Lagi-lagi saya menemukan ide facebook. Kali ini dari Pak Hernowo Hasim di salah satu note di FB-nya. Ide ini berkaitan dengan ide menulis, cara menulis dan alasan menulis. Elemen ini senantiasa menyertai siapa saja yang terpanggil untuk mengkomunikasikan dirinya lewat tulisan yang ”coba” dipaparkan di permukaan khalayak.
Dalam sebuah email saya pernah mendapat pertanyaan. Pertanyaan ini berkaitan dengan cara menulis yang berkualitas. Sebenarnya pertanyaannya sangat sederhana dan sangat umum dialami bagi siapa saja yang masih mengalami proses ”dag-dig-dug” untuk memuluskan niat untuk menulis.
Pertanyaannya, intinya begini, ”Mas Fadly bagaimana sih cara menulis yang berkualitas?” Hmm.. dengan antusias dan berapi-api saya menjawab setahu yang saya bisa, tapi pada akhirnya saya pun harus maklum karena tidak mendapatkan ucapan terima kasih atau sedikit respon balik atas saran yang sudah saya berikan. Its ok!
Berkaitan dengan pertanyaan itu dan ide yang saya peroleh dari tulisan pak Hernowo tadi, justru saya mendapat pencerahan bagaimana sebenernya dan apa sebenarnya menulis itu.
Dan sekarang saya akan coba menjembatani antara pemikiran pak Hernowo dan pertanyaan teman yang tak ada respon balik tadi.. ?
Mari kita jawab bersama,
***
Pada dasarnya menulis itu adalah sebuah komunikasi. Interaksi yang tiktok namun disampaikan dengan cara-cara sistematis dan tercatat dengan sangat kreatif dan kaya akan pemaknaan.
Untuk merumuskannya dalam bentuk tulisan setidaknya seorang penulis didukung oleh kekuatan-kekuatan tertentu, yaitu Pengetahuan, pengelaman dan keinginan untuk menyatakan ”diri”nya.
Berikut ini adalah kiat-kiat menulis agar kita mengerti dimana dan bagaimana memulai penulisan. Kiat ini hasil dari petikan pesan dari tulisan Pak Hernowo, tentu saja dengan bahasa saya sendiri.
Berikut kiatnya :
Menulis Berdasarkan Pengetahuan
Sebuah aktifitas yang menantang intelektualitas seseorang. Siapun yang memposisikan diri dan mengangkat tema yang berkaitan dengan pengetahuannya. Otomatis, ia akan terlibat dalam sebuah perbincangan dan berupaya untuk memaparkan sebuah fakta-fakta yang teruji dan berargumentasi kuat.
Menulis Berdasarkan Pengalaman
Diposisi ini sangat mengasyikkan, karena materi tulisan secara garis besar sangat ditentukan oleh subyektifitas penulisnya. Walau terdapat bobot ilmu didalamnya, tapi penulis memiliki kewenangan besar untuk bermain dengan makna dan kosa kata yang cerdas. Bermain di area ini rasa-rasanya lebih aman dan menyenangkan.
Menulis Karena Dorongan Pernyataan Diri
Sangat fariatif berada disini. Banyak corak dan warnanya. Sesuai dengan karakter bawaan penulisnya. Bisa dalam bentuk curahan, kritikan, pembentukan opini dan hal-hal lain yang mencoba untuk menyatakan ”kekuatan eksistensi pengetahuan dan pengalaman” yang dimilikinya.
nah…
Tidak jelas terkadang, dimana kita berada. Apakah menulis atas dasar pengetahuan, pengalaman atau pernyataan diri. Sebab dalam prakteknya ketiga elemen ini biasanya bercampur aduk.
Untuk membuat pemisahan, kita perlu untuk fokus pada tema berdasarkan ide yang kita peroleh. Dan ini bisa didapat dari latihan yang terus menerus. Yaitu menulis.
Nah, menurut saya, sekali lagi ini hanya menurut saya yah.. kalau dirasa kurang pas, silahkan di abaikan. Inilah jawaban yang pas atas pertanyaan dari teman tadi, “tentang menulis yang berkualitas”.
Saya fikir ketiga poin ini adalah jawaban yang cocok. Pas untuk dijadikan standar pemula. Dimana dan bagaimana seseorang yang ingin terjun dan membiasakan diri menulis.
Peran-peran komunikatif dari ketiga elemen itu pantas dijadikan semacam kerangka berfikir atau garis pembatas pertama. tapi tidak untuk dijadikan tabir mutlak.
Selanjutnya, mengenai kualitasnya, lambat laun jika fasih menemukan ide dan tidak kagog merumuskannya dalam sebuah tulisan utuh. Maka kualitas tulisan akan terbentuk dengan sendirinya. Akan terdukung oleh mental yang diperoleh dari pembiasaan semata.
Jadi walau saya tidak mendapatkan ucapan terima kasih dari si penanya tadi. Justru saya mengucapkan terima kasih padanya, karena sudah memberikan saya kekuatan untuk menjawab dalam bentuk tulisan ini.
Padahal tidak juga, jawaban ini pun saya petik hasil dari menyimak tulisan pak Hernowo Hasim.
Terima Kasih Pak Hernowo…

{ 71 comments… read them below or add one }
Mungkin yang berasal dari diri lebih asli ya Mas … sehingga lebih mendalam pembahasannya
Kalau menulis yg berasal dari diri pribadi, maka akan bisa terlihat karakter menulis kita.
sepakat..
istilahnya, lebih beraura atau bernyawa gitu mas Teten..
Baiklah terima kasih pak Fadly
pengetahuan, pengalaman dan pernyataan diri..sipp deh…:)
kalo pernyataan diri agak berat ya Pak…. meyakinkan orang lain atas apa yang kita kemukakan kadang tindak balasnya bisa jadi tidak sama.. karena disini akan muncul ide2 yg mungkin berseberangan..:)
namun lia rasa disitu malah akan belajar hal baru ^_^….
sebenarnya “pernyataan diri” yg dimaksud disini lebih memiliki interpertasi yang longgar mbak lia..Curhatpun termasuk pernyataan diri. mengkomunikasikan apa yang ada didiri kita kpd orang lain.
jadi sebenarnya tidak berat. yg bikin berat itu khan karena kita membuat kategorisasi yang lumayan menguras fikiran..:D
ternyata kata2 curhat itu sudah melekat ya pada lia hehe
makasih pak..
kalo ngeblog terlalu menguras pikiran ntar malah yang ada stress sendiri… di dunia yang sudah stress kita jangan tambah stress.. ^_^
betul mbak Lia..
di buat santai dan menikmati pasti rasanya jauh lebih nyaman
saya save dulu mas artikel ini
untuk saya baca2 lagi
selama ini saya menulis cenderung asal saja
mengikuti kata hati
tentunya berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan dorongan diri
awalnya memang tidak pede dengan hasilnya
takut dicap ‘tidak berkualitas’
kalau sekarang sih cuek saja lah
yang penting saya enjoy dan tidak ada rasa ‘terpaksa’
kata enjoy itu yang masih sulit kita terapkan mas.
)
padahal kalau menulis berdasarkan ‘kebebasan” berkespresi saya fikir kita melakukannya lebih plong.. (kayak permen plong
saya senang kesederhanaan dari tulisan mas iwan. tidak neko2. lama-lama juga bentuk dan karakter menulisnya akan menyesuaikan dengan karakter pribadi kita kok..
Sepertinya kombinasi dari ketiga hal itu yang menjadikan tulisan bisa lebih ‘nendang’
Dan mengenai tulisan berkualitas, saya setuju bila itu datang dari hasil latihan terus menerus. Adapun batas ideal dari ‘kualitas’ itu, hanya penulis bersangkutan yang bisa menilainya.
Hmm.. begitukah?
corak dari sudut pandang elemen di atas hanyalah sebagai pijakan-pijakan sementara kok. pada prinsipnya kita akan melebur sesuai dengan pembiasaan nantinya
Untuk tahap awal/pemula, menulis berdasarkan pengalaman sepertinya memang lebih direkomendasikan mas. Setiap orang rasanya akan lebih mudah bercerita mengenai pengalaman pribadinya. Lebih mengalir aja rasanya pas ditulis. Itulah kenapa blog/posting curhat cukup mendominasi konten blog di ranah maya ini
Pada tingkat lebih lanjut, menulis berdasarkan pengetahuan terasa lebih menantang. Sebab perlu energi sedikit lebih besar untuk merangkum, menyarikan, dan kemudian menuangkan pengetahuan tersebut ke dalam bentuk tulisan (yang komprehensif serta mudah dipahami target pembaca kita).
