Oleh : Agus Siswoyo
Apa kabar kawan-kawan blogger? Masih semangat blogwalking nih? Atau malah sudah jenuh dengan artikel-artikel motivasi kacangan yang Anda pikir tak ubahnya sampah di musim penghujan?
Kalau Anda sudah “eneg” dan ingin buru-buru kabur dari blog seperti itu, sama dong. Anda tidak sendirian. Banyak yang mengalami hal tersebut. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para komentator, saya yakin meski pengunjung meninggalkan komentar seperti ini:
“Nice posting mas…!”
“Artikel ini menginspirasi saya…”
“Saya suka bla…bla…bla…. “
Namun, banyak pula yang sekedar menjadi pemerah bibir. Maka saya sependapat saat mas Fadly membuat artikel jajak pendapat. Hal tersebut merupakan salah satu cara untuk mengetahui pandangan pengunjung terhadap sebuah blog motivasi.
Apakah kalimat-kalimat yang tertulis berkesan menggurui Anda? Atau justru Anda feel free saat membaca artikel blog dan kembali dengan pikiran lebih terbuka? Bagi yang terbuka menerima ide dan pemikiran orang lain, no problemo. Mencuplik lirik lagu Tompi, segala kalimat yang meluncur ibarat ribuan bintang yang menghujam jantung.
Yang paling parah adalah bila sudah muncul anggapan bahwa blog motivasi tak ubahnya kumpulan para moralis dalam blogsphere. Meraka beranggapan blogger moralis adalah penulis yang merasa dirinya sendiri paling bermoral.
Jadi ingat kasus Nurul Arifin yang sempat kena semprot sok suci dalam sebuah seminar penanggulangan penyakit HIV/AIDS di Jakarta tahun lalu.
Kuncinya Pada Kontrol Diri Berdasarkan kadar kontrol diri, menurut saya ada dua kecenderungan seorang blogger moralis. Pertama, yang masih bisa kontrol diri. Dan yang kedua adalah sudah lepas kendali. Sepak terjang seorang blogger moralis sangat mudah dikenali. Tanpa diminta dia akan menjadi orang pertama yang memberi tahu ini itu tindakan yang harus Anda lakukan.
Dalam taraf yang parah, blogger moralis memandang blogosphere sebagai dunia yang dia ketahui dengan sempurna. Dia akan memberitahu apa yang benar, salah, baik, buruk, menyenangkan atau tidak menyenangkan dengan gaya yang meyakinkan. Dia mantab pada kebenaran keyakinannya bahwa idenya adalah yang terbaik dan berusaha menaklukkan ide lain. Kebanyakan blogger cerdas akan tersinggung oleh hal ini. Bahasa sederhananya:
Kamu tidak mampu membuat keputusan sendiri, maka saya akan memutuskannya untuk Anda. Dan bila anda tidak mengikuti nasehat saya, memalukan.
Jujur saja, saya suka memperhatikan adu argumen seperti itu. Saya jadi tahu mana yang pantas disebut motivator sungguhan dan mana yang sekedar numpang lewat dalam kategori ini. Lalu, bagaimana pandangan Anda terhadap pembahasan ini? Atau justru saat ini sedang dibuat kesal ulah blogger moralis? Mari kita diskusikan bersama.
Share

{ 104 comments… read them below or add one }
Wah, saya tidak pernah berpikir tentang fenomena “blogger moralis” yang Mas Agus maksudkan di atas. Kalaupun ada yang terkesan seperti “blogger moralis memandang blogosphere sebagai dunia yang dia ketahui dengan sempurna. Dia akan memberitahu apa yang benar, salah, baik, buruk, menyenangkan atau tidak menyenangkan dengan gaya yang meyakinkan. Dia mantab pada kebenaran keyakinannya bahwa idenya adalah yang terbaik dan berusaha menaklukkan ide lain. Kebanyakan blogger cerdas akan tersinggung oleh hal ini.”
Wah, saya juga nggak sampe berpikir sejauh itu Mas. Moralis atau bukan, saya tetap salut untuk setiap upaya saling mengingatkan dan saling menasehati untuk kebaikan bersama. Tentunya semua bermuara demi lebih baik lagi ke depannya. Demi terciptanya blogger-blogger yang etis dan bertanggung jawab atas tulisan-tulisannya.
Memang, idealnya sih nggak perlu pengkotak-kotakan karakter blogger. Toh semua ngeblog untuk sharing ilmu. Tapi tetap saja dalam prakteknya ada sebagian blogger yang “menjerit” karena efeknya.
Menurut saya karakter itu penting untuk identitas. Tanpa sebuah identitas, mana mungkin kita bisa dikenali ditengah hiruk pikuknya blogsphere (non sense, bro!). Apalagi untuk branding, maka karakter yang kuat akan turut mendukung brand yang kuat pula. Saya yakin dan sejauh pengamatan saya memang demikian, pada sebuah nama besar tersimpan sebuah karakter unik dan itulah yang akhirnya melambungkan namanya.
Karakter itu muncul dengan sendirinya atau bisa juga dibuat. semua tergantung masing-masing individu.
Bagaimana pentingnya blogger berkarakter dan “kotak-kotak”-nya silakan simak tulisan saya yang berjudul :
Apakah Anda Blogger Berkarakter?
Wah, ternyata saya komentator pertama :sup2:
Selamat, Mas Is dapat petromax di musim hujan…
:shakehand2
auaoo auoauooo…”tengak-tengok nyari temen”
singkat sj ah..ngga di puji/dicekal di luruskan aja sesuai UMR…hehe
sebagai pembaca ya di saring aja mn yg pas untuk dirinya. :hammer aihhh jangan di hammer donk mas Agus!cakitt neh.
sekarang mas agus lagi jadi dosen galak mbak
Nggak juga mas, paling-paling kalau ada karyawan telat langsung potong gaji. Hahaha….
:hammer
UMR Blogger berapa ya?
:ngakak
tergantungnya. kalo blogger moralis 2 juta, blogger idealis 1,5juta, blogger kambing 1 juta, blogger zombi 350ribu…. hehe
Mau nambah lagi Mas.
Mungkin semuanya tertgantung pada gaya bahasa dan pilihan kata yang digunakan dalam menulis artikel. Jika kurang jeli dalam hal itu, kesan sok moralis bisa saja muncul yach :siul
Ngomong-ngomong, tulisan saya di blog mas fadly kali ini mbuleti nggak ya?
Nggak ms.Cukup jelas,jujur dech.bukan pemanis bibir
Syukurlah kalau gitu…
:hope
Wah, kayaknya ini hasil perenungan malam jumat kemarin ya mas ? Dalem banget !
Saya kira tidak seserius itu. Kalo dari sudut pandang saya sebagai orang yg sedang cari wawasan dari para sobat muda, saya merasa satu ruangan/kompleks bersama orang dgn beragam karakter & spesialisasi. Bloger dgn tema tertentu pasti akan mendalami sesuai temanya dan hasilnya pasti berharga untuk diketahui. Soal karakter, kita tidak berhak mengubah seseorang. Gauli or permisi! Gitu aja….
Itu menurut saya lho…. yg lain mungkin berbeda
Hasil diskusi dengan dukun blogger waktu malam jumat kliwon mas. Hehehe…
Yap, serius itu sifatnya relatif. Setiap orang punya standard serius yang berbeda-beda. Yang penting tulisan bisa dipahami saja sudah cukup.
Dalam penulisan mas Agus, bisa di baca inilah pandangannya. Tapi, menurut saya tidak apa-apa jika sesorang hanya berkomentar seperti yang di kutip diatas. Mungkin bisa saja dia sudah paham karena sudah membaca, mungkin seorang yang berbeda bidang atau menganut backlink sebanyak-banyaknya dll.
Pada paragraph keenam dan seterusnya membingungkan mas. Hehe
Kalau masih bingung, silakan baca lagi mas…
:cendol
Asal jangan fast reading ya.
Membingungkan karena agak berat mas bagi saya. Hehehe :cendol
Penggunaan bahasa yang berat mas, sampe tiga kali bacanya…blogger moralis, mungkin saya sependapat dengan mas suarakelana bahwa itu semua tidak lepas dari karakter masing-masing orang, dan selain itu mungkin juga tidak lepas dari adat ketimuran yang masih kental mas. Tidak semua orang suka dengan kontroversi tho…
Blognya banyak ya mas agus
,
sepertinya baru kemaren ditempat mas Rudy sekarang udah sampai di rumah mas ramah aja..hehe..
Maaf kalau pemakaian bahasanya sedikit berat. Biasanya saya menulis dengan lebih santai kok. Kebetulan ini menyesuaikan imej blog ini yang memang sudah “serius” sejak lahir.
Apakah imej itu bukan berangkat dari sebuah karakter? hehe… hayoo…dijawab!
ternyata bahasa mas Agus ini berat juga yah mas rick, saya bacanya sampe berunlang-ulang. mencoba memahami sudut pandangnya..
Ketularan mas Fadly nih. Padahal biasanya saya menulis dengan bahasa mengalir seperti orang bercakap-cakap. Mungkin pengaruh dashboard mas Fadly yang angker….
:ngakak :ngakak :ngakak
:hammer
kenapa tidak di setting seperti itu mas? khan biar warnanya tetap beda. dashboard sudah saya amankan kok
Betul Mas Fadly. Saya aja masih agak bingung dengan target bidikan dalam artikel Mas Agus di atas :siul
jujur saja, ini artikel cukup kontroversi buat saya.
tadinya saya pikir untuk meminta mas agus untuk mengedit lagi artikelnya. tapi niat itu saya urungkan. dengan asumsi. mungkin mas agus punya pandangan sendiri tentang masalah Blogger Moralis ini. dan saya penasaran ingin mengetahuinya lebih dalam..
buat saya, blog tetap “sarana berekspresi”. apapun yang terkandung di dalam blognya adalah personifikasi dari pemiliknya. jika ingin berbagi tentang nilai-nilai moralitas, sah-sah saja. kalaupun nantinya nilai-nilai yang di ungkap akan berdampak pada 2 efek buat pembaca, “tersentuh atau terusik”. semuanya akan kembali kepada sang bloggernya.
Sebenarnya ada beberapa alasan saya memilih judul ini mas. Tapi pada dasarnya dua hal yang utama:
1. Titipan curhat dari beberapa teman newbie.
Mereka sedikit gerah dengan kata-kata berbusa dari blog motivasi yang banyak beredar di internet. Tidak dapat salahkan sepenuhnya hal ini. Karena bisa jadi pembaca suka fast reading atau malas praktek.
2. Wujud pemikiran saya yang terpendam sejak masih ngeblog di jaman blogspot sampai sekarang.
….buat saya, blog tetap “sarana berekspresi”….
Saya juga berpikir begitu mas. Oleh karena itu, saya mau menunjukkan this is the real me.
Makanya, sesudah finish editing, saya masih minta saran mas Fadly untuk bisa dipublikasikan atau tidak. And I’m ready for the rest…
Saya juga tidak bermaksud memojokkan siapapun dalam hal ini. Jika ada yang merasa kurang berkenan dengan tulisan saya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
waduh komentar saya lagi nih yang disinggung… artikelnya berat sekali mas agus :bingung… tapi kalo menurut saya blogger moralis itu penting di dunia blog ini, saya saja terinspirasi dgn artikel mas fadly ini yang saling membantu satu sama lain dan dgn adanya blogger moralis ini bisa membuat para pembacanya untuk lbh mantap dalam menatap masa depan dengan pelajaran yang sudah dipetik dari para blogger moralis… :cendol
Syukurlah kalau dik Arief bisa bijak menilai tulisan. Apapun itu sebutannya, kita tetap memerlukan keberadaannya di jagad blogging sebagai penyeimbang warna blogging.
kalau blog saya jenis moralis bukan rief? :cendol
bermoral itu lebih baik dri pada tdk bermoral …
slam kenal dari Pekanbaru Riau mas…
Membalas komentar Anda, itu lebih baik daripada tidak membalas.
:hammer
Salam kenal juga dari saya dan mas Fadly…
(serasa di rumah sendiri)
:shakehand2
sama. ..pandangan gus. . buat apa motivasi tapi memotivasi dirinya aja sendiri g bisa.Cuman OM do ( Omong Doank )
Sebenarnya tujuan memotivasi kan ada dua: ke dalam dan keluar. Mungkin banyak yang sukses melakukan ke dalam dirinya. Tapi untuk bisa memotivasi orang lain itu yang tidak mudah.
Kalau saya sendiri lebih menilai tulisan itu bukan dari orangnya tapi dari tulisannya. Jadi, lebih bersifat objektif daripada subjektif. Terlepas orang tersebut melakukan apa yang ia tulis atau tidak.
Nah, kalau sudah begini wawasan keilmuan kita tertantang disini. Benar atau tidak yang ia katakan? Apakah sesuai dengan prinsip hidup yang kita pegtang. Jika benar dan sesuia, ikuti…. jika tidak, tinggalkan. Beres deh…
:cendol
wah! ini pandangan orang yang berjiwa besar. lebih melihat inti dari pemikiran itu. bukan dari siapa pemikiran itu. luar biasa nih bang habib
That’s right!
Ibarat kita lagi jalan-jalan di kebun binatang, tidak semua wahana harus kita datangi. Cukup pilih yang sesuai minat dan kesenangan.
Begitu pun waktu kita blogwalking. Saat baca sebuah artikel, Jika suka silakan ambil, jika kurang berkenan silakan lewati. Nggak ada paksaan.
tambahan mas, biasanya tulisan yang benar-benar lahir dari orang-orang yang benar-benar memiliki intregitas (sesuai perkataan dengan perbuatan) kelihatan ruhnya (kayak paranormala aja bisa lihat ruh :cd ), terkadang saya bisa merasakan auranya, heee…heee terkadang juga tidak…
Mas Habib bisa merasakan ada aura di tulisan saya?
:bingung
saya termasuk yang ‘no problemo’…
mau bilang blogger moralis kek, blogger teralis kek, terserah nggak masalah…
saya suka blog motivasi titik…
berikutnya nulis dimana ya? hihihi…
Mana ada blogger teralis mas. Hehehe…
Mau tahu wilayah ekspansi saya berikutnya? Tunggu kejutannya…
:hotrit
di blog saya sajaaaa….. pengin banget ada yang kontroversi dikit di blog akuuu…. :sup2: :sup2:
kalau mas iwan khan, biasa jadi wartawan. jadi harus obyektif. he he he.. berikutnya di blog mas iwan aja
Boleh… boleh…
:tkp
Terlepas dari bermanfaat atau tidaknya satu blog dibanding blog lain, saya kira kita harus kembali ke asal mula fungsi blog. Blog berfungsi layaknya diary yang merekam jejak pemikiran, pendapat dan pengalaman hidup yang punya blog. Jadi tidak ada ‘salah dan benar’ dalam dunia blogging. Karena memang blog akan selalu bersifat subjectif, egois atau apalah istilahnya, la wong blog saya kok!?
Ada blogger yang egois dengan gaya tulisannya dan pemikirannya, ada blogger yang siap mendengarkan saran pembacanya demi kesempurnaan blognya -sperti mas fadlymuin. Siapa yang benar dan siapa yang terbaik? tidak ada yang paling benar dan paling baik. Semua sah-sah saja. Ini blog, bukan buku pelajaran agama.
saya sepakat bahwa blog adalah “ruang ekspresi” mas. benar salah, subyektif atau obyektif, adalah output dari usaha blogger menangkap ide dan menuangkannya dalam bentuk pemikiran.
di terima atau tidaknya pemikirannya adalah uji coba dari kualitas integritas sang blogger terhadap tema yang di angkat.
gitu sih kalau pendapat saya mas Hery
Ini memang bukan pelajaran agama mas. Anda tidak akan mendapat dosa hanya karena tidak meninggalkan komentar di blog ini. Sebaliknya, anda tidak akan mendapat pahala 27 derajat hanya karena posting artikel baru.
Benarkah tidak ada salah dan benar? Lalu bagaimanakah tanggungjawab kita terhadap kebenaran isi artikel. Kalau isi artikel menyesatkan orang banyak gimana?
Sebelumnya kita setuju satu hal bahwa blog itu tempat berekspresi, benar?
Bicara tentang benar dan salah tentunya harus kembali kepada patokan yang digunakan, dimana patokan benar dan salah dalam cara berblogging dan konten blogging tentunya masih bisa diperdebatkan.
Menggunakan istilah mas Agus – Blogger moralis – saya percaya mereka ini berusaha mengedepankan hal-hal yang ‘benar’ menurut persepsi karena jika tidak ‘benar’ tentu akan segera dicaci-maki komentator. Lalu kenapa diharus dicela, dicekal? Karena toh tidak ada patokan baku tentang artikel yang benar 100% dan benar 0% (mungkin mas agus punya, boleh dong dibikin bisnisnya ^^,)
Justru blogger2 ini sembari menulis juga berusaha memperbaiki diri dengan membuat posting2 ttg moral, etika atau motivasi. Siapa yang tahu? kenapa harus dicap blogger yang buruk?
Saya menduga orang-orang yang mas Agus tuliskan “Kalau Anda sudah “eneg” dan ingin buru-buru kabur dari blog seperti itu, sama dong” – adalah orang yang ingin contoh kongkrit, atau orang2 yang ingin agar bahasa yang digunakan di artikel tersebut ‘lebih mudah dicerna’. Lalu dalam kasus seperti ini, menurut mas Agus, siapa yang salah?
Oke deh, supaya cakupan pembicaraan tidak menyebar kemana-mana. Silakan mas Herry baca ulang jawaban-jawaban saya kepada para komentator di artikel ini.
Semua jawaban tersebut menggambarkan pemikiran saya. Semoga dipahami.
:cendol
:shakehand2 akur~
ha..ha..ha..blogger moralis…kayaknya banyak yang kena neh…mungkin saya juga ya mas…wakakakaka…
Saya nggak menyebut nama mas Haris loh…
:siul
wakakaka…. jangan-jangan justru blog ini yang di maksud…:D
Siapa yang dimaksud mas agus ya? memang benar setiap orang harus bertanggungjawab terhadap perkataannya sendiri..untuk moralis atau tidak, saya tidak bisa menilai karena berhubungan dengan niat masing2 blogger…mengenai gaya bahasa, ya mungkin dia mampunya seperti itu
artinya mas triagung tetap berpedoman pada nilai-nilai obyektifitas dan modernisme. pokoke bisa di pertanggung jawabkan..
Saya siap mempertanggungjawabkan artikel ini kok mas…
:mahongintip
Aduh mas, saya nggak bermaksud menyinggung siapapun. Sekali lagi ini adalah pengamatan secara umum keadaan blogosphere. Nggak sepotong-potong…
:hotrit
kalo saya sih mendingan ga komen, dr pd berusaha komen tapi hanya berkata nice inpo, mantap, dll padahal belum baca artikelnya, semata2 hanya numpang nongol, padahal belum baca artikelnya. :cd
Tapi kalo ada kesempatan PERTAMAX di blog terkenal, saya akan berusaha utk komen.. hehe
Tulisan dan diskusinya menarik. Saya datang dari blog kafegue.com. Sebenarnya saya jarang berkomentar di blog dengan tema motivasi seperti ini. Sepertinya saya pernah mampir ke blog Mas Fadly ini. Blog Mas Agus Siswoyo belum saya baca, kalau tidak salah. Pranala jajak pendapat sudah saya baca barusan.
Posting ini saya baca 2 kali. Seluruh komentar sudah saya baca 1 kali. Saya sempatkan juga menelusuri pengertian “moralis” di Google.
Menurut saya, intinya tentang kebenaran kan? Atau setidaknya tentang sesuatu yang dirasa benar oleh seseorang, tapi mungkin tidak bagi orang lain?
Orang gila pun bisa dianggap benar jika kita ada di “dunianya”–menganggap benar apa yang dilihat dan dirasa karena halusinasinya.
Saya setuju dengan beberapa pendapat di atas. Ikuti nasihatnya, bukan orangnya, jika memang dirasa sesuai. Penjahat di penjara bisa saja memberi nasihat yang baik, walau belum tentu mampu berbuat sesuai nasihatnya sendiri.
Mengenai naik turunnya tren, saya pikir sudah biasa terjadi. Kadang ada fase jenuhnya juga.
Saya sebenarnya tidak paham dengan cap narablog “moralis”, “idealis”, atau sejenisnya. Apakah memang terukur demikian seperti yang disebut di atas? Apakah topik motivasi itu bisa diukur?
Jika dibandingkan dengan, misalnya topik pengoptimalan mesin telusur Internet (SEO), aturan pastinya hanya Google dan search engine lain yang tahu. Lainnya hanya berupa riset empiris dan pengalaman pribadi. Di mana kebenarannya?
Lalu, jika dibandingkan dengan panduan kebergunaan Web/Web Usability, kebenarannya ada pada statistik penerimaan pengguna saat itu. Tren dan selera pengguna bisa berubah.
Jika dibandingkan dengan standar Web dari Konsorsium WWW (W3C) dan rekomendasi WCAG 2.0, sifatnya hanya normatif, de-facto, bukan de-jure. Kecuali kebenaran hukum hak asasi tentang aksesibilitas Web di beberapa negara yang memang menjamin hal itu.
“Narablog moralis” tidak harus dipuji atau dicekal, cukup kontennya yang dinikmati. Saya pribadi menulis blog untuk saya nikmati sendiri, memang egois. Maaf.
Sangat setuju dengan komentar anda, Mas Dani. Dari pemahaman saya, kata kuncinya justru kematangan cara berpikir blogger menyikapi artikel yang sedang dibaca. Sekali lagi blog bukanlah tempat orang-orang ‘bicara’ benar saja. Karena blog memang bersifat pribadi. Dan bukankah kita sering menjumpai pribadi yang salah dan pribadi yang benar – sesuai pemahaman kita tentang kebenaran?
Jadi, penulis artikel dan pengunjung blog pun sama-sama belajar.
Aduh mas, pembahasan Anda sampai melebar kemana-mana. Padahal kita fokuskan topik artikel seputar motivasi blogging. Anyway, saya tidak mempermasalahkan. Inilah warna blogosphere dengan keberagaman profesi offline.
Saya baru saja mengunjungi blog Anda. Dan melihat latar belakang akademis Anda, saya tidak heran dengan kalimat yang muncul. Ilmu kesehatan dan medis membutuhkan kemampuan analisis yang tajam. Dan Anda dapat menganalisa tulisan saya lebih dari yang saya butuhkan.
Komentar mas Dani mengalahkan isi artikel ini deh. Hehehe…
Kalau tidak keberatan, silakan menyumbang tulisan di blog saya.
Saya coba nambahin komentar sekalian di sini ya. Malesnya pake fitur threaded comment (reply personal) ya gini ini.
Mas Fadly,
notifikasi reply-nya via surel per balasan atau seluruh komentar? Kenapa tidak diberi opsi checkbox saja? Biarkan pengguna yang memutuskan untuk berlangganan yang mana? Users/subscribers rule. Just my 2 cent.
Mas Hery,
kadang blog bukan lagi ranah pribadi. Karena ada blog perusahaan, blog profesi, di ruang publik pula. Etika menjadi terlibat. Kecuali dibuat terbatas atau intranet.
Mas Agus,
maksud saya hanya ingin menyampaikan contoh nyata hitam-putih “kebenaran moral” itu yang dekat kondisi saya saat ini. Biar ngga salah tangkap.
Terima kasih tawarannya. Saya masih butuh banyak baca-baca tulisan rekan-rekan yang menarik seperti karya Mas Agus ini.
Karena koneksi Internet saya yang terbatas, tiap komentar saya ctrl+a, ctrl+c di clipboard manager Linux saya. Nanggung, koneksi terbata, komentar jangan ikut sekadar lewat kan.
notifikasi reply mas Dani. nanti deh saya lihat lagi mengenai opsi anda mas Dani. terima kasih usulannya
kalau saya tulis komentar…
nice artikel mas agus doang….
wah…. bakalan di cekal neh….
kalau begitu…. kabur…. :ngacir2
yeeeehhh…..kabur koq naik bajaj……
Naik becak aja Bun, turun kota Lumpur…
:tkp
Kabur ke Purworejo nih? Tak susul kesana pakai rombongan bajaj juga…
:ngacir2 :ngacir2 :ngacir2 :ngacir2
weeww…..artikel berat, susah mau komen apa….tp itu hak yang punya sudut pandang spt itu, yg punya pandangan lain yah monggo….Saya pikir, aura positif perlu diciptakan dengan komentar positif. Bukan merasa sok suci, mungkin komen yang aman dan mudah saja. Yang menerima komen positif justru harus melihat dengan sebaliknya. Merendah gityuu loh…..
Kalau yang komen bu dosen yang satu ini, saya mengamini saja deh. Nanti nggak dilulusin lagi…
Idealnya memang seperti ilmu padi. Semakin berisi semakin menunduk. Bukan sebaliknya.
Wakakakakak…minggu dpn kuliah udah mulai! G boleh ada yg bolos….
makasih bos ilmunya
mantabbbb
Semoga bermanfaat untuk Anda.
Wuih, diskusinya makin seru aja nih :repost2
iya nih mas… saya sampe kewalahan
Hehe….masak sih?….tapi kan bagus…tambah rame.
Padahal kemarin saya Posting Artikel berjudul:
Adu Argumen di Blog Nyaris Nihil , eh sekarang lha kok ada faktanya..hehe… ya baguslah kalau begitu. Salut!
Seeing is Believing. Lihat dulu mas baru berkomentar….
Resiko blog mas Fadly saya tumpangi ya gini mas. Harus betah melek untuk menjawab serbuan komentator. Hahaha…
:hotrit
Kalau dibuat berseri sepertinya asyik juga nih…
:rate
boleh mas. tapi sudut pandangnya di perjelas mas. dan gunakan gaya bahasa sesuai karakter. ok? jangan terpengaruh dashboard lagi yah :recsel
Komentar saya di artikel terbaru kok hilang ya Mas? Mungkin karena jaraknya berdekatan. Padahal usai komentar petromax, saya ada nambahin lagi, biar nggak terkesan cuma asal lewat :tkp
Belum tahu ya mas, satpam kompleks sini galak-galak lho…
:ngakak
kalau komentar yg ketangkap trus di lolosin berdampak buruk ga sih ?
nice posting mas… *kabuurrr :ngacir2
artikel ini dalam sekali. saya merasa seorang blogger moralis adalah seorang blogger yang memiliki karakter terlepas dari apakah dia melakukan apa yang ditulisnya. sepanjang pesan yang disampaikan lewat artikel bermanfaat bagi orang lain saya rasa tidak menjadi masalah. yang penting jadilah diri sendiri jangan berlagak moralis padahal kita bukan type seperti itu. saya lebih suka dengan blogger blogger yang menulis dengan gayanya sendiri.
semua akan kembali kepada “proses pencapaiannya” mas. semua akan tersaring dengan sendirinya. bobot artikel, gaya bahasa, karakter blogger, semua bersinergi menghasilkan “output” yang mencirikan pribadi tertentu.
jadi saya percaya, apapun yang terjadi dan bagaimanapun pribadi blogger itu. sudah melalu proses seleksi alam.
Saya shock pertama baca artikel ini. Jujur artikel ‘maut’ mas agus memaksa saya untuk introspeksi secara mendalam atas setiap artikel yg sifatnya memotivasi.
Apalagi kini blog motivasi kian menjamur meski terkadang integritas penulisnya suka dipertanyakan.
Anyway thanx atas artikelnya Mas Agus. Lepas dari kontroversinya ini bisa jadi pengingat bahwa ‘di atas langit masih ada langit’.
Salam
biasa mas, cara mengingatkan khan banyak cara. ada yang maut ada yang halus… mas agus memilih cara maut..
neh kaya sama halnya sebuah aliran sesat suatu agama, dimna klo tuh pembaca lansung nelen bulet”…dijamin dia bkal ikutan kaya tuh penulis yang moralis. kalo saya sendiri sih mas lebih ke arah saring n ambil. kita saring lebih dahulu tuh tulisan ambil baiknya sisihkan buruknya…..jgn mentang kita terhanyut akan tulisan dia eh kita gamikir baik benernya. :sup2:
yang saya suka dari mas agus adalah kedalaman makna. Tak perlu mbulet tapi saya dapat menangkap ide kreatif sang penulis.
Kalau boleh berterus terang inilah blogger yang tulisannya langsung memikat saya pada kunjungan pertama.
kalo blogku termasuk yg integritas penulisnya dipertanyakan gak yak… (hihihi… takut kesindir)
:bingung: jadi begini ia intinya itu klo dah baca jangan lupa untk komentar :sungkem
bahasa yang anda pakai dalam postingan “blogger moralis” sangat mendalam bagi mereka yang suka komentar… walaupun anda tidak menyebutkan nama, tetapi saya yakin banyak blogger yang akan menyadari perilakunya, dengan tulisan Anda ini… kalau baca
terlepas dari diskusi diatas, maaf saya tidak bisa mengomentari.. ntar dikira dukung si A atau si B.. mending memantau aja
Dunia maya atau dunia nyata kan sama saja; ada yang ‘sok’ moralis, ada yang memang moralis, ada yan penjahat juga.
Kenapa dipusingka ? yang penting jaga 2 dunia itu untuk kebaikan sekarang dan generasi mendatang…
sebenarnya penyematan title terhadap blogger adalah hak dari masing-masing individu dan itu penilaian yang sangat.. sangat subjektif, saya pikir.
Saya lebih memilih jalan untuk fokus pada manfaat yang bisa diambil dari tulisannya. Tidak perlu berfikir apakah dia blogger moralis, blogger idealis, blogger kambing, atau blogger zombi…
tapi, sah -sah saja untuk mengkotak-kotakan blogger. Karena bagaimanapun hal-hal seperti itu memang selalu gurih untuk diangkat sebagai bahan diskusi
Salam Kreatif,
Octa Dwinanda
ada benarnya mas. tapi subyektifitas itu terbentuk, kemungkinan atas dasar asumsi yang di petik dari pengamatan yang cukup obyektif. jadi sebenarnya bisa saja, hal itu benar. yang terlihat subyektif, jika si penulis tidak membeberkan data-data pendukung untuk “men-cap” title tertentu.
subjektifitas bukan berarti benar atau salah mas. maksud saya paremeter penyematan julukan terhadap blogger itu berbeda-beda setiap orangnya.
Bisa saja dengan penilaian parameter yang sama, yang satu mungkin menyebutnya blogger moralis, tapi yang lain mungkin saja menyebutnya blogger mentalis…
. Atau bisa juga sama-sama menyebut blogger moralis, tapi ternyata parameter penilaiannya berbeda.
Yang saya maksud hanya sebatas pemilihan kata-kata dalam pemberian julukan mas. Tidak jauh sampai makna yang terkandung didalamnya.
*jarang-jarang nih berdebat sama mas Fadly…
*
he he he… subyektifitas memang tidak harus benar atau salah, relatifitas sangat kuat mas.
yang saya garis bawahi adalah “cara menyematkan subyektifitas” terhadap pandangan apapun.
*ini diskusi kecil di tengah kerumunan mas
Blogger Moralis ? bagaimana dengan Blogger Tidak Moralis ?
Sudut pandang setiap blogger pasti berbeda, tergantung pada latar belakang ilmu dan lingkungan sosialnya.
Tidak dapat dipungkiri yang mas Agus sampaikan diatas banyak benarnya, Sehingga kesan menggurui menjadi sangat terasa.
Jujur saja jika saya menemukan blog yang seperti itu saya selalu mengajukan sebuah pertanyaan ( bukan untuk menjebak ) dan saya akan datang lagi untuk membaca balasan pertanyaan saya. Jika kesan menggurui yang saya rasakan, saya melakukan hal yang simpel, saya anggap pendapatnya PR dari guru saya tetapi tidak pernah saya kerjakan. It’s so simple.
Sedikit menambahkan, apakah harus dicekal atau dipuji ?
Menurut saya biarkan saja, kebebasan berpendapat tetap harus kita letak pada posisi yang paling tinggi dan kita wajib menghargai pendapatnya. Jika kita tidak sepaham, kita bisa berargumentasi pada komentar blog yang dia sediakan.
nahkumu bidhawahir. kita cuma melihat dengan zhohirnya. Dalam hal ini seharusnya kita lebih bisa untuk berpositif thinking.
“Kamu tidak mampu membuat keputusan sendiri, maka saya akan memutuskannya untuk Anda. Dan bila anda tidak mengikuti nasehat saya, memalukan”
Tapi klo ada yang ngomong seperti kata2 di atas, mending ke laut aja deh. Gw bilang dia norak bukan moralis!!!! kabur aahhhh :ngacir:
iya ni…memang banyak si yang berkomentar kaya gitu,
tapi sya setuju denagn pendapatnya Aldy…
semua orang memiliki bahasa pelampiasan yang berbeda-beda.
jadi wajar karena itulah indahnya hidup karena ada perbedaan hehehe….*_^