Siapa yang salah?

by fadlymuin on January 23, 2010

Siapa yang salah? Pertanyaan seperti ini biasanya hadir ketika seseorang di rundung masalah yang kronis. Njelimet dan tidak adanya titik terang yang memberi keteduhan hati. Sehingga yang muncul adalah kecenderungan untuk mencari sosok yang patut di persalahkan. Anda setuju dengan logika ini?

Memang logika seperti itu sangatlah subyektif bagi saya. Itu hanyalah dugaan-dugaan saya terhadap kondisi yang mungkin terjadi, jika seseorang di kepung oleh situasi yang kompleks dan sulit mendapatan jalan keluar yang cerah.

Namun saya yakin, kondisi seperti itu ada. Kalau anda mengikuti perkembangan kasus bank century dan kasus kasus yang tercium berbau korupsi tersebut. Pasti anda bisa menyimpulkan bahwa di balik pembentukan team pencari fakta oleh anggota dewan, dalam rangka mencari pelaku. “siapa yang salah?”. Di samping modus-modus lain yang mungkin muncul didalam proses pencarian fakta tersebut.

Itu dalam realitas kelembagaan. Bagaimana dalam kehidupan personal individu, apakah dalam konteks mencari siapa yang salah juga bisa terjadi. Sangat bisa!

untuk saat ini kita coba ulas dalam konteks perorangan. Mencari tahu siapa yang salah atas kondisi kompleks yang kita alami. Bagi saya merupakan pekerjaan yang hanya akan menonjolkan rasa emosional, frustasi dan fokus pada pengkristalan masalah. Dan hal itu hanya akan memperbesar benteng pertahanan diri, yang menyatakan bahwa “saya begini karena ulah si anu. Makanya si anu harus bertanggung jawab atas hidup saya”.

Tidak menampik, bahwa peran orang lain terhadap kehidupan kita, pasti ada. Setidaknya pengaruh itu ada. Namun orang lain hanyalah unsure kulit saja. sebab, subyek atau actor utamalah yang menentukan hidup ini, yah kita sendiri. bukan si anu.

Melimpahkan kesalahan hanya kepada si “anu”. Sama artinya kita menolak untuk menerima meteri peningkatan kualitas diri. Dengan begitu, bobot-bobot yang akan mendukung perkembangan kita akan terbengkalai dan terbuang sia-sia. potensi sukses yang seharusnya bisa tergali, lewat jalur itu. harus pupus. Ditelan derasanya gelombang arus emosi.

Cara yang bagus dan memerlukan kerendahan hati yang dahsyat. Layaknya semua itu kita kembalikan kepada diri sendiri. menerimanya dengan lapang dada, ikhlas dan yakin bahwa semua ini pasti ada hikmahnya. Kita bisa belajar banyak dari situ. Tapi saya tetap yakin ini bukan pekerjaan mudah. Tapi kalau tidak di mulai, kapan kita bisanya?

Salam sukses untuk anda.

Share

{ 46 comments… read them below or add one }

1 Agus Siswoyo January 24, 2010 at 15:33

Pertamax nih…
:pertamax
Mirip artikel saya kemarin mas. hehehe…

Reply

2 Agus Siswoyo January 24, 2010 at 15:35

Setiap blogger dituntut berkomitmen dan bertanggungjawab terhadap baik buruknya keadaan masing-masing. Introspeksi diri bisa jadi salah satu cara memperbaiki diri.

Reply

3 fadlymuin January 25, 2010 at 04:47

untuk para blogger juga ini bisa berlaku kok mas.
blogger juga khan manusia :D

*yang terpenting, berniat baik untuk terus dan terus mengasah diri. agar kedepan kita bisa memetik hasil yang menakjubkan

Reply

4 sari January 24, 2010 at 17:40

mencari kambing hitam sm sj dg pengecut,krn bknnya mncri jln kluar brsama melainkan akan mnmbah mslh br dan smkin rumit. :hoax

Reply

5 fadlymuin January 25, 2010 at 02:12

wouw.. galak nih :)
tapi benar juga mbak sari. makanya mending cari jalan keluar..

Reply

6 arkum January 25, 2010 at 04:42

Kalo blogger kambing gmn mbak sari ? :alay

Reply

7 sari January 26, 2010 at 10:24

kalo bgtu saya siap jadi makelar kambing,hehee…. :siul

Reply

8 pasutrisatu January 24, 2010 at 22:57

banyak yang berlebihan dalam memandang kesalahan, sehingga matanya gelap tidak bisa melihat dengan jernih, jadinya ya itu tadi jadi gelap mata menyalahkan pihak lain diluar dirinya, mestinya kalau dia bisa memandang dengan jernih, kesalahan itu tidak dipandang sebagai kesalahan, tapi sebagai pelajaran berharga untuk perbaikan hidupnya

Reply

9 fadlymuin January 25, 2010 at 02:13

ini adalah perang antara logika dan perasaan mas. disinilah letak kesulitannya. memisahkan dan menonjolkan dua kekuatan kita.. proses akan mengajarkan kita akan banyak hal untuk itu.

Reply

10 pasutrisatu January 25, 2010 at 03:13

mohon kritikannya blog baruku mas..thanks ya

Reply

11 mashengky.com January 24, 2010 at 23:38

agak2 nggak ngerti neh maksud artikel ente bang… hehehe

Reply

12 Imamz January 25, 2010 at 01:46

Hahaha, sama nih . :bingung

Reply

13 fadlymuin January 25, 2010 at 02:19

berarti artikel ini kurang lengkap dong…
gini mas, intinya ketika masalah terjadi pada diri kita. kita merasa masalah itu di sebabkan “oleh orang lain”.

misalanya ada orang yang masalah sama paypalnya karena salah masukin data vcc. yang disalahkan mashengky karena ga kasih penjelesan yg lengkap. padahal yg bersangkutan tidak membaca dengan jelas ketentuannya.. :D

semoga bisa lebih jelas mas :D

Reply

14 online-business-story.com January 25, 2010 at 01:16

nambahin dikit ach…
sifat manusia memang cenderung untuk defend/bertahan ketika mendapatkan permasalahan. untuk menutupi kekurangannya tak jarang menyalahkan orang lain. Apabila tidak ada yang bisa disalahkan, lingkungan atau keadaan bisa jadi subjek pelimpahan kesalahan. Hanya orang-orang yang berbesar hati dan berlapang dada yang berani mengakui kesalahannya.

Salam Kreatif,
Octa Dwinanda

Reply

15 fadlymuin January 25, 2010 at 02:23

yess… dan untuk menciptakan karakter seperti itu, butuh proses dan latihan. dan dalam proses latihan itu, wajar kalau awal-awalnya masih menyalahkan orang lain. lama kelamaan akan terkikis seiring dengan naiknya kesadaran untuk berubah.

Reply

16 Imamz January 25, 2010 at 01:48

kalo masalah siapa yang salah itu tergantung dari banyak orang dan dari mana mereka melihat suatu perkara nya Mas . dan di lihat dari sisi yang mana .

akhirnya ngerti juga setelah baca lagi dari ulang . Hehehe

Thanks
Imamz

Reply

17 fadlymuin January 25, 2010 at 02:25

iya sih. memang kita tidak melulu “menyerang diri sendiri” dengan dalih positif. dalam kasus-kasus tertentu, misalnya dalam perkara hukum. memang harus proporsional..

*akhirnya ngerti juga: berarti harus sering-sering baca dua kali mas imam :D

Reply

18 adin January 25, 2010 at 03:28

hehehe….kadang-kadang emang suka gitu…

Reply

19 fadlymuin January 25, 2010 at 04:44

he he he… cari obatnya aja mas adin :D

Reply

20 arkum January 25, 2010 at 04:57

Siapa yg suka gitu ms ? kalo saya suka gini kok…. :bingung

Reply

21 Alfred January 25, 2010 at 03:43

berhenti mengeluh, berhenti mencari kesalahan, sebaiknya fokus untuk menyelesaikan masalah yang ada…^_^
mencari siapa yang salah, hanya membuang waktu dan tenaga? betul mas fadly? :cendol

Reply

22 fadlymuin January 25, 2010 at 04:45

betul alfred..
bahkan bisa memicu kita supaya berbuat lebih ekstrim lagi..

Reply

23 sumartono January 25, 2010 at 04:15

Kalau boleh tahu, Mas fadly habis disalahin atau nyalahin siapa Mas? Masih dongkol ama orang yang nebarin paku di jalan ya? He.he.. itu menurut pengamatanku masalah posting tersebut :rate

Reply

24 fadlymuin January 25, 2010 at 04:49

no..no… tidak ada itu mas.
ide ini cuma terlintas di kepala.. kadang saya mikir kenapa yah harus begini dan begitu. tidak ada kaitannya dengan paku mas :D

Reply

25 sumartono January 25, 2010 at 04:19

Dibalik kejadian ada hikmahnya. Tapi lebih bijak jika kita instropeksi diri, untuk bisa memetik hikmahnya..;)

Reply

26 fadlymuin January 25, 2010 at 04:50

muaranya tetap bermain di arena hati dan logika kita aja nih mas..

Reply

27 arkum January 25, 2010 at 04:32

Oh, substansinya : berani evaluasi diri/menyalahkan diri sendiri toh ms. OK, betul tuh ms Fadly. Keberanian sprti ini yg jarang terjadi, malah yg banyak menyalahkan, menuding, menfitnah org lain. SIP ms Fadly, tulisannya emang OK!RCTI OK….FM.com OK… :cendol

Reply

28 arkum January 25, 2010 at 04:40

Ms Fadly, ngasih masukan nih ms, mngkin mslh siapa yg salah itu ketika dihubkan dg harus evaluasi dirinya mrpkn topik yg langsng loncat ms…hehehe sy mending ya jujur ms (skalian jwb mksdnya temen2 yg bingung nih) ???….memang sih mencari siapa yg salah bisa dr 2 sisi : 1)menemukan kebenaran sejatinya fokus pd kasus itu, tetapi 2) jg dilain pihak perpribadi hrs saling evaluasi diri…(mungkin borok2nya kita jg yg nularin).
Lha kasus bank century itu kn tidak ckp dgn dipecahkan lwt evaluasi diri sendri, tapi hrs diungkap…..seungkap-ungkapnya(…hehehe tidak EYD),agar smua org bs tahu kebenarannya.OK, ms, ini jg bisa berlaku diblog sy……maksdnya ms Fadly bs kritik sy jg.OK ms? :cendol :lapar :peluk :iloveindonesia

Reply

29 fadlymuin January 25, 2010 at 04:55

ini kritikan pertama anda yah mas? mantaps…!
ada yang ganjal yah mas? ok..ok..
kasus century hanyalah analogi kasar. ingin menekankan dari sisi emosi saja mas. memang, sangat berbeda dengan substansi kebenaran, proses hukum dan peradilan. kasus century bisa kita petik sebagai upaya melihat kondisi “mencari pelaku”.

tapi memang artikel ini terlalu singkat. makasih mas masukannya. nanti aku reformasi deh :)

Reply

30 arkum January 25, 2010 at 05:09

Betul ms….hehehehe..lagi belajar ngritik nih ms…jawaban anda adalah bentuk terapan tulisan ini, SIP!!, sy suka itu. Dan ini yg namanya konsisten ms Fadly.Jarang lho ms, yg begini… :pertamax

Reply

31 fadlymuin January 25, 2010 at 05:22

pokoknya tulisan anda adalah pemikiran anda. jadi kalau ada celah disitu, tentu kita bisa meluruskannya khan..

Reply

32 Udin Hamd January 25, 2010 at 05:25

Koment apaan ne. . .dah lengkap kayaknya.
Oiya, orang yang mencari-cari alasan untuk pembenaran dirinya sendiri tidak akan mengalami kemajuan untuk selama-lamanya.
Bukan begetu . . Mas ?

Reply

33 fadlymuin January 25, 2010 at 13:15

kata selama-lamanya itu ngeri banget deh. mudah-mudahan saja di tengah jalan yang mengalami itu bisa menemukan pencerahan mas.. jangan sampai pintu hati tertutup karena itu.. amin

Reply

34 Udin Hamd January 25, 2010 at 05:28

Mas, jamnya tolong dibenahi donk? Biar pas dgn WIB.
Trims

Reply

35 fadlymuin January 25, 2010 at 13:13

ok mas, nanti aku periksa yah

Reply

36 Udin Hamd January 25, 2010 at 20:08

Terimakasih jam nya sudah dibenahi. Gene kan enak. Pas waktu kita getu lho. . .

Reply

37 Cara Cari Duit January 25, 2010 at 16:46

setuju mas fadly.Kalau kita melemparkan kesalahan kita pada orang lain berarti kita bukan orang yang bertanggung jawab dan belum berani menerima tantangan yang ada di depan kita.Kapan majunya kalau gitu?Ubah cara berpikir kita ke arah yang positif.

Reply

38 fadlymuin January 25, 2010 at 17:48

dengan kata lain, berusaha bersikap lebih bijaksana saja.

Reply

39 Arief Rizky Ramadhan January 25, 2010 at 19:01

hemm… memang sebenarnya kalau cuma saling beradu siapa yang salah pasti tidak ada kelarnya.. hehehe mending ambil jalan tengahnya dan saling mengakui kesalahan sendiri :cendol

Reply

40 fadlymuin January 25, 2010 at 23:10

bener rief.. batu di benturkan dengan batu bakal hancur. mending batu di cemplungin ke air, lebih indah melihatnya

Reply

41 Arief Rizky Ramadhan January 26, 2010 at 06:11

cemplungin ke air dingin.. biar nyezzz… abis semua pertengkaran wkwkwkwk

Reply

42 Suarakelana January 25, 2010 at 22:27

Kadang lingkungan juga terlalu kejam, tidak bisa menerima adanya kesalahan, harus sempurnaa…. terus. Makanya kesalahan akhirnya dilempar-lempar, gak ada yg sudi memiliki.

Reply

43 fadlymuin January 25, 2010 at 23:08

wah ini menarik pak. dengan kata lain, anda ingin katakan bahwa kesalahan itu sendiri sudah berubah menjadi subyek atau pelaku, begitu?

Reply

44 Haris_DokterBisnis.Net January 26, 2010 at 06:49

betul mas…paling enak kalo asal nuding…ha..ha..ha..perlu pemahaman tinggi buat bisa rendah hati dan mau mengakui kesalahan sendiri…:)

Reply

45 A9YnD1LV3R January 28, 2010 at 14:29

Jika ada kesalahan ya kembali koreksi diri sendiri. Siapa tahu karena beberapa tindakan kita, sehingga membuat masalah itu terjadi.

Reply

46 fadlymuin January 28, 2010 at 15:49

koreksi diri akan mempertebal kualitas kedewasaan kita

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: