Brutalisme Sosial, Indikasi Masyarakat Mulai Sakit

by Fadly Muin on March 5, 2010

Hmm..

Judulnya agag terlihat galak.

Tulisan ini saya peruntukkan, khususnya saudara-saudara kita yang terkena imbas, akibat ulah sebagian orang, yang lebih menonjolkan kekerasan yang brutal, tak terkendali dan selalu mengklimaksisasi persoalan dengan tindakan menghantam, melukai, menghancurkan dan memberontak secara fisik.

Kondisi seperti itu, bagi saya, adalah sebuah keadaan yang sangat memilukan hati. Bukan karena apa-apa. Bayangkan jika semua hal, diselesaikan dengan cara brutal?

Lalu apa gunaanya komunikasi, apa gunanya ilmu, apa gunanya kecerdasan? Tentu saja ada!

Namun jika belum di selimuti oleh kesantunan, kasih sayang, dan sifat-sifat kemanusiaan yang mengutamakan keberlangsungan yang lebih baik. Maka apa-apa yang sudah di raih dengan cara yang baik, akan berakhir dengan cara yang tidak semestinya.

Coba saja anda nonton TV sepekan ini. Tentu bagi anda yang menginginkan ketenangan, acara sepekan ini, sangat menggores ketenteraman jiwa kita sebagai manusia.

Kegaduhan politik, yang berakhir dengan arogansi.  Perhatikan juga aksi-aksi massa, berakhir dengan bentrokan fisik.

Apa ini merupakan cita-cita komunitas manusia? Terlalu pahit untuk di jawab. Sebab, jika kita berkata tidak, Namun fakta di lapangan mengatakan sebaliknya.

Disisi lain, jika anda suka membaca berita kriminal. Aksi-aksi penjahat yang brutal tak terkendali. Mengakibatkan efek intimidasi psikologis bagi sebagian kita. Terutama kaum ibu-ibu, anak gadis, para pekerja perempuan.

Rasa takut, tidak aman, senantiasai menemani perjalanannya. Pergi dan pulang ke kantor. Pergi dan pulang sekolah. Pergi dan pulang berbelanja.

  • Indikasi-indikasi seperti itu, apakah terlalu berlebihan jika saya mengatakan bahwa masyarakat kita sudah sakit?

Sakit karena fungsi keteraturannya, sebagai Pilar untuk menjaga keseimbangan hidup. Menciptakan ketenteraman, demi keberlangsungan komunitas manusia, sudah mulai tercabik. Tergerogoti dengan cara-cara yang menyakitkan.

Masyarakat sebagai sebuah kumpulan besar manusia, sepatutnya di ikat dalam pemahaman yang layak. Bahwa hidup ini sejatinya di lindungi oleh pekerti yang bijaksana. Mengedepankan cita-cita luhur. Berbaik sangka, berbuat sesuatu demi menjaga stabilitas hidup yang tentram, damai dan happy!

Saya rasa ini adalah bentuk curahan hati saya. Bentuk kesedihan saya sebagai salah satu bagian dari komunitas masyarakat itu.

Mari jaga hidup ini!

{ 76 comments… read them below or add one }

Habib Yunus March 5, 2010 at 19:24

Saya rasa pendapat mas ada benarnya, memang bangsa kita saat ini sedang sakit dan butuh seseorang yang mampu mengobati rasa sakit itu. Seseorang itu adalah pemimpin. Kita butuh pemimpin yang benar-benar berpikir dan berjiwa besar. Apakah pemimpin sekarang tidak memiliki itu? Biar ia sendiri yang menjawabnya…

Reply

dafiDRiau March 5, 2010 at 20:58

Kadang kala mereka sudah kehabisan akal mas, sehingga marah mengalahkan mereka,

Reply

Khalid Abdullah March 5, 2010 at 23:28

nafsu yang jadi tuhan mereka

Reply

mh March 6, 2010 at 08:02

kalo agama dijadikan tuhan, pasti hasilnya anarki…
agama ya agama, tuhan ya tuhan..
makanya yg gak punya agama kadang lebih manusiawi daripada yg paham agama.

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 11:15

apapun yang dijadikan Tuhan selain Tuhan yang sebenarnya, saya rasa hasilnya bisa di tebak mas, “menyimpang!”

Reply

mh March 6, 2010 at 18:45

menyimpang? maho dong? :maho
:ngakak

fadlymuin March 6, 2010 at 19:17

he he he… sikat terus

Reply

fadlymuin March 5, 2010 at 23:36

begitulah kalau nafsu menjadi raja mas Dafid..

Reply

Arief Rizky Ramadhan March 5, 2010 at 21:44

waduh di kaskus ada tuh mas.. bakar ban jadi pocong demonya menuju ke arah brutalisme :cd

Reply

fadlymuin March 5, 2010 at 23:37

bentuknya bisa bermacam2 rief.. :hoax

Reply

annosmile March 5, 2010 at 22:15

wah..saya sudah muak dengan politik mas..
semuanya menjurus ke arah brutalisme…

Reply

fadlymuin March 5, 2010 at 23:39

rasa muak anda adalah bukti bahwa perjalanan politik ada yang konslet.. memang brutalisme itu patut jadi perhatian

Reply

Suarakelana March 5, 2010 at 22:30

memprihatinkan memang…
melihat tayangan seperti itu saya sering serba salah
tidak dilihat bisa ketinggalan informasi, dilihat malah membuat rasa tidak nyaman di hati

Reply

Khalid Abdullah March 5, 2010 at 23:29

ya sudah menonton blog sahabat saja lah… lebih aman dan nyaman

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 19:27

keknya itu cara yang paling segar mas :rose:

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 19:26

iya pak, saya juga gitu. ngikutin tapi ga masuk ke emosi. paling tidak sebagai bahan refleksi kita.

Reply

dodypku March 5, 2010 at 23:05

Saya juga prihatin Mas, apalagi orang yang kita pilih dan kita percaya tingkahnya seperti anak TK… apa seperti ini cerminan bangsa kita, seharusnya mereka malu dgn apa yang mereka lakukan

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 11:17

saat emosi memuncak, rasa malu, rasional, etika, sopan santun, semuanya akan tersimpan rapih di laci yang terkunci. untuk membukanya hanya diperlukan moral yang bijaksana.. trims mas Dody atas keprihatinannya

Reply

kucrit March 5, 2010 at 23:15

sepertinya curahan hati mas fadly ada kemiripan dengan apa yang saya tulis tadi sore.. masalah keanarkisan yang mencontreng wajah manis indonesiaku..
:

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 11:20

oh gitu yah.. nti aku tengok deh

Reply

arsumba March 5, 2010 at 23:20

saya jadi tertarik dengan kata2 ini mas : “apa gunaanya komunikasi, apa gunanya ilmu, apa gunanya kecerdasan?”. Karena menurut penerawangan mata batin saya justru mereka2 yang sering berbuat brutal adalah orang yang mempunyai kemampuan seperti ini.. tapi ndak tahu juga lah.. atau malah justru kebalikannya..

Reply

Khalid Abdullah March 5, 2010 at 23:32

mungkin mereka lupa, kalau mereka punya ilmu seperti itu

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 11:22

editor yang kritis dan cerdas! mantap mas..

seharusnya memang begitu, tapi kenapa eh kenapa… mereka tak mengerti??

Reply

Khalid Abdullah March 5, 2010 at 23:27

kata Imam, mas Fadly publishnya malem2 ya ??? ohh benar rupanya ! komentarnya masih sedikit…

saya baru saja mas, nonton cuplikannya di tv… bener2 kayak preman yang lagi diambil jatah malaknya…

memilukan…

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 11:23

betul mas Khalid, untuk 2 pertanyaannya!
saya memang suka posting malam-malam.
dan kejadian di tv itu memang seperti preman yang lagi rebutan jatah

Reply

Imamz March 11, 2010 at 18:31

ehm ehm . bawa bawa nama saya tuh . Hahaha

Thanks
Imamz

Reply

Catatan Hery March 5, 2010 at 23:49

saya tunggu-tunggu, akhirnya muncul juga artikel sperti ini di blog mas fadly. Artikel yang mencoba menyadarkan para pembaca tentang faktual yang terjadi di negeri kita ini.

Saya berharap kita semua setelah membaca artikel bisa sama-sama merenung, bahwa hidup tidak hanya melulu tentang pergumulan pribadi untuk sukses. Tapi ada kepentingan yang lebih besar yang harus diperhatikan, ketertiban dan kesejahteraan bersama.

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 11:36

kalau mau sedikit angkuh, materi sosial seperti ini adalah sarapan saya mas :D tapi saya sudah terlalu bosen dengan realitas seperti ini mas Hery.. namun tetap untuk memuaskan dahaga saya dan orang2 yang peduli seperti mas Hery, akan saya selipkan juga nantinya tema2 seperti ini….

semoga saja, termasuk juga uneg2 mas hery bisa terwujud dengan damai…

Reply

Rafi March 6, 2010 at 00:31

Menurut Sy, itu sebagian dari Hukum sebab akibat mas. Ada Api pasti akan ada asap yg timbul… :berduka

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 11:25

betul mas Rafi. apapun kejadian di dunia ini, tak akan lepas yang namanya Hukum Sebab-Akibat. namun, saya khawatir kita akan bersikap normatif dan merespon hal itu sebagai sesuatu yang wajar.

yah.. mudah-mudahan indonesia bisa menjadi komunitas besar yang damai..

Reply

M Mursyid PW March 6, 2010 at 00:36

Saya nyaris post materi seperti ini.
Bener sekali, Mas. Sepakat dengan semua tulisannya.

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 11:26

tapi apa sudah di posting atau belum mas?

Reply

iskandaria March 6, 2010 at 02:46

Salah satu penyebab lahirnya tindakan brutal mungkin karena tekanan hidup mas. Penyebab lain, ada energi berlebih di dalam diri manusia itu yang menumpuk dan akhirnya keluar tak terkendali. Padahal sebenarnya energi itu bisa diolah atau disalurkan ke arah yang positif atau konstruktif. Bukan malah destruktif (merusak).

Sebenarnya dengan melakukan kegiatan-kegiatan positif (seperti olahraga teratur) bisa meminimalisir penyaluran energi yang kurang tepat. Cara lain, kita harus berupaya menemukan, menggali, dan kemudian berupaya mengembangkan potensi diri ini, supaya bisa bahagia. Orang yang bahagia kecil kemungkinan akan bertindak brutal kalo menurut saya.

Selebihnya, saya sangat setuju bahwa sudah saatnya kita mengembangkan rasa kasih sayang antar sesama (alias nilai-nilai kemanusiaan). Sebab manusia tidak ada bedanya dengan hewan jika perbuatannya mencerminkan sifat-sifat hewani.

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 11:31

tadi mas Rafi di atas sudah memberi masukan, bahwa ini tak lepas dari hukum sebab akibat. saya setuju itu. dan kita tidak bisa terhindar dari efek sebabnya, kecuali kita dan seluruh komponen, bergotong royong merubahnya secara fundamental, tapi rasanya terlalu naif. jadi kita butuh yang namanya proses.

masalahnya, apakah sudah ada rangasangan untuk menciptakan proses yang lebih baik atau malah terjebak dalam status quo. karena adanya kepentingan-kepentingan sendiri.

pemerintah memang memegang peranan, tapi komponen lainpun harus memberikan dukungan dalam bentuk tindakan.

jadi kita sepakat mas is, bahwa sudah saatnya kita menciptakan suasana yang mendukung terciptanya suasana bersisoal yang lebih harmonis…..

Reply

Ahmad Subandono March 6, 2010 at 20:17

coba mereka rame2 menyalurkan energinya dengan blogging..weiz makin mantabb dunia maya ini

Reply

Bisnis Online March 6, 2010 at 06:44

Yup bener nih…

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 11:38

begitulah mas…

Reply

mh March 6, 2010 at 07:56

+1 aja deh gan.. saya penganut aliran kepercayaan kepada batu dan pohon besar :ngakak

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 11:38

nanti aku sumbangin pohon2 besar di cijantung mas wakakak

Reply

candradot.com March 6, 2010 at 11:07

perlu diajarin mas ramah keknya

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 11:39

siapa sih mas rama itu mas? cuma segelintir orang yang peduli sama pengais sampah… :D

Reply

candradot.com March 6, 2010 at 12:08

bener mas,
waktu baca tulisan itu, bener2 gubrak gak taunya mas rama itu siapa hehehe
dan adem aja bacanya

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 19:29

nanti deh di cariin lagi tema yang pas buat mas Candra :)

Reply

evan March 6, 2010 at 11:51

brutalisme dikalangan masyarakat sudah terjadi di semua kalangan dan lapisan masyarakat, dari preman, mahasiswa, sampai wakil rakyat.. mumpung masih mulai sakit mari sama-sama kita cari solusinya…

btw, brutalisme di kalangan bloger ada gak ya mas? :batabig

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 12:18

kalau di kalangan blogger ada ngga yah? bisa ada bisa tidak mas. tergantung tindakan dan perspektifnya :cendol

Reply

hanif IM March 6, 2010 at 11:51

sebagai obat mujarab saya gak nyentuh TV yg berbau politis, sudah capek ngikutin terus.

