Dalam hal ini saya tidak berdiri dalam kapasitas sebagai guru atau mentor. Saya menuliskan ini semata-mata mencoba berdiri pada posisi penjawab.
Posisi penjawab pun dalam artian begini…
Dalam bayangan, bahwa ketika seorang guru memberi materi, lalu beliau melontarkan pertanyaan, sekedar menguji konsetrasi muridnya. Apakah murid-muridnya benar-benar menyimak materi yang di sampaikan atau tidak.
Walau mungkin sang guru tidak benar-benar menginginkan jawaban muridnya itu. Sebab, pertanyaan itu di lontarkan hanya sebagai pembuka atau prolog, untuk selanjutnya masuk ke sesi pendalaman. Anda mengerti kan maksud saya?
Nah, dalam hal ini saya mencoba untuk terus menjawab, walau sang guru tadi tidak menginginkan jawabannya.
Dan pertanyaannya saya revisi sedikit. Karena saya rasa pertanyaan tentang benar salah agag sedikit kontroversi. Kawatir kita akan masuk ke wilayah “Debat benar salah”. Padahal saya hanya ingin berbagi pandangan tentang cara menulis yang lebih enak di baca.
Jadi anda tidak perlu terpengaruh dengan judul di atas yah..
Karena saya gunakan itu semata-mata untuk memberi magnit keingin-tahuan anda untuk terus membaca.. ?
Saya yakin, ini pertanyaan banyak orang yang gemar menyelami imajinasi fikirannya dan menuangkannya dalam bentuk tulisan.
- Bagaimana cara menulis yang baik, enak di baca dan melekat kuat. Bahkan bisa nancap bagaikan paku yang di paksa masuk ke dalam beton dengan hentakan martil yang sangat kuat.
Terkadang kita sudah mencoba menulis. Menggunakan kiat-kiat dan patokan para penulis hebat, yang sudah memiliki jam terbang tinggi. Katanya gunakan otak kanan dulu baru otak kiri. Supaya kita bisa lancar menulis dan tidak tersendat-sendat.
Walau tulisan acak-acakan dan tak karuan, biarkan saja. Tak usah di gubris. Nanti setelah itu baru deh di edit.
Ok semua sudah dilakukan, menulis semakin lancar, pengeditan dilakukan setelah semuanya ide sudah di tuangkan.
Namun, kegelisahaan itu muncul lagi. Setelah melakukan proses menulis bebas dan di edit kemudian. Tapi kok masih kurang enak untuk di baca. Kesannya asal dan samaskali tak memberi kesan yang greget.
anda pernah merasa seperti itu?
Sebelum masuk kesitu, kita pahami dulu. Apa sih fungsi sebuah tulisan? Tak lain dan tak bukan adalah sebagai jembatan komunikasi. Untuk menyampaikan sesuatu. Memberi sebuah informasi kepada orang tertentu, kepada pembaca tertentu. Diungkapkan lewat kalimat-kalimat yang di susun rapih. Agar orang yang membacanya bisa mengerti dan paham. Apa sih sebenarnya pesan di balik sebuah tulisan.
Nah disinilah letak ”ruang labil” yang perlu kita pahami.
Maksudnya ruang labil ini, begini…
Terkadang, maksud kita ingin menyampaikan pesan tentang A tapi kok setelah tulisan yang sudah kita buat itu, kita baca kembali. Rasa-rasanya tidak berbicara A sepenuhnya. Mungkin ada tentang A, tapi sedikit. tidak terlalu Menonjol!
Justru yang kita tulis adalah tentang ulah B yang berdampak pada A. Walau kesannya sama, tapi hasilnya Tentu akan berbeda.
Misalnya saya ingin membahas tentang “Menulis Yang Baik dan Benar”. Tapi setelah selesai menulis. Lalu saya pahami dalam-dalam, rasa-rasanya saya tersadar, bahwa ternyata saya membahas tentang “motivasi menulis”. Bukan tentang menulis yang baik dan benar.
Walau temanya sama-sama Tentang Menulis. Tapi sudut pandangnya berbeda. Dan ini akan sangat mempengaruhi kefokusan sudut pandang yang saya buat sebelumnya. Berarti mengurangi upaya pendalaman pada sudut pandang yang saya buat.
Nah, balik lagi ke pertanyaan di atas tadi.
- Lalu Bagaimana cara menulis yang enak, bagus, berkesan dan pesan yang ingin disampaikan bisa di terima dengan baik oleh pembaca?
Jawabannya adalah
- Pertegas Sudut Pandang dan Usahakan agar Tetap Fokus pada Sudut Pandang itu.
Kalau kita ingin menyampaikan tentang A, yah kita harus bicara A. Agar apa yang kita sampaikan tentang A itu bisa benar-benar di pahami oleh pembaca. Jangan biarkan kita terpancing untuk mengatakan lebih banyak melebihi apa yang ingin kita sampaikan. Hanya karena kita ingin mengatakan lebih banyak.
Berusahalah untuk tetap berada di jalur pesan sentral yang ingin banget di sampaikan. Walau sebenarnya anda tidak hanya bisa mengatakan tentang A.
ini ada kaitannya dengan tulisan saya sebelumnya. tentang menulis yang membutuhkan sedikit keberanian.
saya rasa, jika kita memiliki sudut pandang yang jelas, spesifik dan benar-benar fokus disitu. Sepertinya rasa cemas atau takut di tentang dan di acuhkan itu, bisa mulai kita kikis.
memiliki sudut pandang yang jelas, akan mengurangi kemungkinan wacana melebar kemana-mana. kita juga bisa mengatasi respon pembaca yang liar dan membuat kita pusing sendiri. kita bisa mengajak pembaca untuk fokus pada apa yang ingin kita tebarkan.
jadi kesimpulannya, Setia pada sudut pandang yang akan di sampaikan, akan memberi kesan yang utuh pada sebuah persoalan yang ingin di bicarakan.
semoga yang sedikit ini bisa membantu…
Salam….
Share

{ 81 comments… read them below or add one }
+1 GAN…
kontesnya masih on atau udah off nih?
Kontes SEO? masih mas…
baiklah kakak fadly.. saya akan mempertegaskan tulisan saya di sini yaitu :pertamax! hahahahaha
ok dek Hengky wakakakaka…
bercanda mulu si agan
saya juga suka berimajinasi… :siul apalagi yang hot… :mahongintip yang dingin juga suka :cendol semoga aja nanti bisa tertuang dalam tulisan.. :peluk
siplah… pokoke terus menulis… :cendol
barometer bahwa tulisan kita itu emang baik dan benar dilihat darimana ya mas? terus terang saya masih bingung, apa dilihat dari komentar? atau mungkin juga ikutan kontes menulis ya? kalo menang berarti tulisan kita (setidaknya) sudah bisa diterima.. apa itu barometernya?? *nyuri waktu kerja utk blogwalking – *
mas, mohon di baca lagi paragraf “6″ . Judul benar salah saya revisi mas evan..
saya fokus kepada bagaimana layaknya membuat tulisan yang enak dibaca. solusinya adalah membuat artikel yang memiliki sudut pandang yang jelas..
ruang labil….mo nulis A jadinya kurang A
bener bunda
bener tuh mas kata bunda..ada huruf di artikel ini yang nyangkut (huruf g), jadi sedikit kurang enak dibacanya..periksa sendiri ya
yang mana sih.. tunjukin dong mas
blogger tanpa huruf A atau huruf S neh??
*back to work ahh … *
Hingga sekarang saya masih mencari gaya menulis yang saya rasa nyaman. Karena setelah di posting, selalu saja ada yang terasa kurang.
