Terdorong oleh pertanyaan novianto di twitter. Tentang sebuah pemikiran. Pertanyaannya kira-kira begini:
“pentingkah sesorang memiliki alasan untuk ngeblog?”
Bisa jadi ada yang menjawab dengan lantang, “Penting!”
Bisa juga dengan jawaban angin lalu, “ah tidak penting-penting amat….”
Kedua jawaban ini tentu dilatari alasan masing-masing. Bahkan dulu saya pun tergugah untuk membuat artikel motivasi blogging. Dalam konteks memotivasi,artikel saya tentang transformasi pemikiran lewat blog, saya fikir masih bisa di andalakan untuk memicu semangat dan memberikan kekuatan dasar untuk membangun blog.
Pada saat itu, saya termasuk orang yang menjawab dengan lantang.
Namun dalam konteks yang lebih matang, saya rasa pemikiran itu masih perlu di bangun lagi. Akar-akarnya masih perlu di perkuat untuk memberi landasan yang lebih paten. Mengapa sih kita harus ngeblog? Apa sih fungsinya, manfaatnya untuk perkembangan saya apa dan seterusnya. Kunci jitu para jurnalis yaitu 5W + 1 H perlu kita gunakan.
Pengalaman saya selama ini, saya merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan blog. Blog ini khan media. Hanya media. Tergantung kita untuk digunakan sebagai apa dan untuk kepentingan apa?
Namun saya ingin menitik beratkan pada blog sebagai individu, karakter,sifat. Atau apapun itu, yang mencerminkan bahwa blog itu di hidupkan oleh seseorang, yang dilatarbelakangi oleh kehidupan sosialnya selama ini.
Tidak heran, ragam blog bertumbuh dengan karakter dan warna kepribadian yang semuanya unik. Masing-masing ingin memindahkan kehidupan alam nyatanya ke lingkungan jagat maya ini melalui blognya.
Apakah untuk kepentingan branding, berekspresi, pelampiasan, latihan menulis dan sebagainya. semua ingin mengambil posisi yang unik dalam satu komunal yang sangat luas.
Prinsipnya sebenarnya sama dengan kehidupan kita sehari-hari. Ada kelompok, ada obrolan, ada gossip ada perbedaan pendapat, ada pertengkaran, ada persahabatan. Semuanya berbaur dan kadang-kadang berbentur pun bisa. Sebab yang tertuang dalam setiap postingan adalah sesutu pemikiran berdasarkan karakter si pemilik. Subyektifitas tentu saja kental disini. Karakter personal sangat memainkan peranan.
Jikapun terdapat perbedaan pendapat, kita bisa membantah lewat kolom komentar, atau membuat postingan sendiri dengan argumentasi yang padat.
Intinya, dunia blogging adalah penyederhanaan realitas nyata kedalam realitas yang bisa kita rasakan lewat layar monitor. Dan dari situ kita bisa melihat kehidupan yang lain. Sebab sudah dilakukan penyaringan berekspresi, besosial dan macam-macam tingkah laku yang lebih terukur.
“Blog mempunya nyawa tersendiri?”
Oh iya, blog memang mempunyai nyawa tersendiri. Sebab di blog tertuang semacam pemikiran yang belum tentu bisa tertuang dalam realitas nyata. Bisa jadi kita pendiam dalam bersosial, tapi di blog kita terlihat begitu agresif, begitupun sebaliknya.
Artinya, yang berkomunikasi di sini adalah benar-benar isi yang ada di dalam hati kita, emosi, logika dan perpaduan dari semuanya. Disini melebur, saling memberi dan menerima. Membaur menjadi sebuah pemahaman yang “unik”.
Gerakan tubuh tidak terlalu diperlukan disini. Yang dirasakan hanyalah ungkapan lewat apa yang kita tulis, serta respon apa yang kita rasakan. Proses inilah nantinya yang akan memberikan sinergi dan membentuk nyawanya sendiri. Memberikan efek psikologis kepada kita.
Oke, saya sadar ini pemikiran belum tentu bisa diterima oleh semua kalangan. Bisa jadi saya di anggap telalu menjadikan keadaan terlihat begitu kompleks, ribet.
Sori kawan, ini hanya sumbang gagasan. Jika dianggap masuk akal, silahkan di serap dan dipahami. Jika dianggap berlebihan silahkan di palingkan.
Ngeblog untuk berbagi. Merajut asa untuk menghidupkan suasana, setuju?

{ 65 comments… read them below or add one }
menjawab pertanyaan mas Novianto sebelumnya,
saya berpendapat penting sekali seseorang memiliki alasan untuk ngeblog. Kenapa? Karena justru alasan itulah yang akan memberikan ruh kepada blog untuk terus hidup. Terlepas dari apakah alasannya hanya pure untuk berbagi, monetize, branding building, atau apalah.
Baru kemudian setelah ruh ada, “packaging” content blog bisa kita arahkan sesuai tujuan tersebut. Ini tak ubahnya dengan konteks penciptaan manusia. Ditiupkan ruh ke dalamnya dengan tujuan hidup untuk ibadah.
Masalah nanti dalam kehidupan dia mau menjadi apa, itu terserah. Tentu yang lebih baik masih dalam koridor ibadah dimana tidak menyimpang dari alasan ruh itu sendiri diciptakan.
Mbulet ya bahasa saya. Hehehe… masih sedikit terpengaruh dengan nuansa Ramadan, hingga bisa berkomentar seperti ini.
Artikelnya bagus mas.
waah saya setuju banget dengan mas arief… no comment deh bingung euy artikelnya udah mantap abis..
ngga kok mas. ngga mbulet, hanya perspektifnya saja yang spiritualistis. mantap pendapatnya.
tks yah
trafik blog bakalan naik ngk ya kalo begini ni, hehehe
Saya menilai alasan (bukan yang mengeluh) sebagai sebuah definisi kenapa kita bertindak. Terkadang ketika saya terbiasa mempertanyaakan kenapa saya marah dan kenapa saya begitu sayang pasangan saya, saya sendiri jadi mengerti kenapa saya harus semakin jadi lebih baik lagi. jadi ketika saya mau marah untuk suatu hal, saya malah sibuk mempertanyakan “apa pentingnya saya marah!”
Terimakasih mas atas penjelasannya
nah..,
kalau begitu tinggal mengasah pertanyaan nov. setuju khan?
Setuju mas, hanya saja kemampuan menyampaikan ide perlu saya asah lagi..biar bisa segampang mas fadly menguraikan ide kecil itu mas..
siplah..
jangan lupa sarapan penulis, membaca.
Terlalu banyak kesan yang timbul dari blogging. Rasanya, kata-kata tidak cukup mewakili tujuan, ekspresi beserta efek yang sebenarnya. Just wanna say, Let’s blogging for better living…!
keren nih quotenya. Blogging for better living. Dikampanyekan yuk!
Entah better living dari segi peningkatan kapasitas diri ataupun dari segi penghasilan lewat blog monetizing
monggo di mulai mas
hayuuuk… langsung monggo!
sip.. diriku suka pendapat itu mas
good article mas.. speechless deh..
tks mas…,
jadi kesandung nih
kalo jatuh bangun sendiri ya gan..
tapi tolong tangganya dipegang gan, jangan sampai tertimpa tangga pula..
Blog bernyawa? Jadi takut nih, ntar digiit! Hehehe…
Perlu berpikir ulang supaya blogku tidak “wujudhu ka ‘adamihi”
yang artinya kang ?
hihih.. dicabut aja giginya mas, biar gigitannya menggelikan
saya setuju bang,keunikan masing2 blog dalam mengungkapkan kediriannya masing2 ,se-akan2 masing2 punya nyawa ,susah mengungkapkannya,btw artikelnya mantab, ok. super duper.
tks yah,
ini pandangan mentah sebenarnya. tentu semua berpulang kepada pengalaman masing-masing..
saya agak sulit membayangkan ada orang mengerjakan sesuatu tanpa suatu alasan, sesederhana apapun alasan itu. Jadi pertanyaan itu tidak perlu ada, karena kalaupun dijawab tidak penting, alasan itu sendiri sudah ada saat kita memutuskan ngeblog (kecuali kalau dalam kondisi dihipnotis).
Apakah alasannya itu termasuk penting ? Nah, ini baru terserah masing2. Orang boleh ngeblog karena alasan yg betul2 penting, tapi boleh juga alasannya cuma iseng.
hmm..,
apakah alasan itu penting? inilah yg perlu dikawinkan antara blogger dan blog yang dibangun. selaraskah warna dan aura blognya dengan alasan yang membuatnya kepincut..,
begitu kira2 pak..?
nah terkadang dengan ngeblog pun, seseorang berubah dari yang aslinya mas….
misal :
jadi sok-sok maen setuju-setuju aja, baca juga gak, paham juga gak, yang penting caper di depan yang buat blog, misal saya ca[er di depan mas Fadly gitu…, hahaha
terus ada juga yang jadi sok bener-bener baeeeeeeeeeeek banget!
baik itu sok-sokan atau dalam usaha berusaha, kalau ada sanggahan, saya terima mas… ( ceritanya lagi pengen diskusi berat sama mas Fadly )
inilah yang mungkin bisa kita sebut sebagai “efek blogging”. kita akan di bawa menjadi satu penampilan yang lain di ruang publik internet. seperti yg saya singgung di atas, ada “penyaringan”.
kalau dalam taraf mambangun image, saya fikir sah-sah saja. asal tidak jauh dari keberadaan diri sendiri.
dan…, asal jangan sampai terjadi “keterasingan diri”
betul mas fadly, dunia blogging dan dunia nyata tidak sama 100 % di dunia blogging kita menggunakan kata-kata dan itulah yang mencerminkan sikap kita, sulit untuk menerjemahkan sikap asli di dunia nyata kita ke sebuah tulisan di blog (mungkin pake emoticons lebih membantu menerjemahkannya hahaha)..
aih aih…….. maenin katanya mantep banget dah mas Fadly ! tapi saya tetep dapet maksudnya !
hah ! two thums up deh buat kelihaian mengolah katanya mas Fadly Muin !
aih..aih…,
menyusun kata hingga memiliki makna yang luas, adalah suatu seni lid. ketika itu mampu kita oleh dan bisa mewakili isi pikiran kita. maka kolak pisang disaat berbuka puasa biasa tersaingi kenikmatannya…
wah agak nyinggung komentar yang saya tulis dibawahnya mas AM nih hahaha..
ya kembali ke bloggernya sendiri sih kalau memang dia punya komitmen yang kuat tetap menjadi diri sendiri dan tak akan menjelma menjadi keong racun sih oke oke aja hahahha..
kalau itu sudah ga bisa do komen lagi rif. bingung.
yang jelas, waktu akan membentuk pribadi di jagat maya ini.
oke makasih mas…
Kapan Saya seperti ini ya..
Mungkin nanti, kalo sudah terbiasa kumpul2 dengan blogger kelas atas..
Heheehe
ayo nov, design ulang blogmu, jika perlu minta tolong sama teman2 yg mumpuni dibidang itu. mas tri, satryabima dan kalau ada rujukan lain silahkan.
sebab design yang sesuai dengan karakter pribadi kita juga mempengaruhi semangat blogging.
setelah itu, mulailah menulis dari hati..
semoga sukses yah
Saya juga ikut-ikutan nampang di blog ini, padahal aslinya nggak ngetob-ngetob banget kok. Hahaha…
kalau mas Agus khan ibarat elang, pandai terbang dan lihai mengincar mangsa. dimana ada celah, diserbu. sukses terus mas..
sekarang malah artikelnya mulai merujuk pada pemaknaan yang unik. siap-siap direspon sebagai artikel berat mas
Nyawa baru…..
Nyawa, tentunya nyawa dalam tanda kutip kan mas? Artinya di sini kita berperan sebagai pengatur gerakan nyawa tersebut.. ingin berjalan kemana itu semua tergantung pikiran kita, kemana kita ingin mengarahkan
iya mas, tentu nyawa disini di kutip supaya lebih bernyawa
yang jelas, nanti. entah kapan kita akan merasakan sebuah getaran emosional yang kuat. ketika itulah kita akan merasakan bahwa ada pribadi diruang internet yang membuat kita merasa tertarik.
Mengenai alasan untuk ngeblog, bagi saya sangat penting. Tanpanya, tidak mungkin saya bisa bertahan sampai sekarang. Soal nyawa, kepiawaian sang penulis blog lah yang membuat blognya jadi bernyawa. Tulisan yang bernyawa umumnya bukan sekadar membidik keyword atau untuk membombardir dengan banyak link saja, tapi ada perhatian terhadap kenyamanan dan kepuasan pembaca di situ.
sealiran berarti mas is. tinggal yang membedakan adalah alasan masing-masing kita..,
Blog untuk berbagi. Merajut asa menghidupkan suasana.
Setuju Gan..
Lha..blogku nyawae 2 inch Gan.
biar 2 inci yg penting sabetannya dong…
Udin Hamd,
Saya masih kepikiran sampe sekarang. Maksudnya “blogger 2 inchi” itu apa siy?
“blogger 2 inchi” maksudnya si blogger melakukan aktifitas bloggingnya lewat layar 2 inchi Mas, seperti HP..he..he..he….
bener kata mas Rudy tuh mas Adi..
selama ini blog mas Udin memang mengandalkan HP-nya untuk ngeblog. hebat yah?
setuju mas..yang dipaparkan mas memang lebih mendetail tentang apa itu blog dan hal2 yang terkait didalamnya
tapi dalam penyederhanaannya, blog itu bagaikan rumah kita atau bahkan yang lebih spesifik lagi bagaikan cermin yang memantulkan apa yang menjadi keinginan dan refleksi dari dalam diri kita sehingga kita pun bisa bermain kata dan perasaan disana dan berusaha membagikannya kepada orang lain yang membacanya ^^
salam
iya kang
tergantung sama “gaya” masing-masing.
pada akhirnya warna blog akan mengikuti, dan semua itu dimulai dari sikap kita yang tercermin dari tulisan yang kita buat..
Kalau blog saya, nyawanya rangkap bin gado-gado. Multi topik, aneka warna.
Sengaja saya buat seperti dengan alasan agar memiliki area yang luas untuk membuat postingan.
Belum terlalu sanggup untuk membuat blog dengan niche tertentu. Apakah kelak aneka artikel itu menjadi roh/nyawa blog yang sesungguhnya? biarlah waktu yang menentukan, karena ngeblog sampai dengan saat ini belum memiliki tujuan tertentu, hanya sebagai pembunuh waktu dan arsip digital.
berarti, ruhnya yah disitu itu mas Aldy.
nyawa yang lenturnya.
justru gaya seperti itu akan memberikan feedback yang luas untuk mematangkan diri dalam pergaulan maya, kalau menurutku sih begitu…,
Kalau saya menjalaninya saja. Karena alasan dan tujuan bisa saja bergerak dinamis, berubah dari waktu ke waktu. Yang saya alami sih begitu.
apa adanya dan gunakan apa yang ada
ga neko-neko nih mbak isnuansa..
trims yah komennya
@isnuansa: cocok sekali mbak dengan slogan lets do it. Lakukan saja yang penting blogging kudu terus jalan.
@fadlymuin: meski pandangan nya mentah tp saya setuju mas, klo blogging punya nyawanya sendiri meski saya baru nge-blog saya sedikitnya sudah mulai merasakan nyawa dari setiap blog teman2 ternyata punya nyawanya sendiri. Jadi, tidak berlebihan sih menurut saya.
tks mas…,
ternyata blog memberikan efek psikologis yang unik yah
namun saat ini kebanyakan para blogger menitikberatkan pada penjualan produk melalui blognya
Dalem Euy Kajian, Bapak FM ni, perpaduan Yin dan Yan he he, makasih ya
makasih juga mas..,
keseimbangan ternyata penting mas..
Mantab Pak FM,,,perpaduan emosi bangetss
Setuju mas. Saya melihat blog benar-benar dipengaruhi oleh kehidupan sosial pemilik blog tersebut. Bila kehidupan sosial narablog tersebut sangat bagus. Misal, selalu menjalin silaturahim, ramah, dan supel, maka akan ketahuan dari cara penulisan di blognya.
Ada juga sebuah blog yang terkesan “kejam”. Pemilik blog tidak menjaga tulisannya dari makian, cacian, dan umpatan. Pembaca mungkin dapat menilai sifat narablog tersebut dari tulisan2nya itu.
iya mas, itu tidak bisa dipungkiri.
relasi-relasi sosial seorang blogger sangat mempengaruhi karakternya juga di dunia blogging.
termasuk yang kejam, egois, penindas dan karakter negatif lainnya, akan tercermin dari blognya. namun saya tetap yakin proses blogging yang ritmis, akan berdampak pada perbaikan pribadi.
waktulah yang akan menseleksinya mas Adi
Kalau bagi saya mas, ngeblog sebenarnya bukan untuk berbagi, tapi lebih kepada mencatat apa yang saya ketahui, apa yang saya pelajari, dan apa yang saya praktikan.
Mungkin memang terkesan egois (karena tidak ada niat berbagi), tapi ya itulah saya. Semoga kalaupun tidak ada yang bisa diambil manfaatnya, setidaknya tulisan2 saya memberikan manfaat khususnya bagi diri saya pribadi
hmm..,
semoga saja ini bukan karakter kejam mas Adi
begini..,
memang subyektif sekali alasannya mas. Niat disini memang tidak bisa serta merta dirasakan oleh pembaca blog kita. tapi cara kita menyampaikan dan substansi pesan yang disampaikan, nantinya akan ternilai sebagai upaya untuk berbagi. apakah sifatnya pengalaman, keilmuan atau hal-hal lain.
sejauh kita tidak menggaris-bawahi dan mewanti-wanti bahwa “ini bukan untuk berbagi” saya rasa masih positif mas…
Bloging juga merupakan diskusi dan sharing informasi yg membangun loh.
Dgn bloging kita bisa merasakan berbagai warna persepsi para bloger
salam kenal,
classically
Ini yang paling saya rasakan dari manfaat ngeblog. Secara umum, saya sama seperti Mas Rismaka (Adi). Apa yang saya jadikan persfektif dalam sebuah masalah selama ini, itulah yang saya tampilkan dalam konten blog saya. Dan, bagian yang menantangnya, persfektif itu kemudian diuji bahkan dibantah melalui kolom komentar. Dan, sedari dulu, saya cukup terbuka terhadap ujian dan bantahan itu. Itulah yang kemudian mengarahkan kepada “perbaikan pribadi”. Dan itu pulalah yang dimaksud “proses bloging yang ritmis” dalam persfektif saya.
Dan, oleh sebab itulah saya katakan dalam halaman about, bahwa membaca tulisan di blog saya juga berarti membaca perjalanan batin seorang anak manusia.
Wacana yang gayeng sekali, Bang. Thank you!
iya gan, sepertinya blog itu punya nyawa sendiri gan. Saya sekarang mulai ngeblog lagi dan dari blog itu juga saya bisa cari uang kecil-kecilan. saya ngasih traffic ke forum dan nanti dapet uang gan..
lumayan..
ngeblog untuk berbagi….artikelnya mantap,mas…jadi ketagihan baca tulisan2 mas yang lain nih…