Kalau di fikir-fikir yah.. kita ini tak lepas dari lingkaran-lingkaran. terkadang siklus kehidupan ini, berkesan monoton. kita hanya berada disitu-situ saja. Walau kesannya, banyak hal yang sudah kita lakukanl. Hal-hal yang mungkin kita anggap sebagai sesuatu yang luar biasa. Tapi kalau difikirkan lebih dalam lagi, pada dasarnya kita hanya berada dalam satu pusaran.
Perhatikan, mulai dari bagun tidur sampai tidur lagi. Kita tak luput dari serangkaian lingkaran aktifitas yang sifatnya ”rutinitas”. Bangun, Beraktifitas, rilex dan akhirnya tertidur karena lelah. Begitu seterusnya.
Hampir seluruh hidup kita ini ”terjerat” dalam satu lingkaran yang pasti. Kita terikat dalam pusaran waktu yang tak mungkin bisa dikendalikan. Semua diluar batas kemampuan manusia.
Dalam aspek yang lebih luas. Sebagai individu, manusia diikat dalam komitmen lingkaran. Mulai berada dari dalam kandungan sang bunda, lahir ke dunia, tumbuh dari masa kanak-kanak sampai dewasa, menikah dan menjalani hidup. Lalu meninggal karena usia tua. Adakah yang mampu menghalau takdir itu? Tentu tidak ada.
Itulah ketentuan waktu yang tak dapat di bantah oleh manusia.
Yang bisa dilakukan hanyalah ”memanfaatkan waktunya”.
Cuma itu saja poinnya. Memang kita tidak bisa lagi membantah, bahwa kita berada dalam lingkaran-lingkaran. baik itu lingkaran kecil, dalam bentuk sebuah aktifitas keseharian, maupun dalam lingkaran besar dalam bentuk proses kehidupan secara utuh.
Kalau anda seorang yang ahli ziarah. Suka mendatangi makam-makam leluhur. Pasti anda tidak asing pada nisan-nisan yang terlihat disana.
Setiap nisan terpampang tulisan jelas disitu, lahir pada tanggal berapa, bulan dan tahun berapa – meninggal pada tanggal bulan tahun berapa pula..
Perhatikan tanda garis (-) itulah jangka waktu yang dimiliki pemilik nisan. Cuma sebatas garis itu saja. Apa maknanya? akan dijawab dengan pertanyaan cantik, berikut ini
”Seberapa dan apa saja yang sudah kita lakukan untuk mengisi garis tipis itu?”
Seorang yang biasa-biasa saja, tentu ”garis tipis” itu tak akan terisi oleh sesuatu yang bermakna. Tapi tidak bagi orang hebat. Itulah makna lingkaran hidup yang perlu kita isi. Dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Di gempur dengan aktifitas progresif yang syukur-syukur bisa menciptakan superioritas kita sebagai manusia yang utuh, berguna dan bermanfaat.
Paling tidak ada sesuatu yang kita perbuat yang bisa dikenang kemudian.ada upaya mengisi lingkaran itu..
Jadi kembali lagi, ”kalau difikir-fikir”, hidup kita ini kecil sekali, pendek dan tipis. Jika kita terlena dan malas membangun kualitas, tidak ada upaya menciptakan suasana hidup yang, yah paling tidak bisa bermanfaat alias tidak sia-sialah
Artikelnya serem banget, identik dengan kematiankah? Bukan. Ini adalah upaya untuk mengajak. bahwa banyak sekali hal-hal yang bisa kita lakukan. Ada banyak ”tantangan menyenangkan” yang perlu kita hadapi. daripada hanya sekedar meratap, mengeluh atau menyudutkan pihak lain.
kita perlu melakukan sesuatu!
Semoga tulisan ini bisa sedikit menyentuh ruang kosong dihati anda.

{ 73 comments… read them below or add one }
Pertamaxxx dolo
Seperti yang selalu lia tekankan dalam diri lia.. Hidup ini singkat….diwaktu dulu masa pernah terbuang begitu saja… namun Dia yg diatas memberikan pelajaran melalui peristiwa2 … Mengapa kita tidak berpikir akan hikmahnya ? dalam hidup sepersekian detik pasti ada perubahan dlm dunia ini.. mengapa kita harus diam ditempat ?…
Jadi ketika kita merasa hidup ini monoton keluar dari zona itu…
Ketika hati kosong ingatlah.. bahwa kosong itu bermula dari isi (maksudnya apa ya lia? ) yahhh begitulah kata petuah orang dulu…..heheheheh…..
nah, kayaknya ilmu Lia mulai di keluarin nih. mantap deh.
“sepersekian detik pasti ada perubahan” penggalan kalimat lia itu apa ada yg percaya? Saya percaya!
hanya kita sebagai manusia tidak bisa merasakan secara langsung perubahan itu. tau-tau umur sudah tua aja.
makasih lia, komen kali ini dalam banggett…
masih angat lia. baru turun dari oven 3 menit lalu sudah disantap
Hidup hanya sekali, maka hiduplah yang berarti.
Salam kenal mas fadly ..
sepakat
salam kenal juga yah Mbak Mita
saya masih mencari makna dan tambahan-tambahannya dalam hidup saya mas, masih panjang, baru mulai
mudah-mudahan ketemu makna hidupnya Maksum
tapi kita tidak tau loh yg dimaksud “masih panjang itu” panjang apa yah…?
panjang? apanya yang panjang mas? parahhhhhhhhhhhhh
makanya saya tanya, apanya yang panjang? persepsinya di lurukan yah.. he he he
mas Maksumm masih 20 tahun, masih ABG. dengan melibatkan diri dalam lingkungan para pemikir seperti mas Fadly, setidaknya telah membudayakan berpikir kritis dan nggak kekanak-kanakan.
lebih baik mulai dari sekarang mas, jadi nanti bisa enak, umur 30 bisa pasif income kan enak banget tuh, hehe. saya beruntung bisa kenal dengan mas fadly dan mas agus, bisa banyak belajar dari kalian berdua
nah, saya menyesal telah banyak melalui masa remaja dengan fikiran yang kekanak2an mas. andai saja, saya mulai menulis sejak “dulu” mungkin tulisan2 bisa lebih dahsyat.. (saya senang kalau mas agus memberi sentuhan komen yg begini)
Gak ada yang perlu disesali pak mengenai masa muda yang kekanak2an.. krn lebih baik dari pada tua kekanak2an heheh…
garis tipsi tanda (-)… bikin saya tambah bingung saja mas…
apanya yg dibingungkan mas?
mungkn perlu skrinsut mas… hehehehehe…
ketemuan sm mashengky punya makna khusus gan? atau biasa aja?
tentu dong gan.
MH itu kharismatik, punya kepercayaan diri yg tinggi. (ehmm..ehm…)
yg lebih penting, saya dapat sahabat baru yg berorientasi progresif. karakter itu saya dapat dari MH.Ting!
ibarat BBM, mashengky tuh pertamax plus plus ya mas? wakakakakak…
wakakak…. gw suka gaya narsis lo
jiaakakakakak…. boleh lah sekali2 di blog FM..
kadang-kadang perlu juga membuat lingkaran ini bagaikan radar yang bisa terbaca setiap waktu oleh kita. KIta bisa mendeteksi sudah sejauh mana kehidupan ini dijalankan dan diseimbangkan.
saya rasa juga begitu mas Aas, sekarang radarnya ini yg harus kita siapkan supaya bisa mendeteksi gejala-gejala itu..
ada usul mendeeksi gejalanya mas Aas?
deteksinya sangat sederhana dgn panca indera dan hati kita. Buat jadual rutin mau mingguan atau bulanan utk evaluasi faktor2 kunci sukses kita
Hehehe…. nggak serem juga Mas
Nasihat untuk mengingat kematian memang merupakan salah satu jamu untuk dapat meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik. Ini juga merupakan nasihat dari salah seorang dari al khulafa ar rasyidun.