Terima kasih sharingnya mas Fadly, sangat bermanfaat
saya pernah merasakan itu mas.. dan jawaban yang saya terima, tragis! ternyata tidak perlu di cari, justru nanti dia bakal datang sendiri
pokoknya terus menulis … aneh yah?
mo gaya katak bang ? sambil sikut kanan-kiri ?
ah, gak cocok buat bang Hery kayaknya….
@Suarakelana: rencananya mau pake gaya batu, mas heri. Tenggelam dalam tulisan :hammer
ada juga batu apung loh mas Hery… he he he
mantap nih artikelnya mas… saya tunggu release tulisannya mas yang di garap tiap malam….
he he he… kalau yg itu masih belum pede mas
ehem..ikut nimbrung ah..kek nya kang fadly mo buat gebrakan baru niy
ngomongin apa neh……. (mo tau aja ya….)
ah ga juga kok. cuma saya lagi latihan menulis fiksi…
dan mas tri selalu hadir di tengah malam..wakakakaka
ikut nunggu,,,ikut hadir ah
kalau bunda nunggunya lain nih :p
Ini memang sering saya alami Mas bahkan sampai dengan saat ini. Triksnya memang menulis dulu sebisanya, kemudian diedit untuk mengerucutkan isi artikel. Kadangkala malah jadi nggak karuan isinya. Saya tidak berputus asa, bahkan saya kemudian berkesimpulan bagaimana saya menyampaikannya dengan cara saya yang sedikit “nyeleneh” tetapi pembaca paham maksudnya.
Repotnya kalau belajar sudah diusia tinggi Mas Fadly. Terima kasih Mas, saya nyatakan artikel ini sebagai support untuk saya.
Salam. :rose:
kalau gitu, jangan langsung di edit mas Aldy. biarin dulu naskahnya. istilahnya di tenangin dulu. langsung di tutup dulu microsoft word nya. nanti kira2 sudah tenang, baru buka lagi.. dan di edit deh..
kiatnya sih, pertegas sudut pandang utama. itu aja kok mas Aldy.
(maaf nih saya jadi ngaharin deh…)
Ngarahin ?
Sayalah yang harus berterima kasih Mas Fadly, ntar kalau ndak diarahkan malah kembali keasal, menjadi tidak fokus.
Sekali lagi terima kasih mas, semoga saja mas Fadly tidak bosan-bosanya memberikan masukan dengan pertanyaan dan komentar saya. :peluk
senangnya disambut dengan sikap yang elegan seperti mas Aldy.. trims mas insyaAllah kita bisa jadi partner diskusi yang mengasyikkan
Sudah lebih dari setahun membiasakan diri menulis lewat blog, tapi perasaan mantap dengan hasil tulisan kita memang benar-benar sulit ya mas…Tetap saja meskipun sudah beberapa kali edit, setelah di publish biasanya ada aja kurangnya
kalau kita sudah merasa maksimal. yah sudah. saya rasa tidak perlu membebani fikiran terlalu dalam. nanti bisa frustasi mas
Plongin aja gitu loh…:)
Untuk para newbie spt saya, artikel ini sangat recommended untuk di baca.. :beer:
trims Mas :cendol Andre
menulis blog secara kontinyu kadang sulit menjaga stabilitas mas …
adakalanya tulisan terasa enak dibaca, plotnya nyambung dan mengalir lancar serta fokus pada bahasan
tapi kadang terasa acak2an, lari kesana kemari dan sering kehilangan fokus
apa penyebabnya mas ?
penyebabnya kurang konsetrasi pak. dan mungkin tidak menerapkan prinsip menulis bebas dulu baru di edit.
maksudnya gini…
Sebagai tambahan aja nih pak Kelana,
setelah ide sudah ada, sudut pandang sudah ada, maka mulailah menulis dengan otak kanan (bebas).
setelah itu, setelah tulisan sudah rampung, istrahatlah sejenak, jika sudah nyaman baru deh di edit..
dan editnya juga, perlu untuk setia pada “sudut pandang” jangan lirik2 sudut2 lain
InsyaAllah, tulisan akan lebih maksimal
Tidak menutup diri, hal ini sering kita lakukan tanpa sadar. Mengatasi hal ini, saya kira solusinya ya terus saja menulis, jangan berhenti. Dari situ kita terus belajar mengoreksi kekurangan kita. Perlu juga membaca2 kembali tulisan2 lama kita untuk evaluasi. Kadang hal ini kita sadari bukan saat menulis atau selesai menulisnya. Tapi, setelah berwaktu2 kemudian baru kita ketahui setelah membaca tulisan kita yang telah jadi.
But, ini bukan hanya dilakukan oleh kita. Para penulis besar dan terkenal saja juga sering melakukan hal ini. Saya sering mencermatinya pada buku yang merangkum essay-essay mereka. Untuk hal itu, ada dua kemungkinannya, kita yang mungkin tak terlalu memahami maksud tulisannya atau memang dia sendiri yang tanpa sadar dan tanpa sengaja melakukan itu. Kesimpulannya, ini adalah kelemahan manusia pada dua pihak, yang menulis dan yang membaca.
Solusinya, menurut saya, tetap aja menulis terus. Pelan2 kekurangan itu akan tertutupi.
betul mas Khery..
benar salah adalah keniscayaan yang tak terhindarkan. apapun itu, termasuk dalam hal menulis.
namun, upaya yang kita lakukan untuk mencoba mengekspresikan intelektualitas diri kita, diperlukan kefokusan, kejelasan dan substansi yang membuat sebuah tulisan bisa dinikmati oleh kalayak tertentu. dalam hal ini basis pembacanya.
dan untuk melakukan itu, tentu saja, apa yang mas Khery sodorkan di atas adalah kiat yang patut diperhitungkan. yaitu : membaca, menganalisa, menilai dan mengoreksi.. adalah langkah-langkah yang sangat selektif, sebagai upaya memperkuat apa yang ingin kita sampaikan..
solusi untuk terus menulis, rasanya tak bisa lagi untuk di tolak. kecuali bagi yang berniat meninggalkan dunia menulis
Trims Mas Khery atas pandangan yang begitu dalam ini…
*mask Khery sedang memaksa saya untuk berfikir lebih dalam nih….
trims yah…
Kelihatannya mudah, padahal bagi sebagain orang cukup rumit dan memerlukan kerja keras untuk dapat menulis dngan baik dan benar seperti yang Mas Fadly paparkan itu.
Tapi… walau cukup rumit tetep harus dicoba… dicoba… dan dicoba… terus
hanya perlu latihan dan mencoba terus menerus.. lama-kelamaan tulisan kita akan tersaring kok mas.. tergantung jam terbang juga
saya setuju dengan mempertahankan sudut pandang Mas karena hal ini akan menuntun tulisan kita sesuai dengan tema yang kita bicarakan. namun bagaimana caranya mencari sudut pandang yang tepat itu ya mas
saya jawab dengan contoh aja yah mas Dody…
misalnya kita punya Tema : “tentang Internet”
anda mau bahas tentang internet dari sudut mana? disinilah letak sudut pandang itu.
misalnya
-bahaya internet terhadap anak-anak
-bisnis di internet semakin menggairahkan
-pebisnis internet mulai resah
- dan seterusnya…
semuanya bahas “tentang internet”, tapi dengan sudut pandang yang berbeda-beda.
kira-kira begitu mas Dody…
semoga bisa membantu yah
terima kasih sekali Mas Fadly… ini sangat bermanfaat bagi saya terutama menambah bekal dan pengetahuan dalam ilmu menulis
siplah… di tunggu eksperimennya
Kalau membaca artikel ini, saya justru menyimpulkan Mas Fadly berbakat jadi penulis cerita suspensed.
hmm.. makasih ms atas kesimpulan sementaranya
saya jadi Juri Kontes AS.Com aja dulu deh …
Bagi saya proses menulis bukan berbicara tentang benar atau salah cara menulisnya, saya lebih cencerung untuk mengatakan bahwa ada cara menulis yang baik atau kurang baik. Dan mas Fadly ini sudah menerangkan dengan baik bagaimana proses ini dilakukan. Sipp mas…
artinya kita sudah sehati untuk kali ini mas Sugi…? tks yah
Wah, komentar saya ilang ternyata. Galak banget ya satpam blog ini :ngakak
he he he.. sudah dari sononya kali mas
Sepakat banget Mas (tanpa bantahan yang berarti)
Sebagai pembaca, saya biasanya lebih terkesan dengan tulisan yang sudut pandangnya jelas dan pembahasannya fokus (tidak meluas atau melebar terlalu jauh). Untuk menghasilkan yang demikian, ada beberapa faktor yang berpengaruh/menentukan.
Di antaranya pemilihan kata, efektivitas kalimat, kesatuan hubungan antar kalimat dan antar paragraf, serta kejelasan argumen/analisis. Semuanya perlu latihan dan pembelajaran terus-menerus. Yang terpenting ada niat aja untuk lebih baik lagi dalam menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan.
Saya garis bawahi soal NIAT itu. Ada penulis yang perkembangannya sangat pesat (dalam hal peningkatan kualitas tulisannya). Namun ada juga yang sangat amat lamban. Saya rasa salah satu penyebabnya karena perbedaan motivasi/niat untuk berubahnya aja.
fokus pada sudut pandang, akan membantu kita sebagai penulis untuk lebih tajam mengangkat sisi2 yang menarik pada sebuah tema. Sekaligus mempermudah pembaca untuk menyerap informasinya.
tentu, hal itu butuh membiasakan diri secara terus menerus..
Trims mas Is, argumentasi yang cukup memukau saya
saya masuk yang mana mas is? yang sangat pesat atau sangat lamban. ( Pd aja lagi!!!)
Saya sering mengalami hal itu mas fadly, mksdnya dalam hati tema yg ingin saya angkat adalah A tapi kenyataanya setelah artikel saya selesai justru melebar ke B. Hanya ada sedikit pembahasan tentang B. dan saya juga merasa artikel2 selama ini masih jauh dari standar. makanya saya selalu rutin maen kesini untuk belajar dari mas fadly.
yah.. proseslah mas Andrik..
lama-lama juga makin fokus kok.
namun kalau mau coba praktek, coba deh cari satu tema denga sudut pandang yang jelas. lalu fokus dan setia pada sudut pandang itu. kalau ada paragraf yg bandel, amputasi aja mas
*bukan ngajarin yah mas…
eh maaf salah ketik: mksud saya hanya ada sedikit pembahasan tentang A
saya gak pernah nulis artikel sebelum mengenal blog
jadi ya saya nikmati saja hasilnya
kalau ada yg tidak puas alias kecewa ya mohon maklum
wah, kalau reporter pasti yahud nih..
bagaimana mas iwan, sibuk?
normal saja kok mas…
ketidakjelasan arah tulisan terkadang membuat pengunjung bingung..
dan ini sering menjangkit blog saya.. hehe..
he he he.. di pandu aja crit
(ikut2 mas Khery manggil crit
)
Alhamdulillah saya selalu berusaha untuk terus fokus sesuai tujuan saya menulis mas, yaitu mengenai motivasi-motivasi sederhana.
alhamdulillah mas Agy.. makin semangat yah…!
Nah iya nich !!! benerr benerrr kadang-kadang pengen berkreasi dengan kata-kata tapi kok malah jadi agak hilang soul dari maksud tulisan itu sendiri gitu….
jadi gitu caranya ya ???
oia, kalo dari sang guru JOnru, masing-masing paragraf harus mengkerucut pada satu bahsan, jangan jadi nyebar.. ( ah pasti mas Fadly juga sudah tau itu sich )
iya betul mas, artikel ini memang terdapat muatan itu, maksud dari mas Jonru. dengan bahasa saya tentunya
wah saya sering mengalami hal itu mas, rencana menulis A malah yang muncul ke permukaan B…biasanya ini terjadi kalau ide tentang tulisan A ga muncul2 juga…
mungkin idenya belum mengkerucut mas. hanya perlu pembiasaan sajalah mas Tri..
buat mereka yang belum terbiasa menulis , menulis artikel yang enak dibaca untuk blog bukanlah hal mudah, saya sendiri saat ini masih mengalami hal tersebut , kadang tulisan saya kalo saya baca kok jelek dan ga nancep kaya paku
, hehe, tulisan dari mas coba saya terapkan ya ,
salam kenal
silahkan di coba yah
salam kenal juga antik
Menguasai sebuah sudut pandang terhadap ide tulisan yang akan dikembangkan, memang bisa menentukan “kualitas” suatu artikel. Bila ukurannya sebagai opini kreatif, kita bisa berkreasi secara bebas tanpa batas. Sedangkan untuk kualitas tulisan yang sifatnya edukasi dan ilmiah, sangat penting juga memperhatikan gaya bahasa atau tata bahasa menurut ‘ejaan” Bahasa Indonesia yang baik dan benar (EYD).
untuk penulisan ilmiah. membutuhkan perhatian khusus darii standarisasi penulisan ilmiah. sebab jika tidak, maka akurasinya akan dipertanyakan.
trims tambahannya mas Tusuda
sudut pandang memang sangat diperlukan sekali Mas .
kalo tidak ada itu, bisa jadi tulisan akan lari kemana mana .
Thanks
Imamz
tul itu mas imam
Menulis yang benar butuh waktu dan proses.Jadi seiring berjalannnya waktu bisanya akan semakin matang dan berkembang dalam menulisnya.
OK deh, saya akan menulis dengan baik dan benar Pak Guru supaya dapat nilai 100
tambahan dari saya, soalnya saya mencari-cari tata cara menulis yang baik dan benar tapi ga ketemu.
banyak anak muda jaman sekarang tidak tau cara menulis dengan baik dan benar, kalau diperhatikan dari twitter atau update status facebook banyak yang menulis dengan disingkat-singkat, contohnya: “antr sy bli bju mrh ya, cari yg mrh ah, tp kmu jgn mrh aj dnk” dan contoh ke 2 banyak orang juga tidak tau dimana seharusnya setelah tanda koma, titik, tanda tanya, tanda seru dan lain-lain itu seharusnya diberi spasi, perhatikan contoh berikut:
1. “Express lho…kangeennmu…hiiiihh…RT @blabla: ahahaa..dasar kereta api!!RT ”
2. “Podolsky !!!!RT @blabla: Ka urg nya haha,,RT @blabla: Kampriiiiiiingggg deh loe !!!”
kalau saya kaji dari blog, forum maupun komentar dari situs luar negri, saya tidak pernah menemukan tata cara menulis seperti yang saya kemukakan di atas.
trims.
tambahan yang bagus, trims
saya sendiri agag kurang memperhatinkan soal itu. yg saya fokuskan disini adalah bagamana kita mengungkapkan sesuatu lewat tulisan. “apa yang ingin di katakan”. dan menuangkannya dengan jelas, fokus dan terarah. kalau masalah tanda baca dan penyingkatan, memang perlu juga diperhatikan, apalagi jika menulis hal-hal yang sifatnya ilmiah..
asw,,,,sy jga ingin mnjadi seorng pnulis,,tp pertama yg ingin sy tulis adlah prjlanan hidup sy slama ini,,tpi ini petama kalix sy mnulis,kira2 bgaimna yah supaya sy bsa mnjadi seorng penulis yg baik?,,mhon pndapatx,,terima kasih,,
awalaikum salam…
itu juga sudah bagus kok. tinggal rajin2 aja menulis..:)
tips yang berguna mas, sebagai penyedia jasa content, tips ini sangat membantu kami dalam memperbaiki kualitas jasa penulis content kami.
terima kasih dan terus berkarya mas…