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 12:19

itu merupakan tindakan ektrim mas Hanif

Reply

Vidzas Erdien| Gara-Gara Candradot.com .... March 6, 2010 at 15:22

memang… saya kadang ngga ngerti, apa sih maunya mereka? segala sesuatu kok harus diselesaikan dengan brutalisme, padahal sebenarnya segala sesuatu bisa diselesaikan dengan kedamaian dan hasilnya pasti lebih damai.
Bagi yang masih “makan bangku kuliah” sekitar tahun 97-98, mungkin pernah menyampaikan aspirasi yang diharapkan baik untuk negeri ini. Saya pun pernah melakukannya, tetapi ngga ada niatan sedikit pun untuk melakukan tindakan brutal. Ngapain harus brutal, toh yang dihasilkan dengan brutalisme bukan kebaikan, malah kerugian yang amat besarlah yang terjadi.

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 19:33

kalau mas Vidzas pernah baca bukunya erick Fromm judulnya “akar-akar kekerasan” disitu di jelaskan. pada dasarnya manusia itu agresif dan cenderung merusak.

keteraturan sosial tercipta karena perkembangan zaman sudah membaik. ada ilmu ada norma ada aturan-aturan yang membatasi sifat2 agresifitas yang destruktif, brutal.

faktanya, jika brutalisme kembali terjadi. berarti nilai-nilai dan norma2, etika dan sebagainya itu, sudah tidak manjur lagi. jadi perlu pendalaman dan revolusi mental..

Reply

Vidzas Erdien| Gara-Gara Candradot.com .... March 6, 2010 at 23:01

Oh gitu Mas, jujur saja saya belum pernah baca tu buku.
Makasih Mas dah dishare.
Perlu revolusi mental? Blog ini berarti yang harus menjadi pengagas, perancang, dan menjadi pionir untuk mewujudkannya :rose:

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 23:11

trims atas support yang tulus itu mas Vidzas :sun:

Reply

Agus Siswoyo March 6, 2010 at 16:15

Untung saya lebih suka berinteraksi di internet, jadi nggak ada yang namanya tawuran antar blogger.

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 19:36

muantep. ngennet, blogging, dan aktifitas internet yang lainnya mampu mengikis sifat2 brutal..

Reply

Ricky March 6, 2010 at 16:45

Mengikuti “pertempuran” politik beberapa minggu terakhir ini memang panas, brutalisme bukan hanya milik seseorang dengan wajah corang moreng dan kaos oblong. Bahkan didalam gedung orang-orang berjas rapi pun memberikan contoh bagaimana brutalisme juga berlaku dikalangan mereka :)

Reply

Iwan Kus March 6, 2010 at 19:41

buat semua rekan blogger peace aja deh

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 19:58

peace juga dong mas… :rose:

Reply

Ahmad Subandono March 6, 2010 at 20:19

bunganya dapet darimana mas :)

Reply

Iwan Kus March 6, 2010 at 19:47

kalo yg brutal artikelnya
gmn mas hehehe

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 19:59

paling2 ga di baca.. gitu aja mas.

Reply

Cara Cari Duit March 6, 2010 at 19:47

yang terpenting kita nggak boleh ikut-ikutan brutal,malah tambah ribet nantinya.

Reply

Ahmad Subandono March 6, 2010 at 20:20

aksi brutal mereka adalah pelampiasan nafsu yang salah BESAR!

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 21:13

setuju!

