Kok menulis harus di susupi keberanian. Apa susahnya menulis dan rasanya tidak perlu keberanian khusus untuk menulis. Toh dalam aktivitas sehari-hari kita tidak bisa di pisahkan dengan kegiatan menulis.
Untuk hal-hal yang bersifat praktis, sayapun setuju bahwa tidak perlu keberanian apa-apa untuk melakuan itu. Misalkan kita hanya ingin memberi catatan tugas kepada orang lain. Bahasa yang di gunakanpun layaknya seorang yang lagi ngobrol..
Contoh:
Boss, tolong yah, kerjaan yang kemarin gue serahin ke lo, di submit ke bagian admin yah supaya bisa di proses. Karena klien sudah nanya-nanya terus nih.. gue ga mau liat muka dia marah-marah lagi. Ok. Tks yah…
Rasa-rasanya hal teknis seperti itu, ga perlu pake keberanaian-keberanian segala. Bahkan kalau isinya sedikit kotor, ada coret-coretannya juga ga berpengaruh.
Jadi kita sepakat yah, bahwa untuk hal-hal teknis seperti itu, menulis sama sekali Tidak Dibutuhkan keberanian khusus.
Lalu Menulis dengan Keberanian Khusus itu, di tempatkan dimana?
Nah, ini yang akan kita kupas!
Jika kita sudah tertarik akan tema-tema sentral, umum maupun khusus. Dan kita ingin terlibat dan mengambil bagian di dalam issue-issue itu. Tentu kita butuh yang namanya “Keberanian Khusus!”.
Sebab hal ini menyangkut:
argumentasi, opini, pendapat, kebenaran, kelayakan dan hal lain yang sifatnya ”mempertanyakan kualitas kita di bidang itu”.
Jika apa yang kita sampaikan lewat tulisan menyimpang dari nilai-nilai yang bisa mempertahankan ide gagasan kita sebagai penulis, maka Cuma 2 hal yang akan kita terima, Ditentang atau diacuhkan.
Ditentang jika apa yang kita sampaikan sifatnya bertentangan dengan opini umum. Besar kemungkinan akan terjadi debat argumentasi yang panjang.
Sedangkan diacuhkan, jika apa yang kita sampaikan itu sifatnya dangkal atau terlalu rata-rata. Sehingga pembaca pun akan merasa bahwa apa yang kita tulis, sebenarnya sudah diketahuii banyak orang. Jadi tidak perlu lagi membaca tulisan yang seperti itu.
Sampai disini sedikit demi sedikit, mulai terkuak. Kenapa sih, kita membutuhkan keberanian khusus untuk menulis? Sebabnya sangat klise dan simbiosis, karena ada rasa Takut yang mencekam.
-Takut Ditentang
-Takut tidak mendapat pengakuan
-Dan rasa takut lain, yang sifatnya masih prematur. Rasa takut yang sebenarnya tidak cukup kuat di pertahankan, sebagai rasa takut yang rasional.
Saya akan coba mengajak anda diskusi, dengan sedikit mengupas 2 contoh di atas
- Takut di Tentang,
Takut di tentang ini, kemungkinan karena kita terlalu memaksakan diri dan terlalu egois terhadap apa yang coba kita ungkapkan. Dan tidak mempersiapkan diri bahwa, masih banyak gagasan yang lebih tajam dan argumentatif terhadap issue dan sudut pandang yang kita angkat.
Solusi untuk ini, sebaiknya siapkan diri untuk menerima pendapat dari orang lain. Biarkan mereka menilai. Hasil dari penilaian itu justru berguna bagi kita selaku penulis. Agar bisa ”mengembangkan tulisan” dan melengkapinya dengan argumentasi yang memadai di kemudian hari.
- Takut Tidak Mendapat Pengakuan
Pengakuan, secara psikologis, sangat berpengaruh bukan hanya bagi penulis. Bagi yang bukan penulispun sebenarnya berpengaruh. Karena ini menyangkut keberadaan seseorang sebagai anak manusia, yang ingin di akui dan di terima keberadaannya.
Menyangkut dunia penulisan. Tentu saja Tulisan yang di akui kualitasnya akan sangat menyenangkan, dibandingkan tulisan yang di pandang hanya sebelah mata. Namun perlu diingat, pengakuan tidak di berikan, pengakuan tidak serta merta di terima begitu saja. Ada proses yang lebih dalam. Sehingga Pengakuan itu harusnya Diraih. Bukan diberikan.
Anda tentu tidak bisa memberi pengakuan kepada seorang Pemenang, jika ia tidak melalui proses kompetisi yang ketat.
Jadi solusi untuk ini, tentu saja. Untuk mendapatkan pengakuan sebagai penulis yang hebat, berkualitas dan mumpuni. Kita butuh yang namanya proses seleksi. Kita perlu terus menulis, terus mempublikasikan tulisan.
Kalau kita mau menyadari. Sebenarnya penulis membutuhkan pembaca kritis yang setia menjadi editor alaminya. Sampai akhirnya kita menemukan titik puas yang bisa merubah pandangan pembaca. Berangsur-angsur berubah menjadi sebuah pengakuan yang pantas kita terima.
Sebenarnya masih banyak rasa takut yang bisa mengamputasi keberanian kita untuk tampil dan berupaya berdiri sejajar dengan penulis-penulis hebat. Misalnya rasa minder dan malu. Pokoknya apapun yang bersifat psikologis lainnya.
Namun saya yakin, dua contoh kasus itu saja. Sebenarnya kita sudah bisa memberikan daya gugah terhadap motivasi kita agar mau terus menulis.
Kelak, yang menentukan bukan lagi rasa takut itu. Tapi apa sebenarnya tujuan kita untuk menulis?
Jawaban akan itu, akan menentukan usia kita di bidang penulisan. Apakah akan lanjut, atau putus sampai waktunya tiba. Jawabannya ada di benak kita masing-masing.
OK saya paham sekarang!
Lalu bagaimana cara untuk menguji keberanian kita itu?
Sebenarnya sih jawabannya sudah tersirat. Di atas, saya sempat menyebut-nyebut kata publikasi atau ranah publik. Maksudnya kita perlu ruang untuk menguji tulisan kita. Apakah nantinya bisa mendapat tempat di hati pembaca. Apakah nanti bisa menemukan basis pembaca yang solid? Apakah mereka akan doyan dengan ramuan tulisan kita yang lezat? atau tidak?
Coba saja tuangkan diblog. atau kalau sudah punya blog, coba ikuti kompetisi-kompetisi di bidang penulisan. Misalkan ikut Kontes Menulis yang di adakan kawan saya, Agus Siswoyo. Hal ini bisa menjadi ajang selektif terhadap tulisan kita. Setidaknya dalam komunitas tertentu kita bisa mendapatkan pengakuan.
Pengakuan-pengakuan kecilpun kalau di kumpulkan akan menimbulkan keberanian yang dahsyat. Dan bukan tidak mungkin, nantinya kita akan berani untuk menulis, dalam konteks yang lebih besar dan kompleks.
Jadi tunggu apa lagi.. ?
rahasianya Cuma satu, ”Menulislah!”.
Share

{ 100 comments… read them below or add one }
Selain keberanian, mungkin jg kebiasaan yah mas :alay
Kebiasaan adalah hasil pengulangan…..yang pertama tentunya kebisaan……lalu keberanian untuk mempublikasikannya…Ketika menulis di blog, maka bukan hanya eksis di komunitas tertentu loh mas Fadly, tp ngeksis di dunia maya, kita ga akan pernah bisa membatasi siapa yang akan membacanya.
Maaf bunda saya nyempil disini….
betul bunda, kita tidak bisa terus menerus memantau, siapa yang membaca tulisan kita. namun tentu kita sadar, bahwa menulis di blog, berarti kita sadar bahwa tulisan kita akan di baca BANYAK orang.. inilah poin yang tersirat di atas. berani mempersembahkan tulisan untuk di BACA banyak orang
iya mas, mula-mulanya terbiasa dan akhirnya mulai berani menyentuh wilayah publik, berani di kritik di debat dan seterusnya..
Saya berani mas, tapi ga mampu…..hehhehe
ga mampu apa ga sempet bun?
Btw, paling butuh keberanian adalah ketika menulis artikel kontroversi dengan sudut pandang yg menentang arus. Disana dituntut untuk berani berargumen dan mempertahankan pendapat. Hehehe…
tuh bener kata mas Arief, bukan ga mampu. tapi ga ada waktu :p
Hehehe, waktu sie ada.tapi sayangnya bukan milik saya….’aq hanya si pengembara yg melintasi waktu tanpa pernah memilikinya’
Tunjukkan_merahmu
nyalakan Merahmu
Pria punya selera.
sedikit sedikit berani.. berani kok sedikit sedikit?
prikitiw…. sedikit sedikit lama lama jadi bukit
)
alon-alon pokoke kelakon, perubahan sedang terjadi…
:hotrit
mas tolong dunk bebasin komeng saya..ampe 3x ketangkep si aki smet terus neh..sukses deh
perlu melewati persidangan ga mas?
Tau nih si Aki, suka nangkap sembarangan
Wah perlu keberanian yang konstan ya mas meskipun dari sisi yang berbeda
oh iya, tentu mas teten
Takut menulis saya kira berhubungan langsung dengan perasaan minder/gak PeDe. Kiat supaya selalu PeDe adalah, anggap saja bahwa apa yang akan kita tuliskan tidak semua orang tahu sebelumnya.
nah, ini tips sederhana tapi manjur. asal benar-benar di terapkan. makasih mas hery solusinya
dua rasa takut yang sangat blogerwi, khususnya semasih newbie. Fokus pertama menurut saya mengatasi dulu rasa takut ditentang. Hal ini akan mendorong keberanian menulis yg agak beda, menjurus kontroversial juga gpp. Nah, pengakuan akan datang kemudian bila pembaca menilai ada keseriusan dan konsistensi
bisa pak! yang terpenting konsisten dan terus berlatih. saya yakin walau pelan, hasilnya akan terasa di kemudian hari
salut buat mas fadly… mampu menyajikan sebuah tulisan dari sudut pandang yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, pemilihan kata dan gaya bahasanyapun enak dibaca…
2 jempol untuk mas fadly… :cendol
he he he… makasih..makasih.. bang Habib
semoga saja bisa bertahan dan bisa di tingkatkan dikemudian hari
Ditentang berarti kita diperhatikan dan disimak secara matang, dan sy paling suka ini ms Fadly, artinya orang lain mmg benar2 serius, yg paling bahaya jika ABS (Asal Bapak Senang) :hammer
sangat positif karakter anda mas Arkum.. tapi perlu juga jeli melihat. ada apa di balik penentangan itu?
intinya saya sepakat dengan semangat anda mas Arkum
Terima ksh ms Fadly. trims jg diingatkan kejelian utk melihatnya
Mental kuat (berani bertarung & siap ditekan masalah) itu bahan dasar orang sukses
wouw… saya merasakan semangat yang “super” dari kalimat2 mas Arkum..
lha wong untuk nulis komen pas blogwalking aja, saya butuh keberanian lebih kok….
Nice Post, pak…
he he he.. bisa saja nih.
salam kenal mayasari
bisa donk…
grogi soale, pak….
Nyempil menyapa jeng maya..:) kog aq g berhasil komen di blog mu yah,,gagal verify terus
@Bundapreneur:
masa sih, bunda…. yg lain bisa kok….
coba lagi, Bunda…..
coba deh uji keberanian berpendapat di forum umum mas. Di forum umum biasanya komentarnya pedas-pedas. Mungkin karena identitas user forum yang tidak diketahui, sehingga mereka bebas-bebas saja dalam berkomentar. Berbeda dengan di blog, sebagian besar kita sudah saling mengenal dari halaman about. Jadi agak sungkan untuk beradu argumen dengan “keras”.
Sesekali saya pernah memberikan opini saya disebuah forum, yang ada adalah komentar balik yang meremehkan dan berprasangka yang tidak-tidak. Tapi saya sih hadapi saja dengan kepala dingin.
Nah, kalau memang mau tes keberanian, coba deh beropini di forum-forum. Pilih thread tentang agama atau tentang idealisme….
Salam Kreatif,
Octa Dwinanda
wah kalo ini seh kaya ngomong ma orang garis keras mas…..yang ada debat kalo masuk ke forum idealisme…… :sup2:
boleh-boleh saja melakukan itu mas Octa..
Tapi, semangat yang tertuang dalam artikel kali ini, tidak mengarah ke situ. tidak mengarah pada proses membenturkan diri dalam sebuah kumpulan idealisme.
apalagi bagi yang masih minderan, tentu langkah ini akan semakin menciutkan nyali untuk mulai menulis.
tapi saran dan pengalaman mas octa, patut di perhitungkan.
melu comment nih…nyaman banget diskusi di blog mas Fadly…Saya cuman mau bilang “ayo membaca dan menulis” he he he :sup:
hihihihi saya banget neh mas :malu …….masih takut” kalo mau nulis, tapi berpikir saja ke diri sendiri untuk PD….. :siul
tambah saja “sedikit” keberanian mas
pokoke intine bagaimana merubah ke-malu-an menjadi ke-berani-an! :cendol
ehemmm..
asal jangan di balik mas. berani sama ke-malu-an… he he he he
Take Action dulu dah, dari situ keadaan akan mengajari kita sehingga kita akan lebih berkapasitas dalam bidang kita sendiri. Kita tidak bisa menilai diri kita sendiri sudah sejauh mana jika tidak ada yang mau menilai n biasanya penilaian yang subjektif berasal dari para pembaca tulisan kita.. Mangstab… :cendolbig
good…
biarlah proses yang akan menilai, memompa dan menjaga semangat menulis… betul begitu mas agus??
-+begitulah… :siul
yang dimaksud mas Fadly menulis disini adalah ‘ber-pendapat’ ya mas? emang sih kalo menulis (dalam konteks berpendapat) harus punya modal keberanian,, seperti komentar sebelumnya ada yang menyinggung masalah memberikan pendapat di forum umum, itu sebenarnya bisa kita jadikan sebagai ajang latihan sampai dimana pendapat kita bisa diterima oleh orang secara umum, dan dari situ kita bisa mengukur kemampuan berpendapat dan ber-argumen kita,, dan untuk berdebat masalah keagamaan/ keyakinan saya sih lebih baik menghindari aja (walaupun untuk sekedar ajang latihan berpendapat).. itu paling sensitif masalahnya,,
betul mas evan. intinya bagaimana kita bisa berpendapat, lewat tulisan-tulisan yang kita terbitkan. dan untuk melakukan itu perlulah yang namanya keberanian..
kalau issue agama memang butuh pengetahuan yang memadai. agar tidak menimbulkan salah persepsi yang kronis
Ya…keberanian…!
Siapa takut?…
Itu adalah kata dari sebagian orang dan kita pun juga harus tanamkan juga rasa keberanian dalam hati ketika apa yang akan kita sampaikan adalah kebenaran yang memang tidak melanggar hukum-hukum yang ada
Kalau bukan kebenaran janganlah sekali kita bertekad dengan mengandalkan keberanian,itu sama saja bunuh diri
Mungkin ini koment saya yang pertama kali di blog ini
Salam kenal boz,salam kenal semuanya…
salam kenal juga Boz
apa yang anda sampaikan tentang keberanian saya rasa beralasan. normatif dan berada pada posisi yang siap atas keberanian yang sudah di lancarkan. bukan keberanian yang ugal-ugalan.. bukan begitu bozz??
yups,…betul sekali
Kalo ngga takut ditendang, ngga juga takut tidak mendapat pengakuan alias diacuhkan. Nekat aja walaupun apa adanya
Apakah itu juga bisa dibilang keberanian?
itu namanya berani mencoba mas.. berani di nilai dan berani menerima pendapat orang lain..
Punya sedikit berani sama g dg nekad!?
beda tipis bun
Salam super-
Salam hangat dari pulau Bali-
keberanian dalm artian lebih mengutamakan kebenaran dan hati nurani untuk memberi manfaat kepada pembaca, itu yang saya tangkap dari pesan moral artikel mas,,,
Berani saja tpi tdk ada bekal pengetahuan sama juga bo’ong.
itu namanya bondo nekad mas udin ….
Kayak saya dong. Blogger Bonek.
wakakakak….
:hammer
Mantab mas, makin semangat membakar motivasi yang lain….
:cendol
siplah… mudah2an makin maknyuss
Saya pun masih perlu banyak belajar menulis.Belum sepenuhnya berani
yuk… sama-sama aja mas
Sangat sepakat dengan artikel diatas mas, mungkin menulis bukanlah pekerjaan yang menakutkan. Tapi bagi saya tahap yang paling membebani adalah saat akan mempublikasikan karya kita ke khalayak. Karena perasaan mempertanggungjawabkan hasil tulisan kita bisa menjadi beban tersendiri yah…
sharing yang menarik mas fadly
betul mas Ricky. mengawal tulisan kita, berarti kita benar-benar paham apa yang kita sampaiakn. artinya bekal ilmu pengetahuan di belakangnya akan sangat mendukung..
menulis… menulis… dan menulis…. ayo menulis…
yuk… mari mas
dan saya juga sudah membuktikan keberanian saya untuk mengikuti kontes di blog mas agus
mantaplah kalo gitu… dapat jadwal kapan mas?
Terima kasih atas pencerahan …
buat saya banget…
bungkus gan… :lapar :lapar
bungkus…..! :alay
Cuma mo ngecek trackback aja, Bang. Dah terkirim apa belum? Eh, rupanya udah…
saya malah tidak sadar ada hadiah khusus ini
Makasih mas Khery
Ya, saya mendukung motivasi menulis yang Abang berikan pada tulisan ini. Walaupun di artikel saya ada sedikit perbedaan sudut pandang, tapi itu tidak terlalu substantif. Pada prinsipnya, pendapat kita sangat selaras…
Hmmm, emang bener mas…saya sebagai pemula di dunia blogging juga sering takut kalo mau menulis, takut ga laku, takut salah, takut dah kadaluarsa, takut dicemooh, dll masih banyak lagi ketakutan yang timbul..
Semoga aja dengan beriringnya waktu dan motivasi dari temen2 blogger, mulai timbul KEBERANIAN untuk menuliskan apa yang ada dalam pikiran, walaupun sudah KADALUARSA, ga mutu, ga up2date, dsb… hehe
semoga begitu mas Andriy…
saya juga dulu ngalamin begitu. tapi ah biarin aja. biarin waktu yang akan menanyakan niat kita. jika niat untuk berbagi, pngembangkan diri. saya yakin semua bisa di atasi…
sepertinya saya juga sedikit merasakan item “takut didebat atau ditentang”,mas. Dengan semakin memperbanyak referensi yang kita miliki , misalnya buku, rasanya bisa menambah kepercayaan diri dan keberanian kita dalam menulis..dan yang penting “tidak pernah berhenti belajar”.Sukses mas!
saya rasa, itu adalah solusi yang cerdasa mas Agus.. menambah pengetahuan dengan berusaha mendalami suatu tema yang kita temukan.
membaca tentu saja jawaban yang tak terbantahkan..
*mas agus, kalau mau kasih ide/ saran tentang design rumah, lewat mana?
Thanks mas. misal mau kasih ide/saran, bahkan kritikpun dengan senang hati saya tampung demi perkembangan blog dan profesi saya. lewat form comment juga gak apa2, via e-mail its’Ok koq mas.Salam Sukses Dahsyat.
ok mas Agus.. trims… yah
selain berani menulis, kita juga harus berani berkomentar, setelah membaca tulisan yang sangat panjang itu, :rate kadang kita terinspirasi untuk menulis dari sebagian topik yg di ulas di atas untuk mengembangkannya….
betul mas Lendra!
memulai dari komentar, akan memberi pemanasan yang cukup…:D
menulislah, apapun nanti hasilnya, orang lain yang akan menilai agar kita bisa lebih mengembangkan tulisan kita lagi . dengan demikian, kita bisa menulis lebih giat lagi
Thanks
Imamz
motivasi yang menguntungkan banyak orang… terima kasih Mas Imam atas tambahannya:)
Poin pertama yang wajib dimiliki oleh penulis yaitu merasa punya hak untuk menyalurkan uneg-unegnya ke ruang publik. Kemudian diikuti dengan kepercayaan diri atau bisa kita katakan juga sebagai keberanian (seperti yang Mas Fadly kupas).
Rasa takut ditentang atau takut didebat itu wajar. Namun biarkan saja proses atau waktu yang membuat kita semakin berkembang. Kalau kita selalu dihantui rasa takut itu, ujung-ujungnya malah takut untuk menulis atau tidak pede untuk menuangkan uneg-uneg.
Sebelum ngeblog, kemampuan menulis saya Alhamdulillah sudah cukup terasah lewat sebuah komunitas. Dari sana saya banyak belajar soal menulis, termasuk menuai beragam kontra atas beberapa tulisan kontroversi saya (salah satunya bertema agama). Tema yang sangat sensitif…hehehe
Soal mengikuti kontes menulis untuk membuktikan kemampuan diri, saya sangat setuju. Dalam hal ini memang untuk menguji “mutu” tulisan kita (selain menambah pengalaman tentunya). Dan Alhamdulillah, saat pertama kali ikutan kontes menulis, saya jadi pemenang kedua…hehehe
Waktu itu temanya tentang motivasi menulis blogger Indonesia. Ah, malah jadi ngomongin diri sendiri. Pokoknya akur banget deh dengan ulasan Mas Fadly di atas :cendol
kalau mas is, saya bisa merasakan greget menulisnya. topcer deh pokoknya..:D
nah, itulah mas is, kita perlu paham bahwa kita punya hak, sekaligus kesempatan untuk menduduki posisi tertentu di ruang publik. setidaknya kita bisa mengatakan bahwa kita ada, kita eksis dan kita punya sesuatu yang bisa di bagikan. walau itu mungkin sifatnya masih belum berpengaruh..
pelan tapi pasti, jika terus di lakukan. bukan tidak mungkin kualitas dan kepribadian kita ikut terbentuk lewat watak menulis kita itu..
trims sudah mencoba memperluas dan memperdalam makna tulisan ini mas is
Wah para penulis2 hebat sedang berdiskusi neh…Salute buat kalian berdua.. :rate
Saya pernah menulis kritikan diblog saya yang lain, saya mencoba mengungkapnya dengan bahasa yang menurut saya cukup halus dan saya persilahkan kepada yang tidak setuju dengan artikel tersebut untuk menyanggahnya melalui kolom komentar. Tetapi yang terjadi kemudian, blog saya di-deface. Sejak saat itu saya tidak lagi menulis kritikan, bukannya takut. Tetapi kalau yang tidak senang membalasnya dengan cara yang tidak elegant, bikin repot saja.
Tetapi ada saatnya saya akan kembali dengan artikel kritikan.
Salam Sukse.
wah pengalaman yang menarik mas Aldy..
menurut saya itulah dinamika yang perlu di maklumi. ada suka ada tidak suka, ada penerimaan ada penolakan. semua ada konsekuensinya.. tinggal kita pilih mau berdiri dimana?
Trims mas Aldy, pengalamannya
Mungkin sedikit berbeda Mas Fadly, karena kritikan itu saya tujukan untuk sebuah lembaga pemerintah. Saya mengkritisi, karena saya tahu persis permasalahannya dilapangan. Dan kritik tersebutpun saya sertakan solusinya, yang menurut saya sebagai orang yang melaksanakan kebijakan tersebut dilapangan bisa diterima semua pihak.
kalau itu sih, brearti penolakannya ada faktor “kepentingan” mas Aldy..
untuk kritik dalam konteks pemerintahan, memang bersifat politis mas Aldy. jadi tendensinya memang harus benar2 di kritisi. ada apa dibalik itu..
Menurut saya bagi beberapa orang termasuk saya, menulis memangg memerlukan “keberanian”, saya sampai saat ini juga masih mempunyai rasa “takut”untuk menulis sesuatu.Banyak alasanya antara lain takut di jelek-jelekin orang, takut ngga berkualitas tulisanya,takut dibaca orang kalau nanti salah….yang jelas keberanian itu perlu.
Trima kasih mas Fadly dan sukses selalu.
ayolah mas Sugi… pelan-pelan di kikis sedikit demi sedikit…
kalau terus di gali, insyaAllah lama-lama jadi ngotot untuk berani loh …
semoga sukses mas Sugi..
kalo nulis kudu hati-hati juga biar g salah paham n tetap berani dong mengutarakan pendapat :cendol
betul… supaya kata-kata tersusun rapih dan bisa di mengerti… :shakehand2
Disamping keBERANIan, tampaknya perlu juga didampingi dengan keMAUan dan keMAMPUan dalam menuangkan ide-ide yang terlintas dengan bahasa yang lugas, mudah dimengerti. Bisa diartikan BERANI dalam hal ini, dimaksudkan agar kita bisa mengatasi kelemahan diri dan bangkit membenahi diri. Jadi..tidak perlu takut MENULIS, asalkan tetap menjaga semangat kebersamaan, sesuai aturan dan saling menghargai. MAAF, kira-kira demikian tambahan opini dari saya MAs.
TERIMAKASIH telah berkenan berbagi kata bersama
tanggung mas biar jadi seratur komeng :sup:
pantesan.. aku fikir siapa.. tks atas inisiatifnya Rief.. :iloveindonesia
{ 2 trackbacks }