Menulis yang bagus, enak dan gurih untuk dinikmati, saya fikir itu adalah impian sejuta ummat. Termasuk di dalamnya semua jenis penulis. Baik penulis lepas, penulis professional, penulis bayangan, penulis di blog dan seterusnya. Impian dan harapannya, agar setiap tulisannya mencerminkan ekspresi dan efek yang dahsyat bagi pembacanya.
Tentu saja untuk sampai ke titik sempurna, diperlukan proses belajar yang berkseinambungan. Teori dan prakter harus sinergi. Sama Percis dengan teori memasak. Antara bumbu, cara meracik, cara memasak dan cara menyajikan, harus pas. Agar maksud yang ingin disebarkan, tersampaikan, lewat rasa yang memukau.
Jika kita tempuh proses belajar menulis itu di sekolah-sekolah khusus menulis, kita tentu akan terbantu dengan adanya mentor atau guru sebagai acuan. Lalu bagaimana dengan pembelajar yang otodidak? Seperti para blogger Indonesia. Siapa guru mereka, siapa yang mengajarkan mereka ketika mereka salah. Atau tulisannya tidak enak di baca, artikelnya garing, tidak nyambung, melompat-lompat dan tidak sistematis. Bagaimana mengetahuinya?
Bagi penulis otodidak seperti para blogger. Seperti saya dan anda ini deh… ? Gurunya tiada lain adalah pembaca setia kita. Khususnya komentator yang selalu aktif memberikan suara-suaranya di setiap artikel yang berhasil kita posting dengan penuh semangat. Merekalah yang mengajarkan banyak hal kepada kita. termasuk lahirnya ide-ide cemerlang, dari merekalah kebanyakan hal itu datang.
Jika tulisan kita ciamik dan bisa membuat mereka tersenyum-senyum sendiri, atau bahkan bisa meneteskan air mata, atau bisa membuat mereka terbahak-bahak sendiri. mereka akan berkata jujur, hati kitapun senang dan bangga bahwa tulisan kita kali ini Luar Biasa! Semangat akan tumbuh terus dan terus…
Lalu bagaimana kalau tulisan kita jelek, garing, tidak mengundang selera baca para pengunjung setia. Seperti komentar sahabat kita, Mas Octa yang mengelolah Blognya dengan tema Online Business Story ini, di artikel saya sebelumnya tentang menulis artikel yang enak dan gurih beliau memberi komentar yang sangat bagus, berikut komentarnya

Memang, budaya kritik di Negara kita baru mengalami penetrasi pada proses demokratisasi, semenjak arus reformasi semakin menancapkan kukunya di tanah air Indonesia. Membiasakan mengkritik di ranah publik, belum menjadi kebiasaan kita. dan hal ini sedang di sosialisasikan oleh para elit-elit kita. dalam beberapa kesempatan sudah di perlihatkan. Walaupun kadang-kadang terpelosok ke situasi debat kusir dan adu jotos yang memalukan. Ini yang patut disayangkan. Karena belum mapannya nilai-nilai estetika atau nilai keindahan dalam mengkritik.
Namun demikian, saya tetap memberi penghargaan terhadap proses kritik itu, sebab di situ salah satu ruang untuk kita memperbaiki diri, supaya dapat menjadi pribadi yang lebih terarah. Termasuk dalam hal penulisan. Menerima kritikan tentu harus kita terima sebagai bagian dari proses belajar dan peningkatakn kualitas tulisan kita, agar tetap bisa menyajikan bacaan yang sensasional, imajinatif dan atau target-target lain yang ingin kita capai dalam menulis.
Seperti pendapat mas Octa di atas, bahwa budaya kritik masih terlalu sungkan di konstruksikan dalam pergaulan antar blogger. Tapi tidak mengapa, lambat laun juga akan terungkap. Sekarang masalahnya, untuk kepentingan penulisan kita, bagaimana kalau tidak ada yang kritik? Apakah tulisan kita sudah OK? Atau pembaca malas memberikan saran dan masukan atau kritik pedas sekalipun? Bagaimana cara mengetahuinya?
Jika seperti itu yang terjadi, mau tidak mau kita harus menggunakan indera penciuman kita. khususnya hidung kita. hah??!! Hidung????????? Bagaimana mungkin hidung bisa mencium tulisan?
Kita harus jadi anjing pelacak yang memilik penciuman bagai samurai.. tajam! Kita harus bisa melihat cara-cara para komentator di blog kita. perhatikan cara-cara mereka memberi komentar, perhatikan juga karakternya, umurnya, jenis kelaminnya, pokoknya kita harus bisa mengenal pembaca kita. dengan begitu kita bisa pahami cara dia berfikir. Dengan modal pengetahuan latar belakang pembaca kita, maka kita bisa mengetahui, kapan ia berkata jujur, kapan dia malas membaca tulisan kita, kapan dia bersemangat membaca tulisan kita. momen “kapan” itulah asal kritikan itu datang.
Jadi kesimpulannya, pertajamlah Penciuman anda! Bisa khan?
Share

{ 90 comments… read them below or add one }
pertamax kah?
selamat mas, anda mendapatkannya :peluk
mas, ada masalah tuh sama blog sampean mas
wow… langsung dibalas backlink. Jadi ada ide untuk nulis nih….thanx mas fadly
ayo.. ayo.. biasakan budaya kritik yang membangun.
Salam Kreatif,
Octa Dwinanda
kebetulan idenya langsung nancap mas, jadi daripada kelamaan di otak nanti hilang, mending lansung di tumpahkan saja..
kritik bodoh itu HARAM. kritik harus CERDAS, berdasarkan fakta di lapangan, statistik dan juga bukti otentik dari korban (jika ada).
jika kritik cuma masalah harga, atau aplikasi kotor lainnya, tentu harus segera dicegah.
bagaimana mungkin anda menampilkan kritik dari pengunjung yang memakai kata2 binatang dan kelamin?
itu sih bukan kritik mas.. itu petugas kebun binatang yang baru lepas…
kritik butuh kecerdasan tingkat tinggi untuk bisa memahami maksud dan tujuan pembicaraannya…
Lalu, yang menciptakan istilah blogger kambing siapa ya?
:bingung
ha ha ha… :ngakak :ngakak
wah parah hahaha.. blogger kambing tuh artikel mas, bukan komentar..
kalo saya bikin blogger B*BI atau *NJ**G pasti beda lagi persepsi anda toh? makanya saya gak bawa2 kedua binatang itu ke blog :ngakak
kritik bodoh itu HARAM. yang HALAL, kritik nggak pake alkohol ms… :ngakak :ngakak
Eh, kritik emang mengandung lemak B*BI? :ngakak
Wah kalau budaya kritik yang pernah sy juga tulis “Berani dikritik mengapa tidak?” memang kritik itu tidak membudaya. Betul kata ms Octa, yg comment sering malah pujian daripada kritikan. Mungkin nggak enak kali kalo datang2 mampir malah ngritik, makanya lebih baik jujur trus ada perubahan daripd ABS (asal Bpk senang) tapi malah menghancurkan.
sebelum kritik menjadi budaya, terlebih dahulu meningkatkan pengetahuan. sebab, mengkritik juga perlu pengetahuan yang luas, supaya pandangan kita lebih obyektif.. khan lucu, kalau kita kritik dan ternyata kritikan kita itu “tidak obyektif” berat sebelah.. bisa2 kita di anggap asal ngucap :iloveindonesia
Lebih aneh lagi kalau orang hobi mengkritik tapi sangat alergi kalau dikritik. Ujung-ujungnya merasa paling wah, paling benar, dan paling2 lainnya.
Betul jug tuh ms umar….kalo paling bener..ya nggak usah dikritik ms, biar hukum alam yg akan mengritik mereka..entah kena azab atau dikejar ama :ngacir2 :ngacir2 :tkp :ngacir2
:peluk :peluk
kalau itu sih namanya egois mas
pasti ngomongin mashengky ya? :batabig
kayaknya ada yg mulai mengendus-endus bau kecurigaan nih… mending minum :cendol dulu deh.. biar segar
Setuju! :jrb:
Betul ms, kalo nggak ada ilmunya, wah bisa2 jadi gini dech :marah :batabig :takut :bigo: :jrb: :cd:
tul… tul… mas
betul..betul..betul..betul (kayak ipin & upin)
Dan trims udah diingatkan ms Fadly. Kemampuan endus-mengendus saya emang harus diasah lagi..hehehehe :maho :maho
harus belajar sama yg biasa mengendus mas… he he he :kbgt:
yang biasa mengendus itu kambing bukan ? :siul
:recsel :recsel
hehehehe…bukan blogger kambing kan ms octa ?
ya… kadang-kadang sih mas… :hammer
kalo begitu, sy nggak ahli ms….. tanya aja sm si…:anjing:…hehehehe
ada blog yg memasukkan kritik dlm spam……tidak mau dikritik, tapi suka mengkritik….bgm yah? Kalau dibiarkan terpampang di blog, si penulis merasa dicoreng…..kalau dimasukkan dlm spam, apa gunanya meminta komentar….
mending di laporkan aja tuh blognya bunda… biar di eksekusi.. :hammer
tapi semua itu kembali ke mind set kita kok. nanti juga akan mengalami seleksi alam. yang terbaik akan bertahan..!
bukan mashengky kan? :batabig
kalau mashengky justru jago ngendus-mengendus :bingung: :bingung:
dah pada maen detektif2-an neeh..sangat langka orang yang mo dikritik, habis dari orok sukanya dininabobok seeh jadinya gedenya manja bro..disentil dikit aja dah bilang sotoy luh..huh!!..maaf mas Fadly agak vulgar neeh..
ps.saya suka postingannya mas Fadly, makanya saya rajin kesini..
gapapa mas, yang penting terkendali..
kapan nih blognya beres?
tulisan bagus, imaginatif, dan kaya akan ide plus responsif. hahaha… saya barusan memuji (tapi gak berlebihan kan?) yah????
itu lebih enak didengar dan menentramkan hati kan!
Agar maksud yang ingin di sebarkan, tersampaikan, lewat rasa yang memukau. cara penulisan “di sebarkan” itu salah, yang benar “disebarkan”
kena kritik nih aku?? adow!! nti di benerin… tks boss
Nggak sangka nih, meski sehari-hari sebagai bos pakaian anak-anak, masih sempat membahas racikan bumbu masakan…
:cendolbig
biasa aka mas Agus. bisnis kaos belum terlalu sibuk kok mas. lagian yang hadapi konsumen lewat email adalh istriku. aku masalah web aja deh he he he
Artikel yang bagus mas. Kritik ibarat pil pahit yang harus tetap ditelan agar memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak. :thumbup:
pahit di lidah, bermanfaat di hati mas..
Komentator selain sebagai guru bagi kita,juga bisa sebagai sumber inspirator untuk perkembangan blog kita.
betul sekali. setuju banget bro…
Setuju mas, comentatorlah yang sebenarnya mengembangkan blog kita, kita yang memasak dan comentator yang mencicipi.
Dahsyat mas! :iloveindonesia
yang penting rajin2 masak… ok?
sip mas! :cendol
pake thesis ternyata langsung rame komentar neh SIIIPP!
di tambah lagi ada kaskusnya (pake s yah) :shakehand2
*pake thesis malah suka ngutak-ngutik.. he he he
ini kunjungan saya yang pertama mas, salam kenal. trimks.
salam kenal juga mas andi…
:shakehand2
Met dini hari mas, biarin deh sesuai dengan artikelnya biar bobok saya mo kritik juga tapi ga pake cabe ya mas Fadly, itu yang di baris paling atas “Fakir” apa “Fikir” maksudnya hayo di tebak. Menanggapi masalah ini saya sendiri juga maklum mas, tapi memang benar kok otodidakpun kalau mas mencoba secara sadar dengan sebuah krtikan itu sebenarnya malah sangat bagus untuk perkembangan si mpunya sendiri kan mas, ayo mas tak undang untuk ngritik, he…he…met mimpi indah dan salam sukses selalu, harapannya semoga tetap sehat dan bahagia aja si mpunya blog ini, amin
karena ini sudah siang, saya jawab dengan met siang yah mas Muklis.. iya mas muklis maklumlah, antara mata, jari pikiran dan tuts sudah ga nyambung. jadinya salah ketik deh.. maaf yah pemabacaku… :shakehand2
makasih atas atensinya mas
Saya pribadi beberapa kali pernah mengkritik artikel yang telah saya baca. Umumnya sih dari sisi cara pengemasan dan gaya bahasa yang digunakan. Termasuk argumen tertentu yang menurut saya kurang pas. Makna kurang pas mungkin masih relatif dan subyektif yach.
Kalo dari sisi cara pengemasan, saya lebih sering mengkritik tampilan area posting yang masih kurang nyaman untuk dibaca. Sayang sekali kalo artikelnya sudah berbobot, namun cuma sedikit yang mau membaca (tuntas) karena tampilan yang sangat nggak enak dilihat. Misalnya saja paragraf yang numpuk (terlalu panjang), nggak punya jeda antar paragraf yang jelas, paragraf terlalu melebar, font kekecilan, dan sejenisnya.
Kalo masalah gaya bahasa, mungkin saya juga pernah secara tersirat mengkritik salah satu postingan blog ini…hehehe (soal gaya bahasa yang terlalu berat). Tapi mungkin itu kembali pada tingkat pemahaman (intelektualitas) masing-masing pembaca yach.
Namun menurut saya, gaya bahasa yang terlalu ‘melangit’ bisa jadi bumerang sendiri. Pembaca jadi kesulitan menyerap nilai-nilai (yang mungkin saja bermanfaat) dari artikel yang sedang dibacanya. Efek lain, pangsa pasar tulisan tersebut akan berkurang jadinya. Sebab daya rangkulnya terbatas pada kalangan dengan tingkat intelektualitas tertentu.
Bukankah makin banyak kalangan yang bisa menikmati artikel tersebut akan semakin bagus? Dengan demikian, nilai manfaat dari tulisan tersebut akan bisa lebih luas lagi pengaruhnya. Ini bukan kritikan buat mas Fadly loh. Ini untuk semua penulis yang (mungkin) masih terjebak pada gaya penulisan ‘melangit’ dan mengambang di awang-awang.
Btw, saya juga pernah kayak gitu kok mas..
wouw… makasih yah mas iskandar udah mencoba memberi tanggapan yang syarat akan masukan-masukan membangun.
mengenai tata letak, atau tampilan baik itu ukuran spasi paragraf. memang sangat memainkan peran penting untuk memberi rasa nyaman bagi pembaca. makanya saya putuskan untuk ganti themes yang bisa mewakili dan menjadi solusi atas masalah itu.
khusus masalah “gaya bahasa yang terlalu berat”. hmmm agag bingung saya mas. memang praduga saya mengatakan “tulisan saya mungkin berat” apalagi dengan komentar anda yang tersirat seperti itu. saya makin yakin kalau tulisan saya berat.
ini adalah kesulitan saya untuk merubah gaya bahasa yang bisa menjembatani antara : gagasan dan cara menuagkannya.
namun saya yakin, suatu saat nanti, akan terseleksi secara natural dan antara saya dan pembaca akan ketemu di tengah-tengah. jadi kita bisa klop deh.
makasih yah mas sudah kritis terhadap tulisan saya :sungkem
ternyata mas iskandar memang blogger kritis ya, dimana-mana memberi kritik……
kita perlu karakter seperti mas iskandaria ini
PR makin naik aja mas
alhamdulillah mas… jadi dong tukeran link? sudah masuk kualifikasi belum mas? :thanks2
Kalau blog saya sudah masuk kualifikasi belum mas?
hehhe kok malah mas fadly yang nanya.
harusnya saya yg nanya saya udah masuk kualifikasi FM.com belum.
jadi gak enak,
oke mas segera dipasang tukeran kolornya wekekkekekek
ok mas
Waduh kunjungannya saya terlambat nih mas…. maklum baru sempat hari ini blogwalking. Jadi minta dikritik nih…. :siul
kritikannya cuma satu mas. tidak tepat waktu hadir disini ha ha ha ha :peluk
ciamik mas… nanti saya blm bisa mengkritik nih soalnya pengalaman di bidang blog baru beberapa bulan.. namun saya belajar ngeblog itu udah 3 tahun :ngakak
Pak Guru : jadi 3 tahun itu kemana saja kamu rief? :ngakak :ngakak :ngakak
saya menjelajah dunia VB (visual basic) dan berhasil membuat virus ganas yang merusak laptop kakak saya sampe dimarah-marahin sekeluarga. akhirnya saya beralih ke pekerjaan yang lbh halal yaitu menjadi web programer PHP namun otak saya kepenuhan dengan script echo echo gitu akhirnya pusing sendiri… dan akhirnya berlabuh ke blog mas… :cendol
waduh… sangar juga rief. blogku jangan di suntik v12us yah? :berduka
hehhee saya udah ga bisa bikin virus lagi koq mas… tenang aja… saya udah tobat :rate
Bagus mas, saling mengingatkan untuk kritik yang membangun.
pelan-pelan harus bisa di terima mas..
karena aku masih dalam tahab belajar, q minta tlg sama mas fadly, berikan kritikan tdp artikel q jika mas fadly mampir ke blog q.
insyaAllah mas Andrik…
ehm ehm.. mas fadly gtu loch
kenapa gitu loh??
wow .. komentar- komentar di sini sungguh panas… ampe keluar asap nih :marah
disini sedang terjadi diskusi pengembangan diri.. sambil minum :cendol supaya tidak :marah
Membuat kritik yang jujur sekaligus sopan banyak kendalanya, Mas Fadly. Pertama, sebagai orang timur yang selalu mengedepankan unggah-ungguh tatakrama biasanya lebih senang basa-basi dibanding bicara jujur (perhatikan persentase basa-basi di komentar blog). Kedua, ada beban moral bila mengkritik sesuatu maka si pengeritik harus sudah lebih baik, khususnya pada topik yg dikritiknya. Padahal mengkritik kan memang jauh lebih mudah dibanding melaksanakan. Jadi bisa saja orang yg kemampuan menulisnya masih buruk contohnya, tapi mampu memberikan kritik penulisan yang bagus dan bermanfaat. Saya coba terobos 2 kendala tsb.
Ide tulisan mas Fadly bagus, mengalir lancar, tapi agak ceroboh di penulisan kata dan tanda baca (untuk kali ini). Untuk peningkatan, perlu dipertegas warna & karakternya, sehingga bisa dikomentari “tulisannya Fadly Muin banget!”
itu lagi satu ketangkap, Budaya timur! ini pekerjaan berat, tapi kita bisa mulai mengikisnya pelan-pelan dari diri sendiri, menyebarkan di blog dan seterusnya. lama kelamaan juga jita kapok pake budaya tiimur untuk tidak mengkritik.
*masalah tanda baca dan penulisan kata yang kadang2 salah. ini maalah ketelitian saya. mungkin kecapean mata sepet dan seterusnya. kedepannya akan di benahi, terima kasih suarakelana
jadi banyak yang mengkritik dan minta di kritik nih mas…
Salam Kreatif,
Octa Dwinanda
berarti efek artikel ini bekerja mas…
betul betul betul.. kadang sungkan untuk ngasih kritik karna kedekatan dan pertemanan sesama blogger. Tpi skarang pikiran saya lbih terbuka, kritik itu kan untuk membangun
mantap artikelnya… :recsel
iya mas, kita masih menempatkan kritik sebagai “pernyataan permusuhan” bukan sebagai “ajang perbaikan” disitulah menerut saya, letaknya mas..
makasih sudah mampir mas Ardy..
wah belajar jadi anjing pelacak.
Mengkritik dan dikritik mengandung konsekuensi yang sama beratnya. Yang satu harus bisa mempertanggungjawabkan, yang lainnya harus bisa memperbaikinya.
Salam Untung Nyata!
pengamatan yang jeli sobat
setuju mas…kritik adalah bentuk pembelajaran kedewasaan kita…tapi kalo kritiknya sembarangan kadang bikin kita ngamuk juga ya mas…ha..ha..ha..
betul. sebab kritik itu bukan cuma menyentuh sisi teknis atau inti masalah yg di anggap salah. tapi juga menyentuh sisi emosional orang yg kita kritik. makanya memang perlu cara penyampain yang smart dan tidak menggurui dan memojokkan..
Salam kenal Mas Fadli.
salam kenal mas