Reply

joko santoso March 6, 2010 at 20:41

Itu bedanya blogger dan politisi, kalo blogger dikenal orang selalu memperhatikan dan selalu mengerti perasaan orang, tapi kalo politisi ingin tenar ia harus selalu cari perhatian

Reply

fadlymuin March 6, 2010 at 21:15

ada benarnya juga. namun masih terlalu prematur pendapat ini pak. hanya saja, saya tidak menampik, bahwa karakter blogger lebih menupayakan keuatan daya fikir. menggugah lewat tulisan.. saya sepakat itu pak Joko

Reply

Triagung.com March 6, 2010 at 20:47

arogansi yang terjadi sekarang merupakan cermin akan keterpurukan akhlak yang bersumber, semakin jauhnya manusia dari tuntunan islam…

Reply

LendraAndrian March 7, 2010 at 00:04

kemarin melihat juga sangat miris di hati… ini manusia apa binatang? :hoax hehhee..ko brutalnya seperti itu.. rasa kasih sayang antar manusia sudah tidak ada, mungkin mata hatinya sudah buta.

Reply

Bundapreneur March 7, 2010 at 08:54

Jika nafsu menjadi raja,,,siapa yang jadi panglimanya…

Reply

Arief Rizky Ramadhan March 7, 2010 at 09:25

panglimanya bebegendut deh :ngakak

Reply

T. Wahyudi March 7, 2010 at 12:23

rindu kelembutan anti kekerasan saya mas….. he…

Reply

TuSuda March 7, 2010 at 12:45

Turut prihatin juga dengan kejadian kekerasan brutalisme sosial seperti itu. Mudah-mudahan segenap aparat yang berwenang bertindak secara tegas dan proporsional dalam menyikapi dilema sosial saat ini. Masyarakatpun harus turut menjaga kebersamaan, keamanan dan mengekang diri dari tindakan anarkis agar tidak dijadikan celah bagi yang senang “memancing di air keruh”.

Reply

fadlymuin March 8, 2010 at 00:48

tepat, sudah sepatutnya kita melakukan itu. mulai dari diri sendiri. dan di stimulus oleh aparat yang berwenang, sebagai mediator sekaligus inisiator.

Reply

Andre March 7, 2010 at 19:45

Apa kondisi hidup yang semakin susah memicu kesakitan itu ya mas..?

Salam kenal mas Fadly.. :)

Reply

Khery Sudeska March 7, 2010 at 22:59

Pada satu bagian, saya setuju dengan pendapat abang ini. Tapi, pada bagian lain kita juga mesti mampu melihat sebuah peristiwa seobjektif mungkin. Dalam sebuah anarkisme selalu saja ada pemicu; baik itu pemicu yang pasif atau pemicu yang aktif. Pemicu yang pasif bisa dicontohkan seperti keadaan, kemiskinan, dll. Pemicu yang aktif bisa dikatakan semacam hasutan, provokasi, dan semacamnya.

Setiap terjadi turbulensi sosial, pasti ada sebab. But, tidak menutup kemungkinan ada sebab yang dibuat-buat, disengaja, atau direkayasa. Saya kira, melakukan penyelesaian dengan “pendekatan sebab” ini juga penting untuk mendapat perhatian agar juga dapat dilakukan penanganan yang lebih tepat dan bijak; represif atau persuasif.

Selebihnya, saya setuju dengan pendapat abang… :)

Reply

fadlymuin March 8, 2010 at 00:46

Benar mas khery. saya pun tak ingin terlalu naif. bahwa keadaan ini mayoritas ada dalam kendali aman. tidak ada konflik dan lurus. saya sepakat dengan itu mas Khery.

jelas, bahwa sebuah kejadian yang gaduh, bentrok, bergesek, tentu ada sebuah pemicu, sebab dan alasan yang kuat. namun, saya selalu merasa risau, jika sebuah kejadian brutal, akan selalu di rasionalkan ataupun dilogiskan, sehingga kita akan selalu berada dalam suatu kondisi yang bisa merelakan keadaan yang mengutamakan kekerasan.

hal ini masih jadi pekerjaan rumah yang panjang buat kita semua. akan kita giring kemana dan dengan model bagaimana yang pantas dan ideal?

Trims mas Khery, sudah mengajak sekaligus mengingatkan, bahwa perlunya melihat sebuah persoalan secara utuh.. :)

Reply

Pasang Iklan Baris March 12, 2010 at 09:49

Yang penting nggak usah ikut-ikutan mas.Damai saja lebih baik melakukan sesuatu yang bermanfaat.

Reply

Ardiawan.Com March 25, 2010 at 14:09

betul mas, apalagi sekarang banyak pelajar yg suka tawuran

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: