Ketika musibah atau masalah menimpah kita. banyak reaksi yang akan bermunculan. Baik itu dalam bentuk penerimaan, maupun dalam bentuk penolakan. Namun apa mau di kata. Berkutat pada reaksi-reaksi saja, tidak akan cukup. Kita perlu solusi. Sebab reaksi sifatnya hanya sementara. Setelah itu, kita akan di hadapkan pada kenyataan. Bahwa masalah ini harus di hadapi dan perlu jalan keluar yang tepat. Supaya hidup kita kembali stabil.
Masing-masing kita pernah dan sejatinya akan di perhadapkan dengan sebuah masalah. Dan setiap masalah, porsi dan karakternya berbeda-beda. Sebab akibatnya juga beda. Penyelesainnyapun berbeda-beda. Sekali lagi sesuai dengan latar belakang individu masing-masing.
Kalau sudah seperti itu, yang kita lakukan adalah mencari tahu apa penyebabnya dan bagaimana solusinya.
Dua porsi yang saling melengkapi ini menjadi roda penggerak kita untuk bergerak dan berusaha mencairkan situasi. Mencari solusi lewat buku, artikel sederhana, atau sekedar curhat sama kawan dan tempat-tempat lain yang kita anggap bisa memberikan jawaban atas kegelisahaan kita itu. Pokoknya masalah ini harus beres.
Sebagai bahan ilustrasi Coba simak contoh kehidupan berikut ini
Katakan ada seorang berinisial A sedang terkena musibah. Si A akhirnya resmi jadi pengangguran karena ada perampingan karyawan di perusahaan tempat ia bekerja. Semenjak itu rasa cemas menjadi temannya. Ketakuatan tidak punya penghasilan tetap, akibat PHK sangat mengganggu. Cari kerja lagi untuk jaman sekarang sudah susah. Sementara anaknya masih kecil-kecil. Kegelisahaan semakin menjadi.
Ia pun memikirkan tentang bayaran sekolah anak-anaknya yang terancam nunggag atau bahkan bisa di keluarkan karena tidak bayar spp. Lalu bagaimana masa depan mereka. Belum lagi cicilan mobil yang baru di bayar beberapa kali cicilan saja. masih tersisa puluhan bulan lagi. Cicilan rumah yang cukup besar, juga harus di bayar, bagaimana nanti kalau rumahnya disita oleh bank,, mau tinggal dimana keluarganya?
Pokoknya fikiran “mengancam” seketika mengamuk di dalam diri si A. ia merasa perjalanan hidupnya begitu tragis dan mencekam. Masa depannya mulai tidak jelas. Karena musibah PHK itu. Lalu bagaimana ia menghadapi semua itu? Saat itu belum ada jawaban, yang tersisah hanyalah kekecewaan dan rasa putus asa. Hmm…Kira-kira obat apa yang mujarab untuk si A?
Apakah dengan memberikan motivasi agar dia tetap action? Atau kita bisa katakan padanya “sudahlah A…. gagal adalah keberhasilan yang tertunda, ayo… kamu pasti bisa!”. Hmm saya harap itu bisa manjur.
Tapi nanti dulu. Tidak semua orang bisa langsung tergerak dengan resep seperti itu. Mungkin saja dia butuh diagnosa yang lebih dalam. Ia mungkin perlu kisah-kisah inspiratif. Mungkin dia butuh diam sejenak. Mungkin dia butuh fase untuk merenung, meratapi nasib, sebagai upaya eksplorasi kekecewaan dan penyesalannya. Its ok! “… seterusnya… dan setersunya.. “
Saya rasa masih banyak cuplikan kisah yang senada dengan kisah si A. Kalau saya teruskan bisa-bisa artikel ini jadi cerpen melankolis dong?
Sekarang bagaimana solusi ideal untuk si A agar bisa cepat-cepat keluar dari permasalahannya itu? Agag rumit sebenarnya untuk menjawab permasalah si A. Tapi saya yakin, setiap masalah pasti ada jawabannya. Masalahnya apakah setiap jawaban itu bisa di terima oleh orang yang bermasalah?
Oleh karena itu, untuk menyikapi saya hanya ingin memberikan sebuah analogi sederhana, begini
Coba kita fokus kepada dokter. Jika kita sakit solusinya adalah ke dokter. Atau kalau sakitnya hanya sakit ringan, kita bisa langsung minum obat yang di jual bebas di apotik atau toko obat biasa juga boleh. Tapi bagaimana kalau sakit itu, tidak kita ketahui sebabnya. Alias sudah komplikasi? Kita batuk, tapi setelah minum obat batuk, justru makin parah, bahkan tambah penyakit. Misalnya malah diare, gatal-gatal dan seterusnya. Kalau sudah begitu, tak ada pilihan lain. Dokter adalah jawabannya.
Lalu apa yang di lakukan seorang dokter? Pertama-tama ia akan memeriksa atau mendiagnosa penyakit kita. bukan serta merta melakukan upaya medis. Tapi dokter akan mengawalinya dengan komunikasi. “sudah berapa lama sakitnya pak?. Sudah pernah minum obat apa pak?” dokter perlu tahu kronologis penyebab kita sakit. sebab itu akan membantunya untuk fokus kepada sakit yang sedang kita derita. Setelah itu baru ia akan mendiagnosa secara medis. kemudian memberikan “resep”.
Pada tahap “resep” inilah jawabannya. Dokter akan memberikan jenis obat dan dosis yang sesuai dengan penyakit kita. tidak semua obat atau sembarangan obat yang di berikan dokter. Sebab secara medis, dokter tahu, mana obat yang tidak boleh kita minum, walau fungsinya sama. Sama-sama menyembuhkan batuk misalnya. Tapi antara obat yang satu dengan yang lainnya, memiliki efek yang berbeda-beda. Jadi kalau salah kasih obat bukannya sembuh, malah lebih parah. Karena efek samping bisa membahayakan pasien. Bisa-bisa dokternya di tuntut karena tidak teliti.
- Cara mengatasi si A prinsipnya sama dengan dokter mengatasi pasiennya. Perlu komunikasi, perlu diagnosa baru setelah itu ia di beri obat yang tepat yang memiliki daya sembuh yang manjur. Kuncinya, si pasien harus jujur tentang apa yang dirasakannya. Dan ada kemauan untuk sembuh.
- Setelah obatnya sudah di tebus, jangan lupa di minum. Walau obatnya pahit sekalipun. Tapi pil itulah yang di butuhkan oleh penyakit si A. bukan air gula, bukan juga susu sapi.
Jika masalah si A di selesaikan dengan analogi “antara dokter dan pasien”. Dengan catatan kemauan si A harus sangat besar dan antusias untuk sembuh sehingga jika nanti ia sudah menebus obatnya, ia bersedia meminumnya, walau pahit sekalipun. Maka insyaAllah apapun penyakitnya, semuanya pasti bisa sembuh!
Share

{ 50 comments… read them below or add one }
Pertamax nggak ya…?
:siul
telat nih saya hehehe
Bangunnya kemalaman nih…
:mahongintip
hahaha yang penting dapat pertamax di blog mas agus hehee :cendol
wah kok sult ya dapet pertamax disini…
Mas-mas yang diatas kasih rahasia dong… sepertinya jampi2 saya ga mempan disini.
telat gapapa yang penting pr di kerjain rief
selamat dapat pertamax mas
silahkan di teruskan
mari saya teruskan mas….hehehehe
yuukkkkk………
Komen saya kok nggak muncul ya…
ketangkap satpam wp kali mas…:D di ulangin aja mas. atau submitnya kecepetan.
hehehe…mas agus ini di mana2 kok komennya kena razia terus…
terlalu semangat ya…
ada hantunya kali mas..:D
Ga pake kaca spion mungkin mas
setuju…. :rate
btw, keduax ni yah??
he he he…
mengamankan yang selanjutnya..
aman juragan???:)
wah, analogi yang bagus Mas Fadly .
biasanya jalan keluar itu ada setelah rasa putus asa yang sangat mendalam . Hehehe
Thanks
Imamz
disitu terjadi proses klimaks yang positif mas..
Saya setuju. Penjelasan ini lengkap sekali. Saya tak bisa menambahi lagi… :cendol
alhamdulillah… saya menduga, blog mas khery sudah beres nih? berapa kali mampir, kayaknya masih sibuk utak-atik jeroan yah?
setiap penyakit memang ada obatnya, tinggal kita mo ikhtiar gak mencarinya (ikhtiar=usaha+doa)
bener mas… ikhtiar solusi paling jitu mendobrak kakauan..
kalo verifikasi paypal, dateng ke penjual vcc, bukan ke penjual ebook… betul mas?
bener mas, jangan sebaliknya
Kehidupan ini seimbang y ms.Ada positif pasti ada negtf.Ada masalah ada solusinya(obat).Shg jk ada masalah,tak perlu khwtr.yg pntng brusaha menemukan solusinya.
iya mas. yang bikin wajah kita cemberut, hati kita mengkerut adalah “ketika benturan itu terjadi dan proses kita menemukan solusinya”. tapi ketika itu selesai, senyuman manis, bahkan sedikit mengejek diri sendiri, akan terpancar indah di wajah..
Betul ms, proses menemukannya itu yg tidak mmbuat orang bisa bersabar, krn manusia itu pinginnya hasil dan singkat prosesnya. Padahal kenikmatan hasilnya justru diraih dari sulitnya proses yg dialaminya.
mirip dengan ngejar-ngejar cewek untuk di jadikan pacar. justru semakin sulit merebut hatinya maka semakin bernilai cewek itu di mata kita… (ayo…dulu gimana mas?? )
Kalo sy yang ngejar-ngejar malah ceweknya ms…..
Wajar dikejar ama satpam cewek…. :hope :ngacir2
habis nyolong jemuran sih :ngakak :ngakak
“Cukup” pada keyakinan .. Segala penyakit Insya Allah pasti sembuh! Apapun yang kita dapatkan semua dari Allah agar selalu mengambil hikmah.
ada benernya mas. namun ilmu yakin itu harus di imbangi dengan pengetahuan memadai. jika tidak ia akan menjadi keyakinan semu..
Benar mas keyakinan adalah obat yang paling manjur di dunia ini
Lebih cepat mendeteksi, lebih cepat mengatasi. Kalo udah complicated dokter juga kewalahan
“…iya bener pak. kadang-kadang waktu eksplorasi kesedihan ini terlalu lama. dan bisa bisa menjadi karakter baru..”
analogi yang pas…
kira2 kalo perginya ke dukun gimana ya?
:hammer :hammer
kalau ke dukung, efeknya bakal banyak mas. bisa-bisa masalah bakal nambah..
setuju mas, setiap permasalahan yang ada sebaiknya dikomunikasikan dengan orang yang dapat dipercaya sehingga bisa ditemukan solusi utk menangani masalah tsb. :shakehand2
ya.. ya…
membongkar rasa gundah dengan orang yang tepat, lebih berpotensi untuk pembenahan diri…
yap betul mas fadly,kalau ada masalah pasti ada jalan keluarnya.begitu pula dengan orang yang sakit/punya banyak masalah harus ada obatnya untuk mengatasi masalahnya.
seharusnya begitu sih mas..
perlu waktu dan kepribadian yang terbuka untuk mengatasi masalah yang datang mas
berarti kalau ada yg curhat ama saya, saya diagnosis dulu yah mas? :malu: stelah itu saya coba tuliskan ‘resep’.. kalau belum pulih sruh chek-up
eace:
pasti dong mas ardy
kalau sudah kronis bisa di medical check up supaya ketahuan apa saja penyakit yang di idapnya
yang sulit malah biasanya mendeteksi sumber masalahnya. karena kalau ngga dari sumber awalnya, maka masalah tetap ada alias akarnya masih bisa numbuhin masalah-masalah baru
seruju mas, makanya kita perlu jujur pada diri sendiri. seperti konsep ikhlas erbe sentanu. kita perlu masuk ke jantung pertahanan. memang ini butuh latihan yang cukup..
bagus banget, sesuai apa yang saya butuhkan saat ini. saya pernah ke psikolog sekali, dia bilang saya menderita kecemasan yang tinggi. saat ini saya lebih mendekatkan diri kepada-Nya.
alhamdulillah kalau sudah menemukan solusi yang bisa menentramkan hati…
wakakakaka…..
wah ga tau yah mas. mungkin mereka sudah nungguin sebelum tokonya buka