Kembali Ke Dasar

by Fadly Muin on January 16, 2010

Makna kembali ke dasar, mengingatkan saya di masa-masa memasuki dunia sekolah sampai ke jenjang perguruan tinggi. Masuk tk saya harus memulianya dari tk A. masuk SD saya harus memulainya dari kelas 1. Masuk SMP saya harus memulainya dari kelas 1 pula, SMA juga begitu. Hingga perguruan tinggi, saya pun harus memulai dari semester 1.

Tak ada jenjang pendidikan itu yang saya langkahi langsung ke kelas 2 atau 3 atau ke jenjang yang lebih tinggi. Semuanya harus saya mulai dari dasar.

Sungguh akan terlihat aneh dan kikuk, jika kita memulai semua jenjang pendidikan kita pada kelas yang lebih tinggi. Bayangkan jika sorang anak usia 6 tahun langsung masuk ke sd kelas 4 atau 5. atau anak usia 10 tahun langsung di masukkan ke sma kelas 2 dan seterusnya. Akan terjadi kekacuan dalam proses pendidikan kita. mungkin para orang tua akan berlomba-lomba untuk measukkan anaknya ke sekolah yang langsung tinggi. Supaya tidak repot-repot lagi membayar uang sekolah yang semakin tinggi.

Mari kita proses cara berfikir ini dalam konteks kehidupan untuk menjadi orang sukses. Tapi sebelumnya mari kita satukan persepsi tentang arti kesuksesan.

  • Menjadi sukses artinya bisa dalam konteks spiritual bisa juga dalam konteks matrealis. Namun yang lebih bijaksana, kedua-duanya sedapat mungkin seimbang. Sebab jika tidak, maka kesuksesan itu akan bermakna miring. Artinya sukses itu menjadi cepat kaya tanpa melakukan apa-apa. Sukses bisa saja karena mendapat warisan dan hdup berfoya-foya. Sukses juga khan? Tapi sayangnya bukan itu makna sukses yang kita maksud.
  • Sukses dengan kandungan spiritual didalamnya, akan mengantarkan kita kepada pemahaman dan pengendalian diri menuju pencapaian yang ideal. Dapat harta dapat juga makna nilai-nilai didalamnya. Sehingga kita bisa mencapai sinergi antara “proses pencapaian” dan “hasil dari prose situ”.

Jadi, jika kita ingin mencapai sukses. Maka perlu kiranya kita menyadari, pentingnya melakukan hal-hal yang bersifat mendasar. Kita perlu tahu dulu apa dan bagaimananya, sesuatu yang ingin kita lakukan tersebut. Agar kedepan kita tidak akan menemukan kenyataan yang akan mendorong kita mundur ke belakang. Atau mungkin lebih pahitnya lagi bisa mematikan kita. menghentikan langkah kita secara Total.

Coba kita perhatikan sebuah gedung. Mungkin dari struktur bangunan, interior dan eksterior. Sebuah gedung akan terlihat megah, kokoh dan menarik. Tapi apakah kita pernah berfikir, bahwa kita tidak akan mempunyai persepsi seperti itu, jika bangunan itu di bangun tanpa pondasi yang kuat. Tanpa melakukan perhitungan yang mendasar atas kualitas pondasi. Dasar!

Coba bayangkan bangunan yang di bangun dengan pondasi yang seadanya, dan karena buru-buru ingin cepat selesai, maka kontraktornya merancang bangunan untuk segera di bangunkan lantai dua, tiga dan seterusnya. Apa jadinya gedung itu? Tidak perlu di bayangkan. Karena jawabannya sudah pasti, “hancur!”.

Pencapaian kesuksesan juga begitu. Ada hal-hal yang perlu kita landasi dengan pengetahuan dan pemahaman yang mendasar. Kegagalan mutlak kita lalui, jika kita ingin sukses. Untuk itulah kita perlu kembali ke dasar. Kita perlu mengalami seleksi, sebelum melangkah lebih jauh. Ini bukan mengajak anda untuk mundur, tidak! Tapi saya ingin memberikan sebuah gambaran bahwa penyakit ingin cepat kaya, cepat pintar, cepat besar tanpa melalui proses mendasar didalamnya. Sama saja membiarkan kita terlihat bodoh.

Sebuah tumbuhan, tidak akan tumbuh subur dan bagus, jika akarnya tidak sehat. Pohon akan melukai batang-batang, ranting-ranting, daun-daun bahkan buahnya pun ikut rusak. Jika akarnya tidak sehat atau tidak memadai untuk menopang struktur didalam tumbuhan itu.

Memang, dalam konteks sukses, untuk kembali ke dasar, bagi kasus tertentu, akan terasa amat berat. Pertimbangan psikologis akan sangat mempengaruhi peringai kita untuk melakukan tindakan mendasar.

Seorang yang dulunya sukses, tapi karena satu dan lain hal ia terpuruk. Semua hancur berkeping. Tentu akan sulit dan tidak mudah untuk menerima semua ini dengan perasaan seperti tidak terjadi apa-apa. Pasti goncangan didalam diri, terjadi. Mempengaruhi semuanya.

Tapi mau tidak mau, dalam kondisi seperti itu, kita di tuntut untuk kembali ke dasar, merumuskan kembali hal-hal yang terlalikan selama ini. Kita di tuntut sekaligus di ajak kembali untuk memperkuat pertahanan dari dasar. Bukan memperkuatnya dari atas. Melainkan dari bawah.

Silahkan di renungkan, semoga bermanfaat!

{ 24 comments… read them below or add one }

blogdotblog January 16, 2010 at 06:53

nice info, spirit building for succes
makaci pak

Reply

fadlymuin January 16, 2010 at 07:29

sama-sama pak..

Reply

shalimow January 16, 2010 at 06:55

mantabb pak fadly
baca sampai khatam
rendah hati akan selalu membuat kita “tiarap” dalam segala aspek termasuk bisnis

Reply

fadlymuin January 16, 2010 at 07:30

yes..! saya suka kata tiarap itu mas Yunan..

Reply

Rafi January 16, 2010 at 07:04

Nice Posting Om, Bagaikan Padi…Makin Berisi Makin tertunduk Rendah. Sangat Inspiratif.

Keep Your Smile’
Rafi

Reply

fadlymuin January 16, 2010 at 07:30

yah.. ilmu padi masih beralku di era yang lepas kendali ini..

Reply

mashengky.com January 16, 2010 at 07:05

gagal pertamax nih

Reply

fadlymuin January 16, 2010 at 07:31

boten noponopo mas hengky

Reply

IwanKus January 17, 2010 at 08:26

bangunya sih kesiangan mas…
:hammer :hammer

Reply

Arief Rizky Ramadhan January 16, 2010 at 07:19

gagal pertamaxxx aduuh aduuh, tapi saya baca dulu ahhh

Reply

fadlymuin January 16, 2010 at 07:32

awas kejedod.. mending baca dulu aja biar terhibur karena gagal pertamax

Reply

Arief Rizky Ramadhan January 16, 2010 at 07:35

hehehehe…. sip sip mas… kapan nih ada kaskus emoticons ? saya pengen liat blog mas fadly rame banget wakwkawka

Reply

fadlymuin January 16, 2010 at 11:13

sabar yah….

Reply

pasutrisatu January 16, 2010 at 07:59

untuk mencapai angka 9 dimulai dari 0…yap semua harus dari dasar dulu baru jadi ahli..

Reply

fadlymuin January 16, 2010 at 11:14

kelihatannya umum dan lumrah. tapi banyak di antara kita berpaling dari itu..

Reply

jurug January 16, 2010 at 11:27

memberi semangat buat saya lagi nie

Reply

online-business-story.com January 16, 2010 at 23:15

yah mas, aku kuliah udah, anak dah mo dua, masa sih harus kembali kedasar lagi… :D

Salam Kreatif,
Octa Dwinanda

Reply

Bakrie January 17, 2010 at 03:30

tapi didalam pendidikan kita ada yang namanya akselerasi. dimana seseorang tidak harus mengikuti jenjang yang ada tapi langsung melompat ke jenjang yang lebih tinggi. tapi memang dalam kenyataannya dasarnya harus kuat dulu. pondasi harus ada dan kokoh. kalau tidak percuma!

Reply

fadlymuin January 17, 2010 at 03:49

saya setuju tentang akselerasi itu. artinya ada nalar dan kemampuan yang sudah melampoi batas dasar itu.

Reply

arkum January 17, 2010 at 06:37

waduh terlambat comment nih…..ketinggalan keretanya ms

Reply

arkum January 17, 2010 at 06:37

waduh terlambat comment nih…..ketinggalan keretanya ms :hammer

Reply

arkum January 17, 2010 at 06:44

Memang terkadang paradigma sukses itu diselipi berbagai aliran pemikiran ms, sprti yg ms fadly katakan, bisa jadi basic spiritual yang digunakan, bisa jadi materialisme yang digunakan, keduanya, atau bahkan basic pemikiran yang lainnya. Yg penting memang mana seharusnya yg benar.Dan semua itu butuh waktu tuk memikirkan dan merenungkannya. Dizaman yg serba pragmatis dan aliran pemikiran yg serba mnyerbu, sudah saatnya bagi kita utk memikirkan kembali “nilai-nilai dasar” yg mulai dianggp usang ms.Sy setuju sm ms fadly.Kalau perlu tulis lg ms lanjutannya.OK ms? :cendol

Reply

IwanKus January 17, 2010 at 08:22

saya suka yang anda bilang “harus mulai dari dasar”…
tak terbayang bila membangun gedung mulai dari atapnya dulu…
:hammer :hammer

Reply

rafi April 16, 2010 at 23:06

Tulisannya bagus, namun perlu koreksi pada tata cara penulisan yang baik dan benar. contoh penggunaan awalan “di” sebagai awalan dan atau sebagai kata depan, sehingga lebih renyah ketika kita membacanya.

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: