Hmm..
Judulnya agag terlihat galak.
Tulisan ini saya peruntukkan, khususnya saudara-saudara kita yang terkena imbas, akibat ulah sebagian orang, yang lebih menonjolkan kekerasan yang brutal, tak terkendali dan selalu mengklimaksisasi persoalan dengan tindakan menghantam, melukai, menghancurkan dan memberontak secara fisik.
Kondisi seperti itu, bagi saya, adalah sebuah keadaan yang sangat memilukan hati. Bukan karena apa-apa. Bayangkan jika semua hal, diselesaikan dengan cara brutal?
Lalu apa gunaanya komunikasi, apa gunanya ilmu, apa gunanya kecerdasan? Tentu saja ada!
Namun jika belum di selimuti oleh kesantunan, kasih sayang, dan sifat-sifat kemanusiaan yang mengutamakan keberlangsungan yang lebih baik. Maka apa-apa yang sudah di raih dengan cara yang baik, akan berakhir dengan cara yang tidak semestinya.
Coba saja anda nonton TV sepekan ini. Tentu bagi anda yang menginginkan ketenangan, acara sepekan ini, sangat menggores ketenteraman jiwa kita sebagai manusia.
Kegaduhan politik, yang berakhir dengan arogansi. Perhatikan juga aksi-aksi massa, berakhir dengan bentrokan fisik.
Apa ini merupakan cita-cita komunitas manusia? Terlalu pahit untuk di jawab. Sebab, jika kita berkata tidak, Namun fakta di lapangan mengatakan sebaliknya.
Disisi lain, jika anda suka membaca berita kriminal. Aksi-aksi penjahat yang brutal tak terkendali. Mengakibatkan efek intimidasi psikologis bagi sebagian kita. Terutama kaum ibu-ibu, anak gadis, para pekerja perempuan.
Rasa takut, tidak aman, senantiasai menemani perjalanannya. Pergi dan pulang ke kantor. Pergi dan pulang sekolah. Pergi dan pulang berbelanja.
- Indikasi-indikasi seperti itu, apakah terlalu berlebihan jika saya mengatakan bahwa masyarakat kita sudah sakit?
Sakit karena fungsi keteraturannya, sebagai Pilar untuk menjaga keseimbangan hidup. Menciptakan ketenteraman, demi keberlangsungan komunitas manusia, sudah mulai tercabik. Tergerogoti dengan cara-cara yang menyakitkan.
Masyarakat sebagai sebuah kumpulan besar manusia, sepatutnya di ikat dalam pemahaman yang layak. Bahwa hidup ini sejatinya di lindungi oleh pekerti yang bijaksana. Mengedepankan cita-cita luhur. Berbaik sangka, berbuat sesuatu demi menjaga stabilitas hidup yang tentram, damai dan happy!
Saya rasa ini adalah bentuk curahan hati saya. Bentuk kesedihan saya sebagai salah satu bagian dari komunitas masyarakat itu.
Mari jaga hidup ini!
Share

{ 76 comments… read them below or add one }
Saya rasa pendapat mas ada benarnya, memang bangsa kita saat ini sedang sakit dan butuh seseorang yang mampu mengobati rasa sakit itu. Seseorang itu adalah pemimpin. Kita butuh pemimpin yang benar-benar berpikir dan berjiwa besar. Apakah pemimpin sekarang tidak memiliki itu? Biar ia sendiri yang menjawabnya…
Kadang kala mereka sudah kehabisan akal mas, sehingga marah mengalahkan mereka,
nafsu yang jadi tuhan mereka
kalo agama dijadikan tuhan, pasti hasilnya anarki…
agama ya agama, tuhan ya tuhan..
makanya yg gak punya agama kadang lebih manusiawi daripada yg paham agama.
apapun yang dijadikan Tuhan selain Tuhan yang sebenarnya, saya rasa hasilnya bisa di tebak mas, “menyimpang!”
menyimpang? maho dong? :maho
:ngakak
he he he… sikat terus
begitulah kalau nafsu menjadi raja mas Dafid..
waduh di kaskus ada tuh mas.. bakar ban jadi pocong demonya menuju ke arah brutalisme :cd
bentuknya bisa bermacam2 rief.. :hoax
wah..saya sudah muak dengan politik mas..
semuanya menjurus ke arah brutalisme…
rasa muak anda adalah bukti bahwa perjalanan politik ada yang konslet.. memang brutalisme itu patut jadi perhatian
memprihatinkan memang…
melihat tayangan seperti itu saya sering serba salah
tidak dilihat bisa ketinggalan informasi, dilihat malah membuat rasa tidak nyaman di hati
ya sudah menonton blog sahabat saja lah… lebih aman dan nyaman
keknya itu cara yang paling segar mas :rose:
iya pak, saya juga gitu. ngikutin tapi ga masuk ke emosi. paling tidak sebagai bahan refleksi kita.
Saya juga prihatin Mas, apalagi orang yang kita pilih dan kita percaya tingkahnya seperti anak TK… apa seperti ini cerminan bangsa kita, seharusnya mereka malu dgn apa yang mereka lakukan
saat emosi memuncak, rasa malu, rasional, etika, sopan santun, semuanya akan tersimpan rapih di laci yang terkunci. untuk membukanya hanya diperlukan moral yang bijaksana.. trims mas Dody atas keprihatinannya
sepertinya curahan hati mas fadly ada kemiripan dengan apa yang saya tulis tadi sore.. masalah keanarkisan yang mencontreng wajah manis indonesiaku..
:
oh gitu yah.. nti aku tengok deh
saya jadi tertarik dengan kata2 ini mas : “apa gunaanya komunikasi, apa gunanya ilmu, apa gunanya kecerdasan?”. Karena menurut
penerawangan mata batinsaya justru mereka2 yang sering berbuat brutal adalah orang yang mempunyai kemampuan seperti ini.. tapi ndak tahu juga lah.. atau malah justru kebalikannya..mungkin mereka lupa, kalau mereka punya ilmu seperti itu
editor yang kritis dan cerdas! mantap mas..
seharusnya memang begitu, tapi kenapa eh kenapa… mereka tak mengerti??
kata Imam, mas Fadly publishnya malem2 ya ??? ohh benar rupanya ! komentarnya masih sedikit…
saya baru saja mas, nonton cuplikannya di tv… bener2 kayak preman yang lagi diambil jatah malaknya…
memilukan…
betul mas Khalid, untuk 2 pertanyaannya!
saya memang suka posting malam-malam.
dan kejadian di tv itu memang seperti preman yang lagi rebutan jatah
ehm ehm . bawa bawa nama saya tuh . Hahaha
Thanks
Imamz
saya tunggu-tunggu, akhirnya muncul juga artikel sperti ini di blog mas fadly. Artikel yang mencoba menyadarkan para pembaca tentang faktual yang terjadi di negeri kita ini.
Saya berharap kita semua setelah membaca artikel bisa sama-sama merenung, bahwa hidup tidak hanya melulu tentang pergumulan pribadi untuk sukses. Tapi ada kepentingan yang lebih besar yang harus diperhatikan, ketertiban dan kesejahteraan bersama.
kalau mau sedikit angkuh, materi sosial seperti ini adalah sarapan saya mas
tapi saya sudah terlalu bosen dengan realitas seperti ini mas Hery.. namun tetap untuk memuaskan dahaga saya dan orang2 yang peduli seperti mas Hery, akan saya selipkan juga nantinya tema2 seperti ini….
semoga saja, termasuk juga uneg2 mas hery bisa terwujud dengan damai…
Menurut Sy, itu sebagian dari Hukum sebab akibat mas. Ada Api pasti akan ada asap yg timbul… :berduka
betul mas Rafi. apapun kejadian di dunia ini, tak akan lepas yang namanya Hukum Sebab-Akibat. namun, saya khawatir kita akan bersikap normatif dan merespon hal itu sebagai sesuatu yang wajar.
yah.. mudah-mudahan indonesia bisa menjadi komunitas besar yang damai..
Saya nyaris post materi seperti ini.
Bener sekali, Mas. Sepakat dengan semua tulisannya.
tapi apa sudah di posting atau belum mas?
Salah satu penyebab lahirnya tindakan brutal mungkin karena tekanan hidup mas. Penyebab lain, ada energi berlebih di dalam diri manusia itu yang menumpuk dan akhirnya keluar tak terkendali. Padahal sebenarnya energi itu bisa diolah atau disalurkan ke arah yang positif atau konstruktif. Bukan malah destruktif (merusak).
Sebenarnya dengan melakukan kegiatan-kegiatan positif (seperti olahraga teratur) bisa meminimalisir penyaluran energi yang kurang tepat. Cara lain, kita harus berupaya menemukan, menggali, dan kemudian berupaya mengembangkan potensi diri ini, supaya bisa bahagia. Orang yang bahagia kecil kemungkinan akan bertindak brutal kalo menurut saya.
Selebihnya, saya sangat setuju bahwa sudah saatnya kita mengembangkan rasa kasih sayang antar sesama (alias nilai-nilai kemanusiaan). Sebab manusia tidak ada bedanya dengan hewan jika perbuatannya mencerminkan sifat-sifat hewani.
tadi mas Rafi di atas sudah memberi masukan, bahwa ini tak lepas dari hukum sebab akibat. saya setuju itu. dan kita tidak bisa terhindar dari efek sebabnya, kecuali kita dan seluruh komponen, bergotong royong merubahnya secara fundamental, tapi rasanya terlalu naif. jadi kita butuh yang namanya proses.
masalahnya, apakah sudah ada rangasangan untuk menciptakan proses yang lebih baik atau malah terjebak dalam status quo. karena adanya kepentingan-kepentingan sendiri.
pemerintah memang memegang peranan, tapi komponen lainpun harus memberikan dukungan dalam bentuk tindakan.
jadi kita sepakat mas is, bahwa sudah saatnya kita menciptakan suasana yang mendukung terciptanya suasana bersisoal yang lebih harmonis…..
coba mereka rame2 menyalurkan energinya dengan blogging..weiz makin mantabb dunia maya ini
Yup bener nih…
begitulah mas…
+1 aja deh gan.. saya penganut aliran kepercayaan kepada batu dan pohon besar :ngakak
nanti aku sumbangin pohon2 besar di cijantung mas wakakak
perlu diajarin mas ramah keknya
siapa sih mas rama itu mas? cuma segelintir orang yang peduli sama pengais sampah…
bener mas,
waktu baca tulisan itu, bener2 gubrak gak taunya mas rama itu siapa hehehe
dan adem aja bacanya
nanti deh di cariin lagi tema yang pas buat mas Candra
brutalisme dikalangan masyarakat sudah terjadi di semua kalangan dan lapisan masyarakat, dari preman, mahasiswa, sampai wakil rakyat.. mumpung masih mulai sakit mari sama-sama kita cari solusinya…
btw, brutalisme di kalangan bloger ada gak ya mas? :batabig
kalau di kalangan blogger ada ngga yah? bisa ada bisa tidak mas. tergantung tindakan dan perspektifnya :cendol
sebagai obat mujarab saya gak nyentuh TV yg berbau politis, sudah capek ngikutin terus.
itu merupakan tindakan ektrim mas Hanif
memang… saya kadang ngga ngerti, apa sih maunya mereka? segala sesuatu kok harus diselesaikan dengan brutalisme, padahal sebenarnya segala sesuatu bisa diselesaikan dengan kedamaian dan hasilnya pasti lebih damai.
Bagi yang masih “makan bangku kuliah” sekitar tahun 97-98, mungkin pernah menyampaikan aspirasi yang diharapkan baik untuk negeri ini. Saya pun pernah melakukannya, tetapi ngga ada niatan sedikit pun untuk melakukan tindakan brutal. Ngapain harus brutal, toh yang dihasilkan dengan brutalisme bukan kebaikan, malah kerugian yang amat besarlah yang terjadi.
kalau mas Vidzas pernah baca bukunya erick Fromm judulnya “akar-akar kekerasan” disitu di jelaskan. pada dasarnya manusia itu agresif dan cenderung merusak.
keteraturan sosial tercipta karena perkembangan zaman sudah membaik. ada ilmu ada norma ada aturan-aturan yang membatasi sifat2 agresifitas yang destruktif, brutal.
faktanya, jika brutalisme kembali terjadi. berarti nilai-nilai dan norma2, etika dan sebagainya itu, sudah tidak manjur lagi. jadi perlu pendalaman dan revolusi mental..
Oh gitu Mas, jujur saja saya belum pernah baca tu buku.
Makasih Mas dah dishare.
Perlu revolusi mental? Blog ini berarti yang harus menjadi pengagas, perancang, dan menjadi pionir untuk mewujudkannya :rose:
trims atas support yang tulus itu mas Vidzas :sun:
Untung saya lebih suka berinteraksi di internet, jadi nggak ada yang namanya tawuran antar blogger.
muantep. ngennet, blogging, dan aktifitas internet yang lainnya mampu mengikis sifat2 brutal..
Mengikuti “pertempuran” politik beberapa minggu terakhir ini memang panas, brutalisme bukan hanya milik seseorang dengan wajah corang moreng dan kaos oblong. Bahkan didalam gedung orang-orang berjas rapi pun memberikan contoh bagaimana brutalisme juga berlaku dikalangan mereka
buat semua rekan blogger peace aja deh
peace juga dong mas… :rose:
bunganya dapet darimana mas
kalo yg brutal artikelnya
gmn mas hehehe
paling2 ga di baca.. gitu aja mas.
yang terpenting kita nggak boleh ikut-ikutan brutal,malah tambah ribet nantinya.
aksi brutal mereka adalah pelampiasan nafsu yang salah BESAR!
setuju!
Itu bedanya blogger dan politisi, kalo blogger dikenal orang selalu memperhatikan dan selalu mengerti perasaan orang, tapi kalo politisi ingin tenar ia harus selalu cari perhatian
ada benarnya juga. namun masih terlalu prematur pendapat ini pak. hanya saja, saya tidak menampik, bahwa karakter blogger lebih menupayakan keuatan daya fikir. menggugah lewat tulisan.. saya sepakat itu pak Joko
arogansi yang terjadi sekarang merupakan cermin akan keterpurukan akhlak yang bersumber, semakin jauhnya manusia dari tuntunan islam…
kemarin melihat juga sangat miris di hati… ini manusia apa binatang? :hoax hehhee..ko brutalnya seperti itu.. rasa kasih sayang antar manusia sudah tidak ada, mungkin mata hatinya sudah buta.
Jika nafsu menjadi raja,,,siapa yang jadi panglimanya…
panglimanya bebegendut deh :ngakak
rindu kelembutan anti kekerasan saya mas….. he…
Turut prihatin juga dengan kejadian kekerasan brutalisme sosial seperti itu. Mudah-mudahan segenap aparat yang berwenang bertindak secara tegas dan proporsional dalam menyikapi dilema sosial saat ini. Masyarakatpun harus turut menjaga kebersamaan, keamanan dan mengekang diri dari tindakan anarkis agar tidak dijadikan celah bagi yang senang “memancing di air keruh”.
tepat, sudah sepatutnya kita melakukan itu. mulai dari diri sendiri. dan di stimulus oleh aparat yang berwenang, sebagai mediator sekaligus inisiator.
Apa kondisi hidup yang semakin susah memicu kesakitan itu ya mas..?
Salam kenal mas Fadly..
Pada satu bagian, saya setuju dengan pendapat abang ini. Tapi, pada bagian lain kita juga mesti mampu melihat sebuah peristiwa seobjektif mungkin. Dalam sebuah anarkisme selalu saja ada pemicu; baik itu pemicu yang pasif atau pemicu yang aktif. Pemicu yang pasif bisa dicontohkan seperti keadaan, kemiskinan, dll. Pemicu yang aktif bisa dikatakan semacam hasutan, provokasi, dan semacamnya.
Setiap terjadi turbulensi sosial, pasti ada sebab. But, tidak menutup kemungkinan ada sebab yang dibuat-buat, disengaja, atau direkayasa. Saya kira, melakukan penyelesaian dengan “pendekatan sebab” ini juga penting untuk mendapat perhatian agar juga dapat dilakukan penanganan yang lebih tepat dan bijak; represif atau persuasif.
Selebihnya, saya setuju dengan pendapat abang…
Benar mas khery. saya pun tak ingin terlalu naif. bahwa keadaan ini mayoritas ada dalam kendali aman. tidak ada konflik dan lurus. saya sepakat dengan itu mas Khery.
jelas, bahwa sebuah kejadian yang gaduh, bentrok, bergesek, tentu ada sebuah pemicu, sebab dan alasan yang kuat. namun, saya selalu merasa risau, jika sebuah kejadian brutal, akan selalu di rasionalkan ataupun dilogiskan, sehingga kita akan selalu berada dalam suatu kondisi yang bisa merelakan keadaan yang mengutamakan kekerasan.
hal ini masih jadi pekerjaan rumah yang panjang buat kita semua. akan kita giring kemana dan dengan model bagaimana yang pantas dan ideal?
Trims mas Khery, sudah mengajak sekaligus mengingatkan, bahwa perlunya melihat sebuah persoalan secara utuh..
Yang penting nggak usah ikut-ikutan mas.Damai saja lebih baik melakukan sesuatu yang bermanfaat.
betul mas, apalagi sekarang banyak pelajar yg suka tawuran