Melalui artikel ini, Mas fadly telah mewujudkan salah satu pesan dari surat Al ‘Asr “tawasau bi al haq wa tawasau bi ash shabr” agar kita tidak tervonis menjadi “al insan al khusr”
setiap kali mas erdien memberi komentar dan menyelipkan ayat2.. saya selalu merinding dan tak bisa berkata apa-apa lagi.
trims atas tambahan ayat yg sangat membantu ini mas..
istilahnya speechlessya mas? hemmmm apalagi dengan bahasa sundanya…bisa puyeng heee
puyeng 7 keliling
kayak ‘Lembaran Kosong’ di tempatku dulu
maknanya mirip mas.
hanya kita tak mungkin lagi mengkosongkan memory. yg diperlukan adalah menambah software atau plugin yang cocok untuk membantu mengisi lembaran berikutnya.. setuju tidak?
setuju deh bang, daripada gak boleh main kesini lagi
wahahaha…
saya ga suka pasang ranjau kok mas
‘garis tipis’ nya bikin ngeri
jadi ingat betapa banyak waktu terbuang sia2
ternyata, hidup ini tipis yah mas..
asal jangan badan kita yg tipis
nah kalo itu sih karena kurang makan
atau jangan2 malah cacingan
atau mengidap penyakit gizi buruk
jangan kalah sama pohon pisang, meski dibabat tetap terus tumbuh sebelum berbuah.
kalau mau serem2an, ada lagi dari Chairil Anwar : sekali berarti, sudah itu mati. Kasarnya, jangan mati sebelum menggoreskan arti, atau rela mati asalkan telah menggoreskan arti.
disini kita harus mengakui kalimat Tuhan, apapun yg diciptakanNya tak ada yang sia-sia. semua mengandung manfaat dan makna pembelajaran yang sangat renyah.
kalau karya Chairil Anwar, memang mantap disandingkan dengan maksud artikel ini pak.. (saya tidak kefikiran untuk masukin ke tulisan ini)
begitu banyak yang kita lalui dalam hidup, tapi ketika akhir kehidupan…
……, tinggal menanti apa yg akan dibalaskan dengan perbuatan kita sebelumnya. (udah disambungin tuh neng..)
selama itu ya bernafas gak putus2.
maksunya? tambahin dong komennya…
kalaupun ini artikel tentang kematian, menurut saya tidak apa2..toh manusia emang butuh dingetin tenyang kematian…garis tipis yang akan menentukan dimana kita berada selanjutnya…dalam banget Mas nasehatnya….
Mas Agung…
saya sebenarnya agag kurang enak hati kalau ini dikatakan nasihat. kesannya saya gimana gitu..:D
tapi saya setuju bahwa garis tipis itu perlu kita perhatikan dengan menjaga kualitas isi yang konstruktif terhadap pribadi kita..
tulisan khas FM. memainkan imajinasi pembaca. sepertinya mas Fadly mulai semangat lagi nih. hehehe…
cuma mau nambahin mas. untuk itulah perlu adanya tanggungjawab pribadi dalam ngeblog. jangan sampai tulisan kita membawa bad effect pada pembaca. sedapat mungkin kita selipkan nilai-nilai sosial dan religi sebagai investasi di akherat kelak.
pertama, mas Agus ini paling cermat melihat gejala. blogger moderat pun dari sampean. sekarang saya disematkan sebagai blogger imajiinatif. wuih.. rasanya gimana gitu mas ….
Kedua, dalam konteks blogging. saya rasa saya sependapat mas. kita perlu memberikan pendapat yg bersifat mendorong “kebaikan”..
ahh…tulisan ini sudah menyentuh hati saya dan cukup mengobati kekosongan yang belakangan hari ini bertanya-tanya resah “hari demi hari berlalu, apa yang udah gue lakuin ya…”
semoga hari-hari yang kita lalui sudah bermanfaat dan memberi manfaat. Thanx mas Fadly.
syukurlah jika tulisan ini mampu mengisi ruang hati mas Abdoorahman yang masih lowong…
makasih juga mas
Hidup ini memang cuma sebentar..’ibarate urip iki mung mampir ngombe’ (Ibaratnya hidup ini cuma mampir minum).
Di depan masih panjang yg harus dilalui.
Dalam waktu yg sebentar itulah, hanya orang2 yg benar2 memfaatkan dgn baik waktunya yang akan dapat melenggang dengan aman untuk menapaki perjalanan berikutnya.
Skrg tinggal di diri kita sendiri pilihannya. Mau cuma sedekar mampir aja atau lebih dari itu.
kalau direnungi lebih dalam, memang begitu pada akhrinya mas udin. makanya bersyukurlah kita jika bisa memikirkan itu. jadi lebih mudah bersyukur, senang berbagi, dan sebagainya..
Bagi saya ini muhasabah mas Fadly, tapi disampaikan dari sudut yang berbeda mengenai sebentarnya hidup ini.
Jika masih ada waktu untuk menggapai keinginan kita lakukan itu. Karena tidak ada kata terlambat untuk memulai.
saya juga ga tau, tiba2 saja ide ini muncul. dan saya fikir2 memang begitulah adanya. jika kita sadari, ternyata hidup ini memang hanya sesaat.. maka itu mengisi dengan hal2 baik adalah suatu keharusan
ga serem kog,,,kelahiran n kematian adlh suatu keniscayaan,,tabirnya adalah waktu. Sy jd berpikir,(-) untuk sy udh brp (.) yah? Ketika sempurna (-) nya, maka sampailah di akhir dunia…Lalu apa setiap (.) pny makna..hehehe,ini bkn artikel ttg tandabaca yah..
banyak hal yg belum terisi bun, itu yang jelas. tapi setidaknya apa yg ingin kita isi, itulah yang perlu disiapkan..
saya langsung bangkit dari “kubur” mas , >> kubur kemalasan. abis baca ini
ya mas kadang iman naek turun, bikin stabilnya penuh perjuangan..baru terasa memang saat kita kehilangan yang berharga dan kita tidak sempat memmberikan yang terbaik untuknya dan (-) langsung nampak jelas banget…deh
kalau bicara ke arah situ, kita jadi banyak mikir yah mas..
senang rasanya kalau bisa berdampak positif tulisan saya..
kalau digaris tipis itu belum mengenal kenyataanNya ya rugi
masih mati dalam hidup. belum menemukan makna,selalu online
denganNya . (nyuwun pangapunten)
iya, bener itu adalah kerugian yang nyata tapi sulit dirasakan oleh anusia biasa yg enggan berbenah diri.. sip deh
apalgi kita gak tau kapan waktu untuk kita di dunia ini habis, bener gak mas?
rugi rasanya kalo gak memanfaatkan waktu yg singkat ini untk nglakuin hal2 yg bermanfaat dan lebih menantang…
pencerahan yg ngena buat saya mas fadly
bener sekali mas ardy
sudah selayaknyalah kita memanfaatkan dengan sebaik2nya waktu ini.. (haiaya.. kok aku ceramah sih)
dimana letak lingkarannya: lahir, kanak-kanak, remaja, dewasa, tua, mati?
…, lalu dihidupkan kembali..
tapi tidak bisa mengartikannya secara harafiah sih..
kita bisa melihat lingkaran dengan perspektif yang lebih luwes..
maaf mohon bimbingannya, maksudnya “dengan perspektif yang lebih luwes” tu perspektif yang bagaimana? apakah dari sudut pandang agama ataukah sains (elemen-elemen penyusun tubuh kita menjadi elemen penyusun tubuh makhlukhidup baru)?
Seperti biasa, kali ini tulisan mas Fadly sangat memancing imajinasi pembaca. Lingkaran makna kehidupan ya fokus bahasannya. Saya jadi teringat, bahwa manusia yang paling mulia di muka bumi ini yaitu manusia yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Jadi pada hakikatnya, hidup ini yaitu untuk berbagi manfaat. Sungguh beruntunglah mereka yang semasa hidupnya menjadi berkah bagi lingkungannya.
substansinya memang begitu mas. manusia itu sebaiknya berguna bagi orang lain..
sebenarnya tidak niat untuk membuatpembaca melayang, tapi kalau seperti itu tanggapannya, saya senang-senang saja. jadi kita bisa menggali nilai-nilai lain.
Setuju mas. Oya, mohon maaf nih. Blog saya belakangan suka gak bisa dibuka. Servernya lagi bermasalah dan sedang ditangani pihak provider hosting.
Mengisi ruang kosong dihati ? Mas Fadly kok tega sih mengisi ruang kosong hati yang sudah sumpek begini ? Giliran mas…antriii gitu loh.
Mas Fadly…, adakah yang lebih nikmat dari menikmati keadaan yang terjadi itu sendiri ?
Memang hidup ini hanya 24 jam, berputar disitu-situ saja. Diartikel sudah jelas makna yang tersurat dan tersirat. Menjadi yang berguna buat diri dan orang lain.
Menjadi berguna buat orang kan tidak harus menjadi SBY ? menjadi seorang aldy yang iklas menafkahi keluarga dengan segala kenaifan dan keluguanya, keluarga bahagia, tetangga kiri kanan seperti saudara, ketemu manager fadlymuin.com diblog, berbagi pengalaman dan seterusnya…, masih nggak nikmat juga ? Masih mengeluh juga ? ach…masuk parit saja sekalian kalau begitu.
(*maaf neh, habis bergabung dengan orang hutan…*)
Tampaknya, abang sedang dalam perenungan yang dalam beberapa waktu terakhir ini. Tentu saja ini hanya dugaan saya saja.
Tapi, apa yang abang uraikan tampaknya mulai mengarah kepada apa yang pernah diucapkan Umar Bin Khatab beberapa ratus tahun yang lalu, “Hitunglah umur dan amalmu…”.
Terus terang, apa yang abang harapkan di akhir tulisan ini telah menyentuh ruang kosong di hati saya.
Dan, di lain sisi, saya juga terinspirasi oleh apa yang pernah dikatakan George Soros, “Saya lebih senang menjadi legenda pada saat saya hidup daripada setelahnya”. Tentu saja implementasi dari ucapan itu mesti disinkronkan pula dengan nilai agama yang kita anut. Dan, itu bagi saya cukup sulit…
assalmu’alaikum. mungkin saya baru disini, tetapi saya ingin mengerti arti hidup yang sebenar- benarnya, saya selalu hidup dalam kebingungan ketika saya harus melakukan sesuatu. apakahyang saya lakukan ini benar atau memang hanya membuang-buang waktu saja. kadang saya merasa hidup ini hampa, meskipun saya berada bersama teman, keluarga. saya senang jalan-jalan dan hobi mendaki gunung. ini karna saya ingin menemukan siapa saya yang sebenarnya. saya juga seorang mahasiswa, yang ikut organisasi, dan membentuk organisasi, apakah memang yang saya jalaniini menuakan kebaikan atau yang saya jalani hanya perbuatan yang sia-sia saja.
sekali-kali tengoklah rumah kusutku yang tak terurus sobat.
kusut kenapa sobat?
Kitalah yang harus memberi sentuhan khusus agar warna kehidupan kita berlain-lainan dan tak monoton kak.
salam manis dari Batam