Berikan Karakter Motivasi Untuk Menggugah

by fadlymuin on February 4, 2010

Sebelum masuk ke substansinya. Bagaimana mambangun atau memberi karakter terhadap Motivasi yang memiliki daya gugah yang memaksa. Ada baiknya kita sama-sama sepakati bahwa umumnya ada 2 cara seseorang mendapatkan motivasi. Yaitu dari dalam dan dari luar diri kita masing-masing. Dan proses itu boleh di istilahkan sebagai “proses penyerapan motivasi”.

Namun pada prakteknya, keduanya tidak dapat di pisahkan. Saling bersinggungan dan saling melengkapi. Jika kita melihat bahwa menjadi orang kaya itu enak. Maka proses motivasi terjadi melalui proses komunikasi kedalam diri kita. jika di dalam menerima dengan baik. maka out put yang dihasilkan akan terlihat maksimal. Jika tidak maka hasilnya pun akan sebaliknya. Mungkin bisa kacau bahkan berpotensi menimbulkan stress.

Seorang yang punya cita-cita menjadi orang kaya tentu sudah melalui proses “penyerapan motivasi”. Motivasi yang di peroleh dari dalam dan luar sekaligus. Proses itulah yang akhirnya terkemas dalam sebuah cita-cita luhur manusia. Maka dari itu, seharusnya cita-cita atau isilah yang lebih mendalam biasa di sebut impian, seharusnya rasional dan bisa di cerna dengan logika. Bukan semata-mata daftar target yang ingin di capai. Tapi sudah merupakan alur yang hidup yang bisa mendorong kita melakukan apapun untuk mewujudkannya.

Tapi untuk sampai ke prose situ. Proses yang membuka pintu kesadaran. Membutuhkan ketajaman berfikir dan mencerna secara menyeluruhm utuh dan mendalam. Alam sadar dan tidak sadar perlu di benturkan. Sebab terkadang bahwa apa yang kita lihat dan apa yang kita inginkan bisa menjadi bias atau abstrak. Sebab tidak adanya kejelasan makna secara deskriptif. Akibatnya distorsi yang bising akan menjadi gejolak yang tak terkendali

Bisa jadi ketika kita melihat orang kaya, seketika itu pula kita langsung kagum dan serta merta keinginan itu masuk kedalam hati dan berucap “bagaimana yah caranya agar saya seperti itu?”. Disini ada proses komunikasi antara apa yang kita lihat dan efeknya dengan apa yang kita rasakan. Jika kejadian dan pengalaman itu bisa kita eksekusi menjadi cita-cita baru kita. berarti proses penyerapan motivasi itu berdampak efektif terhadap diri kita.

Tapi jika tidak, itu berarti prosesnya tidak mampu menembus benteng pertahanan diri kita sendiri. Artinya walau kita menginginkan itu, tapi sungguhnya didalam hati kita menolaknya lebih keras dari apa yang kita ucapkan. Untuk masalah penolakan hati ini, dengan sangat lengkap di jelaskan dalam buku Karya Erbe Sentanu-Quantum Ikhlas. Tapi demi kejelasan artikel ini akan saya selesaikan semaksimal mungkin. :D

Disini saya tertarik untuk mengupas, bagaimana agar daya serap motivasi yang masih abu-abu itu. Supaya lebih jelas dan berkarakter. Dengan harapan, proses itu, nantinya akan semakin kuat dan mampu menyentuh ke hati kita yang terdalam. Sekaligus memberikan percikan rasionalitas. Agar logika bisa memberika alasan yang di terima oleh hati.

Menurut hemat saya, cara sederhana namun cukup ampuh yaitu memanipulasi proses masuknya motivasi itu. Kita akan coba mendeteksi keberadaan diri kita.

Berikut ini karakter yang saya tawarkan :

  • Karakter Pembelajar :

Ketika seorang pembelajar melihat orang kaya, ia akan bertanya dan mencerna. Kenapa orang itu bisa menjadi kaya? Apa yang dilakukannya dan apa trik dan kiatnya sehingga ia bisa seperti itu? Pembelajar akan memposisikan diri sebagai subyek yang memiliki keterbatasan pengetahuan.Posisi ini akan mengajak kita untuk mau kembali ke dasar.

Berdiri di sudut pembelajar, akan memancing rasa ingin tahu dan mendorong untuk melakukan tindakan-tindakan pembelajaran. Berawal dari pertanyaan-pertanyaan sederhana. pada akhirnya ia akan sampai kepada rumusan sederhana. dengan berusaha menjawab pertanyaannya sendiri. Besar kemungkinan semua jawabannya akan mengarah kepada solusi yang lebih realisits.

  • Karakter Perenung :

Seorang perenung akan lebih banyak mengoreksi diri sendiri, ketika ia melihat seseorang yang di anggap melebihi kapasitasnya. Karakter ini sangat baik untuk mengikis kepribadian yang selama ini enggan mengakui kekurangan. Ketika ia melihat orang yang lebih kaya dari dia, ia akan merenungi kenapa saya belum juga kaya? Padahal sudah banyak usaha yang saya lakukan. Dimana kekurangan saya? Kenapa bisa begini dan apa yang selanjutnya perlu saya lakukan? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang berusaha mengangkat sisi non-produktif sang perenung.

  • Karakter pengamat :

Karakter ini lebih bijaksana dan berimbang dalam melihat suatu kondisi. Karakter ini sangat cocok untuk melakukan analisis mendalam, kenapa si A bisa jadi kaya dan si B tidak? Maka tidak heran, seorang pengamat, akan bersikap sangat anggun ketika melihat orang yang lebih kaya. Sebab ia tahu, bahwa semua itu pasti ada unsur-unsur yang membentuk kualitas seseorang. Apakah ia orang kaya atau orang miskin.

Nah.. di posisi mana anda ketika melihat orang lain yang lebih sukses dari anda? Tidak perlu di jawab.

Sebab karakter ini tidak untuk dijadikan personifikasi diri anda. Tapi karakter ini saya coba tawarkan untuk kita pergunakan sebagai upaya merekatkan label terhadap proses motivasi yang akan kita peroleh di kemudian hari.

Coba bayangkan, ketika anda melihat orang yang sukses. Pada saat itu rasa simpatik dan kagum jelas terpancar di wajah anda. Kira-kira bagaimana memetik moment itu agar memiliki daya gugah terhadap diri kita sendiri?

Nah, kita bisa gunakan ketiga karakter itu. Apakah sebagai pembelajar, perenung atau pengamat? Terserah anda mau gunakan yang mana. Yang terpenting, adalah dalam rangka usaha menceburkan motivasi itu kedalam hati, tidak terjadi distorsi. Sebab jika itu terjadi. Maka bisa jadi bukan motivasi yang akan anda peroleh, melainkan rasa iri dan cemburu yang menyesatkan. Bahkan bisa jadi bahan gossip yang gurih.

Pokoknya berusahalah melihat dengan sudut pandang yang bisa mempengaruhi hati anda agar mau menerima kenyataan itu dan menjadikannya dorongan atas kemajuan diri sendiri. titik. Selesai.

Share

{ 48 comments… read them below or add one }

1 Rafi February 4, 2010 at 00:50

Pertamax gak Mas ??

Reply

2 Rafi February 4, 2010 at 00:53

Kalo Saya lebih merip yg kedua tuh kayanya. Karakter Perenung. karna menurutku, seseorang yg banyak merenung cenderung mau meng-intropeksi diri sendiri.

Nice Artikel mas Fadly.
Keep Posting With Your Smile’
Rafi :recsel

Reply

3 fadlymuin February 4, 2010 at 08:38

silahkan di sesuaikan saja mas Rafi. gonta ganti juga boleh. yang penting bisa ada manfaatnya

Reply

4 febri February 4, 2010 at 20:46

sama ama mas rafi.. saya hobi ‘memanggang’ otak saya.
karna saya pernah dikasih tau orang “bingung, tanda kita berfikir, kalo kita berfikir, hidup ada di tangan kita”
tentunya dalam konteks motivasi diri. bukan merasa hebat dan lepas dari kekuasanNya.

ajib lah pokoke.
kalo istilah facebooknya, febriansyah dan 32 orang lainnya menyukai ini :D

Reply

5 fadlymuin February 4, 2010 at 21:00

hm. memanggang otak dalam kebingungan? saya jadi terinspirasi nih mas febri

Reply

6 Zuhri February 15, 2010 at 09:52

Perlu belajar kayanya nih buat di aplikasi dalam diri sendiri..

Reply

7 fadlymuin February 15, 2010 at 14:11

silahkan di petik manfaatnya…

Reply

8 Bundapreneur February 4, 2010 at 03:19

Keduax

Reply

9 Bundapreneur February 4, 2010 at 03:31

Daya gugah yang memaksa…spt membangunkan anak di pagi hari. Dg lembut tapi mengandung gaya gugah yang memaksa

Reply

10 fadlymuin February 4, 2010 at 08:37

hmm… indah sekali. ekspresif!

Reply

11 Suarakelana February 4, 2010 at 10:39

pake siraman air….itu juga memiliki daya gugah yg terpaksa, Bun…. :ngakak

Reply

12 fadlymuin February 4, 2010 at 13:33

bisa di keroyok sama kurcacilnya tuh pak

Reply

13 yons February 4, 2010 at 05:22

Salam kenal Mas Fadly Muin.
Wah artikel yang cukup njlimet Mas menurut saya, perlu saya baca ulang untuk memahaminya….btw, trims atas sharingnya…

Reply

14 fadlymuin February 4, 2010 at 08:36

salam kenal juga mas Yons..
lain kali nanti saya coba buat artikel yang tidak njilimet deh :D

Reply

15 im-bisnis(dot)com February 4, 2010 at 05:30

perlu dibaca berulang agar mudheng neh, kayaknya saya masih dalam proses belajar :)

Reply

16 fadlymuin February 4, 2010 at 08:35

sedkit mutar sih artikel ini. pengenal – pendalaman – lalu pembentukan opini. terima kasih mas, sudah berusaha memahami :D

Reply

17 Arief Rizky Ramadhan February 4, 2010 at 05:34

mengubah pola pikir seseorang untuk menjadi kaya dengan motivasi dari dalam diri dan lingkungan sekitar… mantap sekali mas fadly :cendol

Reply

18 fadlymuin February 4, 2010 at 08:34

iya rief, semua itu akan kembali ke diri kita lagi. “mau atau tidak?”

Reply

19 Arief Rizky Ramadhan February 4, 2010 at 17:19

naah itu dia mas…. kalo orang seperti itu timpukin bata deh… udah cape-cape kita berikan motivasi tapi ga ada hasil.. :cd

Reply

20 fadlymuin February 4, 2010 at 18:04

wakakaka.. jangan galak-galak rief.. orang butuh proses untuk sampai ke “penyadaran”. santai saja :D

Reply

21 mashengky.com February 4, 2010 at 06:26

motivasi + afirmasi = sukses… gitu aja kok repot? :hammer

Reply

22 fadlymuin February 4, 2010 at 08:33

kayak gini nih, kalau biasa ngitung duit. wakakakaka…
bener mas, singkatnya gitu. afirmasi inilah kekutannya. jika afirmasinya tepat, maka motivasi yang di terimapun jadi maknyus

Reply

23 arkum February 4, 2010 at 07:47

Memang betul mas, terkadang keinginan hati ini bisa berlawanan dg pengucapan atas kemegahan/wahnya realits yang kita amati. hehehe….tepatnya keabu-abuan (istilah ms Faldy).
Untuk solusinya, nambahin mas, tidak cukup kekuatan rasional tetapi ada pembentukan dan pendalaman kembali ttg pengalaman rasa yg selama ini terbangun. Memang bisa jadi pengalaman2 keliru dan bertentangan logika aslinya

Reply

24 fadlymuin February 4, 2010 at 08:32

yah.. artinya ada proses pembentukan “baru”. gitu yah mas?

Reply

25 arkum February 4, 2010 at 21:02

Anda betul mas :cendol

Reply

26 Agus Siswoyo February 4, 2010 at 08:12

….Yang terpenting, adalah dalam rangka usaha menceburkan motivasi itu kedalam hati, tidak terjadi distorsi….

Maksud kata distorsi disini apa ya?

Reply

27 fadlymuin February 4, 2010 at 08:31

distorsi maksudnya jangan sampai bias dan akhirnya kita tidak bisa memetik poinnya mas..

Reply

28 Agus Siswoyo February 4, 2010 at 21:14

Mempertajam visi dan misi gitu ya…

Reply

29 fadlymuin February 4, 2010 at 22:32

kurang lebih gitu mas

Reply

30 Vidzas Erdien February 4, 2010 at 08:47

Saya malah ga masuk di ketiga-tiganya. kayanya saya masuk dikarakter tersendir; karakter pengkhayal Mas!… :D

Reply

31 fadlymuin February 4, 2010 at 08:56

wah?? seperti apa tuh?? :)

Reply

32 Suarakelana February 4, 2010 at 10:47

yang penting paragraf terakhir khan ? biasanya kalo ada kata “pokoknya”, itulah pesan utamanya yg agak memaksa…. :ngakak

Reply

33 fadlymuin February 4, 2010 at 13:33

super…! anda dapat poinnya pak. mantapsss..

Reply

34 Agus Siswoyo February 4, 2010 at 21:17

Saya setuju kata “titik.selesai”-nya…
:ngakak :ngakak :ngakak

Reply

35 fadlymuin February 4, 2010 at 22:33

karena pengen cepe selasai yah… he he he

Reply

36 T. Wahyudi February 4, 2010 at 14:12

saya ke karakter yang pertama aja mas…. saya lagi ingin belajar belajar dan belajar bagaimana caranya bisa kaya…. (ilmu n finansial) he…..

Reply

37 fadlymuin February 4, 2010 at 18:04

yang bahaya justru yang pembelajar ini. “pertanyaan-pertanyaannya maut”

Reply

38 IwanKus February 6, 2010 at 06:25

kayaknya mas tri sudah betul2 kena pelet dukun blogger mas hihihi…

Reply

39 Arswino Sonata February 4, 2010 at 18:34

Halo Mas Fadly, dalam dan mantap artikelnya.
Sangat berharga dan menambah pengetahuan saya. Trims sharingnya. :)

Salam positif luar biasa, Mas !

Reply

40 fadlymuin February 4, 2010 at 19:37

mudah-mudahan bisa di selami mas, walau dalam banget :D

Reply

41 Zaiful Anwar February 4, 2010 at 18:48

Kira-kira saya masuk katagory karakter mana ya??

Reply

42 fadlymuin February 4, 2010 at 19:41

di amati dulu mas, lalu di renungkan, setelah itu di pelajari (tiga-tiganya dong :D he he he he) di seuaikan sajalah mas..ok?

Reply

43 Ricky February 4, 2010 at 21:45

Memberikan penilaian terhadap kesuksesan orang..hmm…memang agak sulit obyektif bila kita membandingkan dengan diri sendiri ya mas, karena pasti ada lebih dari 1000 allasan yang membuat seakan-akan kita lebih baik. Tapi bila kita mau mencontoh langkah orang sukses untuk diikuti mungkin bisa dijadikan intropeksi diri.

sukses mas fadly :)

Reply

44 fadlymuin February 4, 2010 at 22:33

butuh pernenungan kecil mas. memang tidak mudah jadi orang yang “mengakui” kelebihan orang lain.

Reply

45 A9YnD1LV3R February 5, 2010 at 14:36

Tapi, setelah baca buku dari Erbe Sentanu pasti bisakan sekarang mas. Hehehe

Reply

46 Khery Sudeska February 5, 2010 at 01:30

*Agar logika bisa memberikan alasan yang di terima oleh hati. Korelasi ini yang paling sulit. :D

*Coba bayangkan, ketika anda melihat orang yang sukses. Pada saat itu rasa simpatik dan kagum jelas terpancar di wajah anda. Kira-kira bagaimana memetik moment itu agar memiliki daya gugah terhadap diri kita sendiri? Tampaknya, untuk mewujudkan ini perlu konsistensi yang dalam untuk menjaga keselarasan harapan dan keyakinan = optimisme. :D

Reply

47 fadlymuin February 6, 2010 at 00:48

menjalin hubungan harmonis antara hati dan logika masih jadi pekerjaan menantang mas Khery. terkadang ada suatu kondisi yang logis tapi hati menolaknya. begitupun sebaliknya. disinilah peran Akal di tantang untuk memberi keputusan yang bijaksana. :D

Reply

48 akhmad yusuf May 16, 2010 at 12:25

belajar terus pantang mundur. mohon bimbingan semuanya. saya baru dlm dunia blogging

Reply

Leave a Comment

{ 1 trackback }

Previous post:

Next post: