Siapa yang salah? Pertanyaan seperti ini biasanya hadir ketika seseorang di rundung masalah yang kronis. Njelimet dan tidak adanya titik terang yang memberi keteduhan hati. Sehingga yang muncul adalah kecenderungan untuk mencari sosok yang patut di persalahkan. Anda setuju dengan logika ini?
Memang logika seperti itu sangatlah subyektif bagi saya. Itu hanyalah dugaan-dugaan saya terhadap kondisi yang mungkin terjadi, jika seseorang di kepung oleh situasi yang kompleks dan sulit mendapatan jalan keluar yang cerah.
Namun saya yakin, kondisi seperti itu ada. Kalau anda mengikuti perkembangan kasus bank century dan kasus kasus yang tercium berbau korupsi tersebut. Pasti anda bisa menyimpulkan bahwa di balik pembentukan team pencari fakta oleh anggota dewan, dalam rangka mencari pelaku. “siapa yang salah?”. Di samping modus-modus lain yang mungkin muncul didalam proses pencarian fakta tersebut.
Itu dalam realitas kelembagaan. Bagaimana dalam kehidupan personal individu, apakah dalam konteks mencari siapa yang salah juga bisa terjadi. Sangat bisa!
untuk saat ini kita coba ulas dalam konteks perorangan. Mencari tahu siapa yang salah atas kondisi kompleks yang kita alami. Bagi saya merupakan pekerjaan yang hanya akan menonjolkan rasa emosional, frustasi dan fokus pada pengkristalan masalah. Dan hal itu hanya akan memperbesar benteng pertahanan diri, yang menyatakan bahwa “saya begini karena ulah si anu. Makanya si anu harus bertanggung jawab atas hidup saya”.
Tidak menampik, bahwa peran orang lain terhadap kehidupan kita, pasti ada. Setidaknya pengaruh itu ada. Namun orang lain hanyalah unsure kulit saja. sebab, subyek atau actor utamalah yang menentukan hidup ini, yah kita sendiri. bukan si anu.
Melimpahkan kesalahan hanya kepada si “anu”. Sama artinya kita menolak untuk menerima meteri peningkatan kualitas diri. Dengan begitu, bobot-bobot yang akan mendukung perkembangan kita akan terbengkalai dan terbuang sia-sia. potensi sukses yang seharusnya bisa tergali, lewat jalur itu. harus pupus. Ditelan derasanya gelombang arus emosi.
Cara yang bagus dan memerlukan kerendahan hati yang dahsyat. Layaknya semua itu kita kembalikan kepada diri sendiri. menerimanya dengan lapang dada, ikhlas dan yakin bahwa semua ini pasti ada hikmahnya. Kita bisa belajar banyak dari situ. Tapi saya tetap yakin ini bukan pekerjaan mudah. Tapi kalau tidak di mulai, kapan kita bisanya?
Salam sukses untuk anda.
Share

{ 46 comments… read them below or add one }
Pertamax nih…
:pertamax
Mirip artikel saya kemarin mas. hehehe…
Setiap blogger dituntut berkomitmen dan bertanggungjawab terhadap baik buruknya keadaan masing-masing. Introspeksi diri bisa jadi salah satu cara memperbaiki diri.
untuk para blogger juga ini bisa berlaku kok mas.
blogger juga khan manusia
*yang terpenting, berniat baik untuk terus dan terus mengasah diri. agar kedepan kita bisa memetik hasil yang menakjubkan
mencari kambing hitam sm sj dg pengecut,krn bknnya mncri jln kluar brsama melainkan akan mnmbah mslh br dan smkin rumit. :hoax
wouw.. galak nih
tapi benar juga mbak sari. makanya mending cari jalan keluar..
Kalo blogger kambing gmn mbak sari ? :alay
kalo bgtu saya siap jadi makelar kambing,hehee…. :siul
banyak yang berlebihan dalam memandang kesalahan, sehingga matanya gelap tidak bisa melihat dengan jernih, jadinya ya itu tadi jadi gelap mata menyalahkan pihak lain diluar dirinya, mestinya kalau dia bisa memandang dengan jernih, kesalahan itu tidak dipandang sebagai kesalahan, tapi sebagai pelajaran berharga untuk perbaikan hidupnya
ini adalah perang antara logika dan perasaan mas. disinilah letak kesulitannya. memisahkan dan menonjolkan dua kekuatan kita.. proses akan mengajarkan kita akan banyak hal untuk itu.
mohon kritikannya blog baruku mas..thanks ya
agak2 nggak ngerti neh maksud artikel ente bang… hehehe
Hahaha, sama nih . :bingung
berarti artikel ini kurang lengkap dong…
gini mas, intinya ketika masalah terjadi pada diri kita. kita merasa masalah itu di sebabkan “oleh orang lain”.
misalanya ada orang yang masalah sama paypalnya karena salah masukin data vcc. yang disalahkan mashengky karena ga kasih penjelesan yg lengkap. padahal yg bersangkutan tidak membaca dengan jelas ketentuannya..
semoga bisa lebih jelas mas
nambahin dikit ach…
sifat manusia memang cenderung untuk defend/bertahan ketika mendapatkan permasalahan. untuk menutupi kekurangannya tak jarang menyalahkan orang lain. Apabila tidak ada yang bisa disalahkan, lingkungan atau keadaan bisa jadi subjek pelimpahan kesalahan. Hanya orang-orang yang berbesar hati dan berlapang dada yang berani mengakui kesalahannya.
Salam Kreatif,
Octa Dwinanda
yess… dan untuk menciptakan karakter seperti itu, butuh proses dan latihan. dan dalam proses latihan itu, wajar kalau awal-awalnya masih menyalahkan orang lain. lama kelamaan akan terkikis seiring dengan naiknya kesadaran untuk berubah.
kalo masalah siapa yang salah itu tergantung dari banyak orang dan dari mana mereka melihat suatu perkara nya Mas . dan di lihat dari sisi yang mana .
akhirnya ngerti juga setelah baca lagi dari ulang . Hehehe
Thanks
Imamz
iya sih. memang kita tidak melulu “menyerang diri sendiri” dengan dalih positif. dalam kasus-kasus tertentu, misalnya dalam perkara hukum. memang harus proporsional..
*akhirnya ngerti juga: berarti harus sering-sering baca dua kali mas imam
hehehe….kadang-kadang emang suka gitu…
he he he… cari obatnya aja mas adin
Siapa yg suka gitu ms ? kalo saya suka gini kok…. :bingung
berhenti mengeluh, berhenti mencari kesalahan, sebaiknya fokus untuk menyelesaikan masalah yang ada…^_^
mencari siapa yang salah, hanya membuang waktu dan tenaga? betul mas fadly? :cendol
betul alfred..
bahkan bisa memicu kita supaya berbuat lebih ekstrim lagi..
Kalau boleh tahu, Mas fadly habis disalahin atau nyalahin siapa Mas? Masih dongkol ama orang yang nebarin paku di jalan ya? He.he.. itu menurut pengamatanku masalah posting tersebut :rate
no..no… tidak ada itu mas.
ide ini cuma terlintas di kepala.. kadang saya mikir kenapa yah harus begini dan begitu. tidak ada kaitannya dengan paku mas
Dibalik kejadian ada hikmahnya. Tapi lebih bijak jika kita instropeksi diri, untuk bisa memetik hikmahnya..;)
muaranya tetap bermain di arena hati dan logika kita aja nih mas..
Oh, substansinya : berani evaluasi diri/menyalahkan diri sendiri toh ms. OK, betul tuh ms Fadly. Keberanian sprti ini yg jarang terjadi, malah yg banyak menyalahkan, menuding, menfitnah org lain. SIP ms Fadly, tulisannya emang OK!RCTI OK….FM.com OK… :cendol
Ms Fadly, ngasih masukan nih ms, mngkin mslh siapa yg salah itu ketika dihubkan dg harus evaluasi dirinya mrpkn topik yg langsng loncat ms…hehehe sy mending ya jujur ms (skalian jwb mksdnya temen2 yg bingung nih) ???….memang sih mencari siapa yg salah bisa dr 2 sisi : 1)menemukan kebenaran sejatinya fokus pd kasus itu, tetapi 2) jg dilain pihak perpribadi hrs saling evaluasi diri…(mungkin borok2nya kita jg yg nularin).
Lha kasus bank century itu kn tidak ckp dgn dipecahkan lwt evaluasi diri sendri, tapi hrs diungkap…..seungkap-ungkapnya(…hehehe tidak EYD),agar smua org bs tahu kebenarannya.OK, ms, ini jg bisa berlaku diblog sy……maksdnya ms Fadly bs kritik sy jg.OK ms? :cendol :lapar :peluk :iloveindonesia
ini kritikan pertama anda yah mas? mantaps…!
ada yang ganjal yah mas? ok..ok..
kasus century hanyalah analogi kasar. ingin menekankan dari sisi emosi saja mas. memang, sangat berbeda dengan substansi kebenaran, proses hukum dan peradilan. kasus century bisa kita petik sebagai upaya melihat kondisi “mencari pelaku”.
tapi memang artikel ini terlalu singkat. makasih mas masukannya. nanti aku reformasi deh
Betul ms….hehehehe..lagi belajar ngritik nih ms…jawaban anda adalah bentuk terapan tulisan ini, SIP!!, sy suka itu. Dan ini yg namanya konsisten ms Fadly.Jarang lho ms, yg begini… :pertamax
pokoknya tulisan anda adalah pemikiran anda. jadi kalau ada celah disitu, tentu kita bisa meluruskannya khan..
Koment apaan ne. . .dah lengkap kayaknya.
Oiya, orang yang mencari-cari alasan untuk pembenaran dirinya sendiri tidak akan mengalami kemajuan untuk selama-lamanya.
Bukan begetu . . Mas ?
kata selama-lamanya itu ngeri banget deh. mudah-mudahan saja di tengah jalan yang mengalami itu bisa menemukan pencerahan mas.. jangan sampai pintu hati tertutup karena itu.. amin
Mas, jamnya tolong dibenahi donk? Biar pas dgn WIB.
Trims
ok mas, nanti aku periksa yah
Terimakasih jam nya sudah dibenahi. Gene kan enak. Pas waktu kita getu lho. . .
setuju mas fadly.Kalau kita melemparkan kesalahan kita pada orang lain berarti kita bukan orang yang bertanggung jawab dan belum berani menerima tantangan yang ada di depan kita.Kapan majunya kalau gitu?Ubah cara berpikir kita ke arah yang positif.
dengan kata lain, berusaha bersikap lebih bijaksana saja.
hemm… memang sebenarnya kalau cuma saling beradu siapa yang salah pasti tidak ada kelarnya.. hehehe mending ambil jalan tengahnya dan saling mengakui kesalahan sendiri :cendol
bener rief.. batu di benturkan dengan batu bakal hancur. mending batu di cemplungin ke air, lebih indah melihatnya
cemplungin ke air dingin.. biar nyezzz… abis semua pertengkaran wkwkwkwk
Kadang lingkungan juga terlalu kejam, tidak bisa menerima adanya kesalahan, harus sempurnaa…. terus. Makanya kesalahan akhirnya dilempar-lempar, gak ada yg sudi memiliki.
wah ini menarik pak. dengan kata lain, anda ingin katakan bahwa kesalahan itu sendiri sudah berubah menjadi subyek atau pelaku, begitu?
betul mas…paling enak kalo asal nuding…ha..ha..ha..perlu pemahaman tinggi buat bisa rendah hati dan mau mengakui kesalahan sendiri…:)
Jika ada kesalahan ya kembali koreksi diri sendiri. Siapa tahu karena beberapa tindakan kita, sehingga membuat masalah itu terjadi.
koreksi diri akan mempertebal kualitas kedewasaan kita