Terinspirasi dari tulisan BebeGendut baru-baru ini. Yang mencoba mengilustrasikan bahwa kegiatan menulis itu dutujukan untuk siapa sih sebenarnya. Apakah untuk diri sendiri atau untuk orang lain?
Hmm.. untuk menjawab ini, tentu saja ada hal-hal yang perlu dipertimbangkan untuk mendukung alasan kita menulis selama ini. Apakah memang kita menulis benar-benar untuk kepuasan bathin kita, atau untuk memuaskan bathin orang lain, atau hanya untuk update blog. ini perlu dijawab dengan proporsional dan tepat.
Biasanya, orang menulis karena ada sesuatu yang ingin disampaikan. Ada uneg-uneg bathin yang ingin di ungkapkan ke khalayak, agar apa yang dirasakan bisa dikomunikasikan ke publik. Hal ini terkait dengan dorongan dari dalam diri sendiri. Disini kita belum berfikir, apakah kita menulis itu untuk kepentingan diri sendiri atau untuk orang lain. Yang jelas antara dalam dan luar saling terkait. Saat itu kita ”hanya” ingin menyatakan suatu gagasan dan gagasan itu menyangkut sesuatu yang ada di luaran.
Hal yang biasanya menimbulkan pertanyaan, ketika seorang mengalami krisis ide dan gairah menulis yang mulai surut. Maka pertanyaan untuk siapa kita menulis biasanya akan semakin kritis mempertanyakannya.
Disinilah jawaban itu bisa diungkap.
Jika kita merasa perlu untuk menulis. Kita merasa banyak pemikiran penting yang perlu di sebar luaskan, maka menulis akan menjadi kebutuhan. Bukan lagi sebuah keterpaksaan sehingga kita akan bingung menjawab, kita ini menulis untuk apa dan untuk siapa?
Jadi menulis itu karena adanya dorongan emosional serta banyaknya pemikiran berkecamuk. Semua itu membuat kita merasa harus menulis.
Jika kita merasa penat dengan pemikiran kita, jika kita merasa bahwa hal itu perlu dikeluarkan. Maka menulis sangat penting. Sebab kegiatan itu bisa memberikan kesadaran diri kita dan semoga memberikan nilai manfaat untuk orang lain. Dengan asumsi dan tujuan-tujuan jangka pendek itulah kita akhirnya menulis.
Sebaliknya jika kita merasa tak ada yang perlu diungkap, tak ada yang penting dari pemikiran saya, tak ada pesan-pesan emosional yang berkecamuk. Dan semua itu bisa saya salurkan lewat jalur komunikasi yang lain. Maka kita merasa bahwa menulis sangat tidak penting.
Nah menurut saya demikianlah halnya alasan seseorang untuk menulis. Ia akan melakukan semua itu bukan karena siapa-siapa. Tapi karena ada dorongan dari dalam dan ada sinyal kuat dari luar. Sehingga kedua hal itu melahirkan sebuah kekuatan yang menggetarkan jari-jari kita untuk berdansa dengan keyboard.
Ok itu dulu tanggapan saya terhadap artikel bebegendut…semoga bisa memperkaya wacana kita yah..
Selamat menulis!

{ 44 comments… read them below or add one }
siapa suruh menulis???
kehidupan
woow jawabannya keren mas..
hidup setelah mati?
otak kanan atau otak kiri? hihihihi
kanan kiri ok mas..
hati.
cihui…. sejuk deh neng
Pak Guru
Kalau Mas Fadly menulis buat siapa?
Salam mas dari kantor daanmogot.
saya menulis karena ada dorongan dari dalam dan tarikan dari luar.
makin jauh yah kantornya mas sum?
menulis itu bukan untuk siapa2 tapi ke siapa2 dan untuk siapa2 hehehe….bingung khan? intinya menulis lah dengan hati dan dari hati niscaya khan sampai ke hati…..
bingung nih sama pendapatnya mas..
tapi kalau saran untuk menggunakan hati dalammenulis, saya setuju
setelah menulis di blog, alasannya udah nggak sederhana lagi. Gabungan dari keinginan curhat, dorongan berbagi, “keharusan” update blog, relationship…..
sepertinya pendapat anda beralasan pak.
memang sedikit rancu pertanyaan ini jika dikaitkan dalam konteks yang tidak jelas alias terlalu luas.
kalau medianya blog, saya rasa memang sprt itu.
pantesan trafik naik nih mas.. ternyata nama bebegendut ada disini wkwkwkwk
oh ya? mantaplah kalau gitu
sayang banget gak ada batabig di sini… buat si bebegendut.. wakakakakk
kalau itu khan specialis anda gan..
Saya menulis lebih karena dorongan batin buat nulis. Ketika orang mengapresiasinya, itu suatu hadiah yang luar biasa.
sepertinya model seperti itu lebih asyik mas. tanang dan menyenangkan dalam menulis. patut dicontoh. tks
Menulis itu tentunya yang utama untuk diri sendiri dan orang lain to gan
hal ini pernah dibahas di blognya mas iskandaria.. tentang fase psikologis penulis kalau tidak salah.
saya menulis sementara ini seringnya sebagai sarana muntahin ide yang menuhin otak..thx
mengeksplore uneg-uneg yah mas? itu juga bagus kok sebagai media penyaluran prodktif..
Kalau dari ulasan mas Fadly di atas, menulisnya yaitu bertujuan untuk mengeluarkan apa yang terasa bergejolak di pikiran/hati. Masalah itu mau ditujukan buat siapa, ya terpulang pada media tempat tulisan itu disalurkan dan sifat medianya. Jika bersentuhan dengan publik, bisa buat diri sendiri sekaligus buat orang lain
Lain soal kalo cuma ditulis di buku harian (diary).
sebenarnya hal ini ada korelasinya dengan artikel mas iskandar, kalau tidak salah judulnya tentang fase psikologis penulis itu yah? saya lupa untuk ngelink ke situ. sori yah
iya mas, demikianlah kira-kira, menulis pada awalnya karena ada dorongan untuk menungkan uneg2 lama kelamaan akan tersaring menjadi sebuah aktivitas yang saling mendukung antara “utk diri sendiri dan orang lain”
Menulis untuk siapa? ini pertanyaan menarik yang sampai sekarang saya masih cari jawabanya….he..3x
lucu juga yah mas? sementara sampai sekarang anda masih tetap menulis. lalu untuk apa semua itu? he he he becanda mas.
Keinginan kuat untuk menuliskan suatu ide, termotivasi untuk mengaktualisasikan kemampuan diri dalam berbagi pendapat dan pengalaman bersama. Dengan cara seperti ini, diharapkan saling memperkaya khasanah tema tulisan yang tengah diwacanakan.
bener juga mas Tusuda, ada semacam kebutuhan psikologis untuk mengungkap dan mendapatkan respek positif terhadap apa yang kita fikirkan. sip deh..
dorongan dari dalam dan ada sinyal kuat dari luar …. ehmmm noted it….
^_^
he he he.. terlalu lebay yah mbak lia? tau tuh ada-ada saja kalimat-kalimatku
saya menulis bukan sekedar untuk siapa.. tapi mungkin lebih ke keinginan menoreh jejak..ada sesuatu yang di tinggalkan ketika kita sudah tiada, atau.. ingin bisa di kenang melalui tulisan. Paling tidak ada kenangan buat orang orang terdekat.
tanpa dorongan dari hati sepertinya kita tidak akan menulis
salam kenal mas
salam kenal mas afif..
Saya menulis awalnya utk diri sendir, kemudian terpikirkan mungkin aja tulisan saya ada gunanya utk orang lain, sehingga saya mencoba memperbaiki cara menulis…..
berarti ada perkembangan dong mas.. menulis memang banyak sekali manfaatnya…
semoga makin nancap semangat menulisnya mas
Saya menulis karena ancaman calon mertua. Hahaha…
galak juga calon mertuanya mas.. wahahaha…
Awalnya memiliki blog sebagai arsip digital tetang berbagai hal yang pernah saya hadapi dan selesaikan. Jika kemudian dalam perkembangannya bisa berguna untuk rekan-rekan yang lain, ya Alhamdullilah.
ternyata macam-macam juga yah mas motivasi seseorang untuk menulis… semakin kaya deh informasi yg saya terima lewat komentar ini
keknya banyak yang jawab ga sinkron ama yang di tanyakan ya mas heee (pandangan saya)
pada jawab yang pertanyaanya “kenapa menulis?” bukan menulis untuk siapa
namun klo saya menulis untuk orang yang mau baca…hee
gapapa mas… yg penting mengarah kesitu nantinya.
trims sudah mengkerucutkan pertanyaannya