CAHAYA DI UJUNG LORONG

by fadlymuin on May 19, 2009

cahaya lorongDalam artikel saya tentang fenomena sosial yang saya beri judul “Pengemis, sebagai motivasi atau media kritik” ternyata banyak menarik simpati dari para pengunjung blog ini, mungkin juga termasuk anda.

Dari komentar teman-teman, saya kagum dan simpatik. Karena secara keseluruhan komentar yang masuk memberikan ilustrasi bahwa seharusnya mental pengemis itu tidak layak hadir dalam kehidupan ini.

Siapa sih yang bercita-cita untuk menjadi pengemis?
Rasa-rasanya tidak ada satu orangpun didunia ini yang bercita-cita seperti itu. Tapi faktanya, aktifitas mengemis masih kerap dilakukan.

Bahkan sudah menjadi sebuah realitas sosial yang di anggap lumrah. karena sebab-sebab tertentu (tentu saja sebabnya masih dalam perdebatan yang cukup panjang)

Dalam artikel tentang pengemis  itu, Mas Iwan memberikan informasi bahwa Beliau pernah melakukan survey kecil-kecilan bersama teman-temannya. Tentang realitas pengemis jalanan.

Dalam penjelasan mas Iwan disitu, ada sebuah fakta kontradiksi, antara status yang miskin dengan pola konsumtif mereka, yang juga sudah menggunakan Handphone.

Melihat kenyataan seperti ini, saya merasa kok ada yang ganjal yah. Kenapa tidak hasil mengemis di jadikan modal buka warung misalnya, jadi mereka bisa pensiun ngemis. tapi kok itu tidak dilakukan yah?

Ada lagi informasi dari mas Jamal, bahwa di sebuah daerah di jawa timur, terdapat kurang lebih 85% penduduknya berprofesi sebagai pengemis. Dan hasil ngemisnya mereka bisa berangkat Haji.

Menurut mas jamal, hal ini pernah diberitakan di sebuah TV swasta. Hanya saja semua berita seperti ini tidak serta merta bisa langsung menjadikannya bukti. Untuk membuktikannya diperlukan kekuatan sosial berdasarkan survey tertulis. Tapi paling tidak, ini adalah sebuah potret sosial.

Kalau saja fakta seperti itu benar adanya. Sungguh ini merupakan kenyataan sosial yang menyedihkan. Tapi jangan terburu-buru untuk memberi kesimpulan. Kita perlu kaji kembali, kenapa dan bagaimana pengemis bisa lahir dan tumbuh dalam kehidupan sosial secara umum.

Lalu kenapa pengemis itu bisa ada, bahkan menjamur dimana-mana. Tersebar bagai virus yang belum ada penawarnya?Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu kita harus bijaksana dan tidak egosi dalam mengambil kesimpulan.

Ada baiknya kita simak pengalaman Mas Boy yang di tulis dalam kolom komentar pada artikel saya disni. Berikut ini pengalamannya :

POVERTY…

mas fadly, ijin ya… saya bekomentar seperti short paper.. saya akan bahas sedikit pengalaman saya saat penelitian di daerah terpencil, kawasan transmigrasi lokal di daerah cianjur selatan.

kasusnya mirip sekali dengan posting mas fadly. Masalah kemiskinan. Penelitian itu tahun 2007. Dan kondisinya daerah tersebut sangat miskin. Mereka memiliki tanah yang luas 2ha perkepala keluarga. tapi apa yang mereka miliki? tidak ada.

mereka mengadu ke “ANGGOTA DEWAN YANG TERHORMAT” (semoga para pembaca posting ini mengerti siapa anggota itu) yang terjadi hanya sebagai bahan komoditas politik. kehidupan mereka tidak ada perubahan. pemerintah turun dengan penelitian “RISTEK” yang terjadi hanya ketergantungan dengan pemerintah.

menanggapi istilah mas fadly “lingkaran (maaf) mental pengemis” kejadiannyapun sama. akhirnya saya punya kesimpulan. Begini:
1. Setiap Orang tidak mau terlahir dalam keadaan miskin. Bukan dirinya yang menyebabkan keadaan itu.
2. Negara ini sudah terlalu “Miskin” yang akhirnya mengarah pada “Orang Kaya Semakin Kaya, Orang Miskin semakin Miskin”

3. Mengapa Negara ini kuantitas penduduk miskin semakin banyak? karena penduduk ini dibiarkan tidak memiliki “ILMU” yangbanyak. kesempatan untuk mendapat pendidikan layak masih sangat minim.

4. Masih berstandar pendidikan 6 Tahun. Bahkan ada paradigma baru untuk bangsa ini.. Sekolah cukup sampai SMA. Toh lulusan SMA saja bisa jadi Presiden buat apa cape2 sekolah tinggi2. (Paradigma ini harus disikapi dengan bijak, jangan dijadikan standar)

Poin 2 sampai 4 itu hasil survey ya… jadi saya juga muohon komen yang sesuai… mungkin hasil survey yang pernah saya lakukan salah…. saya dengan senang hati menerima kesalahan dan koreksi teman2…

mas fadly terima kasih… saya komen panjang sekali… hehehehe…. tks mas…

Bagaimana pendapat anda?

kalau saya perhatikan, disini mas Boy mencoba untuk melihat dari sisi yang berbeda. hanya saja disini mas Boy lebih fokus pada poin “kemiskinan”. Tapi mari kita coba beri korelasi.

Bahwa kemiskinan adalah sebuah sebab. sedangkan mengemis adalah sebuah akibat. Semua orang yang berada dalam lingkaran kemiskinan, ingin keluar dan menemukan kehidupan yang lebih baik, mapan dan sejahtera.

Tapi tidak semua harapan itu bisa di akomodir dengan mulus dan berahir gembira. ada kekecewaan, kesedihan dan rasa frustasi jika ternyata cita-cita mulianya tidak berhasil.

Rasa sedih, kecewa dan frustasi inilah yang menjadi biang bertumbuhnya efek-efek sosial yang buruk  kepada individu-individu. Apakah ia akan menjadi pengemis atau menjadi kriminalis, atau menjadi yang lainnya..

Coba anda  lihat 4 poin yang di utarakan oleh Mas Boy. Semua poin tersebut berasal dari faktor external. artinya faktor sosial budayalah yang menciptakan keterpurukan suatu kaum.

itu artinya, individu ataupun kelompok sosial masih bersifat pasif terhadap nasibnya sendiri. masih bersandar pada situasi sosial yang ada. walau saya tidak manampik, bahwa faktor external juga berpengaruh pada kehidupan seseorang. Tapi dimana kekuatan dan kemandirian seseorang sebagai seorang individu yang berkepribadian?

Maaf Mas Boy, disini saya bukan mengkritis pendapat anda, tapi mengkritisi realitas hasil survey anda. Mohon kiranya bisa dibedakan dan dipahami. agar kita bisa ciptakan karakter kritis yang membangun.

kembali ke laptop,

Jadi kesimpulan sementaranya adalah pengemis hanyalah sebuah akibat. dan sejauh ini, akibatnya adalah karena “kemiskinan” dan kemiskinan itu sendiri disebabkan oleh 2 faktor. baik dari luar maupun dari dalam individu itu sendiri.

Sekarang masalahnya, sebesar apakah tekad seseorang ingin keluar dari garis kemiskinan itu dengan cara-cara yang lebih baik dan terhormat. Apakah tetap mengharapkan kekuatan luar atau mempercayakan kekuatan dari dalam. semua itu kembali kepada individu masing-masing.

Saya sadar, bahwa kondisi seperti itu, tidak bisa dilihat sebelah mata, lalu disimpulkan dengan cara-cara yang sinis dan berat sebelah. lihatlah fenomena itu dengan cara-cara yang bijaksana. Tanyalah diri anda, apa yang bisa saya perbuat untuk menyikapi keadaan tersebut?

Tapi saya yakin, siapapun yang kebetulan berada dalam lingkaran kemiskinan seperti yang saya utarakan di atas. walau dengan presentasi kemiskinannya relatif, sebenarnya bisa kok kita keluar dengan cara-cara yang lebih simpatik.

Pelajaran yang bisa kita petik adalah :

Berusahalah melihat cahaya di ujung lorong yang gelap

Semoga kita bisa memetik hikma dibalik ini semua.

Bagaimana mengubah blog WordPress menjadi MESIN UANG yang MEMATIKAN !! Tutorial komplit dilengkapi Software dan Script Siap Pakai Share

{ 32 comments… read them below or add one }

1 eroh May 19, 2009 at 08:45

komentar dikit ya pak mohon maaf bila banyak salah, saya setuju dengan bapak bahwa kemiskinan adalah suatu sebab dan mengemis adalah akibat dari kemiskinan itu sendiri dan kemiskinan itu merupakan suatu hal yang bisa kita rubah bila dalam diri kita ada kemauan yang kuat untuk merubah itu, karna kemiskinan itu relatif, kadang ada orang yang merasa dirinya miskin padahal diluar sana masih banyak oran yang lebih miskin darinya, jadi intinya kemiskinan itu bisa kita rubah asal ada kemauan untuk melihat titik cahaya terang di ujung lorong gelap seperti yang bapak tulis pada akhir artikel ini. mohon maaf ya pak kalau komentar saya banyak kurang maklum baru belajar dan perlu banyak belajar dari bapak terima kasih.

Reply

2 fadlymuin May 19, 2009 at 08:51

Komentar disini bukan benar salah Eroh. tapi lebih pada berbagi pendapat. terima kasih sudah jadi pertama

Reply

3 Ahmad N May 19, 2009 at 10:34

Yap…Berusahalah melihat cahaya di ujung lorong yang gelap, saya jadi ingat buku yang saya baca, Optimis kunci meraih sukses, Mungkin Faktor Internal juga berpengaruh… Bisa di bilang saya juga belum termasuk orang yang mampu(kaya), tetapi dalam pikiran saya dan mental yang di ajarkan ayah saya.jangan pernah jadi orang yang punya mental Pengemis.. Kalau soal “Berusahalah melihat cahaya di ujung lorong yang gelap” seperti yang dibilang einstein kurang lebih begini ” orang optimis itu bisa melihat cahaya di kegelapan”.. betul mas fadly kita tidak boleh menghakimi secara sepihak… Mari cari solusi yang terbaik…

Reply

4 fadlymuin May 19, 2009 at 15:43

Thanks Mas Ahmad..
sekarang mas Ahmad harus berbangga, karena ternyata bukan cuman Einstein yang berfikiran bahwa” kemampuan melihat cahaya di ujung lorong” bisa lahir dari otak-otak orang indonesia (narsis nih… he he he) Makanya sudah sepantasnyalah kita bangkit dari keterbelakangan..

saya salut dengan filosofi hidup Ayah Mas Ahmad. saya harap itu bisa jadi landasan kita bersama, kemanapun dan dimanapun kita berada.

Salam Hangat

Reply

5 Ahmad N May 20, 2009 at 05:36

Ya.. to be honasty saya juga belum bisa dibilang kaya.. keluarga saya pun sangat sederhana.. Tapi mental peminta-minta harus di jauhi kalau ingin kaya.. tapi juga kadang mental minta-minta perlu juga, untuk apa? yah untuk minta petunjuk ( ilmu) ya kalau tidak punya ilmu wajib minta ilmu.. hehehe..:) seperti saya minta ilmu pak Joko, Mas Hengky, Mas Fadly dan Mas EriefM juga mungkin Teman saya mas Rheedy dan rekan yang lain… Supaya Mental minta2 tapi untuk kaya.. bukan minta2 untuk tidak berkembang (maaf) tetap miskin…
Doa kan saya agar bisa kaya ya.. Amin.. Kaya yang bermanfaat…he:)

Reply

6 fadlymuin May 20, 2009 at 09:36

Setuju! yang utama adalah membangun mental pemenang itu dulu Mas

Reply

7 Ricky May 19, 2009 at 14:02

Selamat malam mas fadly, ijin berkomentar :)

“Berusahalah melihat cahaya di ujung lorong yang gelap”

Setiap manusia pasti pernah merasakan kegelapan dalam hidupnya, dan benar adanya bahwa diujung lorong kegelapan itu sebenarnya ada sebuah cahaya terang yang bisa diraih.

Sangat disayangkan bahwa umumnya orang tidak akan bisa melihat berkas-berkas cahaya itu saat mengalami kegelapan. Dan hanya orang-orang kuat saja yang tahu bagaimana cara merayap didinding-dinding bernama “kesabaran” untuk dapat meraih cahaya tersebut.
Nice post mas fadly,

Keep Posting

Ricky
Businessman

Reply

8 fadlymuin May 19, 2009 at 15:45

saya berharap dan saya merasakan bahwa orang yang kuat itu salah satunya adalah Anda Mas Ricky..

benar adanya, hanya orang kuatlah yang bisa merayap di dinding lorong kesabaran.. dengan bermodalkan tekad dan keyakinan, insyaAllah siapapun orangnya pasti bisa melalui lorong itu. bukan begitu mas Ricky?

Reply

9 Boy Macklin - onlinebuku.com May 19, 2009 at 14:30

hmmm… terima kasih yang sebesar-besarnya mas fadly… saya meresa terhormat bisa diulas disini.
survey yang pernah saya lakukan itu hanya hasil saja mas… saya tidak bermaksud mendeskriminasikan untuk faktor yang no 4 itu.. tapi itu menjadi sebuah realita.. maaf ini bukan semata2 melihat bagaimana mental pengemis direfleksikan dengan pendidikan. tapi di pulau jawa masih ada paradigma seperti itu. dan itu hasil dari panutan masyarakat selama ini.
kalau saya boleh meminjam istilah ustad Aam aminudin, “hindari jiwa meminta-minta” padahal kultur di indonesia masih ada budaya penekanan terhadap kreatifitas…
data terakhir yang saya peroleh dari BPS bahwa rakyat miskin di indonesia mencapai 30juta jiwa. sudah pasti nilai itu lebih besar pada kenyataannya. coba kita kaitkan masalah mengemis ini dengan kemiskinan di negara ini..
mungkin itu mas… Judul mas fadly menarik mas “Cahaya di ujung lorong” masih ada jalan keluar dibalik kesulitan. Ada kemudahan dibalik kesulitan. Ada Kekayaan dibalik kemiskinan.
tinggal waktunya saja kali ya mas… hehehehe… tks…

Reply

10 fadlymuin May 19, 2009 at 15:53

Akhirnya, yang lagi di omongin datang juga… he he he..
Bagaimana Mas Boy? mohon maaf kalau ada penyimpangan makna dibalik tulisan saya.

Oh iya, mengenai data terakhir, angka kemiskinan. semalam, dalam acara Trans 7 di beritakan bahwa angka kemiskinan sudah mencapai 34, sekian juta (hampir menyentuh angka 10jt). dan angka pengangguran sudah mencapai 9, sekian juta orang (hampir menyentuh angka 10jt). fantastik bukan?

mengenai mental pengemis, saya memang mencoba mengankat realitas sosial yang ada di sekitar kita mas, walau tidak melampirkan data kongkrit. namun fenomena sosial yang di rangkum melaului media-media selama ini, saya rasa cukup akurat untuk saya jadikan bahan analisis.(walau masih menimbulkan perdebatan di kemudian hari)

semoga saja dengan begitu, masing-masing dari diri kita bisa belajar dan memetik pelajaran berharga dibalik semuanya.

Salam hangat sobat,
NB: kok komentar mas boy masuk di kotak spam terus yah..? kenapa yah

Reply

11 Boy Macklin - onlinebuku.com May 20, 2009 at 10:41

kalau menangkap masalah realita sosial memang sangat sulit mas.. insyaallah saya akan kirim gambar hasil jepretan kamera saya bagaimana kondisi masyarakat miskin di indonesia terutama darah pesisir. mungkin mas fadly bisa ulas sebuah posting sendiri dari foto itu.

masalah realita pengemis sebenarnya sudah bisa masuk masalah bersama. jujur saja saya juga masih bingung bagaimana rekomendasi yang baik. realita ini benar2 ada di depan kita. mungkin kita bisa buat sebuah forum bloger bagaimana mengatasinya. mulai dari yang kecil saja. upayakan agar mereka punya rasa malu untuk mengemis.

kalo komen saya masuk ke spam, mungkin email saya sudah masuk kategori spam. saya sudah rubah alamat email saya mas… trims. posting ini banyak menarik para bloger neeh mas…
trims…

Reply

12 fadlymuin May 20, 2009 at 14:18

silahkan di kirim foto-fotonya mas… insyaAllah aku coba posting deh

Trims..

Reply

13 maskuncoro May 19, 2009 at 17:04

Fenomena sosial ini akan terus ada sepanjang waktu. baik itu pengemis dalam arti yang sebenarnya atau dalam bentuk yang lain.

Orang yang sebenarnya berkecukupan pun kadang tanpa malu2 ikut2an mengemis. Kasus BLT misalnya, terjadi di kampungku.

Huh…

Reply

14 umar puja kesuma May 20, 2009 at 05:56

Saya membenarkan apa yang diungkap oleh Maskuncoro, bahwa pengemis bisa dalam wujud yang kompleks yaitu secara fisik dan mental. Namun ada pula yang jiwanya saja pengemis, fisiknya sangat berkecukupan.

Reply

15 fadlymuin May 20, 2009 at 09:38

itulah yang sama-sama kita hindari Pak Guru..

Reply

16 fadlymuin May 20, 2009 at 09:30

Menyedihkan sekali yah Mas Kuncoro..

Reply

17 mashengky May 20, 2009 at 04:56

halo mentalis blogger weekekekekke… waduh makin berat aja neh yg dibengkokin.. udah bukan sendok lagi, tapi hati manusia.. wuiihh..

gimana Indonesia? Alles Goeds? Wah ik masih lama di The Netherlands, meneer.. Ik hou van Indonesia tetep..

Ok macklijk eten zonder betalen ja..

tot ziens!

Reply

18 Ahmad N May 20, 2009 at 05:30

Wah.. Mas hengky datang2 pake bahasa yang ga jelas… hehe… Mentalis blogger ini memang membahas hal yang malin berat… untuk anak kecil seperti saya.. Salam persahabatan.. Saya ingin bersahabat dengan orang yang mentalnya luar biasa kaya.. Seperti anda semua…

Reply

19 fadlymuin May 20, 2009 at 09:35

ikutin aja cara MasHengky menyerap materi… selalu di tanggapin dengan cara-cara Edan! makanya beliau bisa sukses..

Mas Ahmad.. rilex aja..ok?

Reply

20 fadlymuin May 20, 2009 at 09:32

Hallo juga juragan Hengky… Kedinginan ga disana??

Kayaknya bahasa mas hengky perlu di lurusin juga nih… aau di bengkokin sekalian :) )

Hati-hati disana mas…

Reply

21 zams May 21, 2009 at 02:45

Kalau saya pribadi setuju dengan pendapat mas boy dan juga mas Fadly. Namun saya akan uraikan 2 tipe orang di Indonesia yang kaya raya sumber alamnya tapi miskin penduduknya. PErtama adalah tipe orang bermental pengemis, jadi apapun dan bagaimanapun keadaannya, tabiat dan mental itu pasti muncul walaupun sebenarnya sudah cukup dan kaya. Tapi disisi lain (kedua) memang ada sebagian masyarakat yang memang terkondisikan dalam keadaan miskin, bagaimana tidak: untuk makan sehari2 saja mereka sulit dan harus berjuang keras demi sesuap nasi. Bukan malas alasannya tapi pekerjaan tidak ada yang sesuai belum lagi tanggungan2 lainnya. Kalau di negara maju ada orang miskin dan pengangguran bisa berarti memang orangnya tapi kalau di Indonesia, maaf sekali, saya nggak tega untuk menganggap bahwa kemiskinannya karena nggak mau kerja..

Reply

22 fadlymuin May 21, 2009 at 07:20

Faktor kedua inilah yang menjadi fokus tema kita kali ini mas Zam. Khabarnya mas boy ada ide untuk kasus ini, yang akan mengirimkan foto khusus. kita tunggu aja yah

Reply

23 Ahmad May 21, 2009 at 04:16

Temen saya yg dr madura pernah bercerita, disana ada sebuah keluarga yg berkecukupan. Rumah lumayan bagus lengkap dg perabot2nya, anak2nya sekolah semua.

Yg membuat saya heran… Pekerjaan keluarga besar tsb adl mengemis. Wow…..keren jg tuh hehe. Sy katakan keluarga besar krn emang dr kakek, nenek, anak n cucu menekuni profesi itu. Mereka gak malu sm sekali untuk jd pengemis krn emang hasilnya lumayan.

Dunia emang makin aneh mas fadly. Coba mereka baca tulisan2 di blog ini….hemm

Reply

24 fadlymuin May 21, 2009 at 07:25

kacaow deh! mungkin itu pilihan hidupnya kali mas? he he he..(apa kata dunia?)

Reply

25 Blog Motivasi Arief May 21, 2009 at 12:06

Kalau menurut saya, masalah ini lebih pada mentalnya mas. Seberapa banyak kita berikan jalan, solusi, kalau mentalnya tidak berubah, ya tidak akan berubah orang itu.

Apalagi kalau udah ada keyakinan, “saya cuma orang miskin, ngga bakal bisa berubah menjadi orang kaya.” udah habis tuh!.

Itu pendapat saya. Bagaimana dengan mas!

Reply

26 fadlymuin May 21, 2009 at 12:38

Hmm.. Makasih Mas Arief Atas Pendapatnya.

susah-susah gampang memberi pendapat untuk hal yang bersifat fenomenal. karena sulit sekali mencari mata rantainya. ibarat benak kusut, susah benerinnya mas.

Seperti yang sudah saya ungkapakan di artikel sebelumnya (tentang pengemis) bahwa ada dua pendekatan sikap yang umumnya di perlihatkan oleh individu ketika di perhadapkan oleh kenyataan ngemis ini.
1. pendekatan Emosional
2. Pendekatan logika

Secara emosionalpun ada yang memperlihatkan rasa sinis, ada juga perasaan iba. sedangkan secara logika, ada yang berfikir realistis ada yang berfikir pesimis. disinilah letak persoalannya mas.

Jadi pendapatku:
- secara manusiawi saya termasuk orang yang sering merasa iba dengan kenyataan ini.
- Tapi secara logika, semestinya ada semacam kekuatan mental yang bersatu padu baik itu dari dalam maupun dari luar diri seseorang yang berada dalam lingkaran kemiskinan tersebut. Dan sebaiknya, di mulai dari dalam diri individu itu sendiri. Karena efeknya akan lebih dahsyat!

gitu mas…
mudah-mudahan bisa menambah informasi

Reply

27 Lendra Andrian May 21, 2009 at 18:53

pengemis sangat banyak di jumpai di sekitar kita, ini fenomena yang sangat menyedihkan memang,

saya punya cerita, sekaligus bertanya kpd pak Fadly,atau para pengunjung :)

di sekitar kampus saya sukolilo/keputih, ini setiap malam, di warung2 makan tidak pernah sepi dengan yang namanya peminta2.. setiap baru masuk warung, pengemis pasti juga ada saja, dengan tampilan yang memelas, ini sebaiknya bgaimana? hati kecil sebenarnya juga tersentuh, ingin membagi sebagian rezeki, tapi melihat sangat banyaknya pengemis di sekitar sini.. mau memberi jadi berfikir 2x

apakah tidak sebaiknya sebagian rezeki kita di sumbangkan pada yg benar2 pada jalan yg benar :) di sumbangkan ke masjid misalnya, atau ke yg benar2 membutuhkan

Reply

28 fadlymuin May 22, 2009 at 04:15

Pilihan ada di tangan anda!
Lihat balasan saya di komentar Mas Arief di atas.

Thanks sudah mampir Mas Lendra

Reply

29 Budi Warsana May 22, 2009 at 07:25

pengemis? ngemis? itu karena malas? atau karena miskin? atau karena kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada orang miskin? atau sebagai takdir?
Kalau kita lihat masyarakat yang tinggal didaerah kumuh, untuk keperluan air bersih (untuk minum dan memasak) mereka harus membeli dengan harga mahal sedangkan dibagian lain kita melihat masyarakat yang lebih mampu membuang buang air hanya untuk mencuci mobil..
Kita setiap bulan bayar rekening listrik yang didalamnya ada retribusi untuk penerangan jalan yang notabene untuk penerangan jalan-jalan utama, sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk memelihara orang miskin, terlantar dan mensejahterahkan masyarakatnya.
Salam,

Reply

30 Iwan Epianto May 26, 2009 at 23:18

Tuhan menciptakan manusia dengan lengkap, kemudian agar manusia lebih sempurnah Tuhan memberikan akal dan pikiran, agar kesempurnaan ini dapat diaplikasikan Manusia harus menuntut ilmu dan pengetahuan sehingga dapat menguasai dan memanfaat kan isi bumi ini agar manusia tersebut kaya.

Masalah kemiskinan rakyat memang masalah pemerintah, di negara maju sekali pun kemiskinan menjadi masalah besar mereka yang hidupnya pas-pasan di beri jaminanan sosial apakah ini solusinya dan sampai kapan ?

Kalau mereka mau belajar dan memanfaatkan potensi yang ada dalam dirinya, masih ada kesempatan dan peluang yang dapat diraih, semua butuh proses tidak bisa instan.

Banyak hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil dari artikel ini.

Terima kasih Mas Fadly. salam sukses.

Reply

31 fadlymuin May 27, 2009 at 06:59

pendapatnya lengkap mas Iwan. mencerminkan seseorang yang realisits dalam menyikapi hidup. Luar Biasa!

Reply

32 Cara Dapat Uang April 5, 2010 at 11:01

saya berharap kondisi seperti ini harus cepat diatasi oleh pemerintah.

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: