Anak Pemulung dan Sekotak Susu

by fadlymuin on February 3, 2010

Ini ada sedikit cerita tentang anak pemulung. kisah ini, secara subyektif cukup menggugah saya. Walau sederhana. Namun saya bisa memetik manfaat yang berharga.

Selamat menikmati!

Hari minggu itu cukup sunyi. Seorang lelaki sebut saja namanya Ramah. Asyik membersihkan rumahnya. Rasanya ia baru menemukan waktu yang pas untuk beres-beres. Ramah termasuk seorang ayah yang suka akan keindahan. Ia paling tidak senang ada barang-barang berserakan di meja kerjanya. Walaupun meja kerja itu di rumah. Meja itu harus tampak rapih dan nyaman untuk beraktifitas disitu.

Sementara istri Ramah, sebut saja namanya Shinta, sibuk dengan tiga orang anaknya. Mengajak anaknya tidur siang, disamping menyita waktu, pekerjaaan itu cukup menantang kesabaran. Betapa tidak ketiga anaknya ini tergolong anak-anak yang aktif. Walaupun demikian, Shinta sangat menyayangi anak-anaknya. Sibuk di kantor membuat ia jarang mendapat waktu luang untuk bersendau gurau dengan anak-anaknya. Jadi Shinta tetap menikmati proses mengajak bobo siang ketiga anaknya itu.

Ramah dan Shinta seakan-akan sibuk dengan dunianya sendiri. maklum, sudah tiga bulan terakhir ini mereka tidak menggunakan jasa pembantu atau baby sitter. Bukan karena tidak mampu. Tapi karena budaya pembantu yang suka tidak betah dan selalu pulang dan tak balik lagi. Membuat mereka harus rela hidup tanpa pembantu. Dan jika berangkat kerja, mereka masih tertolong oleh ibu Shinta yang rela menjaga anak-anaknya sampai mereka pulang di malam hari.

Siang itu, yang terlihat sangat sibuk adalah Ramah. Barang-barang yang sudah tidak terpakai habis di babat dan di tempatkan ke tong sampah. Tak jarang Shinta melirik suaminya, jangan-jangan barang-barang aku ikut terbuang juga nih. Tapi kalau Ramah sudah mulai dengan aksi bersih-bersihnya, biasanya Shinta tak berani berguman. Maklum Ramah sangat cerewet untuk hal kebersihan dan kerapihan.

Siang itu pula yang memberi pengalaman berharga buat Ramah. Pada saat membuang sampah, ia berpapasan dengan seorang pemulung lelaki paruh baya bersama anak perempuannya yang cantik. Anak itu memakai topi agag kummel namun tetap berusaha menjaga parasnya agar terlihat cantik.

Kebetulan, sang pemulung tepat beroperasi di tong sampah milik Ramah. Dan Ramah sangat jelas melihat ekspresi anak itu yang sedikit takut ketika melihat Ramah yang pada saat bersamaan ingin membuang sampahnya.Gadis kecil itu agag berlari kecil menjauh dari Ramah. Seakan memberi kesan bahwa ia tidak akan membongkar sampah-sampah itu. Sebab si gadis kecil itu sudah berpengalaman di omelin oleh pemilik tong sampah dimana-mana.

Ramah pun tidak memberi ekspresi marah atau senang. Sikapnya biasa-biasa saja. namun sorotan mata ramah sedikit tertarik kepada gadis kecil yang bertopi agag kummel itu. Setelah masuk kembali ke rumah,  Ramah baru ingat. Ada sekotak besar susu. Sisa dari pemberian kakaknya yang belum sempat di habiskan oleh ketiga anaknya itu.

Buru-buru rama maraih sekotak susu itu dan berlari keluar mencari si gadis kecil yang sudah mencuri hatinya. Belum cukup jauh, sehingga rama masih sempat memanggilnya dengan teriakkan yang tidak terlalu keras, namun cukup bisa di dengar dengan jarak dua puluh langkah orang dewasa.

“De’…. ! sini… Ini buat adek yah..”

Dengan langkah malu-malu, dan sesekali menengok ke lelaki paruh baya yang bersamanya itu. Ia terus melangkah menghampiri ramah. Sang lelaki paruh baya lalu memberi ekspresi restu dan mengisyaratkan agar si gadis kecil jangan lupa untuk berucap terima kasih.

“Terima kasih pak”. Tegas tapi dengan getaran malu-malu dan bibir agag di gigit, sorot mata yang tulus. Membuat ramah sangat terhenyuh. Tanpa disadari, pesan moral yang di bawah oleh gadis kecil itu, yang terpancar dari sorot wajah polos, cukup menghentak hati Ramah.

Setelah berlalu, ramah masuk ke rumah dan duduk termenung sesaat.seperti ada yang sedang di fikirkan. Kejadian yang sederhana itu. Memberikan sekotak susu kepada anak pemulung. sekotak susu yang harganya setara dengan tarif dua kali parkir motor. . ternyata mampu Memberikan getaran emosional yang mendalam dan simpatik di lubuk hati ramah.

Ia lalu menengok ke kamar. Melihat anak-anaknya sudah tertidur pulas dengan botol kosong di tangannya yang belum sempat terlepas. Seketika itu juga Ramah berucap syukur dalam hati. Ya Allah, betapa Engkau sudah memberikan nikmat yang begitu besar kepadaku. Kenapa selama ini saya kurang mensyukuri semua itu?

Nikmat berkumpul di hari minggu bersama anak-anak dan istri. Melihat mereka dalam keadaan aman dan bisa beristrahat dengan pulas. Udara sejuk AC menambah kenikmatan tidur siang itu. Sementara anak gadis yang baru saja di jumpai Ramah, harus rela ikut bersama bapaknya, berkeliling kota untuk mengumpulkan barang-barang rongsokan. Yang mungkin sekilonya di hargain seperempat harga sekotak susu. Apalagi tak jarang mereka terkena omelan, karena mengorek-ngorek sampah orang lain. Dengan alasan mereka telah mengganggu keindahan. Mereka telah membongkar-bongkar sampah.

Bagaimana jika hal itu terjadi pada saya, bagaimana jika anak saya harus rela ikut bersama saya keliling kota untuk mencari barang-barang rongsokan yang masih layak dan masih bisa di jual. Ramah berguman dalam hati. Terjadi perdebatan sengit antara ego dan nuraninya.

Sejak saat itu, hanya karena ramah memberi sekotak susu karena perasaan iba. Ramah justru mendapatkan pesan yang sangat bijak dari sorotan mata si gadis kecil yang sulit di lukiskan dengan kata-kata itu. Sejak saat itu, ramah benar-benar menghargai apapun profesi seseorang. Dan ramah benar-benar telah merasakan betapa ia sering lupa untuk bersyukur. Ramah tenggelam dalam perbincangan terdalam di hatinya..

*Tahukah anda, siapa sosok yang bernama Ramah itu? Ramah itu adalah saya!

Share

{ 52 comments… read them below or add one }

1 Bundapreneur February 3, 2010 at 05:15

Dan kita bisa mjd ramah

Reply

2 Agus Siswoyo February 3, 2010 at 07:06

Hmmm, pengen nih jadi anak angkat Ramah…
:siul

Reply

3 fadlymuin February 3, 2010 at 08:50

he he he… nanti saya bilang ke Ramah yah mas :D

Reply

4 fadlymuin February 3, 2010 at 08:50

dalam situasi dan kondisi yang berbeda, saya yakin banyak yang merasakan “esensi” seperti apa yang di rasakan ramah

Reply

5 im-bisnis(dot)com February 3, 2010 at 05:47

profesi apapun baik, yang penting halal, satu sama lain saling mendukung :iloveindonesia :cendol

Reply

6 fadlymuin February 3, 2010 at 08:51

respon bijak mas… mantaps

Reply

7 Arief Rizky Ramadhan February 3, 2010 at 20:37

setuju sama mas ahmad :cendol

Reply

8 KangAsep February 3, 2010 at 05:53

KENALAN DULU AH: salam kenal mas… :thanks2

Reply

9 fadlymuin February 3, 2010 at 08:51

salam kenal juga Kang Asep :) makasih sudah mampir

Reply

10 IwanKus February 3, 2010 at 06:10

akhir cerita yang mengejutkan…
kayaknya mas fadly ada bakat juga jadi penulis cerita suspend…

Reply

11 fadlymuin February 3, 2010 at 08:53

makanya ini lagi eksplorasi mas, dimana karakter yang paling lengket di hati.. goal tahun ini khan ajukan proposal ke penerbit :D mohon doanya

Reply

12 Agus Siswoyo February 3, 2010 at 07:08

Beruntunglah bagi mereka yang bisa bersyukur dengan limpahan nikmat.

Reply

13 fadlymuin February 3, 2010 at 08:54

tak terbantahkan lagi mas agus. itu memang suatu nikmat spiritual yang susah untuk di tandingi

Reply

14 mashengky.com February 3, 2010 at 07:19

untung aja gak ketemu preman blogger. :jrb:

Reply

15 fadlymuin February 3, 2010 at 08:54

kalau ketemu preman blogger, paling juga di ajarin ngeblog. di ajarin cari duit lewat blog.. pokoke jangan malak aja :D

Reply

16 mashengky.com February 3, 2010 at 09:05

wakakakak… diajarin cara nyablon kaos aja oom.. :hammer

Reply

17 Arief Rizky Ramadhan February 3, 2010 at 20:37

wkwkwkwk bagi-bagi kaos nih.. mas fadly ga ikut ? :cd

Reply

18 arkum February 3, 2010 at 07:54

1. Cara pengungkapan tulisan dg gaya yg berbeda lagi nih ms….ada puisi, keilmuan murni, cerpen, lalu apalagi ya nantinya ? hehehe…tak tunggu cara menulis lainnya ms. Tambah mantab nih. :cendol

2. Cara menulis skrng ini persis yg pernah sy lakukan ms, kesimpulan justru pada posisi terakhir. hehehe….kita punya karakter yg sm ya mas ? :rate

3.Mas, nanya nih….ditulisan atas itu ada Rama dan Ramah, itu orang yg berbeda atau sama ya ms?

4. hehehe…udah kebanyakan ms,kapan2 sj

Reply

19 fadlymuin February 3, 2010 at 09:16

1. lagi mencoba menyelami cara penuisan yang berbeda mas
2. wah… senangnya ada yang mirip2 sama aku :D
3. yang bener ramah. maklum “H” kurang kuat pencetnya
4. tidak apa-apa mas…

pokoke mantaplah….!

Reply

20 Agus Siswoyo February 3, 2010 at 20:38

Saya sendiri terkadang jenuh dengan metode penulisan yang biasa-biasa di blog saya. Terpikir untuk posting pakai bahasa Jawa, Inggris, pantun, prosa dan lain-lain.

Tapi tentu saja ada resiko kehilangan pengunjung setia, karena tidak semuanya menyukai sastra.
:rate

Reply

21 fadlymuin February 4, 2010 at 00:10

kembali lagi kepada selera mas.

Reply

22 arkum February 3, 2010 at 09:33

Usul ms,kpn2 bhs model2 penulisn diinternet
hehehe…skalian belajar sinewbie ini

Reply

23 fadlymuin February 3, 2010 at 09:49

ok mas… makasih usulannya

Reply

24 T. Wahyudi February 3, 2010 at 11:47

mungkin kalau presiden n pejabat2 kita kayak si ramah semua…. pasti deh… gak ada orang miskin di indonesia…

terimakasih mas… atas pelajarannya…. saya merinding banget nih bacanya….

Reply

25 fadlymuin February 3, 2010 at 11:58

ah serius nih sampe merinding?

Reply

26 Suarakelana February 3, 2010 at 12:40

sudah saya duga Ramah itu mas fadly, karakternya terbaca cukup jelas he…he….

Reply

27 fadlymuin February 3, 2010 at 15:34

berarti perlu membuat karakter yang berbeda nih, supaya ga kebaca :)

Reply

28 Ricky February 3, 2010 at 13:58

Benar mas ramah, saya sangat setuju bahwa kita harus menghargai setiap profesi yang ada. Kisah yang menyentuh dan memotivasi kita untuk selalu berbagi.

salam,

Reply

29 fadlymuin February 3, 2010 at 15:35

he he he.. gara gara artikel ini namaku berubah jadi ramah nih :malu2

Reply

30 MasterClickCom February 3, 2010 at 18:27

:ngakak sepintas sy membacanya gt jg . Ternyata “saya” itu dipandang dari sudut lain

Reply

31 fadlymuin February 3, 2010 at 18:59

he he he.. untuk aja ga keterusan mas :D

Reply

32 candradot.com February 3, 2010 at 14:22

penasaran, trus tak baca pelan2 sampe bawah.
eh ternyata bener, si ramah itu mas fadly.
dari sini yang bisa saya ambil pandai bersyukur mas.
dan menghargai profesi orang lain termasuk tukang tambal ban

Reply

33 fadlymuin February 3, 2010 at 15:37

he he.. saya bayangin wajah mas chandra yang serius baca sampe habis,,, dan..”jedder! ternyata dia orangnya”

syukur kesannya mudah. ternyata susah banget.. artikel ini salah satu saya belajar bagaimana rasanya bersyukur mas

Reply

34 mashengky.com February 3, 2010 at 17:19

besok bayarin makan di pizza ya mas..

Reply

35 fadlymuin February 3, 2010 at 17:27

wakakaka… udah di todong nih.. insyaAllah. utangku belum terbayar mas.

Reply

36 andry sianipar February 3, 2010 at 18:32

salam super-
salam hangat dari Pulau Bali-
mantab mas,,, inspiratif banget… semoga kita bisa menjadi manusia yang bisa selalu bersyukur ya…

Reply

37 fadlymuin February 3, 2010 at 19:00

harapan kita sama mas

Reply

38 sumartono February 3, 2010 at 20:24

Peluang bisnis nih bagi penyalur tenaga kerja pembantu. Buat meringankan tugas Mas Rama dan Mba Sinta di rumah.

Salam buat Mas Fadly dan keluarga.

Reply

39 Agus Siswoyo February 3, 2010 at 20:47

Blogging for PJ TKI nih…?
:siul

Reply

40 fadlymuin February 4, 2010 at 00:14

tapi harus siap siap menuai protes dari para majikan mas. kalau di kelolah dengan baik. bisnis ini menjanjikan kok. kesulitannya adalah mengolah SDM-nya

Reply

41 Arief Rizky Ramadhan February 3, 2010 at 20:35

waaah mas fadly ini punya pengalaman hidup yang sangat mengharukan yaa :mewek… saya terharu banget baca artikel ini…. :mewek :mewek… semoga mas fadly sekeluarga selalu diberikan berkah dari Allah Swt. :cendol

Reply

42 Agus Siswoyo February 3, 2010 at 20:43

Layak jadi cerita sinetron. Judulnya: Blogger Insyaf.
:ngakak

Reply

43 fadlymuin February 4, 2010 at 00:15

amin…! terima kasih rief.. mudah-mudahan Arief juga mendapatkan hal yang sama dengan doa itu, amin

Reply

44 Arief Rizky Ramadhan February 4, 2010 at 05:45

amin terima kasih kembali mas fadly :cendol

Reply

45 Andrik Sugianto February 3, 2010 at 21:04

Jika kita bisa meresapi artikel ini, maka sudah seharusnyalah kita rajin2 bersyukur. Iya kan mas fadly?

Reply

46 fadlymuin February 4, 2010 at 00:17

seharusnya sih begitu mas Andrik..
namun bersyukur juga perlu edukasi agar hati bisa menerima dengan lapang

Reply

47 Cara Cari Duit February 5, 2010 at 09:13

Setidaknya kita harus bersyukur kepada tuhan karena sampai saat ini kita telah diberikan rejeki hidup lebih baik dari orang lain pada umumnya.

Reply

48 cah ndeso February 5, 2010 at 09:42

apapun yang kita berikan, sekecil apapun yang kita sedekahkan, jika diikuti dengan niat tulus ikhlas niscaya akan memberikan kebaikan dan berlimpahnya rizki yang akan kita terima.

Masih banyak adek-adek kecil lainnya yang menengadahkan tangan mengharap iba dan welas asih dari sesama di tengah kerasnya himpitan kehidupan dan minimnya lapangan kerja bagi orang tua mereka.

Alhamdulillah sudah diingatkan. Terima kasih banyak Mas.

Salam hangat, sukses dan jabat erat selalu dari Lereng Muria ;)

Reply

49 fadlymuin February 6, 2010 at 00:46

ini hanyalah sepercik upaya untuk menggugah. semoga bermanfaat

Reply

50 iskandaria February 5, 2010 at 12:26

Maaf baru sempat ngasih komentar buat tulisan inspiratif di atas. Maklum, menyimaknya harus secara perlahan dan dalam kondisi yang tidak terburu waktu. Biar pesannya nyampe ke otak dan hati saya yang paling dalem :)

Kadang saya juga ngerasain hal yang dirasain Ramah di atas ketika melihat fenomena kehidupan di luar sana. Betapa sebenarnya hidup saya jauh lebih baik ketimbang mereka. Ah, malu juga rasanya kalau mengeluh atau merasa kurang puas dengan kondisi hidup saya sekarang :malu

Makasih buat kisah inspiratifnya mas. It’s Excellent! (setuju dengan komentar mas Arkum, bahwa cara pengungkapan ide bisa kita buat bervariasi, biar pembaca tidak merasa didikte atau digurui).

Sayangnya, karakter atau gaya penulisan saya selama ini mungkin cenderung mendikte atau menggurui. Harus banyak belajar dari Mas Fadly nih!

Reply

51 fadlymuin February 6, 2010 at 00:43

ntah kenapa, ide ini tiba-tiba muncul. padahal kejadiannya sudah berlalu beberapa minggu yang lalu.
mengenai model penulisan, harap maklum mas. lagi senang-senangnya mengeksplore. lagi nyari magnint di setiap model2 tulisan.

Reply

52 A9YnD1LV3R February 5, 2010 at 14:05

Betul mas Fadly, banyak orang dan termasuk saya lupa akan kebersyukuran. Padahal Allah dalam Al Quran telah memberi tahu bahwa, siapa yang bersyukur akan ditambahkan nikmat.

Tambahan sedikit saja mas, buat menambah isi artikel yang menarik ini. :rate

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: