Sebelumnya kita sudah konsentrasi pada wacana yang “menguak Mekanisme Pertahanan Diri” sebagai bentuk kesadaran dini, untuk menciptakan kualitas pribadi yang lebih siap. Artikel ini adalah jawaban dari artikel sebelumnya.
Mari kita mulai menditeksi sinyal-sinyal jahat itu,
Bagaimana kita mengidentifikasi suatu tindakan, bahwa apa yang kita lakukan sudah menggunakan mekanisme pertahanan diri atau malah sebenarnya kita sedang menjadi abdi bagi pengaruh jahat yang sedang menggurita di alam fikiran dan akal kita.
Ini memang bukan pekerjaan mudah. Kita perlu ketelitian, kejerniaan hati dan fikiran untuk mendeteksi semua itu. Sebab jika tidak, kita bisa saja akan terjermus dan terjadi perubahan karakter yang kita tidak pahami. Semacam sugesti yang kuat, yang membuat kita lupa diri dan mengikuti rasionalisasi yang terbangun dari pengaruh jahat itu.
Memberikan sebuah jawaban tunggal atas masalah pengidentifikasian “pengaruh-pengaruh jahat itu” rasanya saya tidak puas. Sebab indikatornya bisa sangat berfariasi. Saya rasa tudak cocok jika kita menggunakan hukum matematis, bahwa 2 x 2 = 4. tidak bias seperti itu.
Tapi saya ingin mencoba menawarkan beberapa pendekatan untuk meraba indikasi yang ada. Berikut ini beberapa alat yang saya rasa relefan untuk melakukan tugas ini.
Spiritual
Kita bisa menggunakan pendekatan ini. Dengan asumsi, bahwa nilai-nilai spiritual ini syarat akan muatan agama yang mengajarkan dominasi murni kekuasaan Tuhan yang suci. Yang mengajarkan kita, bagaimana mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia. Dan manusia dengan alamnya. Pendekatan ini saya rasa relefan untuk mendeteksi nilai-nilai yang bertentangan dengan tujuan mempertahankan fitrah manusia. Tentu kita perlu waktu untuk menggali dan meningkatkan kualitas spiritualitas kita. supaya kita bisa memiliki insting yang hebat untuk merasakan dan menganalisa segala kemungkinannya.
Etika Sosial
Sebagai mahluk sosial, kita di tuntut untuk beradaptasi dengan dunia secara luas, dan juga realitas kita secara spesifik. aspek-aspek yang berkaitan dengan keberadaan kita. menyangkut pekerjaan, hobi, hubungan percintaan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan lingkungan sosial kita. Tentu banyak norma-norma yang sudah berlaku dan di terima secara obyektif oleh khalayak. Kita hanya perlu penyesuain mendalam terhadap lingkungan sosial kita, searah dengan tujuan-tujuan mulia dari system sosial itu sendiri. yaitu keteraturan dan perdamaian secara menyeluruh.
Untuk saat ini saya baru melihat 2 alternatif ini untuk membantu kita menguak dan mendeteksi pengaruh yang jahat. Yang memiliki peluang untuk mempengaruhi kita dari dalam. Semoga saja kita berhasil meluluhkan semua itu dan menjadi pribadi terbaik yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
Bagaimana menurut anda setelah membaca artikel ini, apakah anda semakin pusing atau semakin terkuak? Jika anda semakin terkuak dan terdorong untuk meningkatkan mekanisme pertahanan diri anda. Saya ucapkan Selamat! Tapi kalau anda semakin pusing, saya sarankan baca lagi dua sampai tiga kali deh. Jika masih pusing juga. Hanya ada satu kalimat yang pantas untuk anda, please deh…!:)
Salam pusing!
Share

{ 38 comments… read them below or add one }
Pertama lagi…
numpang pertamax juga aaaaaaaaaaaaaaa
Curiga nih, pertamax terus…
iya nih, mas Arkum sepertinya sudah pasang alat deteksi blog FM.Com nih, makanya pertamax terus.. ha ha ha
Jurusnya cuman 1 ms, BANGUN PAGI trus GOSOK GIGI langsung SHOLAT SHUBUH.baru dech comment.Eh ternyata 4 ya..hehehehe..
hahhaha… kalo masih pusing juga minum obat pusing mas
@candradot.com, obat pusingnya ya baca tulisan ini ms..hehehehe…kembali lagi
Tuh kan, yang nulis aja pusing. Apalagi yang baca.
yang baca pusing kuadrat mas :p
HIDUP PUSING!!!
makanya seharian ini kepalaku pesing beneran. makanya baru sempat buka blog malam ini… kutukan nih
@fadlymuin, hehehehe….
2 alat deteksi diatas, sy jg setuju ms.Cuman ada tambahan spesifiknya, spiritual itupun harus didasarkan konsep ketuhanan yg benar.Sebab jika tidak benar, apalagi berasal dari yg salah..maka sia-sia jg ms kekuatan spiritualnya.Baru setelah itu, kita bicara tentang etika makro (tuhan-alam-manusia).
itu bakalan luas banget mas, nanti pembacaku bisa kabur… he he he.. nanti kapan2lah kita bahas masalah-masalah sosial lebih khusus dan spesifik mas.
hahahaha…betul-betul nanti jadi forum perbandingan agama dong.
Nambah lagi ms…Etika sosial itupun ms,hrs tetep didasarkan pd konsep nilai etika yg benar.Spengetahuan sy ms, orang2 relatifisme punya konsep etika sosial yang tidak perlu bernilai, dan ini berbeda dg kaum humanisme, islam, utilitarianisme dll…(hehehehe sy lupa tuh ms yg lainnya).Tinggal coblos yg mana baru etikanya digunakan sbg alat pendeteksi.Trims ms atas ruang commentnya yg lebar dan panjang
walaupun hukum relatifitas berlaku, tapi setidaknya kita punya rujukan mayoritas mas. selagi pemahaman kita belum kokoh, saya rasa merujuk kepada nilai-nilai mayoritas adalah pilihan yang paling bijak..
Bisa ms fadly.Selama belum kokoh ya bs sj pijakannya nilai mayoritas itu.Bisa jadi itu yg telah teruji.Namun tetep harus slalu riset,riset dan riset agar penemuan nilai kebenaran tetep abadi.Hehehehe…comment2 sy kok kayak orang filsuf ya.Sy jadi bingung nih..
iya nih, apa terpengaruh sama tulisan saya yah mas?
Ya mungkin…kena virus ilmu ms fadly..hehehehe…
Hanya satu kalimat yang masuk otak saya: Please deh…!
Hahaha…
satu lagi mas, “Capek dehhh….”
motivasi yang bagus dan mantap mas fadly !!
komentar anda juga mantap mas Arief Rizky
terima kasih !!
sama-sama
nambah satu lagi mas, mungkin ilmu pengetahuan. karena dengan ilmu lah seseorang itu mampu menilai yang baik dan buruk. terlepas dari masyarakat yang mungkin menganggap sesuatu yang salah itu benar dan sebaliknya (etika yang condong kepada kebudayaan jaman doloe)
bolehlah, walau sebenarnya sudah tersirat di kedua jurus itu.. tapi untuk memperjelas, pendapat anda patut di acungi jempol.. thanks yah liudin
pusing nih.. TS nya mana sih? wakakakakk..
minum obat aja mas…he he he. TS?
Koment ulang mas, tadi kena deteksi jadi tidak muncul.
Orang yang status sosialnya tinggi tidak jaminan bahwa kehidupan spiritualnya juga tinggi. Tapi sebaliknya, orang yang mempunyai jiwa spiritual umumnya akan mengangkat status sosialnya. Benar gak mas?
saya rasa saya setuju mas, status sosial itu bukan jaminan kok..
aku setuju banget ama 2 diatas untuk dijadikan pijakan dalam kehidupan…..motivasi mas bagus banget hehehe
thanks sudah mampir mas fadhli.. wah nama kita mirip yah?
saya rasa pendekatan spiritual lebih dominan mas, dalam Alqur’an dijelaskan bahwa kita harus habluminallah dan kemudian habluminnanas.
lho koq reply komen saya malah hehehe… to mas? ada yg salah?
Wah, gaya bahasanya agak berat mas. Saya agak kesulitan menagkap pesan di balik postingan di atas. Perlu berkali-kali baca kayaknya
Sementara ini dulu komentar saya. Oya, kalo boleh ngasih masukan, mungkin sebaiknya area posting menggunakan PERATAAN LEFT daripada justify.
Penggunaan align-justify membuat banyak rongga antar kata dalam paragraf. Jarak antar kata juga menjadi tidak sama. Dari sisi estetika, itu kurang bagus. Dari sisi readibility (tingkat keterbacaan) juga kurang mendukung.
Saya pernah membahas secara khusus mengenai jenis perataan ini. Kalau kita amati, banyak blogger profesional yang lebih memilih PERATAAN LEFT. Lihat saja blognya JokoSusilo, Nukman Luthfie, Medhy Aginta, dsb.
Ini dulu komentar saya mas. Maaf kalo tidak nyambung dengan topik
he he he..
{ 1 trackback }