Mengkritik dan di kritik. Dua komponen yang menurut saya ada ikatan bathin yang begitu kuat. Keduanya, sama-sama saling merindukan. Subyek kritik membutuhkan obyek sebagai tumpuan kritis, sementara obyek kritik memerlukan reaksi kritis sebagai sarana pengembangan kualifikasi.
Terjadinya kritik disebabkan adanya ketidak sesuaian, penyimpangan ataupun lepasnya batas-batas normatif dalam pandangan obyektif pelaku kritik. Tentu pandangan masing-masing pelaku kritik didasari dari latar belakang ilmu pengetahuan dan pengalamannya secara menyeluruh.
Artinya kritik pun bisa bermakna subyektif bisa pula bermakna obyektif. namun nilai kritik akan sangat bisa di terima, tentunya, jika sudah melalui seleksi mayoritas atas pandangan yang obyektif.
Situasi kondisi dalam hal ini. Sangat mudah kita saksikan. Baik itu di wilayah public, maupun dalam wilayah-wilayah yang lebih kecil. Misalnya lingkungan sekitar. Atau bisa juga dalam sebuah komunitas tertentu. Prilaku kritik mengkritik sangat mudah di jumpai dimana saja. dalam konteks sesuai dengan wilayah masing-masing.
Yang menarik disini adalah hakikat mengkritik dan efek yang di timbulkannya. Disinilah porsi yang akan banyak memainkan peran.
Misalnya :
- Kasus #1
Seorang mahasiswa bernama budi mengkritik cara mengajar dosennya yang tidak kreatif, teks book banget. Cuma bisa menerangkan apa yang ada di buku. Tidak mencoba mengajak mahasisea berdiskusi. Sehingga proses belajar mengajar di kelas terasa membosankan.
- Kasus #2
Budi mengkritik, bahwa cara mengajar dosennya monoton. Cara berpakaiannya juga tidak necis. Sudah ketinggalan zaman. Sehingga mahasiswa merasa terganggu akan hal itu. Akibatnya semangat belajar makin buruk. Mendingan cepat-cepat diganti saja deh.
Pandangan budi pada kasus #1 menurut saya sudah menggunakan pandangan yang obyektif. sebab, cara mengajar seperti itu, sudah tidak layak lagi. Mahasiswa memerlukan improvisasi guna menggali potensi dan membuka cakrawala berfikir yang lebih luas, kritis dan dinamis.
Sedangkan pada kasus #2. sifatnya sangat subyektif. Cenderung menyerang pribadi dan tidak obyektif.
Melakukan kritik punya ilmu juga. jika kritik dilakukan secara sembarangan. Maka yang di hasilkan bukanlah output yang baik. Melainkan bisa membuka potensi konflik.
Jika kritik dilakukan dengan menggunakan cara #1. Maka besar kemungkinan obyek kritik kita akan bisa menerimanya. Walaupun presentasinya tidak selalu memuaskan. Sebab ada juga obyek kritik yang tidak mudah menerima kritikan. Kecuali di sampaikan dengan sangat hati-hati.
Efek Kritik Terhadap Motivasi Diri
Mengkritik sebaiknya di barengi dengan semangat untuk membenahi. Semangat untuk menciptakan kondisi yang lebih baik daripada sebelumnya. bukan sebaliknya. Jadi jikapun terjadi sebaliknya, berarti ada yang konslet dari proses kritik mengkritik itu. Dan disitulah yang musti dibenahi.
Di internet, proses kritik ini masih mudah kita temui. Saya sendiri mendapat kritikan dari beberapa teman pembaca setia blog ini. Dengan berbagai versi dan bahasa kritik masing-masing. Intinya, mereka menemukan cela kosong yang saya tidak ketahui. Dan mereka peduli akan hal itu. Saya bisa memahami dan bahkan berterima kasih untuk itu.
Mengkritik dan di kritik dalam lingkup sesama blogger. Seperti contoh kecil yang saya alami itu. Sebaiknya di pelihara dalam kerangka untuk saling mengisi dan mengontrol. Bukan untuk saling menjatuhkan dan merebut pengaruh pembaca.
Proses seperti itu akan sangat membantu dalam hal peningkatan kualitas diri kita masing-masing. Namun tetap bersikap hati-hati. Cerdas dan santun. Agar proses kritik itu tidak memberi kesan menggurui ataupun mendikte. Sekaligus membanggakan diri sendiri. Sebab, karakter blogger adalah individu yang independent, bebas namun memiliki jati diri. Jadi saling menghargai harus selalu di kedepankan.
Dalam kehidupan sosial secara umum, kritik mengkritik kerap terjadi. saya yakin dengan menjaga prinsip-prinsip saling menghormati, realistis dan menggunakan teknik komunikasi yang cerdas, maka kritik akan menjadi perbuatan yang menyenangkan.
Mudah-mudahan celoteh saya yang ga penting ini bisa memberi inspirasi tentang cara mengkritik dan bagaimana sebaikya menyikapi kritik..

{ 27 comments… read them below or add one }
:pertamax
wkwkwkwkwk yang penting jangan asal kritik :cendol
yoi… kalau ngasal bisa kena damprat rief
keduax
dalam berhubungan intensif seperti kehidupan ngeblog gini memang harus siap dikritik dan mengkritik, biar bisa terus berkembang, yang penting tahu adabnya, tidak asbun
perlu latihan untuk itu mas.. tapi saya sependapat
boleh mngkritik tapi tetep hrs ada etikanya.U kritik,sy lbh senang dkritik yg mmbangun sb bs jd orang dluar kt lbh punya cara pandang yg brbeda dn melengkapi pandangn sy.disinilah ltak efek kritik bg motivasi sy
bedanya tipis. nanti ketahuan dari sisi emosionalnya.
memang kritik yg membangun dan tidak,mmg sangat tipis ms. Termasuk perbedaan antara hasil pengamatan org lain dan hasil pemikiran kita juga sangat tipis.
Tapi betul sih, setiap kritikan pasti menimbulkan emosi, ini wajar karena masukan orang lain itu kan ibarat menembus benteng yg sudah kita bangun bahkan kita yakini kuat, makanya respon perlawanannya adalah emosi. Cuman mnrt sy, emosi ini akan dikembalikan dg apakah kritikan itu betul/salah. nah disinilah letak keobyektifan seseorang akan diuji.Tetep emosi :marah atau tahu diri dan mengucapkan terima kasih :shakehand2
Salam super-
salam hangat dari pulau Bali-
betullllllll
mengritik itu boleh saja asal. tau adabnya…
salam superr juga mas Andry
sepakat atas pendapat anda
ngritik yg pake teropong y ms?
wakakaa… biar jelas yah mas?
peran dari niat sangat penting mas…
niat yang baik akan menuntun kita dalam pemilihan kata dan pemilihan wilayah yang dikritik
superr…. kuncinya pada “niat” yah?
saya pilih kasus kedua…maklum kalau kuliah suka titip absen… :cendol :cendol
oh gitu yah? masih sampai skrg mas?
kalau tipe kritikan kedua(dlm contoh diatas) itu lebih menjurus kepada “menjatuhkan” dan anehnya budaya kritik spt itu skrg lagi tumbuh subur di negeri ini. Sedangkan contoh pertama seeeep!!! itulah definisi kritik sesungguhnya. mantab dan membangun
untuk itulah artikel ini ada mas
maksudnya sih mencoba mengkritisi pelaku kritik yang menjurus padah “pelaku”, bukan “tindakannya”
Artikel ini adalah “jalan tengah” untuk fenomena kritik antar blogger yang marak belakangan ini, Bang. Inspiratif sekali.
Sebagai deskripsi, saya akan sampaikan pengalaman. Saya sangat sering sebelum ini mendapat kritik tentang “konsep pemikiran” saya dalam sebuah artikel oleh beberapa teman sesama blogger atau pun pembaca non blogger di kolom komentar. Saya terbuka terhadap perbedaan konsep berpikir serupa itu. Saya justru sangat senang mendapat kritik yang demikian. Dan, memang itulah yang saya cari. Dari perbedaan pandangan terjadi kesatuan ide.
Misalnya, saya pernah dikritik tentang konsep “menguji sebuah ideologi”. Kritik itu sangat keras sekali, tapi tetap dengan bahasa yang santun. Kritik itu benar2 fokus pada konsep berpikir dan tidak “menyerang” karakter. Kritik itu benar2 mencoba mencari sebuah titik temu sebagaimana layaknya sebuah diskusi. Karena terbatas oleh area kolom komentar, akhirnya kami melanjutkan “perdebatan” kami melalui chat via YM. Saya benar2 menikmati cara kritik dan berdiskusi yang demikian. Hikmahnya, wawasan kami berdua menjadi semakin bertambah dan matang.
Maka, oleh sebab itu, saya setuju dan sangat suka kritik itu apabila memang berkisar pada wilayah perbedaan konsep atau cara berpikir. Pada area itu, kritiklah sekeras-kerasnya. No Problem! Tentu saja dengan tetap menggunakan bahasa yang santun. Tapi, jangan pernah karakter orangnya yang diserang. Ini akhirnya justru akan kontraproduktif. Ditambah lagi dengan kesan menggurui dan merasa paling pandai. Ini tidak sehat. Menurut saya, inilah yang membuat cara berpikir seseorang menjadi status quo.
Akhirnya, saya ucapkan terimakasih dan setuju banget dengan tulisan ini. Tulisan ini juga sekaligus menjadi introspeksi bagi kita semua yang ingin melakukan kritik. Agar kritik itu menjadi kritik yang cerdas dan sehat. Nice!
tidak menyangka, artikel ini mendapat sambutan yang luar biasa dari anda mas Khery. jadi ga enak nih :amazed:
saya bahagia, jika artikel ini bisa menjadi jalan tengah atau solusi atas potensi konflik akibat kritik. dan bagaimana idealnya melakukan kritik.
artikel ini + pendapat anda saya rasa memiliki benang merah. sama-sama mengedepankan substansi bukan tokoh. sama-sama mengupayakan bagaimana cara penyampaian kritik agar mudah di terima. trims yah mas Khery :cendol
Soal mengkritik secara cerdas dan santun saya setuju banget Mas. Esensinya memang harus demi saling mengisi dan mengontrol. Namun ada kalanya niat utama kita memang seperti itu, akan tetapi pada kenyataannya, masih ada anggapan bahwa kita terkesan menyerang atau menjatuhkan.
Mungkin karena kita belum terlalu cerdas dan santun dalam mengungkapkan kritikan tersebut yach? Atau bisa jadi karena belum adanya mindset positif untuk menerima kritikan sebagai bahan evaluasi diri (dari pihak yang dikritik maupun pihak yang sekedar mendengar kritikan).
Tapi untuk memberikan efek shock-theraphy, saya kira ada kalanya kita perlu ‘sedikit galak’ dan lebih tegas. Khawatirnya jika terlalu halus, efeknya bakalan kecil Mas. Dalam kondisi seperti itu, ‘kegalakan’ atau ketegasan kita tentunya dilandasi oleh semangat untuk membangun dan memperbaiki. Tidak selalu berarti menjatuhkan atau menyerang.
Namun saya tetap salut jika kritikan yang santun dan cerdas ternyata membawa perubahan yang baik dan sesuai yang diinginkan oleh si pengkritik.
(oya Mas, komentar Mas Fadly atas wacana sinetron udah saya jawab di postingan kemaren/yang di blogspot saya).
saya sambut mengenai kritikan yang galak aja yah mas. saya anggap masalah kesantunan dan substansi sudah kita kerucutkan dan kita seirama di situ.
bagi saya, sepanjang obyek kritik adalah “substansi, isi, atau masalahnya”. dan “bukan pelaku”. tidak masalah. saya dukung!
mengenai efek itu pasti ada mas iskandar. efek marah, tidak mau terima, sangat manusiawi dan masih dalam taraf normatif, reaksional. disinilah kekuatan mental seorang pelaku kritik di uji.
*ok nanti aku lihat kesana yah mas. kita kupas masalah sinetron itu.tks
justru ini tulisan penting bagi saya mas.
Terkadang memang kita mengkritik bukan pada substansi sebuah tulisan, tapi mengkritik pada gaya bahasa, bentuk font dan entitas lainnya. itu juga tidak masalah, yang perlu diingat adalah jangan lupa untuk memberikan respon balik terhadap subtansinya juga.
terima kasih sudah diingatkan kembali mas.
Salam Kreatif,
Octa Dwinanda
itulah tantangan bagi obyek kritis mas.
memang kita tidak bisa pungkiri, bahwa aksesoris masih memainkan peranan vital dalam mempengaruhi penglihatan yang utuh. apalagi di dunia blogging. hal itu tak terhindarkan. tapi alangkah bahagianya kita, jika mendapat kritisan yang tertuju pada ualitas isinya, bukan bungkusannya.. tul ga mas octa?
Semangat terus mas!
Saya membaca artikel ini kok langsung konek ke kasus demonstrasi ala kerbau tempo hari.
Kalau yang itu, komeng Mas Fadly gimana ya?
Terima Kasih Bung telah berbagi Ilmunya.. mau tanya ni, apa saja sih sebutan bagi orang yang tidak mau/ tidak terima dikritisi?? Terima kasih.
{ 1 trackback }