Hallo Apa khabar Teman?
Seperti seorang pemula rasanya, memulai menulis lagi setelah lama terdiam, membuat saya merasa sangat kikuk. Apakah seperti itu adanya, jika sesuatu yang dulu sering kita lakukan, tanpa merasa aneh. Kini harus merasa ganjil ketika memulainya kembali?
Celakanya, yang saya rasakan memang seperti itu. Setelah sekian lama tertidur dari ektifitas blogging dan menulis, ada rasa enggan untuk memulai lagi. Mungkin karena efek cuaca bathin dari kefakuman itu, membuat inspirasi ide begitu terasa kelabu.
Setiap kali hendak menulis, selalu terhenti oleh perasaan yang tak karuan. Seperti seorang perjaka yang akan menemui seorang gadis impiannya. Deg-degan campur rasa yang nano-nano. Maka otak yang biasa mengkritik mulai bekerja dengan sempurna. Semua kosa kata yang sudah tertuang tidak lahir berdasarkan seleksi intelktual yang dirasa ideal. Rasanya kita seperti berkata, bahwa ’itu bukan tulisan yang saya inginkan’.
Ternyata benar juga, menulis sama dengan olah raga, jika tidak dilakukan secara rutin, maka otot-otot terasa kaku, susah bergerak. Seperti orang yang mulai kegemukan dan susah untuk bergoyang karena perut mulai kegendutan.
Suasana seperti itu, kini aku alami setiap kali berhadapan dengan situasi menulis. Bahkan saat menulis artikel kali ini. Semuanya seperti orang yang baru belajar lagi. Sungguh ajaib reaksi ini menurut saya. Teori para penulis bahwa menulis hanya perlu pembiasaan, perlu niat dan keseriusan yang sungguh-sungguh, ternyata tidak diragukan lagi. Terbukti! Tanpa itu kita akan mati kutu.
Lalu solusi yang saya ketahui, adalah mulai lagi, itu saja. Tidak usah mikir macam-macam, pokoknya hajar bleh. Babat habis. Mau salah ketik, salah tulis, salah – saleh, pokoknya goal yang harus dicapai adalah keluar dulu dari kungkungan kefakuman sesaat. Toh selama ini sudah terbiasa menulis. Tinggal membangkitkan kembali gairah yang pernah ada.
Jadi saya tidak berputus asah. Saya tetap jalankan teori itu.
Pengalaman ini mungkin dialami juga oleh anda, maka saya coba berbagi pengalaman saja. Bahwa memang betul, jika kita mengalami stagnasi dalam menulis dan susah untuk memulai kembali, maka jalan satu-satunya adalah mendobrak rasa takut salah dan rasa kikuk dengan cara mulai menulis lagi, serta mengabaikan segala bentuk proteksi yang menuntut kesempurnaan kita dalam menulis.
Sebelum menulis lagi, saya coba dulu berkeliling ke blog teman-teman. Ini berguna sebagai olah raga wacana. Kita perlu menstimulus wacana-wacana yang kita miliki dan wacana yang beredar. Ini sangat baik untuk menciptakan rasa rilex saat akan mulia menulis kembali.
Hasil dari berkeliling itu, ternyata ada juga yang postingnya jarang-jarang. Saya hanya tersenyum simpul. Mudah-mudahan gairah menulis kita bisa bangkit lagi. Buat teman-teman yang tetap konsisten menulis, saya ucapkan selamat dan terima kasih. Karena anda telah menjaga gerbang motivasi menulis teman-teman yang lain, termasuk memotivasi saya.
Mudah-mudahan gairah menulis saya bisa bangkit lagi dan terus berkembang, amin.

{ 8 comments… read them below or add one }
Welcome back, mas Fadly
Saya seneng sekali akhirnya bisa ketemu mas lagi.
Ya, saya juga pernah mengalami apa yg mas rasakan, dan mengunjungi blog2 (blogwaking) memang bisa membantu membangkitkan lagi gairah menulis yang hilang.
Salam.
Makasih yah…
Ya… begitulah adanya Mas.
Lama nggak nulis seperti biasa, ketika mencobanya lagi, seolah-olah baru mulai layaknya pemula. Walapun mungkin agag beda dikit
Saya pun yang tidak berhenti total, cuman pindah jalur saja, setiap mau nulis lagi sekarang, yang ada di otak itu “promo… promo… dan promo”. Udah “terkontaminasi” Foredi dan Gasa kali hehe….
Salam Sukses Mas Fadly!!!
mudah-mudahan kedepan, lebih baik lagi kang… makasih supportnya
welcome back from hell brother hehehehe
wadoww…
tks bro..
hahaha pas banget sama saya mas
baru juga saya abis ngepublish artikel baru setelah mati suri selama berbulan-bulan
lumayan dapat gandengan….heheheh