Sebagai manusia biasa, kita tak luput dari perasaan cemas. Perasaan cemas, merupakan ciri khas bahwa kita adalah makhluk perasa. Bisa merasakan hal-hal tertentu yang mengganggu perasaan tenang atau ketenteraman hati kita. Hal itu sangat manusiawi!
Hanya yang menjadi masalah, ketika rasa cemas itu sudah sampai pada titik kronis. Kita tidak bisa melakukan aktifitas rutin kita. Menciptakan instabilitas pada sisi emosional kita. Tidak bisa konsentrasi bekerja apalagi berbisnis.
Bahkan yang lebih parah, kita mulai melampiaskan rasa cemas itu dalam bentuk amarah yang tak terkendali, justru kepada orang-orang yang kita cintai. Tentu saja, hal ini tidak boleh di biarkan.
Lalu bagaimana cara ideal untuk mengatasi rasa cemas ini. Agar kita bisa kembali normal. Bisa menjalani hari-hari dengan rasa gembira dan berpengharapan tinggi?
Mari kita coba sama-sama kupas lebih dalam.
Masih ingat khan artikel yang saya beri judul ”masing-masing sudah ada obatnya” khan?. Di dalam artikel itu saya cerita bagaimana cara seorang dokter mengatasi pasiennya?
Ok kita petik saja pesan singkatnya bahwa untuk mengatasi sebuah penyakit. Doker tak bisa menghindari tahapan awal yaitu ”mencari penyebab” sakit si pasien.
Sama halnya dengan memecahkan masalah. Mengetahui penyebab sebuah masalah, akan mempermudah kita untuk memberikan solusi yang tepat atas masalah yang sedang kita hadapi.
Coba kita kaitkan dengan masalah cemas yang sedang kita cari jalan keluarnya. Kira-kira, jika kita mengetahui penyebab rasa cemas itu, “apakah kita bisa lebih mudah mencari obatnya? Bagaimana kalau ternyata tidak sesuai? Justru saya malah menjadi tambah cemas? Apa anda bisa bertanggung jawab?!” Tenang dulu dong..
Setidaknya, dengan mengetahu penyebabnya, kita akan lebih mudah mencari jalan keluarnya. kita akan lebih mudah menguraikan poin-poin masalah penyebab rasa cemas itu. Kita bisa runut, kita bisa mencari benang merahnya, dan seterusnya..
Kita ambil contoh begini..
- Bagaimana jika tiba-tiba seorang teman manghampiri kita. Dengan raut wajah kusut dan langkah tergopoh-gopoh ia menghampiri kita. Tanpa basa-basi ia langusng bicara agag keras kepada kita ”gue bingung banget nih… bantuin gw dong! Gimana caranya nih?”.
- Saya yakin, jika seorang dokter di datangi seorang pasien dengan rasa takut dan bingung langsung berkata kepadanya ”tolong kasih saya obat dong dok…. sakit nih!” obat apa yang mau di kasih si dokter? La wong penyakitnya saja belum ketahuan!
Sama saja dengan kita, jika teman yang tiba-tiba datang tadi langsung meminta solusi kepada kita tanpa memberi tahukan duduk persoalannya. Apa kita langsung bisa memberikan solusi untuknya? Saya bisa pastikan, kita langsung ikut bingung!
Jadi menurut saya, sebelum sampai ke tahap mengatasi rasa cemas itu, sebaiknya di uraikan dulu penyebabnya. Dengan sendirinya, jika penyebab sudah di ketahui. Itu berarti masalah sudah di tangan. Kita sudah berada selangkah lebih maju. Akan lebih mudah bagi kita, untuk memecahkan masalahnya.
Ok.
Sekarang yang jadi masalah, bagaimana mengetahui bahwa ”hal itu” adalah penyebab rasa cemas kita? nah loh!
Agag repot juga yah menjawab pertanyaan ini.
Sebab rasa cemas itu adanya di dalam hati. Dan yang mengetahui apa yang terkandung di dalam hati itu adalah diri kita sendiri.
Jadi maksudnya?
Maksudnya, kita di minta untuk jujur, ikhlas dan patuh terhadap apa yang sedang kita rasakan.
Ungkapkan saja semuanya. Jangan di pendam, jangan di sembunyikan. Toh yang mengetahui hanya diri kita sendiri dan Tuhan. Orang lain tidak akan bisa denger isi hati kita.
Yah! Itulah cara paling jitu untuk mengetahu bahwa ”hal itu”lah yang sebenarnya membuat kita merasa cemas. “Hal itulah” yang membuat kita selama ini merasa uring-uringan dan enggan melakukan banyak hal.
Jadi kesimpulannya, rasa cemas itu sangat, sangat manusiawi. Walau demikian cemas cukup mengganggu kita dalam beraktifitas. Jadi sebaiknya ia di babat habis dari dalam diri kita. Di ungkit lalu di dorong keluar.
Caranya? Yah itu tadi!
Ketahuilah apa penyebabnya. Ungkit penyebabnya dengan cara jujur, ikhlas dan patuh terhadap apa yang sedang kita rasakan. Lalu dorong keluar! Mudah khan?
Semoga bermanfaat!
Share

{ 52 comments… read them below or add one }
Pertamax dulu lah…
suka juga sama pertamax mas Khery?? :genit:
ketahuan dari avatarnya kan mas…
rossi gitu lho…
Waw, ada mas Rossy ngeblog. Pantesan pertamax…
:cendol
Trims sekali atas tulisan yang penuh solusi ini, Bang. Jujur, sebagai manusia biasa, saya sering juga mengalami ini. But, hikmahnya, kadang kecemasan ini yang mempererat tali ketergantungan dan penyerahan pada Sang Khalik. Puncak kecemasan itu ternyata bisa juga menjadi titik temu penyerahan dan kesadaran diri akan keterbatasan kemampuan.
Dan, solusi yang abang tawarkan, menjadi entry point tersendiri dalam kasus ini bila dialami di masa yang akan datang. Trims sekali, Bang…
sebenarnya artikel ini lebih “memfokuskan” pada individu mas. bagaimana seseorang menyikapi rasa cemas itu. solusi yang saya tawarkan hanyalah menyampaokan sesuatu yang sudah di miliki oleh masing-masing kita. yaitu “meningkatkan kekuatan hati” muaranya akan kesana kok, sadar dan ikhlas.
trims sudah memperjelas artikel ini mas Khery :thumbup:
wah saya harus hati2 neh. cemas di usia 40 tahun gak baik utk seksualitas :ngakak
itu efek kali yah mas..
tapi, menurut saya, justru di usia segitu, malah semakin mantap.
tapi ga bermaksud membuat cemas loh mas
oh iya, gimana liburannya mas?
hihihi masih ngebet ya mas…
:cd :cd
mungkin saya bisa tambahkan sedikit dari poin ini ya . . .
“Ketahuilah apa penyebabnya. Ungkit penyebabnya dengan cara jujur, ikhlas dan patuh terhadap apa yang sedang kita rasakan. Lalu dorong keluar! Mudah khan?”
menurut saya, perlu juga adanya seorang yang bisa diajak bicara sebagai tempat untuk kita menumpahkan segala rasa yang kita alami, entah itu teman/ sahabat/ pacar/ suami/ istri/ orang tua/ dll. Dengan menumpahkan segala curahan isi hati, maka setidaknya beban kita akan terasa lebih ringan.
eace:
terima kasih mas evan atas tambahannya.
memang, kita tentu butuh seseorang untuk di ajak berbicara da bertukar fikiran. itu akan membantu.
Saya sepakat dengan tambahan anda, hanya saja, alangkah baiknya, jika kita sudah membekali diri terlebih dahulu.
kita bisa mengeksplore diri sendiri dulu. sebab, jika kita tidak membekali diri sendiri dengan pemahaman yang cukup. maka curahan hati kita bisa tak terkendali, bahkan mungkin bisa keluar dari konteks yang kita rasakan. dan akibatnya partner curhat kita bisa jadi bingung.
iya.. kita jangan terlalu plong ma orang sebelum kita yakin kalo org tersbeut emg pantas tahu siapa kita sebenarnya . . .
Menurut Saya, Solusi yg tepat adalh berbicara kepada orang lain atau yg lebih keren nya curhat
yap, itu juga bisa membantu…
nanti pas waktunya curhat sama saya ya mas?
:siul :siul
Saya tertarik dengan kata-kata ini mas : “kita di minta untuk jujur, ikhlas dan patuh terhadap apa yang sedang kita rasakan. Jadi ungkapkan saja semuanya. Jangan di pendam, jangan di sembunyikan”. Apakah itu maksudnya jangan pendam masalah sendirian, tapi bila kita terlalu sering mengekspos masalah pribadi bukankah belum tentu enak bagi yang mendengarnya mas…bagaimana solusi menurut mas fadly ?, thanks ya…
bukan ke sana substansi yang saya maksudkan mas Ricky.
memang saya menekankan untuk menuntun rasa cemas itu keluar. dgn cara jujur, ikhlas dan patuh terhadap apa yang kita rasakan.
secara teknis kita bisa memilih 2 opsi
1. menyelesaikannya sendiri
2. menyelesaikannya dengan bantuan teman curhat. seperti usulan mas Evan dan mas Rafi di atas.
begitu sih pendapatku mas Rick,
Trims…
Wah..wah jadi blog managemen stress nih mas…hehehe..mau jadi psikoterapi ya ms Fadly.
Spengetahuan sy tg cemas/ketakutan, memang banyak penyebab dan penyembuhannya ms, termasuk diantaranya psikoterapi, meditasi, obat terapi, serta penghayatan ketuhanan. Tp betul ms Fadly, sumber kecemasan itu dulu yg harus ditemukan baru penyembuhannya.
eh..ngomong2 masalah stress ingat rencana blog tg manag stress sy yg skrg sudah kependam didalam tanah :bingung :hammer
he he he… namanya juga motivai mental mas
berupaya memberikan artikel-artikel yang bersifat analitis.
jika ada kekurangan, mohon maklum.
oh iya, di hidupkan lagi dong, blog lamanya. kan makin seru kalau ada blog partner..
Tenang ms,tidak ada yg krg.
hehehe…kerja offlinenya lg bnyk ms,jdnya ckp 1 blog sj
Intinya terletak pada pemberesan akar masalahnya ya mas kalo gitu. Dan akhirnya, mindset yang positif dan benar dalam menyikapinya akan mampu mengatasi rasa cemas tersebut.
Ini dulu komen saya.
kurang lebih seperti itu maksudnya mas iskandar.
fokus pada akar masalah, supaya kita lebih mudah memberikan obat penawar.
mengungkapkan apa adanya perasaan membantu kita untuk lebih percaya diri dan berani mengatasi rasa cemas
betul sekali mas erick..
saya beberapa hari terakhir ini saya memang agak cemas…
bingung menyusun pertanyaan buat interview mas fadly hehehe…
wah, kalau itu bukan cemas mas Iwan. tapi grogi
Wah makin enak neeh tulisannya mas fadly. Keknya efek sekolah menulis neeh. Hahaha…
Btw, meski manusiawi, ada salah 1 cara meminimalisir rasa cemas. Apa itu? Dgn lebih percaya & mendekat ke Tuhan utk meminta ketenangan.
he he he, jadi malu aku.
tapi ma Jonru OK juga sebagai mentor. Fokus dan ringan dalah ciri khasnya menurut saya.
iya mas, pendekatan Ilahi, memang tak bisa di pungkiri. justru dengan kita makin jujur, ikhlas dan pasrahkan diri kepada-Nya, maka rasa cemas akan semakin mudah kita ungkap. dan berpotensi mendapat jalan keluar yang sepadan..
salah satu yang bikin cemas si aki smet nangkep komengku
aduh, ulah si aki lagi yah mas? sabar…
Wah, udah banyak sumbangan metodanya neh….
Ada satu teknik yg saya baca dari buku dan efektif buat saya. Yaitu saat mendeteksi harus ditulis satu persatu sumber kecemasan pada secarik kertas (wajib). Gak usah dievaluasi dulu, tulis aja semua yg terasa. Selanjutnya baru diteliti satu persatu. Coret yg kira2 gak perlu dicemasin atau yg sebenarnya dah ada solusinya. Usahakan semua punya rencana solusi meski gak yakin tuntas dan coret. Yakinlah, setelah itu lebih terasa plong…
saya jarang menggunakan metode seperti itu sih pak.
namun saya rasa, tujuannya sama, berupaya mengungkapkan apa yang dirasakan. berusaha mendorong keluar. kayaknya kita sudah sepemikiran yah pak
jujur deh jujur….saya cemas,smakin hari pengunjung menghilang…
atu lagi cemasnya mau masuk kpl 3 blom da yang njemput,hehehe.. :mewek
jangan sedih mbak sari…:)
coba ganti themes, rubah gaya menulis. belajar dan belajar..
mengenai blm di jemput, yah harus sabar juga. semua ada waktunya.. he he he
sekarang saya gak cemas lagi…. kan dah ada mas fadly…. he…
kapanpun bisa konsultasi..
yang ada saya yang suka konsultasi..wakakakaka
Saya berusaha selalu sabar dan nggak berharap lebih. Nrimo ing pandum kalau wong Jowo bilang.titik.
“Nrimo” Filosofi jawa yang membuat saya kuat mas.
selain itu, saya juga punya falsafah Bugis “siri” artinya malu. inipun pegangan saya.
jadi kalau mau di kolaburasi ini bisa jadi filsafat yang kuat..
Malu kalau gagal ya…
bisa begitu mas..
wah akismet ini benar-benar membuat saya cemas! :hammer
ketangkap juga yah mas hery.. nanti saya check
memang betul, yang paling penting adalah mengetahui sebabnya, akarnya. Kalau sudah dipecahkan, kemungkinan besar penyakitnya juga sembuh. Tulisannya apik pak, salam kenal ya
salam kenal juga.. makasih sudah komen :thumbup:
Solusi yang bagus mas… namun tidak semua orang bisa terbuka akan suatu masalah pada orang lain…
untuk itulah artikel ini hadir
di peruntukkan untuk orang-orang yg susah terbuka.
perlu di ketahui, bahwa terbuka itu bukan berarti kita sembarangan menyampaikan kepada orang lain. jika di rasa kitapun sudah cukup, ya sudah. selesaikan sendiri juga boleh kok..
mas Fadly menurut saya yang kadang sulit bagi kita adalah mengungkapkan apa yang kita rasakan secara jujur dan ikhlas, ini yang paling sulit….bagaimana mengatasi hal yang seperti ini Mas?
Sukses selalu.
apa khabar mas Sugi
tks pertanyaannya mas Sugi.
lama tidak berkomunikasi, datang-datang langsung kasih pertanyaan mudah tapi jawabnya susah
gini,
perlu di ketahui, di atas saya tidak mengarahakan pembaca untuk “curhat kepada orang lain”. yang saya tekankan adalah “bagaimana mengetahu sumber rasa cemas itu”.
jadi, kalau kita sudah tau sumber masalahnya tentu kitapun sudahbisa menakar, apalah ini pantas atau tidak saya bawa keluar, bicarakan kpd orang lain atau tidak. kalau tidak pantas dan rasanya kita sendiri saja sudah cukup. menurut saya itu sudah cukup.
mengenai konsep ikhlas, sebenarnya mudah, tinggal klik tombol ikhlas di hati.selesai. masalahnya kekuatan untuk menekan itu yang habis
kekuatannya ada pada “ego”. jadi singkirkan ego ketika kita menuju ikhlas.
*semoga yang singkat ini bisa menambah wacana mas Sugi… tks
Dalam Law Of Attraction, mengetahui kecemasan atau hal-hal negatif lainnya disebut kontras. Jika kita menginginkan hal yang sebaliknya, yaitu hal positif. Maka, mau tidak mau harus jujur pada diri sendiri kemudian akan dapat terlihat lebih jelas hal apa yang kita inginkan. Itulah tahap awal mengatasi kecemasan.
visualisasi yah? menghidupkan suasana nyata di hati. begitu yah mas Agy?
gaya menulis yang lebih ringan dan fokus membuat saya tidak cemas lagi….hehehe….langsung ngertiii
Cemas membuat kita tidak tenang dalam menjalankan aktivitas kita.Oleh karena itu kita harus membuang jauh-jauh rasa cemas yang ada dalam hati.