Sedangkan menulis karena dorongan pernyataan diri? Kalau boleh saya artikan mungkin menuliskan opini/perasaan pribadi mengenai sesuatu objek. Dan ia bisa gabungan antara pengalaman, pengatahuan, serta pandangan/opini pribadi kita. Jadi mungkin terasa lebih menantang lagi yach
Saya juga suka tulisan Pak Hernowo. Saya punya salah satu bukunya (udah lama nggak saya baca sih).
analisanya sistematis sekali mas is. saya hanya akan mengomentari tentang pernyataan diri yah..
implementasinya, pernyataan diri itu sangat berfariasi. bersesuaian dengan pribadi, pengetahuan dan pengalaman seseorang. saya rasa kita sebagai penulis banyak bermain di area ini dengan menggunakan “pengetahuan dan pengalaman” sebagai penguat bobot tulisan.
trims analisisnya mas
Menulis berdasarkan pengalaman sendiri memang dirasakan lebih aman, karena apapun yang tertuang dalam tulisan adalah fakta yang dialami sendiri, walaupun nantinya ada berbagai penolakan dari pihak lain (misalnya karena berhubungan dengan keilmuan tertentu) itu tidak akan menjadi masalah besar dan tidak berat mempertanggungjawabkannya, karena toh ini berdasar pengalaman. Dan pengalaman seseorang dengan orang lain mungkin berbeda.
Sementara menulis berdasarkan fakta-fakata ilmiah bagi seorang emula itu cukup berat tantangan dan tanggung jawabnya nanti. Di sini penulis harus mampu mempertanggungjawabkan fakta-fakta ilmiah yang dikemukakannya dan harus teruji kebenarannnya.
Itu sedikit pendapat saya, walau mungkin menyimpang sedikit, namanya juga pendapat hehehe… makasih Sharingnya Mas :rose:
kurang lebih mirip jawaban saya dengan mas is di atas mas.
hanya berkaitan dengan tulisan ilmiah, saya masih sangat hati-hati menjwab ini. karena saya merasa tidak memiliki kapasitas untuk itu. sebab dalam tulisan ilmiah banyak kaidah yang harus dipatuhi. contohnya perlu mencantumkan daftar pustaka dan sebagainya..
trims antusiasnya mas
Membuat tulisan yang berkualitas tergantung dari posisi kita menulis, saya lebih senang menulis berdasarkan pengalaman dan pengetahuan karena merasa mempunyai kekuatan dan gampang untuk menuangkannya ke dalam kata dan kalimat. walaupun terkadang pendapat yang kita tulis tersebut berbeda dengan orang lain.
benar mas Dody, perbedaan itu biasalah. dikritik dan di debat dengan argumentasi yang lebih kuat, tidak masalah. justru disitulah letak nilai yang berharga yang kita dapat. proses itulah yang akan memberikan pelajaran gratis yang hanya bisa di bayar dengan mencoba.
mudah-mudahan makin semangat yah menulisnya
wah otak saya kok nggak sampe ya… beraaatt neh tulisan…
“bagaimana menulis yang berkualitas?”
menurut saya, lihat siapa target pembaca nya.
bagi anak SD, dan seorang politisi, tulisan yang berkualitas tentu searah dengan latar belakang masing-masing individu.
ada yg bilang blog saya berkualitas, tapi ada juga yang ngomong blog saya ini gak berkualitas..
tergantung kecerdasan otak masing-masing lah wakakakakakakk
betul mas. target pembaca juga akan menentukan dan ikut menilai.
makanya, saya sepakat dengan pendapat bahwa nantinya akan ada basis pembaca yang menjadi penikmat sejati tulisan kita.
seperti bagaimana antusiasnya pengunjung sekaligus penikmat tulisan-tulisan mashengky
ini hanya sebagai pemetaan saja mas. tidak ada ketentuan baku kok. <=== kita bisa gunakan semboyan “amati tiru mainkan” OK?
ok gan.. sepakat…
Ayoooo membaca…eehh salah…ayooo menulis…
Bacaan pagi hari yang berbobot cukup berat juga mas…terima kasih pembelajarannya.
dipetik saja yang nancap dihati mas. selebihnya sesuaikan dengan diri masing-masing…
siap mas, kayaknya semua bisa dipetik, sayang klo dilewatkan…
yang penting kerangjangnya muat mas …:)
tambahan mas, faktor menulis juga bisa muncul karena kita memiliki alasan yang sangat kuat untukAktualisasi Diri, menjadikan diri pelita ditengah gelapnya ketidaktahuan….
sebenarnya aktualisasi diri sudah terangkum di “pernyataan diri”
tapi tidak apa-apa, kalau ini dirasa lebih spesifik. teirma kasih atas tambahannya yah
apapun corak tulisannya, yang jelas mesti disesuaikan dengan target pembacanya. yang jelas penggunakan dan pemilihan kata yang familiar dan tidak terlalu tinggi, cenderung lebih disukai.
Yang terpenting, apa maksud dari penulis tersampaikan di benak pembacanya, entah itu sharing pengalaman, pengetahuan, atau bahkan ajang unjuk eksistensi penulisnya.
Great post mas
nah ini komentar apik mas.
disini, penulis dituntut untuk “merendahkan” ego-nya. dengan harapan apa yang ingin disampaikan terjembatani dan bisa dipahami dengan sangat baik oleh pembacanya. mirip dengan apa yg dikomentari mas hengky soal target pembaca.
kadang-kadang kita sebagai penulis suka tergoda untuk menempatkan kosa kata yang “keren” tapi miskin makna.
trims masukannya mas
Menurut saya sih, sebagai pemula, sudah seharusnya keluar dari lingkupan kekhawatiran tulisan akan menjadi tidak berkualitas atau terkesan ‘cetek’. Karena justru kekhawatiran ini menjadikan diri menjadi tidak jujur dan takut berekspresi.
Lebih asyik justru menemukan kualitas sendiri dalam diri karena saya percaya setiap orang adalah unik dan karenanya harus bisa menonjolkan ke-unik-an pribadinya tersebut. Posting with your own style.
ya ya ya…
ini pendapat yang sangat bijak mas Hery. sayangnya banyak yang kesulitan menerapkan semboyan itu.
namun saya sangat mendukung inti dan semangat dari semboyan tu mas. mudah-mudahan saja kita selalu bisa memetik pelajaran dari setiap tulisan yang kita baca
masih suka menulis apa yang terlintas di pikiran saja, belum banyak pake rumus2 seperti di atas, makanya blog saya topiknya gado2, campur aduk gitu lho mas
thx sharingnya
iya kalau mas Ahmad sih.. lepas dan bebas berekspresi.
sebenarnya itu bukan rumus-rumus mas
itu hanya pendekatan saja kok. kalau dirasa tidak pas, sebenarnya tidak perlu digunakan
ibarat kata sebagai pembuka cakrawala saja. bahwa, oh ternyata saya bisa mulai menulis dari berbagi sudut toh…? gitu sih kira-kira mas
ok mas..makasih pencerahannya soal menulis ya
menurut saya penulisan dengan sesuatu pengetahuan yang memang kita kuasai itu akan lebih memberikan argumen yang kuat dari penulis tersebut dengan si penikmat tulisannya
tetapi dengan berkembangnya pengetahuan si penulis tentang banyak hal, tidak ada salahnya juga untuk bisa menulis tentang sesuatu hal yang pernah dilaminya, sehingga bisa menciptakan gaya penulisan yang lebih kreatif. lebih luas dan berbobot, seiring dengan pengetahuan yang penulis dapatkan
bener dan saya setuju. artinya ada keseimbangan dan ada fariasi agar tulisan-tulisan kita terasa tidak monoton dan stagnan.
trims tambahannya mas
ketiga poin di atas itu Mas yang menjadi ide buat saya . meski kadang kadang saya suka mencari lebih dalam melebihi pengetahuan saya itu .
Thanks atas poin poin nya Mas
dibuat rilex aja mam..
tapi saya senang kalau tulisani ini bisa memberikan inspirasi untukmu mam
semoga makin semangat yah
terima kasih Guru
Kalau punya saya masuk kategori mana ya ?
Memberikan kategori mungkin hanya sebagai batasan sederhana saja, sementara actualnya diserahkan kepada user. Masuk kelompok mana (*ngawur neh komentar*).
Kayaknya saya nggak pernah ngirim email tersebut (*ngumpet…*)
Defaultnya saya memiliki beberapa blog isi yang saling berlainan, personalfield => isinya pengetahuan saya dibidang komputer (nggak pernah sekolah komputer padahal).
Indohijau.net =>isinya berkenaan dengan bidang kehutanan, karena saya bekerja di sektor kehutanan.
Personfield.web.id => saya jadikan blog gado-gado ( ??? )
artinya mas Aldy sudah masuk ke seluruh jalur itu mas. sudah melebur dan mampu beradaptasi dalam berbagai suasana..
he he he.. bisa saja nih Kakang Prabu
sebenarnya tidak ada ktegorisasi disini mas Aldy. ibaratnya ini hanya terminal-terminal kereta api. kita mau berangkat dijalur mana. tapi tujuannya tetap sama khan. tinggal jenis dan rasanya saja yang berbeda mas.
Sepaham Mas Fadly,
cuma trik mengolah resepnya yang masih emput-emputan; ada kalanya keluar jalur juga
ibarat memasak, kalau kemanisan, tambah garam dan sambel mas.. jadi kalau kelebihan bumbu, justru tambah bumbu lain sebagai penyeimbang..
he he he
Apa maksud dari “kagog” mas Fadly?
bisa macam-macam mas.
bisa grogi, was-was, takut dan sebagainya..
Wah …
Ini tulisan keren pak …
Ada tiga hal pak …
1. Tiga Kiat menulis
Saya terus terang baru mengetahui kiat menulis itu setelah diformulasikan oleh pak Hernowo … Dan terus terang saya lebih banyak mengacu kepada kiat yang ke Dua …
Itu rasanya lebih mudah
2. Menulis Pengalaman …
Setelah saya kaji kembali …
Sebetulnya didalam menuliskan pengalaman kita sehari-hari … didalamnya ada juga mengenai pengetahuan kita plus … jujur saja upaya Pernyataan diri juga …
Benar kata Pak Fadly kadang ketiganya bercampur aduk …
3. Rule tambahan …
Bagi saya pribadi … selain ketiga hal tersebut sebetulnya saya tambahkan lagi “rule pribadi” yaitu … Tidak Nyontek, Tidak Jorok dan Tidak Bohong …
Dan karena ini mengenai Blog … maka saya tambah satu lagi … yaitu … One Page Only … (ini isinya kurang lebih 400 – 600 kata saja) … karena kita bicara waktu … bandwith dan yang sejenisnya … kalo nulis panjang … rada repot bacanya
betul nggak pak ?
Salam saya Pak …
(saya akan sering kesini nih …)
poin 1 dan 2 saya rasa kita sudah sepemikiran yah pak
untuk yang ketiganya, keren juga tuh pak. ada rule pribadi. hal ini saya belum mengeksplore lebih dalam sih. saya fikir rule pribadi bisa masuk ke bagian “pernyataan diri” walau nantinya akan bercampur aduk dengan pengalaman dan pengetahuan.
curhat misalnya, ini adalah rule pribadi menurut saya. namun terkadang penulisnya menyisipkan pengalaman dan pengetahuan yang di akumulasi dalam bentuk saran-saran positif.
dengan tambahan pemikirannya, wacana ini makin kaya. trims tambahannya yah pak .. (panggilnya apa nih, pak nh18? )
kalau saya lebih suka menulis dengan pengetahuan saya sendiri mas. disamping mengasah pengetahuan kita, dengan itu juga kita bisa membagi apa yang telah kita ketahui kepada orang lain [bahasa saya "berbagi ilmu].. he..he..
salam kenal
silahkan saja mas ismail..
kita bebas kok mengeksplore pengetahuan kita. itulah sebabnya kita butuh blog sebagai media untuk menerima umpan balik, teguran dari luar, agar apa yang kita ungkap di sebuah tulisan sedapat mungkin bisa tersaring. dan akhirnya kita mendapatkan pemahaman yang lebih kaya..
trims kunjungannya
saya setuju mas fadly. Itulah manfaatnya berbagi.
kualitas diperoleh setelah kuantitas terpenuhi…
penulis buku “best seller” pasti melewati tahapan2 tertentu yang membutuhkan rutinitas menulis.
Manusia selalu beradaptasi, ada peribahasa “ala bisa karena biasa”
berarti pepatah “bisa karena biasa” masih relefan dalam hal ini mas Aas?
tentu saja, diperlukan kuantitas untuk mendapatkan kualitas. agag sulit dan hampir mustahil membantah hal itu mas..:D
saya menulis berdasarkan pengalaman saja mas.. hehehe soalnya pengetahuan saya masih sempit.. maklum baru belajar nulis wkwkwkwk
ok rif..
tapi kamu sekarang mulai turun ritme menulisnya..
ayo mulai semangat lagi dong..
sip mas ! sedang dalam proses bangkit dari alam kubur wkwkwkwk
Bagaimana kalau menulis berdasarkan “pesanan”, penelitian atau penelusuran, termasuk dalam kriteria dimana itu, ya Mas…
setahu saya, kalau menulis sudah berdasarkan pesanan, sudah masuk sebagai penulis proffesional..
Kalau saya menulis masih apa adanya, mungkin dipengaruhi oleh latar belakang.
mudah-mudahan apa adanya akan berguna untuk diri sendiri dan orang lain mas
Wah, tulisan yang menarik…

share boleh gak nih? eh share, curhat deh curhat….
kalo In nulis, gak pernah mikirin tulisan In tuh berkualitas atau tidak
(bener2 yah, gak boleh ditiru nih!)
cuma mengalir aja mengikuti kata hati dan pikiran, mengalun seperti angin yang meliuk-liuk di jemari, tak terhenti, tak terbendung, sampe terkadang jemarinya protes: hooiii, gw capek nih!!!
begitu usai, seneng banget kalo ada yang baca, biarpun ujung2nya ada yg gak suka juga sih hehe…..
thanks buat tulisan di atas, ngebuka cakrawala in banget!!!
Salam ya…
wah bisa saja nih ibu kita..:)
menulis, selain menggunakan trik-trik tertentu untuk menciptakan suasana yang pas antara kita dan pembacanya, menulis pada prinsipnya kesenangan menurut saya bu..
jadi kalau sudah menemukan aliran yang deras..teruskan sajalah..
corak yg saya maksud disini hanyalah sebagai pemetaan, untuk mempermudah kita menemukan ide dan memulai darimana..
mudah2an bermanfaat bu iin
sudah 3 kali saya baca artikel ini tapi belum bisa juga nulis komen. Menulis komen aja bisa mengalami kebuntuan, dan ironisnya justru pada artikel tentang kiat menulis. Ter-la-lu !
Enggak sampai hati saya kalo cuma menulis “nice article gan !”, hehehe…Makanya daripada nulis bernuansa nyepam gitu, mending saya nulis ngalor-ngidul kayak gini.
Jadi meskipun sudah dibekali pengetahuan, pengalaman, dan ada dorongan utk berkomentar, bukan jaminan menulis akan lancar. Kalo lagi buntu ya buntu aja. Even sekedar nulis komentar.
Makanya bagi rekans yg mengalami hal seperti saya ini, enggak usah panik, enggak usaha putus asa, apalagi pake usaha bunuh diri. Cukup menulis saja terus, nanti juga ketemu alurnya. Ya kan ?
saya rasa ini contoh yang bagus pak Hery. mengkomunikasikan apapun. walau dalam keadaan blank sekalipun.
trims pak, sudah menambah pencerahan untuk teman2 lainnya
Tidak ada cara lain untuk terampil menulis, yaitu terus menulis. Terus belajar dan menulis.
setuju mbak…
praktek..praktek dan praktek. itu langkah strategis yang paling dekat
salam kenal Mas Fadli
terimakasih utk kunjungannya ke blog bunda yg seadanya
Alhamdulillah, bunda mendapatkan banyak ilmu di blog ini.
kalau blog bunda termasuk yg mana ya ?
isinya masih acak kadut, segala macam tulisan dicampur dlm satu blog
salam
makasih juga bunda..
termasuk mana yah? saya tak terfikirkan untuk menggolong-golongkan blog bunda. kalau aura tulisannya positif, biasanya saya sering mampir
dan saya rasa di blog bunda menyenangkan kok..
tentu saja tulisan kita tepat sasaran mas, bukan orang yang kesasar