Sebelumnya, saya ingin anda menyimak ilustrasi fiksi yang singkat karangan saya berikut ini,
Jika diibaratkan sebuah kerajaan. Didalam diri kita ini terdapat sebuah kerajaan yang aman, damai, sentosa. Namanya sangat tersohor sampai kepenjuru dunia. Kondisi ini memancing penguasa wilayah lain ingin merebut dan menguasai kerajaan miliki kita tersebut.
Segala cara akan di tempuh, dengan cara perang terbuka ataupun serangan yang di bangun dari dalam. Serangan dari luar dengan gencatan pengaruh-pegaruh miring dan menyimpang. Sedangakan serangan dari dalam dengan cara menyusup kedalam jantung pertahanan untuk memporak-porandakan akal sehat dan nurani pertahanan kita.
Pihak luar mencoba membangun hubungan dengan barisan sakit hati atau pihak –pihak yang memiliki peluang untuk di ajak kerja sama demi satu tujuan, “melemahkan benteng pertahanan diri”.
Segala cara di tempuh BAGAIMANAPUN caranya demi mendapatkan dan merebut kekuasaan yang ada didalam diri kita. begitu berkilaunya kerjaan milik kita, sehingga pihak luar tidak akan berhenti sampai kapanpun. Sampai kekuasaan milik kita benar-benar hancur tak berdaya.
Dalam proses kehidupan nyata, sadar atau tidak, sedikit banyak kita bisa menyadarkan diri dengan ilustrasi cerita di atas. Sedikit banyak kondisinya bisa saja menjadi sama. Bahwa sebagai individu, memiliki segudang cobaan dan tantangan untuk mempertahankan diri supaya tetap berada di jalur yang aman. Aman dari prilaku yang menjurus kepada perusakan diri kita sebagai makhluk yang sempurna, ciptaan Ilahi. Agar tetap menjaga fitrah kita itu.
Kita memang sudah melakukan usaha untuk menolak, menghindar dan berusaha untuk tetap fokus kepada “prilaku yang ideal”. Namun sebarapa kuat kita mempertahankan semua itu, sangat di tentukan dengan kualitas pertahanan yang kita miliki. Semakin bagus, maka semakin kecil kemungkinan terjadi perusakan. Sebaliknya semakin lemah, maka semakin kuat arus pengaruh yang akan kita hadapi.
Sebagai manusia, kita masih memiliki fitrah untuk selalu menjaga diri dari pengaruh jahat yang datang dari luar. Menjaga agar fitrah itu tetap suci dan bersih, bukanlah pekerjaan mudah. Di butuhkan “mekanisme pertahanan diri” yang up to date. Mekanisme pertahanan yang kualitasnya terus meningkat seiring dengan perkembangan zaman. Artinya kita seharusnya bisa menciptakan mekanisme pertahanan itu yang siap mengawal diri kita sampai kapanpun, sampai kita sukses dan mempertahankannya.
Dibutuhkan semacam alat, yang bisa mendeteksi, pengaruh-pengaruh atau penyusup yang mencoba menggerogoti akal fikiran kita dengan cara melemahkan daya fakir dan memanjakan nafsu agar kita bisa terperosok jauh ke lembah yang curam, dan sulit untuk mendaki kembali. Kita seharusnya sudah mempersiapkan itu semua. Atau paling tidak kita memiliki kesadaran diri sejak dini. Agar siap dengan segala kemungkinan yang akan menghadang.
Yang perlu kita lakukan sekarang, merangsang kesadaran diri, bahwa kemungkian terjadi kondisi seperti itu pasti ada. Dan untuk mengantisipasinya, kita perlu kesadaran dini, sebagai modal dan dorongan bagi kita untuk menemukan alat yang pas untuk mendeteksi sekaligus menghancurkan pengaruh jahat tersebut.
Sebenarnya saya ingin meneruskan sampai kepada “menemukan alat deteksinya” tapi saya potong sampai disini dulu yah. saya harap anda bisa lebih menyerap maksud yang ingin saya sampaikan di atas. Supaya artikel berikutnya bisa lebih nyambung. Ok?.
Salam
Share

{ 27 comments… read them below or add one }
Amin, akhirnya jadi yg pertama
selamat mas, pertamax disini lagi mahal.
Waduh, kena cash nih
Betul tuh mas fadly, kesadaran adalah langkah awal pembentengan diri.Tinggal saya tunggu ms, alat detektornya ya ms.Tambah seru nih artikelnya ms Fadly.
besok di terbitin deh…
OK mas
lebih baik mencari teman daripada mencari musuh..
cari musuh tinggal pasang taring dan golok. bawa kemana-mana… he he he
yang lebih bahaya… musuh dalam selimut mas….
tergantung selimutnya mas. dimana dan kapan kita selimutan…
berarti pada intinya kita harus bersikap selektif ya?? karena kalau saya pikir semua hal yang “menyerang” kita itu adalah akibat tindakan kita juga yang memancing mereka,,betul??
yah.. saya sepakat. untuk itulah kita perlu melakukan penyaringan dan perbaikan untuk melahirkan suatu pemikiran yang lebih kokoh.
Hukum tabur tuai berlaku…
Kamu tabur yang mantap, tuai yang mantap juga, betul tidak?
Betul….
bisa juga begitu… negeriku indonesia
dibutuhkan smart intelejen untuk bisa menyaring apa2 yang menghampiri kita
betul.. asal jangan polisi intelejen
saya menunggu alat deteksinya pak
makasih ya pak
ok pak…
wah jadi tidak sabar menanti artikel selanjutnya…
hemmm alat pendeteksinya…
tunggu aja mas Alfaro.. bentar lagi nyampe kok.:)
itulah kuasa Allah. Sucikan hati… biar radar yang mendeteksi “musuh” bisa lebih peka dan mekanisme pertahanan diri bisa lebih mantap!
kalau hati sudah di tumbuhkan kepada “kuasa Allah” maka segala sesuatunya akan lebih mudah dan lebih nyaman. karena ada ikhlas disitu. thanks mas arief, pendapatnya. sudah lama aku menantimu. he he he
iya neeh. saya baru selesai ujian tugas rancang 2. Makanya bisa bernafas lega and blogwalking.
1 bulan sudah artikel di AM.com schedulan semua… hahaha… dan saya jarang buka laptop u/ online… tapi orang taunya update terus…
skrg udah mulai bisa nafas dong?
Dalam ilmu Psychotronica, semua manusia memiliki kekuatan metafisik yang di anugerahkan Tuhan untuk mendeteksi keadaan diri kita sendiri.
Caranya ya, positif thinking dan ikhlas.
oh gitu yah… mantaplah kalo gitu
Pertahanan diri sangat baik untuk menghindari serangan lebih lanjut.