Dalam tatanan social yang demokratis, check and balance masih mutlak di perlukan. Aksi dan reaksi adalah pemandangan umum dan wajar. Demonstrasi atau tuntutan terhadap penguasa guna mempengaruhi keputusan public, juga tindakan biasa dan wajar.
Sebab, salah satu ciri Negara Demokratis adalah ketika masyarakatnya merasa bebas untuk memberi pendapat, tanpa adanya pengawasan represif yang menakutkan.
Makanya tidak heran, kalau pada moment-moment tertentu, terjadi demonstrasi dimana-mana. Sebab demonstrasi adalah salah satu cara efektif dan popular untuk mempengaruhi. Apakah itu mempengaruhi keputasan public, membentuk opini, atau sekedar sosialisasi terhadap prilaku tertentu. Atau sebagai pernyataan sikap.
Tapi apakah domenstarsi itu sepenuhnya di benarkan?
Memang, dalam aksi-aksi tertentu ada saja pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab melakukan aksi demonstrasi yang ugal-ugalan. Tak terarah dan cenderung anarkis.
Kita, baru saja memperingati hari Anti Korupsi Sedunia. Moment ini sangat berarti dan berharga untuk di lewatkan. Sebab kita semua tahu, korupsi sudah mengakar dan membudaya. Secara umum telah menyebar di seluruh penjuru dunia. Termasuk di Negara Indonesia yang kita cintai ini.
Tidak mudah memang, untuk memberantas korupsi. Tapi bukan berarti tidak bisa bukan? Pasti bisa! Hanya persoalannya seberapa besar kemampuan kita untuk memberantas budaya korup ini. Disinilah letak persoalan dan tantangan yang harus kita jawab.
Dengan semangat juang yang tinggi. Moment anti korupsi sedunia di tandai dengan berbagai aksi yang serentak terjadi di seluruh kota di Indonesia. Ada aksi damai, ada pula aksi yang merusak.
Untuk aksi damai, saya angkat tangan untuk mereka. Salut dan hormat atas perjuangan mereka. Namun untuk yang melakukan aksi demonstrasi tak terarah. Dan cenderung merusak ini. Sungguh menyedihakn.
Demonstran seperti itu, patut kita berantas. Sebab mereka bisa merusak semangat perubahan bagi kelompok-kelompok pergerakan lainnya.
Gerakan-gerakan yang tak terarah dan seakan lepas kendali itu, seharusnya banyak belajar terhadap realitas yang ada. Apa gunanya melakukan perusakan terhadap benda-benda? Apakah benda-benda itu melakukan korupsi? Apakah benda-benda itu hasil dari korupsi? Bukan khan?
Jadi yang korup itu adalah hati dan fikirannya. Bukan fisiknya. Jadi jika ingin melakukan perubahan. Maka fokuslah kepada akar-akar itu, hati dan fikiran! Sebab disitulah letak persoalannya.
Yang bisa kita lakukan untuk melakukan perubahan, adalah berbuat dan mengawasi. Berbuatpun perlu etika dan moral yang baik. Bukan berbuat untuk merusak dan menghancurkan. Sebab hal itu tidak akan membawa kepada perubahan.Justru sebaliknya, menimbulakn ketakutan social bagi masyarakat umum.
Saat ini kita hidup di era demokrasi. Semua orang, semua elemen bebas berbicara. Saat ini hukumlah yang berbicara. Anda salah, anda di hukum, anda benar, anda bebas! Anda melakukan pengrusakan, anda bisa di tuntut. Semua ada aturannya.
Sekali lagi, ini adalah sikap saya terhadap aksi demonstrasi yang cenderung anarkis dan merusak. Hal itu adalah demonstrasi yang menyedihkan dan tercela. Sebab mereka mulai kehilangan arah. Issue yang di emban, seakan tercoreng oleh tindakan segelintir orang yang tidak bertanggung jawab.
I Love Indonesia
Share



{ 6 comments… read them below or add one }
sedih memang lihat saudara2ku baku hatam memperjuangkan ideologinya…padahal seharusnya mereka bisa berjuang dengan cara yang lebih arif dan bijak…ex: bikin diskusi bersama, tentang bagaimana menciptakan pemerintahan yang bersih (saya ga pake istilah anti korupsi, cuz konotasinya negatif)
koreksi buat bang Fadly, judul artikelnya salah ketik boz, mohon dikoreksi^_^
bener alfred, memperjuangkan sesuatu tidak harus merusak. banyak cara yang masih bagus untuk dilakukan.
iya alfred, judulnya kelebihan dikit. sudah di benerin tuh. thanks yah udah di ingetin
kadang2 heran deh… mau demo apa ngrusak ya
prihatin memang mas…
mendingan demo masak mas… bisa dibagi2 ke tetangga.. kenyang..
betul mas hengky, lebih baik demo masak atau demo online daripada demonstrasi yang ngawur dan tercela