Apa sih yang paling menyakitkan bagi penulis? Selain kendala teknis. Ada satu hal yang paling menyiksa buat seorang penulis. Yaitu kehilangan ide.
Ya itulah menurut saya penyakit yang paling kronis buat penulis. Kehabisan ide, tak ada sesuatu yang bisa di tuangkan dalam coretannya.
Rasanya kemarin sudah punya ide. Pas mau ditulis. Semua ide itu sepertinya sirna entah kemana. Pergi tak tau juntrungannya kemana.
Lalu bagaimana menyikapi persoalan ini. Apakah seorang penulis tidak boleh kehabisan ide? Boleh-boleh saja tentunya. Penulis juga khan manusia. Ada saat-saat ia merasa tak punya sesuatu untuk dibagikan. Adakalanya ia merasa saking kompleksnya idenya. Sampai-sampai satupun tak mampu ia tuangkan. Atau mungkin ada faktor x yang tak diketahui, sehingga ia tak menulis.dan masih ada segudang kendala lain ?
Untuk menjawab persoalan ini. Sebenarnya banyak sekali cara-cara untuk mengatasinya. Salah satu yang paling membuat kita jengkel yaitu kita disarankan untuk terus menulis. Padahal ide saja tak ada bagaimana mau menulis?
Apakah anda merasa seperti itu? Hmm..Saya maklum kok. Sayapun kerap merasakan hal seperti itu. He he he…
Namun semalam, saya menemukan sebuah pencerahan yang berharga. Saat saya membaca blognya mbak Helvy Tiana Rosa. Anda yang suka menulis dan biasa membaca kisah-kisah penulis tentu tau siapa Mbak Helvy ini.
Seorang yang hampir seluruh hidupnya didedikasikan untuk dunia menulis. Saya kagum dengan integritas Beliau yang begitu luar biasa.
Dalam blognya diceritakan, suatu waktu ia berusaha sekuat tenaga untuk menerobos kerumunan massa yang ingin mendapatkan tanda tangan seorang Putu Wijaya. Hebatnya lagi, ia berhasil menerobos dan menyapa idolanya. Yang bikin pak Putu Wijaya terkejut, karena mbak Helvy saat itu masih berusia remaja, masih berstatus murid kelas 2 smp. Sangat mungil dibandingkan penggemar pak Putu yang lainnya.
Apa yang diperolehnya dari Pak Putu? Tanda tangan dan sebuah kalimat sakti. ”Helvy, menulis adalah berjuang!”.
Sejak saat itu, mbak Helvy seperti menemukan semacam kekuatan sakti yang menguatkannya untuk terus menulis. Kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun. Luar biasa.
Kalimat pendek itu sudah mampu membuatnya kesetanan untuk terus menulis dan berkarya. Sampai pada suatu ketika ia bisa menerima email pujian dari pak Putu Wijaya yang sangat rendah hati itu.
Apa yang bisa kita petik dari pengalaman mbak Helvy itu?
Balik lagi ke ide menulis.
Jika kita sama-sama pahami, kalimat sakti Pak Putu, tentu kita tidak akan menangis lagi karena kehilangan ide menulis. Sebab kita sudah paham bahwa menulis itu adalah berjuang. Termasuk menemukan ide, menuliskannya, mempublikasikannya dan seterusnya…
Jadi walau kita kehilangan ide, ide tak bersahabat dan sebagaianya. Intinya tak ada sesuatu yang bisa kita tuangkan. Maka disitulah kita bisa menerapkan nilai perjuangan dalam menulis. Kita bisa curi jimat sakti Mbak Helvy selama ini untuk kemajuan dan semangat kita untuk terus menulis.
Sebenarnya kalimat sakti itu bukan hanya bisa digunakan ketika kita kehilangan ide menulis. Tapi lebih dari itu. Yang menyangkut patah arangnya kita dalam menulis. Kita bisa gunakan kalimat sakti itu sebagai pendobrak semangat menulis kita yang mulai loyo.
Jadi, sebagai penutup. Mari berjuang untuk menulis, sekaligus menulis untuk berjuang!
Merdeka!

{ 49 comments… read them below or add one }
saya ingin sekali belajar yang berhubungan dengan menulis…thx mas…
terus berusaha mas..
Berjuang untuk menulis dan menulis untuk berjuang. Saya suka banget kalimat itu mas. Sarat makna!
itu kalimat spontan mas. setelah saya simak saya baru sadar bajwa kalimat itu syarat makna..
ehm… saya suka kata pak PUtu,
.
Menghasilkan tulisan yang baik bukan perkara mudah. Dari mencari idenya saja sudah perjuangan sendiri. kalaupun ada yang mengklaim mudah dapat ide, tentunya kita mesti melihat… ke belakang. Biasanya yang mengklaim demikian sudah mengalami fase perjuangan dalam kondisi kekeringan ide.
Belum lagi ketika menulis. ide bagus, belum tentu menjadi tulisan yang bagus pula. Ada perjuangannya sendiri. Mulai meracik kata hingga pada akhirnya proses editing hingga layak publish.
Nice posting mas!
iya mas, untuk sebagian orang ide dan menuliskannya adalah perkara mudah. tapi tidak bagi sebagian yang lain. intinya kemampuan orang masing-masing berbeda.
walau demikian, jika kita sudah menganggab menulis itu penting, insyaAllah kendala-kendalanya akan bisa kita lalui.
Melalui tautan tersebut saya sudah berkunjung membaca blog yang dimaksud, dan demikianlah setiap usaha yang tekun dalam berjuang dan belajar tulis menulis, akan membuahkan hasil akhir yang maksimal. MAAF Mas, komentar yang baru tadi menghilang.
iya maaf nih, aki disini cukup galak
“saya mendapat pelajaran bagus dari perkataan pak Putu untuk Mbak Helvy”.
saya rasa kita bisa belajar juga dari situ..
Kalau idenya saja sudah hilang maka kesempatan untuk membuat artikel yang berkualitas pun akan buyar
Saya juga pernah merakan demikian Mas, Rasanya bingung mau nulis apa, efeknya otak jai pening. Ada satu kalimat yang senantiasa mengingatkan saya untuk terus menulis “ikatlah ilmu dengan menuliskannya”
Sehingga, ketika kita sudah tiada ada warisan yang bisa berikan, sebagai wujud bahwa kita pernah hadir di dunia.
So, seperti kata Romi Satria Wahono, tetap dalam perdjoeangan
tetap dalam Perdjoeangan…
kalimat itu bagus sekali mas agung..
himbauan agar kita tetap menjaga motivasi menulis..
pantas untuk diadopsi!
Sebelumnya Merdeka dulu. betul sekali mas kita mesti berjuang. sering sekali saya berkunjung ke blog ini ya rasanya ada yg kurang walau hanya membaca2 saja di blog motivasi ini. Namun ada yng lebih kurang lagi neh mas kok gak mau ke blog saya sih
.
Sukses selalu mas
he he he.. bisa saja Mas Joe..
sabar yah..
hehehe.. makasih mas udah mampir. saya salud sekali dengan mas memberi ilmu yg kadang gak bakal kita temui dimanapun kecuali ya dari sharing2 seperti ini. Terus lanjutkan mas
makanya saya berani menulis di puisi saya :
Jika sumber ide anda serasa menipis
habis bahan untuk ditulis
tetap saja : menulislah…….
itu karena enggak boleh ada alasan utk kehabisan ide
no excuse
dan memang bukan hal mudah
tapi jangan cengeng…berjuanglah utk mendapatkannya
energi positif sangat terasa dari komentar ini..
trims pak Hery sudah tambah motivasi untuk kita semua
Usia sudah hampir setengah abad mas Fadly, tapi pelajaran menulis saya sampai sekarang belum tamat juga
bukankah aktivitas menulis tak ada finishnya??
jadi usia tak akan menghentikan kita khan mas Aldy…
tetap berjuang kakanda..:D
saya masih kehilangan ide, selama di rumah sakit nunggu istri opname..
makanya blog mashengky masih belum update.. sabar yee
wah kalau dirumah sakit saya bisa rasakan situasinya mas.
pengalaman 2 adik saya opnam berbulan2..
belum lagi ibu saya..
sabar saja mas.. lupakan dulu blog. yg penting istri terus ditemanin mas..
semoga lekas pulih yah..amin!
wah saya juga bolak-balik nih ke rumah sakit, bezuk Ibu mertua…yowislah sabar aja mas…seperti kata mas Fadly tetap berjuang!
tks mas
menulis adalah perjuangan.
benar2 sakti ya.
kadang aktivitas menulis sering diremehkan, “hanya” cari ide, kembangkan, tulis. ga ada ide? libur aja menulis. bener kata mas arief maulana, cari ide aja udah perjuangan. ide itu dicari dan diperjuangkan, bukan ditunggu.
selalu ada perjuangan dibalik tulisan.
kalau sudah dinomor-dua-kan memang susah mbak annissa..
makanya kalau kita sudah menganggap menulis itu penting, maka kita akan memasukkannya sebagai bagian dari perjuangan eksistensi kita..
*kalimat pak Putu memang sakti
betul, betul, betul,,,, paling banter kalo saya tidak ada ide tapi dah mau posting cuma review blog atau tulisannya orang lain,,, tapi kasih link dan sumbernya.
itu juga cara yang bagus untuk menjaga motivasi dan ritme kita menulis..
tetap berjuang bro..:)
sebenarnya semua aja bisa ditulis, misal mengambil hikmah dari kejadian apa dalam 1 hari ini saja, simple… sudah jadi coretan di blog
betul banget mas Lendra..
yang diperlukan hanya “kemauan” untuk melakukannya.
Barusan ke blog mbak helvy.. beliau emang Hebat.. dulu lia sering mengikuti tulisan2nya disuatu majalah remaja
Buat lia… tidak mudah menulis dibandingkan dengan berbicara…Namun memang terasa lain jika kita sudah berhasil menciptakan suatu tulisan….
ehmmm kata2 yg sangat memotivasi “menulis adalah berjuang ”
)
dan kita adalah pejuang2 itu.. iyakan pak.. hehehe ( pembelaan diri nih
iya mbak lia..
kita adalah pejuang itu. banyak hal yang bisa diperjuangkan lewat menulis.. tunggulah saatnya sampai kita bisa berpapasan dengan moment luar biasa yang bisa menggetarkan jiwa kita dan berkata “ternyata menulis adalah hidupku!” suatu saat nanti
selama kita mau berusaha meskipun ide hilang maka menulis masih bisa dilakukan
saia malah gag bisa kalo disuruh bicara langsung
saia lebih bagus ditulisan, dan menulis bukan lagi hobby saia, tapi telah jadi kebutuhan
wah mantap nih.. tapi usahakan juga bisa berbicara dong
Ide menulis ibarat udara yang memenuhi ruang hidup. Dia tidak kelihatan tapi keberadaannya selalu di sekeliling kita. Tulisan yang memacu saya untuk terus aktif menulis.
itulah mengapa saya pernah membaca bahwa jika mau menulis, maka gunakanlah semua panca inderamu. niscaya ide menulis sangat mudah kau dapatkan.
kembali lagi, ada kemauan untuk mengeksekusi ide itu atau tidak. itu saja khan pilihannya mas??
subhaanallah… new spirit banget pak… memang seringkali seseorang tdk memahami hakikat menulis sbg penuangan ide kita dlm bentuk yg terlihat. Bayangkan saja, berapa banyak ide yg muncul seketika saat kita menghadapi sesuatu dlm keseharian kita, wah alangkah bagusnya jika kita selalu menuliskan setiap ide yg muncul disaat apapun.. bisa jd author handal kita nanti..
betul.
selama ini, mungkin kita menganggap bahwa menulis itu dikhususkan langsung untuk konsumsi publik. padahal tidak selalu seperti itu. kita bisa membuat satu ruang untuk konsumsi private khan?
kalau dirasa layak publish, baru deh di munculkan..jadi kalau tiap hari dapat ide, kita bisa menggunakan ruang private itu..
kalo saya yang sering adalah ide itu ada, tapi nulisnya ato menuangkan ide dalam bentuk tulisan itu yang susah..
he he he.. langsung aja ditulis apa yg dirasakan..
menulis adalah perjuangan….
berjuang dalam mencari ide, berjuang dalam merangkai kata, berjuang agar dapat ditemia pembaca, dan berjuang agar tetap pada jalur kepenulisan yang benar….
Merdeka!
spiritnya terasa nih mas
Mas Fadly, ternyata kalimat dari Putu Wijaya masih lebih sakti uraian Mas Fadly, nice inspiration..
wah jadi malu kita nih.. tks yah. mudah2an bisa menambah motivasi menulis Mas Mahesa
luar biasa mas……
pokoknya top markotop kata preman blogger
Saat awal belajar menulis kata-kata ini sangat menyemangati saya: “Menulislah dimulai dari hal-hal atau topik yang Anda sukai dulu. Jangan menulis topik yang samasekali tidak Anda sukai atau Anda kurang menguasainya. Itu sulit.” Maaf, saya sedikit mengutip kata-kata dari blog saya.
Kata-kata itu benar, meskipun kini saya berusaha melepaskan diri untuk tidak sebatas menulis apa yang saya suka saja, tapi berusaha menulis tentang topik yang dibutuhkan orang saat ini.
Dan jalan ini sepertinya tidak mudah. Tak semudah seperti membangkitkan ide pada saat kita berada dalam situasi kehilangan ide seperti yang digambarkan Mas Fadly Muin dalam artikel ini.
terima kasih atas tambahan yang mencoba melihat dari perspektif yang lebih luas mas Joko…
saya bisa menangkap maksud anda. artinya dalam tahapan-tahapan tertentu, penulis yang sudah melalu tahapan “menulis karena senang” sudah selayaknya pindah ke “menulis karena biasa”
pada tahap biasa ini, kita bisa menuliskan apa saja termasuk topik diluar yg kita senangi. hanya memang, dibutuhkan pengetahuan yang memadai untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan.
sebab jika tidak, kita akan terlihat kurang siap dengan tulisan itu. tapi dalam tahap mencoba itu tak jadi soal.
so mari kita sepakati, menulis itu tetaplah berjuang, dengan berbagai aspek perjuangannya tentunya..:)
“Menulis adalah berjuang!”
Hemmm… memang seperti itulah kiranya. Namun, mungkin kadar perjuangannya saja yang berbeda. Untuk yang sudah terbiasa dalam perjuangan menulis, kendala yang dirasakan akan lebih kecil. Bahkan kadang mereka tak pernah merasakannya. Mereka sering bilang “Apa saja bisa jadi ide tulisan, yang penting punya kepekaan terhadap apa yang terjadi di sekeliling”.
Sementara untuk yang baru memulai perjuangan itu, tentu kadar perjuangannya dirasa lebih berat. Memang keumuman memulai sesuatu adalah berat.
Menulis sebagai seni, kehadirannya tidak bisa dipaksakan. Kalau sedang kena deadline gimana? Disinilah kita dituntut pintar me-manage pikiran supaya tetap rileks dan bersahabat dengan keyboard. Dalam pikiran yang rileks ide akan bermunculan dengan sendirinya.
{ 1 trackback }