Bahagia adalah Perkara Penerimaan

by fadlymuin on December 30, 2009

bahagiaSaya menduga, kata bahagia masih menjadi kata yang tidak lazim di gunakan sebagai wacana harian. Bahagia seolah olah sesuatu yang sulit di jangkau. Seakan ada syarat tertentu yang harus di penuhi untuk mencapai titik perasaan bahagia itu.

Ada berbagai versi yang kita yakini sebagai perwakilan dari suatu perasaan yang namanya bahagia. Ada yang mengatakan bahagia bisa di rasakan ketika kita telah mencapai suatu keinginan tertentu. Bahagia bisa dirasakan ketika kita sudah menjadi orang sukses. Ketika kita sudah mencapai posisi jabatan puncak. Saya tidak tahu, versi mana yang paling berkuasa sebagai perwakilan untuk menetapkan apakah kita pantas untuk merasa bahagia atau tidak.

Sebab, bicara bahagia bicara soal perasaan. Bicara perasaan mau tidak mau kita harus menyentuh dasar-dasar logika dan ego kita. semua ini akan berkecamuk di dalam bathin kita. seakan semua itu sedang melakukan kompetisi untuk merebut sebuah opini tunggal dan nantinya akan kita yakini sebagai sugesti terhadap diri kita. apakah kita boleh dan tidak boleh untuk bahagia. Dan apa alasannya.

Mungkin kita baru bisa  merasa bahagia, ketika mampu membeli mobil, motor, rumah dan harta benda lainnya. Merasa bahagia ketika sudah mampu membeli sebuah laptop canggih, smart phone dan sebagainya. Artinya bahagia itu di tentukan oleh hal-hal yang bersifat kebendaan, demi kepuasaan yang bersifat lahiriah.

Bayangkan, jika ukuran kebahagiaan adalah yang bersifat kebendaan demi kesenangan lahiriah. Apakah kebahagiaan itu bisa bersifat kekal atau setidaknya bisa langgeng sampai akhir hayat kita? Tidak!

Jika kita masih menetapkan standar bahagia kita dengan pemenuhan hasrat yang bersifat fisik, niscaya rasa bahagia adalah sebuah klimaks yang jauh disana, dan tidak akan pernah bisa di jangkau. Sebab, begitu kita berhasil meraih dan memperoleh sesuatu itu, maka tuntutan untuk meraih sesuatu yang lainnya akan secara otomatis minta untuk dipenuhi pula.

Lalu apakah, untuk mencapai bahagia kita harus menghapus seutuhanya hasrat-hasrat kemanuisaan kita? apakah kita tidak boleh memiliki impian dan keinginan yang bersifat kebendaan? Sssssttttt tenang dulu dong ?

Manuisia ini di ciptakan dengan porsi yang seimbang. Di ciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna, sekaligus makhluk yang paling lemah. Manusia di ciptakan lengkap dengan akal dan fikiran, dan juga nafsu..

Dalam konteks kebahagiaan kita akan banyak berada dalam perspektif hati atau perasaan. Disinilah letak kebahagiaan itu. Disinilah singgasana kebahagiaan itu bertahta. Namun, sang raja sepertinya perlu barisan punggawa yang bertugas untuk meyakinkan rakyatnya untuk tunduk dan percaya atas kekuasaan rasa bahagia itu.

Caranya bagaimanaya? Yaitu dengan menggali sumur penerimaan sedalam-dalamnya. Agar apapun keadaan kita. bagaimanapun kondisi ekonomi kita. betapapun kita tidak mampu mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. maka semua perasaan kekecewaan itu, rasa sedih, perasaan tidak berarti, mampu kita masukan kedalam sumur penerimaan kita. Ibaratnya, kita berusaha untuk memiliki semacam ruang khusus dalam lubuk hati ini sebagai alat penyejuk dan penyeimbang.

Satu lagi cara yang paling manjur untuk memiliki penerimaan yang tulus, yaitu belajar bersyukur. Kadang kita lupa, bahwa keadaan kita saat ini “apapun itu” adalah anugerah terindah yang di berikan Tuhan kepada kita. kita mungkin khilaf, dengan menganggap bahwa keadaan kita saat ini karena kebencian Tuhan kepada kita. Padahal, untuk merasakan anugerah itu, kita hanya perlu bersyukur.

Masalah syukur ini, pernah di kupas oleh Dini Shanty, seorang pebisnis online yang sudah tidak asing lagi. Ada baiknya kita melengkapai pemahaman tentang bahagia ini dengan artikel tentang Bersyukur yang di kupas secara personal oleh Mbak Dini.

*bagaimana, apakah anda sudah siap untuk gali sumur? ?

Bagaimana mengubah blog WordPress menjadi MESIN UANG yang MEMATIKAN !! Tutorial komplit dilengkapi Software dan Script Siap Pakai Share

{ 16 comments… read them below or add one }

1 mashengky.com December 30, 2009 at 08:49

PERTAMAX?

Reply

2 fadlymuin December 30, 2009 at 10:15

tadi sempat ga bisa akses ga mas blogku?

Reply

3 MasterClickCom December 30, 2009 at 13:10

Berbahagia lah anda dpt pertamax. :) Minah sdh hilang dari peredaran

Reply

4 M. Ansori December 30, 2009 at 12:40

Betul mas Fadly, memang hidup kita ini anugerah, maka apapun kondisi kita juga anugerah. Dan, orang yang bisa bahagia adalah orang yang bisa mensyukuri anugerah tersebut. Sedangkan hanya orang-2 yang bisa menerima yang bisa bersyukur.

Reply

5 fadlymuin December 30, 2009 at 12:56

apa khabar pak Ansori? lama tak bersua nih.
kalau ukurannya masih kepuasaan lahiriah, maka syukur tak akan kunjung hadir di hati ini. semoga kita bisa menjadi manusia yg selalu bersyukur pak, amin!

Reply

6 Ricky December 30, 2009 at 13:43

Bersyukur terhadap apa yang suudah kita capai memang salah satu rahasia hidup bahagia ya mas. Saya sepakat dengan itu..

sukses mas fadly,

Reply

7 fadlymuin December 30, 2009 at 17:43

iya, dan kita perlu latihan lebih dalam untuk mencapai tingkatan itu mas Rick :)

Reply

8 ALRIS December 30, 2009 at 16:22

Apapun kondisinya kalo bersyukur rasanya ada ada ketenangan yang didapat. Direnungi makin terasa karunia-NYA. Salam

Reply

9 fadlymuin December 30, 2009 at 17:46

tenang damai dan hikmat… kuncinya hanya satu, “syukur”. tepat sekali Alris

Reply

10 online-business-story.com December 30, 2009 at 16:31

Sesuai dengan sifatnya, manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas.

Kalau ukuran kebahagian adalah tercapainya sesuatu yang kita impikan, sesungguhnya kebahagian tidak akan pernah bertahan lama. Karena pasti manusia akan mencari impian-impian lain yang mereka anggap akan membuat mereka lebih bahagia. Tapi kalau ukurannya adalah sesuatu yang telah diraih, maka sesungguhnya kebahagian itu akan terus berlanjut dan tahan lama.

Dengan kata lain, kebagian itu tergantung dari seberapa dalam sumur penerimaan kita… bukan begitu mas fadly :)

Salam Kreatif,
Octa Dwinanda

Reply

11 fadlymuin December 30, 2009 at 17:47

wuih… sikap yang benar-benar bersahaja mas Octa. saya setuju banget dengan itu :)

Reply

12 online-business-story.com December 31, 2009 at 00:56

ah bisa aja mas fadly. saya kan hanya membolak-balikkan kata saja. Sebenarnya semuanya sudah tertulis di artikel ini… :)

Reply

13 arkum December 31, 2009 at 02:35

Sy setuju ms fadly,tolok ukurnya bahagia memang bgm sikap menerima kita, shg kl tidak mau menerima hakekatnya y tidak bahagia.Tp ms fadly, mau tanya nih, kl bahagia itu tolok ukurnya sikap menerima kita, trus bgm cara mmbuat tolok ukur bahagia yg bs kt trima tp juga “benar”?

Reply

14 Bundapreneur December 31, 2009 at 02:48

bener sekali, bahagia adalah relatif. Sesuatu yg sama memberi efek berbeda. Perlu lanjutan nie, bagaimana cara menggali lebih dalam sumur penerimaan…..apa dengan ikhlas?

Reply

15 Cara Cari Duit January 29, 2010 at 11:56

kalau menurut saya mas fadly,kebahagian akan timbul saat kita telah berhasil mencapai apa yang kita inginkan.

Reply

16 Ruthy July 28, 2010 at 12:35

Salam kenal ya Pak Fadly… makasih tulisanmu sangat menolongku disaat “sendu” seperti ini hehehe…

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: