Kali ini, saya sekedar ingin berbagi cerita saja..
Di pasar induk kramat jati Jakarta, seorang nenek berusia 90 tahun masih menjalani profesi sebagai pemungut bawang yang berjatuhan di lantai pasar. Lantai yang saya maksud tentu saja, lantai tanah, sedikit becek dan kotor.
Ada juga nenek berusia 70 tahun, yang sama menjalani profesi sebagai pemungut, tapi nenek yang satu ini mengambil divisi sayur buangan. Sayur kol yang sudah rusak, di kupas bagian luarnya, sampai menemukan bagian yang bagus, yang biasanya bisa dijual kembali.
Satu lagi, pemungut beras. Usianya tergolong lebih muda dari 2 nenek sebelumnya. Usianya 52 tahun. Ia menjalani profesi sebagai pemungut beras. Ruang kerjanya sama. Pasar induk kramat jati, Jakarta. hasil pungutannya di saring kembali, dibersihkan dari batu-batu kecil, pasir dan tanah. Kemudian di jual kepada pengusaha ternak. Hasilnya lumayan. Sekitar 2.500/ liternya.
Data tersebut di atas, saya dapat dari Koran pos kota, terbitan tanggal 11 agustus 2010. Hari ini saya memang membeli Koran sekitar 5 jenis Koran. Lagi error, maklum!
***
Sebelumnya, saya pun melakukan observasi tak terencana. Saya mengunjungi pasar rebo. Sehari sebelum puasa. Saya mencari posisi wenak, untuk duduk-duduk sambil minum yang dingin-dingin. Walau saat itu kondisi saya sedang flu, hidung tersumbat. Tapi bandel dikit saya rasa tidak akan fatal.
Saya dapat tempat eksekutif. Penjual sop buah, lokasinya lumayan strategis. Ada kursi plastic kotak tanpa meja. Dari situ saya bisa mengawasi lalu lalang kendaraan roda empat dan dua.persis didepan saya, yang memang ada ruas jalan berbeton selebar 4 meteran.
Dari situ pula saya bisa mengawasi deretan warung-warung penjajah buah-buahan, yang diselingi satu dua penjual mainan anak. Lewat pengemis, buruh pengangkut barang, kakek yang sudah tua dan hanya bisa melangkah dengan sangat pelan. Selangkahnya hanya mampu menempuh kira-kira 30 cm. ditangannya terlihat memegang amplop yang didalamnya ada symbol PT.POS. saya menduga dia akan mengambil pensiunnya.
Sambil duduk disitu, saya ngobrol sama penjual sop buah itu. Yang saya dapat, informasinya bahwa dia memiliki istri yang dua kali mengalami pendarahan di bulan kedua kehamilan anaknya. Saya ketahui, biaya yang dikeluarkan cukup besar. Apalagi untuk ukuran penjual sop buah.
Dari mulutnya berbunyi sebuah pengakuan, “tidak sanggup pak” biayanya terlalu mahal bolak balik rumah sakit. Saya tersenyum ala kadarnya, untuk menunjukan rasa empati saya.
Malamnya saya mencari suasana lain. Saya ketemu warung, yang kalau anda ke jogja, warung dengan sajian nasi kucing umum anda kenal. Nah ini sejenis warung seperti itu juga. Hanya saja menunya makanan lebih berat-berat. Dan yang pasti nasinya bukan nasi kucing, tapi nasi manusia. Porsinya jauh lebih banyak.
Kembali saya melakukan obrolan kecil. Tapi kali ini saya tidak berhasil menyerap banyak informasi. Namun yang pasti, mereka 2 perempuan, tinggal di rumah kontrakan. Mereka berjualan setiap malam. Waktu itu jam delapanan malam deh, sampai sahur rencana mereka.
Kunjungan kedua ini memang terasa kurang berkesan. Dibandingkan dengan kunjungan pertama di daerah pasar rebo.
Walau begitu, saya berhasil mengisi ruang kosong di jiwa saya, tentang realitas disekitar yang bisa membangkitkan “human interest” saya.
Sering kita mendengar kasus kemiskinan dan respon dalam wacana public. Bahwa kemiskinan bisa saja terjadi karena ulah pemerintah yang bal..bla.. atau itu juga karena ulah si miskin yang malas, karena bla..bla..
Masing-masing respon memiliki argumentasi dan pendapat yang tidak bisa disepelekan. Sebab semua itu diungkapkan oleh kebanyakan orang-orang yang pintar dan memiliki latar belakang ekonomi yang memadai.
Tapi coba saja, sesekali kita duduk-duduk dipasar, terminal, atau ruang-ruang public yang mayoritas pelaku ekonominya bisa kita ajak bicara. Tentu rasanya akan berbeda. dan pendapat tentang mereka juga bisa berbeda.
Membangkitkan human interest tidak bisa hanya dengan membaca berita dari Koran. Tapi sesekali perlu turun dan menyimak dengan menggunakan kekuatan panca indera kita.
Bagaimana dengan anda? Siap mengisi Ramadhan dengan jiwa yang empati?

{ 52 comments… read them below or add one }
yang seperti itu banyak berseliweran di sekitar kita, sering tertangkap mata tapi kadangkala saja tertangkap rasa.
Bulan Ramadhan ini saat yg tepat untuk melatih kembali kepekaan kita.
iya, sudah tumpah bahkan. pilihan ada pada diri masing-masing pak. namun yang jelas, semuanya berdampak pada penggugahan gejolak bathin.. tinggal mau diteruskan atau di endapkan..
memang dari mata, akan turun ke hati ya mas… tapi kadang berhenti ditengah jalan, hanya sampai ampela saja
Alhamdulillah…
Mas Fadly masih berkesempatan untuk melakukan itu.
Sementara yang lain jangankan untuk sengaja melatih kepekaan sosial seperti itu, yang seharusnya diperhatikan pun sengaja diabaikan.
==
Saya sendiri saat ini kesempatan seperti itu belum saya peroleh Mas. Senin sampai Sabtu, pagi ampe sore bahkan ampe malam di kerjaan. Ahad dipake pulang kampung. Hati ini makin “membatu” rasanya, setiap saat ditindih dengan beban duniawi, tak ada kepedulian terhadap sekitar. Astagfirullah!
nikmati saja kang
tidak perlu dicari dengan sengaja. cukup menajamkan mata bathin saja kok. melihat sekitar yang kita lalui, saya rasa sudah cukup..
Mohon izin untuk ikut mengintip inspirasi untuk melatih diri di sini
Ramadhan Mubarak!
silahkan, semoga ada manfaatnya
ikutan izin mas… hehe
Saya hanya bisa katakan lewatilah bulan Ramadhan tahun ini dengan sebaik-baiknya.
sip.. makasih
apapun moment nya, tidak bisa mengubah ritme kehidupan manusia secara instan.
manusia perlu goal settings, perlu cita-cita dan rencana untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik, lebih berguna dan lebih beriman.
moment keagamaan hanyalah ritual yang mungkin bisa menyadarkan kita, namun tidak bisa mengubah kita kecuali kita sendiri yang mau melakukannya.
betul mas, kalau kita tidak bertindak. apa yang mau di tunggu? tentu tidak ada akibat positif yang bisa kita petik..
betul mas… tanpa adanya kesadaran dari diri masing-masing maka tidaklah berubah diri kita..
Mas fadly, saya tergelitik dengan penggunaan kata divisi pada divisi sayur buangan hehe… Bisa saja mas fadly bikin saya senyum-senyum sendiri. Overall ceritanya menginspirasi dan membuka mata hati mas. Salut buat mas Fadly yang sengaja menyambangi mereka untuk menajamkan kepekaaan rasa. Andai para pemimpin negeri ini seperti itu. Mantap pastinya. Kalau saya biasanya tidak menyengajakan, ketemu dengan anak-anak pengamen mewawancarai dulu panjang lebar tentang kehidupan mereka sebelum memberi lembaran recehan.
kasihan kadang sesi wawancaranya lama hehe…
Weits, maaf mas nggak sadar. Baru kali ini koment menuh-menuhin space.
hihih.. divisi sayur mayur, ada loh. tempatnya di pasar induk
semoga bermanfaat yah.. komen panjang juga gapapa kok.
Saya jadi teringat kisah khalifah Umar bin Khattab ra. waktu didatangi tawanan dari Persia, seorang petinggi. Si tawanan ini sengaja didandani dengan segala kemewahannya, mulai dari mahkota hingga baju mehalnya.
Umar sedang tidur siang di masjid tanpa pengawal. Begitu melihat Umar, si tawanan berkata, “Dia ini seorang nabi atau orang yang menjalankan tugas nabi”.
Waktu ada kelaparan di Madinah karena 2 tahun tidak ada hujan. Setiap hari Umar makan di luar bareng dengan para penduduk. Beliau menolak makan roti hingga krisis itu selesai.
Seandainya para pejabat mau turun ke jalan, bukan sekadar menerima laporan Asal Bapak Senang.
jaman sekarang agag susah mencari situasi yang seperti itu mas. walau tidak bisa dii katakan tidak akan ada.
merinding rasanya kalau baca-baca kisah jaman doeloe. banyak pelajaran yang sudah tergilas oleh zaman..
Semoga ramadhan ini kita lebih peka mas.. Sedikit menengok kebawah mungkin akan membawa diri lebih baik amiin..
Selamat berpuasa mas..
menengok ke bawah untuk mendapatkan umpan melambung ke atas.
mudah2an ga ada yg bolong crit
bunda hanya bisa mengatakan, utk mencoba lebih baik lagi pada ramadhan sekarang, dibanding thn lalu.,
untuk bisa lebih peka dlm membantu sesama.
salam
ngga neko-neko, tapi mengandung umpan
mudah-mudahan tahan godaan bunda..
roda kehidupan terus berputar dan peran kita adalah melakukan yang terbaik di posisi manapun kita berada. dalam tataran ilmu ma’rifat, ada baiknya kita renungkan apa sih hakekat hidup dan kehidupan? jika benar Allah menciptakan alam beserta isinya semata-mata hanya untuk menyembah-Nya, tentu Dia tidak akan membiarkan umat-Nya dalam keadaan hina.
Allah yang maha Mengetahui. selebihnya kita hanya berupaya, tentu!
Observasinya bener-bener menginspirasi mas, menyadarkan saya bahwa diluar sana perjuangan memperbaiki taraf perekonomian lebih berat dari yang saya lakukan sekarang.
Saya menikmati artikel ini sambil membayangkan mas FM waktu itu observasi sendirian wara-wiri, pasti menyenangkan belajar langsung dari roda kehidupan yang terus berputar.
iya man, diluar tentu lebih ganas. hukum rimba masih berlaku, kadang-kadang!
tapi jangan sambil membayangkan yang ngga-ngga yah?
belajar empati akan mengasah rasa kemanusiaan kita menjadi lebih peka dan lebih proaktif membantu siapa saja yang membutuhkan. saya selalu meyakini sebuah hadis yang mudah-mudahan menjadi inspirasi bagi siapa saja. bunyi hadis tersebut kira-kira begini, “Allah akan menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya”. Bulan Ramadhan adalah bulan diklat dan workshop ibadah ritual juga sosial. Dan laiknya diklat/workshop, maka materi dan latihan yang kita dapatkan haruslah dipraktikan agar menjadi skill dan keterampilan yang bisa kita andalkan. Sebulan kita di-diklat oleh Allah agar menjadi insan bertakwa, maka praktiknya harus kita lakukan dalam sebelas bulan lainnya … salam
lama tak jumpa, mohon maaf lahir batin Mas..kalo ga salah,terakhir saya sowan ke sini pas mau ada tayangan profil unakunik.com di TransTV:-)
makasih pencerahannya. mohon maap lahir batin yah.. selamat berpuasa.
membangkitkan rasa empati itu memang tidak mudah sakah satu cara yg efektif itu yah harus turun langsung ke lapangan melihat realiatas yg ada
hanya butuh latihan kecil kok mas
Melihat kondisi yang seperti ini, apa pemerintah tidak pernah berfikir ulang tentang jaminan sosial untuk para jompo?
seharunya ada pemikiran kesana, dengan realisasi nyata tentunya. tapi entahlah mas. “mungkin” memang masih banyak yg harus di urusi
jadi teringat saat sering berbelanja di pasar2 tradisional di kota saya. Memang banyak hal yang bisa menjadi pelajaran bagi kita dari kehidupan disana.
Banyak hal yang bisa membangkitkan “Human Interest” yang terekam dari berseliwerannya pedagang dan pembeli.
Contoh kecilnya :
- Para pedagang yang telah sukses cenderung memperlihatkan kekayaannya secara terang2an seperti mobil2 mewah (alphard, serena dsb), gelang2 emas dsb.
Sedangkan para pedagang yang belum sukses, tidur pun hanya beralaskan tikar dan terhimpit diantara tumpukan barang dagangan.
- Banyak rentenir yang bergentayangan, menari-nari di atas kesulitan para pedagang kecil yang kekurangan modal
- Para pengemis profesional dan menjadi kaya dari profesinya itu.
dsb
kalau melihat contoh-contohnya, sepertinya itu realita yang menyesakkan yah mas?
kita coba dari diri sendiri dulu sajalah, siapa tau ada perubahan
empati memang perlu dilatih ya mas…
dengan menyaksikan secara langsung apa yang terjadi di “wilayah bawah” insya Allah mendidik kita menjadi orang yang mudah berempati.
Mungkin bisa juga sekali-kali, kita ajak anak untuk “wisata empati” ya mas..
iya mas…
Rasa Empati tidak cukup di resapi dengan logika. tapi juga perlu di sapa dengan hati
tulisan yang inspiratif
benar-benr menyentuh
sampai saat ini saya belum melakukan kegiatan seperti di atas itu, tapi besok atau lusa pasti saya akan menyempatkan diri… hehe
kegiatan menyenangkan sekaligus melatih emosi dan empati diri
salam akrab dari burung hantu
salam juga burung hantu (agag canggung nyebut burung hantu
)
silahkan di praktekan mas, kalau berhasil, boleh di bagi ceritanya yah
Turun ke lapangan dan langsung melihat realitas kehidupan memang cara paling ampuh untuk mengisi jiwa kemanusiaan kita yang kosong nan kering. Tidak ada kata terlambat atau malu untuk itu.
tul mas!
jiwa manusia ini perlu di isi dengan latar emosi yang sejenis. sisi kemanusiaan perlu di galih, jika perlu.
saya juga suka seperti itu mas.. rasanya kayak komputer abis di refresh..
segar memang rief. kayak minum es buah saat berbuka..
di Indonesia memang kaya akan segala hal…
Hmm..
termasuk kaya akan keacuhannya
Sangat inspiratif.. Saya akan mulai mencoba melakukan seperti yg disarankan.. untuk menajamkan kepedulian sosial..
kalau gitu saya mulai mendapatkan teman-teman baru yang mencoba menggugah diri sendiri. selamat mencoba mas
mungkin nenek tersebut tidak punya uang
ya iyalah..:)
Sering kali membaca tulisan seperti ini, hati ini jadi miris.
Salut untuk anda Mas, yang masih sempat meluangkan waktu untuk mengamati kondisi sekitar. Terus terang, karena saya terlahir sebagai anak tunggal, makanya saya sulit sekali untuk sharing dan berbagi dengan orang lain. Terima kasih, semoga tulisan Mas Fadly di bulan ramadan ini bisa sedikit menggelitik hati ku untuk lebih peduli dengan sekitarku. Sukses selalu.
amin…
semoga saja ya mas.
sukses juga untuk anda
Saat mendengarkan satu ulasan mengenai sudut pandang sesuatu terkadang kita lupa kalau itu hanya sudut pandang. Karena akan jadi beda hasilnya jika dilihat oleh orang lain.
Dengan menghargai dan memahami sudut pandang lain, setidaknya kita sudah berusaha untuk tak egois dengan cara pandang yang sering kali mengecoh.
Selamat berpuasa mas.
mencoba melihat dari sisi “Dia” saya rasa akan membantu kita untuk berfikir lebih terbuka dan humanis nov..
tks, selamat berpuasa juga yah
Saya cari dibeberapa website dan dapat tipsnya di website ini, terima kasih, mau dicoba oleh saya.
{ 1 trackback }