Semalam, disaat semua penghuni rumah sudah terlelap. Terutama krucil-krucilku yang paling gemar membuat saya riwa-riwi oleh tingkah mereka yang hanya bisa diam, disaat matanya sudah lelah, badannya sudah lemas dan mulai merindukan kasur. Disaat itulah saya baru bisa menikmati kesendirian.
Ditemani segelas teh panas, dan biskuit enak. Rasanya malam itu sangat sunyi, tenang dan bermakna.
Ide ini pun lahir dari biskuit kecil itu. Yang membuat saya tertarik karena ada tulisan di bungkusnya, ”Tipis dan Renyah”. Dan memang benar, biskuitnya sangat tipis dan setelah dimakan, rasanya sangat renyah, manis dan ga pengen berhenti.Sekali lep, biskuit kecil itu langsung bisa terkunyah dengan cepat.
Saya berfikir…
Dalam menulis pun kita bisa menerapkan metode dengan slogan seperti biskuit itu. Tidak perlu terlalu panjang. Cukup tipis-tipis saja. Tapi bisa menghasilkan efek yang renyah dan tidak membosankan. Membuat pembaca merasa ketagihan dan ingin terus menikmati tulisan kita. Layaknya menikmati biskuit yang tipis, yang sekali lep, bisa dilahap.
Semalam, saya juga mengunjungi sebuah blog. dan ternyata tulisannya itu sesuai dengan slogan biskuit yang saya temui itu. Rata-rata tulisannya tipis-tipis tapi sangat renyah untuk saya nikmati. Dan pesan-pesannya sangatlah sederhana tapi sangat berbobot menurut saya. Tanpa terasa saya menghabiskan sekitar 20 tulisan disitu.
Bagi sebagian penulis. Menulis pendek-pendek, sekaligus pesan yang ingin disampaikan bisa terangkum dalam tulisan yang ringkas itu, sangatlah susah. Termasuk saya tentunya.
Sebab ada ketidak puasan, jika apa yang ingin kita sampaikan belum terakomodir dengan baik. Informasinya belum seluruhnya terselip diantara paragraf-paragraf yang kita buat. Rasanya ada yang mengganjal dihati.
Akibatnya terkadang kita bisa bicara panjang lebar, seluruh pesan sudah kita selipkan. Tapi kalau tidak dibaca, tentu saja sangat menyedihkan.
Namun, ini bukanlah sebuah patokan. Melainkan alternatif saja, terhadap sebuah gaya menulis. Mengingat budaya membaca belum mayoritas terelasisasi di negara tercinta kita ini. Jadi untuk merangsangnya, tentu saja kita perlu menyajikan alternatif gaya menulis yang ringkas, tipis dan renyah yang tak menimbulkan rasa bosan untuk dinikmati.
Ok segitu dulu deh. Kalau kepanjangan nanti tidak sesuai dengan judul tulisan ini dong.. ?
Share

{ 67 comments… read them below or add one }
haaapppp…. nah, dapat nih pertamaxnya….
akhirnya….:D
wedewhhhh !
boleh juga nih coba yang tipis dan renyah…
Salam Kreatif,
Octa Dwinanda
boleh dicoba mas. supaya lebih berfariasi
kriukkk abis gan? :ngacir2
tipis dan renyah, seperti keripik kentang …
tulisan bagus tidak harus selalu panjang, terkadang justeru karena ringkas, sebuah tulisan jadi mudah dicerna dan mudah diserap
salam
betul mas.. kekuatannya justru karena kesederhanannya..
kadang perlu juga blog FM menyediakan biskuit yang tipis dan renyah ya.. :hammer
ayo mas, tips keuangan dan berinvestasinya dibuat jadi tipis dan renyah
langsung abis 20 tulisan tuh mas?
langsung abis juga gak biskuitnya hehehhe
artikelnya habis mas, biskuitnya habis separuh kemasan.. kalau di hitung2 sih lumayan juga biskuitnya.. he he he
hehhehe ini bukti ide bisa dateng dari mana aja
kalo istilah keren dan kasarnya bagi orang luaran sana adalah :
K.I.S.S !
( Keep It Simple, Stupid ! )
hahahaha.
sekarang saya lagi belajar untuk menulis dengan format tipis dan renyah, atau kata lainnya K.I.S.S ^_^
kayaknya tips ini sangat cocok untuk mas Khalid…
ayo mas.. kalau sudah jadi artikel KISS-nya kasih tau saya yah. nanti saya hadiahkan link gurih..
hadiahin bakwan goreng gurih aja ya mas !
susah kirimnya boz.. kalaupun dikirim, keburu busuk di jalan.. wakakaka
gurakrak !!! bener juga ya !
mas,lagi online nich kayaknya…
minta ym mas Fadly donk…
alamat ym: fadly_muin
terima kasih pencerahannya mas. Dan itulah salah 1 alasan kenapa saya menghadirkan AM.net. Maunya sih tulisan pendek2 aja dan ga terlalu berat seperti di AM.com hehehe
sama-sama mas
am.net saya suka. bahkan saya lebih suka am.net dibandingkan am.com di am.net karena disitu terasa sekali arief maulana lebih fresh, bersahabat dan tanpa beban dalam menuangkan ide
sukses terus bro…
APRIL MOP! :NGAKAK
“Ditemani segelas teh panas, dan biskuit enak. Rasanya malam itu sangat sunyi, tenang dan bermakna.”
kirain ditemani oleh teteh panas dan bibir enak..mas?? wakakak
wakakaka….
gini nih kalau bobo berjauhan. bawaannya nyerempet melulu :p
tetehnya sudah kepanasan mas, makanya cepat-cepat masuk kamar ber AC
sdh deh ah, jadi bikin pengen yg lum punya gandengan. (pengen mode on)
hahahahaha ! sama kita kang Andrik…. ( mode on ) juga
dari biskuit pun bisa muncul ide tulisan, patut ditiru abang yang satu ini. Biskuitnya jangan dihabisin mas, besok pagi buat sarapan.
hi hi hi…. ada ada saja yah mas?
tapi itulah salah satu seni meraup ide menurutku mas
waah ada yang mau bikin artikel kriuk-kriuk nih
he he he… mau ikutan rief?
Kayaknya boleh di coba juga ips yang ini mas…
soalnya saya selalu buntu dalam membuat tulisan…hinnga akhirnya malah menunda-nunda untuk menulis jadi mlempem dan nggak kriuk-kriuk
boleh…boleh mas
silahkan dicicipi
ngetik artikel panjang suka bikin pegal tangan dan pikiran
kalau semestinya begitu sih gapapa mas. itung2 olahraga jari dan fikiran
tantangan besar dalam menulis ‘tipis dan renyah’ adalah bagaimana cara kita membawa pikiran orang untuk bisa memahami pokok pikiran kita yang kita tuangkan dalam tulisan, soalnya saya seringkali ragu kalau mau menyingkat artikel,, takutnya orang nggak mudeng dengan tulisan saya,, kalo kepanjangan juga ragu2, ntar orang makin nggak betah,,, serba salah deh
benar itu mas evan.. menulis tipis, pendek tapi berdampak hebat membutuhkan kemampuan natural yang terlatih. sebaliknya menulis luas dan panjang pun dibutuhkan pemahaman yang memadai..
solusinya sih menurut saya, proporsional saja mas. tentu kita sebagai penulis lebih paham, mana waktu yang cocok untuk menulis panjang atau pendek. yang terpenting, hasrat intelektual dan maksud kita bisa terungkap dengan baik..
kalo sekedar cari info, saya suka yg begitu mas….
tapi kalau ingin juga memuaskan rasa, biasanya yg semacam itu terlalu “kering”
tapi menulis singkat dan bersi memang sangat tidak mudah, apalagi bila bisa sekaligus menyentuh rasa pembacanya
kayaknya kita sepaham nih pak untuk urusan “kering” itu. makanya, tulisanku lebih cenderung panjang (walau ga terlalu panjang sih
) dan terkesan kompleks.
maksudnya dan memang yang terjadi karena ada dorongan dari dalam untuk mengungkap lebih jauh, lebih dalam, lebih lebar dan membiarkan pembaca memberi pemahaman sendiri..
pendapat pak kelana soal “kering” ini benar-benar perlu direnungkan
Tidak mudah pak buat kripik yang tipis dan renyah…. apalagi pisaunya kurang tajam ..
sebenarnya lia juga pengen banget bisa menulis seperti itu..
singkat, padat, dan bermakna… harus sering latihan ya Pak..
jadi tertarik mengunjungi blog tag nya..
trims pak infonya…. InsyaAllah lia akan terus berlatih
mbak delia kaykanya sudah terbentuk gitu yah nulisnya..?
kalau saya lihat sih sudah tipis kok.. cuman memang terkesan curhat..
kita sama-sama belajar kok mbak.. yang penting tetap semangat menulis..:)
Saya bisa juga bikin tulisan tipis Mas, tapi nggak renyah, malah sepet kaleee…. hehehe…
Makasih Mas petuahnya. Saya coba deh bikin yang “Tipis dan renyah” :rose:
sama-sama berlatih aja mas..
kalau pengamatan saya sih, kerenyahan itu terletak dari kecerdasan kita menggunakan kosa kata yang padat makna dan tidak adanya pengulangan di setiap paragraf..
yuk kita sama-sama beralatih terus mas:)
biskuitnya merek apa mas?.. hehe..
wakakaka….. rahasia dong :p
UnakUnik Food…
:cendol
:cendol dapat ilmu baru dengan kasi komeng yang tipis dan renyah
:peluk salam hangat serta jabat erat selalu dari tabanan
salam juga mas sugeng.. terima kasih sudah mampir
Kalau saya pribadi kok cenderung suka tulisan mas Fadly yang kemarin-kemarin ya. Lebih berkarakter dan khas.
yah berfariasilah mas. merubah-rubah gaya menulis saya rasa sebuah cara penulis untuk berwisata
trims loh penilaiannya..
Tulisan Mas Fadly juga sudah renyah kok, walaupun materi yang dibahas kadang berat tapi dengan cara pengungkapan yang khas mas Fadly jadi renyah kok,enak dibaca dan perlu…kayakTempo mas.
Salam sukses.
saya sudah lama ga dengar penilaian tulisan saya yang berat
trims mas Sugi komentarnya
yang ringan bunyi nya kriuukk.. kalo berat jadi pletaakk jebreett!
Yang tipis dan renyah memang selalu enak mas… :cendol
he he he… tergantung siapa yang makan mas :cendol
ikut menyimak supaya bisa menjadi seperti penulis blog ini sukses selalu mas
silahkan mas Joe….
Serenyah Biskuit ya mas
hmm…. renyah banget deh
sampai 20 artikel sekali kunjung?
ikutan ngintip ah
langsung saja mas..
Saya masih terus belajar menulis secara ringkas tapi berisi Mas. Pada dasarnya tulisan yang padat berisi memang lebih baik daripada panjang tapi bertele-tele dan terlalu banyak pengulangan yang kurang perlu.
Tapi tulisan detail dan mendalam sepertinya tidak bisa kita ringkas menjadi (misalnya) cuma 250 kata
Rata-rata tulisan begitu biasanya butuh lebih dari 500 kata. Minimal 400 kata kalo menurut hemat saya mas.
ini solusi untuk tulisan-tulisan yang sederhana. yang hanya ingin menyampaikan beberapa poin terpenting saja, menurut saya mas. tapi untuk materi yang membutuhkan pendalaman, argumentatif, rasanya gaya seperti ini tidak akan mumpuni.. trims pemikirannya mas is
Itu saya kira sebenarnya tantangan terberat seorang blogger. Karena rata2 pembaca online adalah orang yang bertipe tak punya banyak waktu, mencerna sebuah post dan langsung mengerti intisarinya adalah mutlak diperlukan. Idealisme blogger dan humanisme pengunjung, bisa jadi dua kubu yang bisa dipertemukan titik idealnya, ya salah satunya lewat tulisan yang renyah itu.
Saya sendiri suka menulis cara itu, meski sering kebablasan :malu
berarti tonjok point langsung ya mas.
setuju Mas. kalau tulisannya panjang ntar yang baca suka jadi males juga bacanya, apalagi kalau tulisannya memang bertele-tele dan ada pengulangan.
cuma kadang-kadang ada pemaparan yang tidak bisa disingkat, kalo kaya begitu, apa dibikin tulisan Sesi 1, Sesi 2 dan sesi kesekian aja kali ya? (versi bersambung, gitu) :bingung
bisa saja dibuat bersambung mas, tapi kalau memang materi tulisan membutuhkan argumentasi untuk pendalaman, saya rasa artikel model tipis renyah ini tidak pas untuk digunakan.
jadi intinya, gaya tipis renyah ini hanya alternatif kok
Tipis dan Renyah, saya tahunya kripik singkong saja mas.
Kalau artikel, mungkin saya tidak akan pernah sampai pada taraf ini, karena membuat artikel jenis ini butuh pengetahuan dan referansi yang mumpuni.
hmm.. dan sayapun merasa kagog menggunakan gaya seperti ini mas. hanya terkadang, untuk menghilangkan kejenuhan menulis. saya rasa gaya tipis ini lumayan untuk mempertahankan motivasi menulis.
memang, tidak akan cocok untuk materi penulisan yang bermakna dalam, argumentatif dan pembentukan opini..
{ 2 trackbacks }