Keheningan Untuk Pembenahan

by Fadly Muin on August 25, 2010

Dalam salah satu bukunya, “Bumi Manusia”. Pramoedya Ananta Toer mengungkapkan kegelisahaannya tentang manusia.

Tokoh sekelas Pram, pada masa ia berkarya, masih didominasi oleh masa kolonial, serta masa kemerdekaan, dengan dua periode selanjutnya, orla dan orba, tentu pemikirannya sangat dipengaruhi oleh kondisis saat itu.

Bahkan luka bathin yang membuatnya bergejolak, sehingga bisa melahirkan banyak karya yang sangat dalam mengungkap, sisi kehidupan. Banyak menitikberatkan, betapa manusia ini begitu rumit, kompleks dan liar.

Tapi.., membawa pikiran ke arah sana dan ikut-ikutan merumitkan diri, bukanlah pekerjaan yang mudah. Juga bukan pekerjaan menyenangkan untuk sebagian orang.

Banyak orang stress dibuatnya.

Puncaknya, kita bisa saling berdebat. Bahkan termotivasi untuk membuat satu “Landasan Tunggal”, tentang bagaimana sebaiknya kita bersikap, berhubungan dan duduk dalam satu periode kehidupan yang ideal.

Dan pekerjaan untuk mencapai itu bukannya sia-sia, tapi hampir tidak mungkin. Sebab, gagasan-gagasan baru akan terus tumbuh, terus berputar, semakin rumit, njelimet, bahkan bisa membawa kita makin jauh dari asal muasalnya.

Hal yang paling mudah sebenarnya: “mengendapkan pikiran, menenangkannya”.

Gampangnya lagi, ibarat kopi, perlu ditenangkan supaya kita tidak perlu meminum ampasnya yang pahit itu. Teh sedu, diamkan terlebih dahulu, supaya bubuk-bubuk halus bisa berada di bagian dasarnya, agar kita bisa meminumnya dengan nikmat.

Air jernih jauh lebih menyenangkan dibandingkan kita melihat air yang keruh.

Manusia, perlu ruang untuk menenangkan diri, menyerap kehidupan dengan kejernihan pikiran.

Apa dengan begitu akan membawa kita ke pintu sukses? Kita bisa serta merta berbisnis dengan mudah, lancar dan kaya raya? Atau kita bisa mendapatkan pekerjaan yang ideal, jenjang karir kita terjamin dan sebagainya?

Saya kira, ini tentang ketenangan bathin. Semakin tenang kita, maka fokus yang kita rasakanpun semakin jelas. Rasa suka dan rasa senang, pada akhirnya akan memiliki batas yang jelas.

Semakin kita mampu merasakan itu, maka semakin mudah kita memilih. Pengaruh atau provokasi kehidupan, getarannya semakin mudah terdeteksi. Tentu hal ini akan membantu kita membuat keputusan-keputusan penting dalam hidup ini.

Cobalah kita renungkan, kapan terakhir kita merasa menyesal dengan apa yg sudah kita lakukan? Saya yakin hal itu bukan karena akibatnya. Tapi lebih kepada pembuatan keputusan yang tidak didasari oleh hasrat murni, yang lahir dari jiwa yang tenang.

Istilah romantisnya sih,

bukan perpisahan yang kutangisi, tapi pertemuanlah yang kusesali.. (melankoli banget deh )

Nah, bukan maksud hati untuk mengernyitkan kening anda yang tiba-tiba membahas soal manusia yang rumit.

Tapi ini gejolak bathin yang saya rasakan. Bahwa penting sebenarnya kita memiliki ruang keheningan. Disitu kita bisa jujur pada diri sendiri, refresh, dan merasakan dorongan apa yang kita inginkan.

Kalau saya tidak salah, ilmu tentang hypnotherapy juga mengajarkan tentang keheningan, sebagai syarat untuk lebih konsentrasi, fokus sehingga bisa melihat apa yang ingin dilakukan.

Seorang ahli terapi tentu perlu berkonsetrasi untuk bisa melakukan pekerjaannya. “mempengaruhi pikiran orang lain”. Menyentuh alam bawah sadarnya, dan seterusnya.

Hmmm..,

Sekian dulu renungan malam ini..,

semoga wahana baru semakin terlihat oleh kita..

{ 34 comments… read them below or add one }

Maksum Priangga August 25, 2010 at 01:46

Ketenangan dibutuhkan untuk berfikir mas, tapi jangan terlalu larut dengan ketenangan dan kenyamanan, sebenarnya untuk sukses tidak mengenal alasan apapun, mau ga tenang, mau banyak masalah, bahkan kadang tekanan yang menciptakan motivasi

Reply

fadlymuin August 26, 2010 at 09:06

betul sih,,
kalau sudah kebelet, dalam kondisi apapun biasanya dipaksain untuk bisa cukcec :D ..

ketenangan, adalah situasi yang kondusif untuk kita lebih plong mengambil langkah. itu saja sebenarnya maks :)

Reply

Farid WN August 25, 2010 at 02:00

Seperti pepatah negeri antah berantah mas, “hanya di air yang tenang kita bisa bercermin”..

Reply

fadlymuin August 26, 2010 at 09:07

masih lengket di alam bawah sadar saya pepatah itu mas.. cucok dengan pembahasan kali ini.. tks yah

Reply

Khery Sudeska August 25, 2010 at 02:20

Berbicara soal Tetralogi Buru-nya Pram, tak lepas dari bicara soal idealisme; untuk fungsi apa manusia ini hadir di muka bumi. Sekadar berkembang biak dengan peternakan manusia kah? Lalu kemudian mencari jalan nyaman dalam proses itu untuk sekadar melanjutkan “ritual peternakan” itu. Atau, justru ada fungsi kemanusiaan lain yang menjadi alasan mengapa manusia harus hadir di muka bumi.

Pram, mencoba menemukan jawabannya sendiri. Dalam proses pencarian itu ia kemudian, mau tak mau, dipengaruhi oleh dinamika yang berkembang saat itu. Persfektifnya terpaksa harus dipengaruhi oleh Marxisme yang saat itu sedang booming2nya. Walau, di lain tulisan, ia tak mengakui bahwa ia menganut paham itu. Ia dengan lantang berkata, “Saya bukan seorang Marxis, saya seorang Pramis”.

Apapun itu, yang jelas, Pram ingin mencari dan menemukan jawaban. Sayangnya, ia akhirnya lebih terjebak pada “cara” ketimbang “tujuan”. Lazimnya seorang yang terjebak kepada “cara” ini cenderung kaku dan tidak fleksibel dalam merespon gejala perkembangan kekinian. Itulah yang kemudian membuat ia menjadi unsur lain dari sebuah arus perkembangan dunia kekinian. Karena ia teguh atas apa yang ia yakini, entah itu didorong oleh ego atau justru karena keyakinan yang tak bisa digoyahkan lagi, namun itu pulalah yang kemudian menjadikan dia sosok yang unik dalam perkembangan ke-Indonesia-an berikutnya.

Saya tidak menutup diri, perjalanan batin seorang Pram sangat banyak hikmahnya untuk dipetik dan diambil pelajaran oleh generasi Indonesia selanjutnya. Cuma, saya ingin kita lebih dinamis selanjutnya, bahwa sebuah perjuangan tidak harus selalu terjebak pada masalah “cara”. Kita seharusnya lebih menitikberatkan perjuangan itu kepada “tujuan”. Meskipun kemudian, bukan berarti kita juga harus menghalalkan segala “cara”, sebab itu juga dilarang oleh agama. Namun, setidaknya, “cara” itu harus lebih fleksibel terhadap perkembangan zaman, dengan tetap berlandaskan prinsip2 luhur agama. Saya kira, Tuhan juga menyuruh kita demikian. Ini terbukti dengan berbedanya jenis2 mukjizat para Nabi. Karena mukjizat itu adalah salah satu “alat” untuk merespon perkembangan manusia pada zamannya.

**Waw, saya jadi ikut larut oleh renungan ini. Walau arahnya (mungkin) tak terlalu bersesuaian dengan maksud tulisan ini… :D

Reply

Khalid Abdullah August 25, 2010 at 05:13

mungkin mas Pram yang akhirnya terkungkung dengan “cara” daripada “tujuan”, yang saya tangkap adalah akhirnya mas Pram malah sibuk memikirkan atau tenggelam dengan kerumitan berfikirnya sendiri, yang jadi melupakan esensi ya mas ?

Reply

fadlymuin August 26, 2010 at 09:10

hmm..,
mas Khery, saya butuh energi lebih besar untuk menanggapi komentar kali ini.

Jujur saja, kali ini pembahasa melebar ke soal, idealisme pram. padahal saya cuma mau ambil sudut pandang yg kecil saja.. (its ok)

saya anggap pikiran ini sebagai pelengkap pembahasan sekaligus kekayaan pengetahuan yang bisa saling melengkapi.

jadi saya anggap cukup..
makasih mas Khery

Reply

Khery Sudeska August 26, 2010 at 12:40

Iya, Bang. Mohon maaf. Kemarin komentarnya kelewat semangat, sehingga lupa kalo keluar track:D

Reply

aldy August 27, 2010 at 16:35

Untung ndak jatuh dari motor balapnya :D

Reply

Khery Sudeska August 29, 2010 at 17:06

Iya, padahal baru aja sembuh dari cidera nih… ;)

Erdien August 25, 2010 at 05:19

Keheningan: Ya, sebuah keadaan yang dapat mengantarkan kita pada kondisi netral. Saat seperti itu kita memiliki kesempatan untuk membuat keputusan yang lebih bijak.

Reply

fadlymuin August 26, 2010 at 09:11

masalahnya, ketenangan itupun butuh moment yang pas. salah satu caranya, menyediakan waktu untuk itu. iya ngga mas?

Reply

mh August 25, 2010 at 05:48

belajar hipnotis yuk mas.. saya udah certified nih

Reply

hakkyrohman August 25, 2010 at 13:46

hebat nih agan mh ntar bisa saingan sama uya kuya..hiihiihii

Reply

mh August 26, 2010 at 06:18

jiakakakakak…. kalo liat cewek, tidur! hahahaha

Reply

fadlymuin August 26, 2010 at 09:13

tunggu aja tanggal mainnya…

Reply

fadlymuin August 26, 2010 at 09:12

boleh mas, nti ajarin yah.. :)

Reply

T. Wahyudi August 29, 2010 at 11:38

pingin ikut juga dong…. he….

Reply

candradot.com August 29, 2010 at 23:59

mau hipnotis siapa mas?

Reply

hakkyrohman August 25, 2010 at 13:49

Setuju mas, dengan pikiran tenang jiwapun juga ikut tenang, Klo pikiran gak tenang bawaannya gelisah terus. Mantap!

Reply

fadlymuin August 26, 2010 at 09:14

kegeilsahaan itulah yang membuat banyak gejolak yang amburadul. akibatnya kita bisa saling berantem, hanya karena kita tidak berusaha memahami diri sendiri, lewat rasa tenang itu..

mantap mas Rohman..

Reply

Arief Rizky Ramadhan August 25, 2010 at 19:42

betul mas.. memang kalau hati kita tenang maka fokuspun datang..

saya sudah merasakan dari pengalaman bertempur di game online saat mengikuti kompetisi yang di adakan warnet langganan saya… saat tim saya tenang pasti fokus sesuai dengan strategi yang sudah di buat.. tapi kalau sudah ada tekanan misalkan skor sudah jauh berbeda strategi itu kacau balau dan tim malah menonjolkan individualismenya..

stay cool and keep focus :D

Reply

fadlymuin August 26, 2010 at 09:15

jiwa pemenang akan selalu bersikap tenang. mantap deh arief

Reply

Arief Rizky Ramadhan August 26, 2010 at 19:11

betul mas.. biasanya pemenang itu orangnya tenang gak tegang…

beberapa waktu lalu saya diajak ikut OSN IPS tingkat kabupaten entah ada angin apa saya tiba-tiba di ajak olimpiade IPS begini hehehe tapi karena saya tenang dan tetap fokus ya akhirnya dapat peringkat 16 se kabupaten hehehe.. itupun belum didukung belajar extra dan motivasi kuat untuk bergelut di OSN ini hingga tingkat nasional hehehe

Reply

Novianto Syahmud August 26, 2010 at 10:23

Saya sendiri butuh menenangkan diri dulu sebelum bisa mencerna tulisan ini..

Saya cenderung berpikir bahwa biasany kita lebih sering terganggu dengan lingkungan yang malah mempengaruhi untuk berpikir jernih.Butuh meluangkan waktu untuk menjelajah isi pikira dan mengatur hal-hal yang tak beraturan didalamnya.

dan saya selalu harus dipaksa berpikir lain ketika kesini, terima kasih mas :D

Reply

Udin Hamd | Blogger 2 Inchi August 27, 2010 at 06:02

Ma’af OOT.
Ada award dari saya Bang. Silahkan di cek.
Trims

Reply

mh August 27, 2010 at 19:29

lama gak nulis gan? perlu belajar jadi blogger 5 menit ya?

Reply

Alfred August 28, 2010 at 22:28

Dalam hening dan ketenangan kita bisa mendengarkan suara batin kita dengan lebih seksama, sehingga kita bisa introspeksi diri untuk selanjutnya melakukan pembenahan diri.^_^b

bravo mas fadly^_^b

Reply

aldy August 29, 2010 at 01:57

Tidak semua orang sanggup membenamkan diri dalam keheningan untuk melakukan pembenahan. Bagi yang tidak mampu, bukan pembenahan yang didapat, tetapi justru tenggelam semakin dalam.

Reply

Satria Yudha August 29, 2010 at 18:27

waah.. ini mantap buat dijadikan renungan.. :D

Reply

candradot.com August 30, 2010 at 00:00

ini keknya koleksi bukunya berat berat neh

Reply

POOSOFT-Tips Dan Trik Komputer August 30, 2010 at 16:40

Wah Berat nih

Reply

Agus Siswoyo August 31, 2010 at 16:02

Kalimat yang tertulis benar-benar mengusik sisi terdalam jiwa saya. Beginikah sosok FM kalau lagi melow? Hehehe…

Reply

bundadontworry September 1, 2010 at 21:20

ada istilah yang dinamakan dengan ‘me time’ dimana pada dasarnya kita menikmati kesendirian waktu kita, utk kembali lagi nanti dgn gagasan2 baru yang lebih baik dari sebelumnya.
dan, memang ‘me time’ ini perlu utk kembali menemukan irama baru dlm kehidupan,tentunya yang bersifat positif
salam

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: