Ada banyak latar belakang yang mendorong seseorang mau menulis. Ataupun serius menulis. Atau mungkin hanya iseng-iseng saja menulis. Berbagai alas an tersebut bisa di jadikan argument untuk menjawab sebuah pertanyaan singkat, seputar apa tujuan anda menulis?
Mungkin anda pernah dengar cerita tentang pencarian jati diri?
Ijinkan saya bercerita sedikit
Sebelumnya mohon maaf yah, saya hanya coba ingat-ingat lagi sebuah cerita lama. Saya juga lupa cerita ini saya dapat darimana. Apakah dari buku atau kebetulan denger, entahlah.
Pada suatu ketika ada seorang anak muda yang begitu kecewa karena sesuatu hal. Katakanlah ia kecewa karena ia tidak mampu menjadi seorang pengusaha yang sukses pada masa itu. Sebut saja namanya Jojon. (maaf om jojon, ini Cuma contoh)
Padahal untuk menjadi pengusaha sukses Jojon telah melakukan banyak hal. Tapi sepertinya disetiap usaha yang dilakoninya, selalu saja kegagalan ikut pula menyertainya. Sepertinya Jojon merasa hidupnya selalu di rundung kegagalan. Motivasi Hidupnya seakan sirna!
Kondisi ini membuat Jojon frustasi, kecewa dan tidak tau lagi harus berbuat apa.
Karena tidak kuat dengan kekecewaannya. Akhirnya Jojon memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang jauh dari keramaian. Diam-diam ia pergi meninggalkan keluarganya. Tindakannya ini, membuat seluruh anggota keluarga sedih. Mereka kelimpungan mencari Jojon.
Jojon tak di temukan! Ia sudah pergi. Ia merasa selama ini telah melakukan banyak kesalaha. Ia ingin berbenah diri. Ia ingin ke suatu tempat. Ia ingin memperbaiki segala kesalahan yang ia lakukan dimasa lalu.
Tapi bukannya pencerahan yang Jojon dapatkan, justru ketidak jelasan. Karena sesungguhnya kepergian jojon tidak didasari tujuan yang jelas. Jojon pergi atas dasar kekecewaan belaka. Ia hanya ingin pergi. Ia percaya bahwa dengan pergi kesuatu tempat, akan sangat membantu memberi solusi atas masalah yang di hadapinya.
Tapi ternyata, perkiraa Jojon salah
Singkat cerita, Jojon makin frustasi.
Kira-kira apa yang membuat Jojon frustasi? Apakah karena ia tidak menulis? He he he bukan itu arah pembicaraan kita.
Banyak saudara-saudara kita, lupa. Bahwa untuk menjadi orang sukses, menjadi orang yang lebih bernilai, sudah sepatutnya kita terlebih dahulu harus “Mengenal Diri Kita”. tanpa pengenalan yang kuat terhadap diri kita sendiri, niscaya perjalanan kita hanya bersifat rutinitas belaka.
Mungkin demikian pula yang di alami Jojon, seperti cerita saya di atas. Berkali-kali ia gagal. Berkali-kali pula ia harus menuai kekecewaan. dan yang lebih menyakitkan lagi. Maksud kepergiannya untuk mendapatkan solusi hidup, ternyata tidak sesuai dengan harapannya. Justru makin parah!
Masalahnya sekarang, bagaimana sih kiat-kiat agar kita mengenal diri kita? bagi saya, ini adalah pertanyaan yang sulit. Sebab, mengenal diri sendiri tidak semudah mengenal orang lain.
Dalam kaca mata penampakan. Kita tentu lebih mudah mengenal orang lain sebagai obyek nyata yang memiliki kepribadian yang khas. Masing-masing di antara kita tentu memiliki kawan, sahabat, keluarga. Mereka semua adalah obyek nyata yang bisa kita lihat. kita tentu lebih mudah mengenal mereka dan lebih mudah memberikan deskripsi tentang kepribadian mereka. Dengan melihat sisi tingkah laku kesehariannya.
Tapi bagaimana dengan pengenalan atas diri sendiri? Jujur, ini sulit! Karena untuk menilai diri sendiri, kita harus memiliki pandangan yang super obyektif. Super jujur dan super-super lain yang mendukung pemahaman kita terhadap diri kita sendiri.
Saya justru tertarik untuk mengolah nilai-nilai super itu tadi. Super jujur dan super obyektif. karena saya melihat disitulah pintu penting. Cara yang paling ideal, adalah dengan cara menggugah!
Secara deskriptif. Saya agag kabur dengan arti menggugah itu. Tapi saya akan coba memberi pandangan saya dari sisi lain. Menggugah bisa kita artikan sebagai “mempertanyakan” dalam arti yang seluas-luasnya.
Kita bisa saja mempertanyakan tentang kejujuran kita akan sifat –sifat tercela kita selama ini. Bisa juga mengenai hasrat kita, imajinasi kita yang mungkin agag menyimpang. semua itu hanya di mulai dari “mempertanyakan”.
Nah, katakanlah kita memiliki persepsi yang sama tentang makna menggugah, yaitu mempertanyakan.
Coba kita terapkan sesuai dengan judul artikel di atas. Menulis untuk menggugah atau menulis untuk mempertanyakan. Semoga sampai disini benang merahnya semakin jelas.
Bahwa manfaat menulis atau terbiasa menulis bisa mencakup banyak hal. Melalui tulisan. Seseorang akan terbiasa menggunakan daya fakir yang terdalam. Menulis memiliki unsur menggugah yang sangat peka. Saya katakana peka, karena menulis membutuhkan pengalaman dan pengetahuan tentang sesuatu yang kita tulis.
Kalaupun pada kenyataannya keterbatasan masih terasa disaat kita menulis, hal itu bukanlah sesuatu yang aib. Karena kalau kita serius, keterbatasan pengetahuan akan mendorong kita untuk rajin menimbah sumber informasi dimana saja dan kapan saja.
Setelah kita merasa mendapat banyak informasi atau ide segar. Maka kita akan mulai lagi menulis. Sirkulasi aktifitas seperti ini, menurut saya sangat membantu untuk melakukan gugahan atas diri kita.
Menggugah diri sendiri lewat menulis akan berdampak sangat ekspresif. Kebiasaan ini tanpa kita sadari, kita jadi semakin imajinatif, semakin solutif, semakin kreatif dan dorongan-dorongan lain yang mengarah kepada kebajikan.
Kalau boleh saran, mulailah menulis untuk menggugah diri sendiri. tak perlu pergi jauh-jauh ke luar kota, seperti yang dilakukan Jojon. Cukup duduk diam, termenung, berfikir dan mulai menulis. Saya yakin, lambat laun kebiasaan ini akan membentuk pola pikir yang kritis dan gemar menggugah hati dan fikiran kita.
Semoga saja ini bisa bermanfaat!
Share



{ 17 comments… read them below or add one }
jarang2 dapat pertamaxxxx gratis nih..
tepuk tangan meriah untuk yang mendapatkan pertamax
cepet amat…. pake ilmu penerawangan apa neh
artikelnya masih nyambung dengan blog mashengky. pertanyaan saya: apa yang menggugah hati Bang Muin untuk menulis satu artikel setiap hari? lagi mood kah? atau ketularan tetangga sebelah kah? hehehe..
saya jadi harus ngecek pertamax tiap hari nih
hal yang mengguah saya untuk menulis artikel satu, eh maksud saya lebih dari satu seriap hari, tak lain dan tak bukan. saya ingin explore perspektif dan amukan pikiran yang bersemayan di kepala saya mas. mendingan di jadikan tulisan, berbagi, sekalian melepas cengkraman yang bikin kita kehilangan gairah.
terpengaruh blog tetangga? pastinya dong! blog dengan slogan ngobrol seputar bisnis online itu memang maknyus!
saya berencana justru akan menebar artikel2 yang lain ke blog2 tetangga. he he he
virus blog tetangga emg kuat ya mas.
barusan abis nulis di blog AM kan mas?
keren… mantep euy….
iya tuh. blog tetangga penyebar virus. tapi justru positif mas. sekarang semangat menulis saya meningkat 2 kali lipat. mungkin saja tulisan saya bisa nyasar di blog candradot.com he he he
hehehe… silahkan mas
sippp bgt, tapi maaf ya mas fadly, klo blh ju2r aq adalah salah satu “JOJON” yg ada dlm artikel mas, aq jg udah bosan jatuh bgn dlm bisnis offline, dan skrg aq mulai belajar nulis,yach…paling tidak biar g trlalu pusing mikiri “KEGAGALAN” q slama ini. oh ya mas aq newbie salam kenal ya……
Bagus mas Andrik, menulis akan sangat membantu membangun imajinasi berfikir. dan ini adalah basic yang sangat membantu.
dah tak add link mas fadly, mudah2 an mas fadly melakukan hal yg sama. matursuwun.
cerita om jojon-nya inspiratif. selain menulis untuk menggugah ada juga yang tidak kalah penting. Jadikan tulisan qta bermanfaat untuk orang banyak, setidaknya orang2 disekitar kita. Minimal untuk kita sendiri… trims mas fadly… lama tidak bersua… semoga apa yang kita rintis memiliki manfaat untuk orang banyak dan saling berbagi… amin…
bener sekali mas Boy. berarti dan berguna bagi orang lain, adalah fase selanjutnya setelah proses koreksi diri dilakuakn lewat gugahan yang bermakna. trims tambahannya
Salut mas fadly bisa menulis tiap hari. Ihik….kapan aku bisa ya? Seminggu sekali saja empot-empotan wkwkwkwk
ini dalam rangka eksplorasi mas. lagi ngetes denyut nadi untuk tetap menulis. ayo dong mas, semangat! ide-ide mas sumartono selalu di rindukan loh
latar belakang yang mendorong seseorang mau menulis memang sangat personal, namun bisa jadi memang menjadi wadah aktualisasi diri untuk menemukan jati dirinya. makasih pak ilmunya
wah, pendapat anda tentang personalitas itu, gw banget! bener mas Yunan, alasan menulis memang bersifat personal, namun tetap pijakannya mangadopsi nilai-nilai obyektifitas. makasih idenya