucunya menjadi tidak lucu lagi bahan ironis lagi memalukan, kita memiliki banyak sda namun miskin sdm, ita memiliki kebesaran sebagai bangsa yang kaya potensi tapi miskin prestasi…..
sudah anti klimaks deh..
lucu juga bisa menjadi suatu hinaan mas…hinaan merendahkan….
gaswat tuh..
jadi semacam parodi bukan begitu?
Seperti pak guru yang liat anak kelas 1 sd bikin ulah lucu ketika ngajar. sebenarnya adalah lucu tapi pak gurunya (kita) malah akan marah.
Itulah mengapa kita gak bisa tertawa
salam kenal
betul..betul…
mungkin kita tdk bisa tertawa dgn manis, namun tertawa dlm ironi.
krn ‘lucu’ nya negeri ini, maka banyak kebijakan yg sebenarnya tdk bijak sama sekali, atau utk siapa kebijakan tsb dibuat?
pd kenyataannya tiap kali ada kebijakan, malah makin menyusahkan masyarakat kebanyakan, dan tdk berlaku bagi pemberi keputusan atau orang berduit.
jadi, kita belum bisa tertawa lepas dgn kelucuan ini, paling hanya tersenyum miris
salam
artinya, kita perlu perenungan mendalam. bukan hanya buat pemimpin, tapi seluruh elemen masyarakat termasuk individunya yah bunda?
saya fikir, langkah praktis, kita harus mulai berbenah diri masing-masing..
trims bunda sudah sering berkunjung…:)
negri ini gak Lucu yang lucu para aktor Eksekutif,Legislatif dan yudikatif yang katanya orang” pintar…setau saya pintar ngibulin masyarakan….
Yap, pengertian baru “lucu”.