Human Interest

by Fadly Muin on August 11, 2010

Kali ini, saya sekedar ingin  berbagi cerita saja..

Di pasar induk kramat jati Jakarta, seorang nenek berusia 90 tahun masih menjalani profesi sebagai pemungut bawang yang berjatuhan di lantai pasar. Lantai yang saya maksud tentu saja, lantai tanah, sedikit becek dan kotor.

Ada juga nenek berusia 70 tahun, yang sama menjalani profesi sebagai pemungut, tapi nenek yang satu ini mengambil divisi sayur buangan. Sayur kol yang sudah rusak, di kupas bagian luarnya, sampai menemukan bagian yang bagus, yang biasanya bisa dijual kembali.

Satu lagi, pemungut beras. Usianya tergolong lebih muda dari 2 nenek sebelumnya. Usianya 52 tahun. Ia menjalani profesi sebagai pemungut beras. Ruang kerjanya sama. Pasar induk kramat jati, Jakarta. hasil pungutannya di saring kembali, dibersihkan dari batu-batu kecil, pasir dan tanah. Kemudian di jual kepada pengusaha ternak. Hasilnya lumayan. Sekitar 2.500/ liternya.

Data tersebut di atas, saya dapat dari Koran pos kota, terbitan tanggal 11 agustus 2010. Hari ini saya memang membeli Koran sekitar 5 jenis Koran. Lagi error, maklum!

***

Sebelumnya, saya pun melakukan observasi tak terencana. Saya mengunjungi pasar rebo. Sehari sebelum puasa. Saya mencari posisi wenak, untuk duduk-duduk sambil minum yang dingin-dingin. Walau saat itu kondisi saya sedang flu, hidung tersumbat. Tapi bandel dikit saya rasa tidak akan fatal.

Saya dapat tempat eksekutif. Penjual sop buah, lokasinya lumayan strategis. Ada kursi plastic kotak tanpa meja. Dari situ saya bisa mengawasi lalu lalang kendaraan roda empat dan dua.persis didepan saya, yang memang ada ruas jalan berbeton selebar 4 meteran.

Dari situ pula saya bisa mengawasi deretan warung-warung penjajah buah-buahan, yang diselingi satu dua penjual mainan anak. Lewat pengemis, buruh pengangkut barang, kakek yang sudah tua dan hanya bisa melangkah dengan sangat pelan. Selangkahnya hanya mampu menempuh kira-kira 30 cm. ditangannya terlihat memegang amplop yang didalamnya ada symbol PT.POS. saya menduga dia akan mengambil pensiunnya.

Sambil duduk disitu, saya ngobrol sama penjual sop buah itu. Yang saya dapat, informasinya bahwa dia memiliki istri yang dua kali mengalami pendarahan di bulan kedua kehamilan anaknya. Saya ketahui, biaya yang dikeluarkan cukup besar. Apalagi untuk ukuran penjual sop buah.

Dari mulutnya berbunyi sebuah pengakuan, “tidak sanggup pak” biayanya terlalu mahal bolak balik rumah sakit. Saya tersenyum ala kadarnya, untuk  menunjukan rasa empati saya.

Malamnya saya mencari suasana lain. Saya ketemu warung, yang kalau anda ke jogja, warung dengan sajian nasi kucing umum anda kenal. Nah ini sejenis warung seperti itu juga. Hanya saja menunya makanan lebih berat-berat. Dan yang pasti nasinya bukan nasi kucing, tapi nasi manusia. Porsinya jauh lebih banyak.

Kembali saya melakukan obrolan kecil. Tapi kali ini saya tidak berhasil menyerap banyak informasi. Namun yang pasti, mereka 2 perempuan, tinggal di rumah kontrakan. Mereka berjualan setiap malam. Waktu itu jam delapanan malam deh, sampai sahur rencana mereka.

Kunjungan kedua ini memang terasa kurang berkesan. Dibandingkan dengan kunjungan pertama di daerah pasar rebo.

Walau begitu, saya berhasil mengisi ruang kosong di jiwa saya, tentang realitas disekitar yang bisa membangkitkan “human interest” saya.

Sering kita mendengar kasus kemiskinan dan respon dalam wacana public. Bahwa kemiskinan bisa saja terjadi karena ulah pemerintah yang bal..bla.. atau itu juga karena ulah si miskin yang malas, karena bla..bla..

Masing-masing respon memiliki argumentasi dan pendapat yang tidak bisa disepelekan. Sebab semua itu diungkapkan oleh kebanyakan orang-orang yang pintar dan memiliki latar belakang ekonomi yang memadai.

Tapi coba saja, sesekali kita duduk-duduk dipasar, terminal, atau ruang-ruang public yang mayoritas pelaku ekonominya bisa kita ajak bicara. Tentu rasanya akan berbeda. dan pendapat tentang mereka juga bisa berbeda.

Membangkitkan human interest tidak bisa hanya dengan membaca berita dari Koran. Tapi sesekali perlu turun dan menyimak dengan menggunakan kekuatan panca indera kita.

Bagaimana dengan anda? Siap mengisi Ramadhan dengan jiwa yang empati?

{ 52 comments… read them below or add one }

suarakelana berbisik August 12, 2010 at 02:43

yang seperti itu banyak berseliweran di sekitar kita, sering tertangkap mata tapi kadangkala saja tertangkap rasa.
Bulan Ramadhan ini saat yg tepat untuk melatih kembali kepekaan kita.

Reply

fadlymuin August 12, 2010 at 09:08

iya, sudah tumpah bahkan. pilihan ada pada diri masing-masing pak. namun yang jelas, semuanya berdampak pada penggugahan gejolak bathin.. tinggal mau diteruskan atau di endapkan..

Reply

Blog Dofollow August 14, 2010 at 12:24

memang dari mata, akan turun ke hati ya mas… tapi kadang berhenti ditengah jalan, hanya sampai ampela saja :)

Reply

Erdien August 12, 2010 at 04:49

Alhamdulillah…
Mas Fadly masih berkesempatan untuk melakukan itu.
Sementara yang lain jangankan untuk sengaja melatih kepekaan sosial seperti itu, yang seharusnya diperhatikan pun sengaja diabaikan.
==
Saya sendiri saat ini kesempatan seperti itu belum saya peroleh Mas. Senin sampai Sabtu, pagi ampe sore bahkan ampe malam di kerjaan. Ahad dipake pulang kampung. Hati ini makin “membatu” rasanya, setiap saat ditindih dengan beban duniawi, tak ada kepedulian terhadap sekitar. Astagfirullah!

Reply

fadlymuin August 12, 2010 at 09:10

nikmati saja kang :)
tidak perlu dicari dengan sengaja. cukup menajamkan mata bathin saja kok. melihat sekitar yang kita lalui, saya rasa sudah cukup..

Reply

Cerita Suka-Suka August 12, 2010 at 04:52

Mohon izin untuk ikut mengintip inspirasi untuk melatih diri di sini :)
Ramadhan Mubarak!

Reply

fadlymuin August 12, 2010 at 09:11

silahkan, semoga ada manfaatnya

Reply

Online Business Story August 14, 2010 at 12:22

ikutan izin mas… hehe

Reply

Asop August 12, 2010 at 05:04

Saya hanya bisa katakan lewatilah bulan Ramadhan tahun ini dengan sebaik-baiknya. :D

Reply

fadlymuin August 12, 2010 at 09:11

sip.. makasih :)

Reply

mh August 12, 2010 at 06:24

apapun moment nya, tidak bisa mengubah ritme kehidupan manusia secara instan.
manusia perlu goal settings, perlu cita-cita dan rencana untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik, lebih berguna dan lebih beriman.
moment keagamaan hanyalah ritual yang mungkin bisa menyadarkan kita, namun tidak bisa mengubah kita kecuali kita sendiri yang mau melakukannya.

Reply

fadlymuin August 12, 2010 at 09:13

betul mas, kalau kita tidak bertindak. apa yang mau di tunggu? tentu tidak ada akibat positif yang bisa kita petik..

Reply

Arief Rizky Ramadhan August 15, 2010 at 18:12

betul mas… tanpa adanya kesadaran dari diri masing-masing maka tidaklah berubah diri kita..

Reply

masesubo August 12, 2010 at 08:48

Mas fadly, saya tergelitik dengan penggunaan kata divisi pada divisi sayur buangan hehe… Bisa saja mas fadly bikin saya senyum-senyum sendiri. Overall ceritanya menginspirasi dan membuka mata hati mas. Salut buat mas Fadly yang sengaja menyambangi mereka untuk menajamkan kepekaaan rasa. Andai para pemimpin negeri ini seperti itu. Mantap pastinya. Kalau saya biasanya tidak menyengajakan, ketemu dengan anak-anak pengamen mewawancarai dulu panjang lebar tentang kehidupan mereka sebelum memberi lembaran recehan.
kasihan kadang sesi wawancaranya lama hehe…

Weits, maaf mas nggak sadar. Baru kali ini koment menuh-menuhin space. :)

Reply

fadlymuin August 12, 2010 at 09:14

hihih.. divisi sayur mayur, ada loh. tempatnya di pasar induk :D

semoga bermanfaat yah.. komen panjang juga gapapa kok.

Reply

Jeprie August 12, 2010 at 13:37

Saya jadi teringat kisah khalifah Umar bin Khattab ra. waktu didatangi tawanan dari Persia, seorang petinggi. Si tawanan ini sengaja didandani dengan segala kemewahannya, mulai dari mahkota hingga baju mehalnya.

Umar sedang tidur siang di masjid tanpa pengawal. Begitu melihat Umar, si tawanan berkata, “Dia ini seorang nabi atau orang yang menjalankan tugas nabi”.

Waktu ada kelaparan di Madinah karena 2 tahun tidak ada hujan. Setiap hari Umar makan di luar bareng dengan para penduduk. Beliau menolak makan roti hingga krisis itu selesai.

Seandainya para pejabat mau turun ke jalan, bukan sekadar menerima laporan Asal Bapak Senang.

Reply

fadlymuin August 12, 2010 at 14:07

jaman sekarang agag susah mencari situasi yang seperti itu mas. walau tidak bisa dii katakan tidak akan ada.

merinding rasanya kalau baca-baca kisah jaman doeloe. banyak pelajaran yang sudah tergilas oleh zaman..

Reply

Arsumba August 12, 2010 at 14:40

Semoga ramadhan ini kita lebih peka mas.. Sedikit menengok kebawah mungkin akan membawa diri lebih baik amiin..
Selamat berpuasa mas..

Reply

fadlymuin August 13, 2010 at 13:50

menengok ke bawah untuk mendapatkan umpan melambung ke atas. :)
mudah2an ga ada yg bolong crit :D

Reply

bundadontworry August 12, 2010 at 20:13

bunda hanya bisa mengatakan, utk mencoba lebih baik lagi pada ramadhan sekarang, dibanding thn lalu.,
untuk bisa lebih peka dlm membantu sesama.
salam

Reply

fadlymuin August 13, 2010 at 13:51

ngga neko-neko, tapi mengandung umpan :D
mudah-mudahan tahan godaan bunda..

Reply

Agus Siswoyo August 12, 2010 at 22:16

roda kehidupan terus berputar dan peran kita adalah melakukan yang terbaik di posisi manapun kita berada. dalam tataran ilmu ma’rifat, ada baiknya kita renungkan apa sih hakekat hidup dan kehidupan? jika benar Allah menciptakan alam beserta isinya semata-mata hanya untuk menyembah-Nya, tentu Dia tidak akan membiarkan umat-Nya dalam keadaan hina.

Reply

fadlymuin August 13, 2010 at 13:53

Allah yang maha Mengetahui. selebihnya kita hanya berupaya, tentu!

Reply

abdoo August 13, 2010 at 06:04

Observasinya bener-bener menginspirasi mas, menyadarkan saya bahwa diluar sana perjuangan memperbaiki taraf perekonomian lebih berat dari yang saya lakukan sekarang.

Saya menikmati artikel ini sambil membayangkan mas FM waktu itu observasi sendirian wara-wiri, pasti menyenangkan belajar langsung dari roda kehidupan yang terus berputar.

Reply

fadlymuin August 13, 2010 at 13:54

iya man, diluar tentu lebih ganas. hukum rimba masih berlaku, kadang-kadang!

tapi jangan sambil membayangkan yang ngga-ngga yah? :)

Reply

belajar investasi August 13, 2010 at 10:21

belajar empati akan mengasah rasa kemanusiaan kita menjadi lebih peka dan lebih proaktif membantu siapa saja yang membutuhkan. saya selalu meyakini sebuah hadis yang mudah-mudahan menjadi inspirasi bagi siapa saja. bunyi hadis tersebut kira-kira begini, “Allah akan menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya”. Bulan Ramadhan adalah bulan diklat dan workshop ibadah ritual juga sosial. Dan laiknya diklat/workshop, maka materi dan latihan yang kita dapatkan haruslah dipraktikan agar menjadi skill dan keterampilan yang bisa kita andalkan. Sebulan kita di-diklat oleh Allah agar menjadi insan bertakwa, maka praktiknya harus kita lakukan dalam sebelas bulan lainnya … salam
lama tak jumpa, mohon maaf lahir batin Mas..kalo ga salah,terakhir saya sowan ke sini pas mau ada tayangan profil unakunik.com di TransTV:-)

Reply

fadlymuin August 13, 2010 at 14:09

makasih pencerahannya. mohon maap lahir batin yah.. selamat berpuasa.

Reply

Blog Pengembangan Diri | Tips Sukses | Motivasi | Inspirasi | Blogger Tutorial | Download Gratis August 13, 2010 at 10:33

membangkitkan rasa empati itu memang tidak mudah sakah satu cara yg efektif itu yah harus turun langsung ke lapangan melihat realiatas yg ada :)

Reply

fadlymuin August 13, 2010 at 14:10

hanya butuh latihan kecil kok mas :D

Reply

Aldy August 13, 2010 at 23:25

Melihat kondisi yang seperti ini, apa pemerintah tidak pernah berfikir ulang tentang jaminan sosial untuk para jompo?

Reply

fadlymuin August 17, 2010 at 00:40

seharunya ada pemikiran kesana, dengan realisasi nyata tentunya. tapi entahlah mas. “mungkin” memang masih banyak yg harus di urusi

Reply

aas maesyanurdin August 14, 2010 at 11:16

jadi teringat saat sering berbelanja di pasar2 tradisional di kota saya. Memang banyak hal yang bisa menjadi pelajaran bagi kita dari kehidupan disana.
Banyak hal yang bisa membangkitkan “Human Interest” yang terekam dari berseliwerannya pedagang dan pembeli.

Contoh kecilnya :
- Para pedagang yang telah sukses cenderung memperlihatkan kekayaannya secara terang2an seperti mobil2 mewah (alphard, serena dsb), gelang2 emas dsb.
Sedangkan para pedagang yang belum sukses, tidur pun hanya beralaskan tikar dan terhimpit diantara tumpukan barang dagangan.
- Banyak rentenir yang bergentayangan, menari-nari di atas kesulitan para pedagang kecil yang kekurangan modal
- Para pengemis profesional dan menjadi kaya dari profesinya itu.
dsb

Reply

fadlymuin August 17, 2010 at 00:42

kalau melihat contoh-contohnya, sepertinya itu realita yang menyesakkan yah mas?

kita coba dari diri sendiri dulu sajalah, siapa tau ada perubahan :)

Reply

Octa Dwinanda August 14, 2010 at 12:20

empati memang perlu dilatih ya mas…
dengan menyaksikan secara langsung apa yang terjadi di “wilayah bawah” insya Allah mendidik kita menjadi orang yang mudah berempati.

Mungkin bisa juga sekali-kali, kita ajak anak untuk “wisata empati” ya mas..

Reply

fadlymuin August 17, 2010 at 00:43

iya mas…
Rasa Empati tidak cukup di resapi dengan logika. tapi juga perlu di sapa dengan hati

Reply

Denuzz BURUNG HANTU August 14, 2010 at 15:37

tulisan yang inspiratif
benar-benr menyentuh
sampai saat ini saya belum melakukan kegiatan seperti di atas itu, tapi besok atau lusa pasti saya akan menyempatkan diri… hehe :)
kegiatan menyenangkan sekaligus melatih emosi dan empati diri

salam akrab dari burung hantu

Reply

fadlymuin August 17, 2010 at 00:44

salam juga burung hantu (agag canggung nyebut burung hantu :) )

silahkan di praktekan mas, kalau berhasil, boleh di bagi ceritanya yah

Reply

iskandaria August 14, 2010 at 19:21

Turun ke lapangan dan langsung melihat realitas kehidupan memang cara paling ampuh untuk mengisi jiwa kemanusiaan kita yang kosong nan kering. Tidak ada kata terlambat atau malu untuk itu.

Reply

fadlymuin August 17, 2010 at 00:45

tul mas!

jiwa manusia ini perlu di isi dengan latar emosi yang sejenis. sisi kemanusiaan perlu di galih, jika perlu.

Reply

Arief Rizky Ramadhan August 15, 2010 at 16:07

saya juga suka seperti itu mas.. rasanya kayak komputer abis di refresh..

Reply

fadlymuin August 17, 2010 at 00:49

segar memang rief. kayak minum es buah saat berbuka..

Reply

Andrew August 15, 2010 at 21:05

di Indonesia memang kaya akan segala hal…

Reply

fadlymuin August 17, 2010 at 00:55

Hmm..
termasuk kaya akan keacuhannya :D

Reply

Octa Rendra August 15, 2010 at 22:27

Sangat inspiratif.. Saya akan mulai mencoba melakukan seperti yg disarankan.. untuk menajamkan kepedulian sosial..

Reply

fadlymuin August 17, 2010 at 01:03

kalau gitu saya mulai mendapatkan teman-teman baru yang mencoba menggugah diri sendiri. selamat mencoba mas

Reply

Cara Membuat Facebook August 16, 2010 at 10:50

mungkin nenek tersebut tidak punya uang

Reply

fadlymuin August 17, 2010 at 01:04

ya iyalah..:)

Reply

Iwan Bagus August 16, 2010 at 23:59

Sering kali membaca tulisan seperti ini, hati ini jadi miris.
Salut untuk anda Mas, yang masih sempat meluangkan waktu untuk mengamati kondisi sekitar. Terus terang, karena saya terlahir sebagai anak tunggal, makanya saya sulit sekali untuk sharing dan berbagi dengan orang lain. Terima kasih, semoga tulisan Mas Fadly di bulan ramadan ini bisa sedikit menggelitik hati ku untuk lebih peduli dengan sekitarku. Sukses selalu.

Reply

fadlymuin August 17, 2010 at 01:05

amin…
semoga saja ya mas.

sukses juga untuk anda

Reply

Novianto Syahmud August 18, 2010 at 12:51

Saat mendengarkan satu ulasan mengenai sudut pandang sesuatu terkadang kita lupa kalau itu hanya sudut pandang. Karena akan jadi beda hasilnya jika dilihat oleh orang lain.

Dengan menghargai dan memahami sudut pandang lain, setidaknya kita sudah berusaha untuk tak egois dengan cara pandang yang sering kali mengecoh.

Selamat berpuasa mas.

Reply

fadlymuin August 21, 2010 at 03:10

mencoba melihat dari sisi “Dia” saya rasa akan membantu kita untuk berfikir lebih terbuka dan humanis nov..

tks, selamat berpuasa juga yah

Reply

foredi banjarmasin September 8, 2011 at 14:02

Saya cari dibeberapa website dan dapat tipsnya di website ini, terima kasih, mau dicoba oleh saya.

Reply

Leave a Comment

{ 1 trackback }

Previous post:

Next post: