<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Motivasi Mental &#187; filsafat hidup</title>
	<atom:link href="http://www.fadlymuin.com/category/filsafat-hidup/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.fadlymuin.com</link>
	<description>Tentang Motivasi, Pengembangan Diri dan Bisnis Secara Umum</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 17:02:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Lingkaran Makna</title>
		<link>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/lingkaran-makna.html?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=lingkaran-makna</link>
		<comments>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/lingkaran-makna.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 15:35:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fadlymuin</dc:creator>
				<category><![CDATA[filsafat hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fadlymuin.com/?p=1210</guid>
		<description><![CDATA[Kalau di fikir-fikir yah.. kita ini tak lepas dari lingkaran-lingkaran. terkadang siklus kehidupan ini, berkesan monoton. kita hanya berada disitu-situ saja. Walau kesannya, banyak hal yang sudah kita lakukanl. Hal-hal yang mungkin kita anggap sebagai sesuatu yang luar biasa. Tapi kalau difikirkan lebih dalam lagi, pada dasarnya kita hanya berada dalam satu pusaran. Perhatikan, mulai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Flingkaran-makna.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Flingkaran-makna.html&amp;source=fadlymuin&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Kalau di fikir-fikir yah.. kita ini tak lepas dari lingkaran-lingkaran. terkadang siklus kehidupan ini, berkesan monoton. kita hanya berada disitu-situ saja. Walau kesannya, banyak hal yang sudah kita lakukanl. Hal-hal yang mungkin kita anggap sebagai sesuatu yang luar biasa. Tapi kalau difikirkan lebih dalam lagi, pada dasarnya kita hanya berada dalam satu pusaran.</p>
<p>Perhatikan, mulai dari bagun tidur sampai tidur lagi. Kita tak luput dari serangkaian lingkaran aktifitas yang sifatnya ”rutinitas”. Bangun, Beraktifitas, rilex dan akhirnya tertidur karena lelah. Begitu seterusnya.</p>
<p>Hampir seluruh hidup kita ini ”terjerat” dalam satu lingkaran yang pasti. Kita terikat dalam pusaran waktu yang tak mungkin bisa dikendalikan. Semua diluar batas kemampuan manusia.<span id="more-1210"></span></p>
<p>Dalam aspek yang lebih luas. Sebagai individu, manusia diikat dalam komitmen lingkaran. Mulai berada dari dalam kandungan sang bunda, lahir ke dunia, tumbuh dari masa kanak-kanak sampai dewasa, menikah dan menjalani hidup. Lalu meninggal karena usia tua. Adakah yang mampu menghalau takdir itu? Tentu tidak ada.</p>
<p>Itulah ketentuan waktu yang tak dapat di bantah oleh manusia.</p>
<p>Yang bisa dilakukan hanyalah ”memanfaatkan waktunya”.</p>
<p>Cuma itu saja poinnya. Memang kita tidak bisa lagi membantah, bahwa kita berada dalam lingkaran-lingkaran. baik itu lingkaran kecil, dalam bentuk sebuah aktifitas keseharian, maupun dalam lingkaran besar dalam bentuk proses kehidupan secara utuh.</p>
<p><em>Kalau anda</em> seorang yang ahli ziarah. Suka mendatangi makam-makam leluhur. Pasti anda tidak asing pada nisan-nisan yang terlihat disana.</p>
<p>Setiap nisan terpampang tulisan jelas disitu, lahir pada tanggal berapa, bulan dan tahun berapa – meninggal pada tanggal bulan tahun berapa pula..</p>
<p>Perhatikan tanda garis (-) itulah jangka waktu yang dimiliki pemilik nisan. Cuma sebatas garis itu saja. Apa maknanya? akan dijawab dengan pertanyaan cantik, berikut ini</p>
<p><strong>”Seberapa dan apa saja yang sudah kita lakukan untuk mengisi garis tipis itu?”</strong></p>
<p>Seorang yang biasa-biasa saja, tentu ”garis tipis” itu tak akan terisi oleh sesuatu yang bermakna. Tapi tidak bagi orang hebat. Itulah makna lingkaran hidup yang perlu kita isi. Dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Di gempur dengan aktifitas progresif yang syukur-syukur bisa menciptakan superioritas kita sebagai manusia yang utuh, berguna dan bermanfaat.</p>
<p>Paling tidak ada sesuatu yang kita perbuat yang bisa dikenang kemudian.ada upaya mengisi lingkaran itu..</p>
<p>Jadi kembali lagi,  &#8221;kalau difikir-fikir&#8221;, hidup kita ini kecil sekali, pendek dan tipis. Jika kita terlena dan malas membangun kualitas, tidak ada upaya menciptakan suasana hidup yang, yah paling tidak bisa bermanfaat alias tidak sia-sialah</p>
<p>Artikelnya serem banget, identik dengan kematiankah? Bukan. Ini adalah upaya untuk mengajak. bahwa banyak sekali hal-hal yang bisa kita lakukan. Ada banyak ”tantangan menyenangkan” yang perlu kita hadapi. daripada hanya sekedar meratap, mengeluh atau menyudutkan pihak lain.</p>
<p>kita perlu melakukan sesuatu!</p>
<p>Semoga tulisan ini bisa sedikit menyentuh ruang kosong dihati anda.</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Flingkaran-makna.html&amp;t=Lingkaran%20Makna" id="facebook_share_button_1210" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; display: -moz-inline-block; display:inline-block; padding:1px 20px 0 5px; margin: 5px 0; height:15px; border:1px solid #d8dfea; color: #3B5998; background: #fff url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top right;">Share</a>
	<script type="text/javascript">
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_1210') || document.getElementById('facebook_share_icon_1210') || document.getElementById('facebook_share_both_1210') || document.getElementById('facebook_share_button_1210');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_1210') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	</script>
	]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/lingkaran-makna.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>73</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Patuh</title>
		<link>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/patuh.html?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=patuh</link>
		<comments>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/patuh.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 17:49:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fadlymuin</dc:creator>
				<category><![CDATA[filsafat hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fadlymuin.com/?p=1195</guid>
		<description><![CDATA[Dalam hal tertentu, patuh masih identik dengan sebuah keluguan. Ketakutan untuk mencoba hal-hal baru atau bahkan berontak dan keluar dari pakem. Dari kecil kita sudah di tanamkan sifat kepatuhan. Patuh sama dengan anak baik. Berontak sama dengan anak nakal. Sepanjang pertumbuhan anak-anak menuju dewasa, kita sering di jaga dengan nilai-nilai kepatuhan. Melenceng dari situ, sama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fpatuh.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fpatuh.html&amp;source=fadlymuin&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dalam hal tertentu, patuh masih identik dengan sebuah keluguan. Ketakutan untuk mencoba hal-hal baru atau bahkan  berontak dan keluar dari pakem.</p>
<p>Dari kecil kita sudah di tanamkan sifat kepatuhan. Patuh sama dengan anak baik. Berontak sama dengan anak nakal. Sepanjang pertumbuhan anak-anak menuju dewasa, kita sering di jaga dengan nilai-nilai kepatuhan. Melenceng dari situ, sama artinya mengabaikan nilai-nilai luhur.</p>
<p>Tujuannya, agar kita bisa menjadi manusia baik, berguna dan bisa menjadi harapan orang tua. Klasik memang&#8230;<span id="more-1195"></span></p>
<blockquote><p>Dalam kondisi yang berbeda. Kepatuhan ternyata menciptakan stagnasi. Hilangnya daya kreatif dan tumpulnya upaya untuk berinovasi. Dikaitkan dengan dunia bisnis. Patuh pada nilai-nilai terdahulu tanpa melakukan atau merspon perubahan jaman, sama artinya tidak mampu untuk bersaing. Tidak mampu berkembang dan bertumbuh secara progresif.</p></blockquote>
<p>Namun terlepas dari itu,  sejatinya, patuh sebenarnya sangat jitu dijadikan semacam alat untuk mengontrol orientasi seseorang mencapai sebuah tujuan.</p>
<p>Karena kepatuhanlah, kita jadi tunduk akan aturan main yang ada. Kepatuhan jualah yang  menciptakan ketarutaran sosial yang lebih luas. Kita jadi patuh pada simbol-simbol. Patuh berlalu lintas dan sebagainya.</p>
<p>Kalau nilai patuh ini kita petik dan kita sisipkan sebagai alat kontrol hidup kita. Sebenarnya bisa dan cocok untuk optimasi keseriusan.</p>
<p>Dalam hal mencapai tujuan hidup. Misalkan seseorang yang ingin menjadi pebisnis, maka mau tidak mau, ia harus mengerti caranya. Untuk mengerti itu, tentu ia harus patuh pada sifat pebisnis, antara lain harus memiliki mind set hebat, berani gagal, berani mencoba, dan sifat-sifat tangguh lainnya yang mendukung hasrat untuk menjadi pebisnis unggulan. Jika menolak itu, sama artinya  dengan gagal. Tujuan untuk jadi pebisnis akan jauh dari jangkauan.</p>
<p>Dalam contoh lain, misalnya ingin meniti karir. Tapi enggan melemar kerjaan. Tidak tau memilih jenis pekerjaan yang sesuai dengannya. Menolak banyak ajakan untuk bergabung bersama teman-teman lainnya.</p>
<p>Atau walau sudah jadi karyawan, tapi enggan mengembangkan diri agar bisa menjadi karyawan berprestasi dan berkualitas. Tidak patuh pada ketentuan kantor yang sudah di buat. Lambat laun, jenjang karir seseorang yang seperti itu, sudah bisa di tebak. Biasa-biasa saja atau menunggu waktunya saja untuk keluar.</p>
<p>Masih banyak contoh-contoh lain sebenarnya. kalau di ceritakan semua terlalu panjang. Tapi intinya Patuh merupakan salah satu sifat yang pantas dijadikan kunci-kunci keberhasilan seseorang.</p>
<p>Nah, jika kita berkeinginan mencapai sebuah tujuan, mencapai impian dan hasrat-hasrat lain yang ”menggoda”. Maka PATUH adalah kunci sukses yang layak dijadikan pegangan. insyaAllah&#8230;</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fpatuh.html&amp;t=Patuh" id="facebook_share_button_1195" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; display: -moz-inline-block; display:inline-block; padding:1px 20px 0 5px; margin: 5px 0; height:15px; border:1px solid #d8dfea; color: #3B5998; background: #fff url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top right;">Share</a>
	<script type="text/javascript">
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_1195') || document.getElementById('facebook_share_icon_1195') || document.getElementById('facebook_share_both_1195') || document.getElementById('facebook_share_button_1195');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_1195') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	</script>
	]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/patuh.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>71</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsep Hidup Anda Seperti Apa?</title>
		<link>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/konsep-hidup-anda-seperti-apa.html?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=konsep-hidup-anda-seperti-apa</link>
		<comments>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/konsep-hidup-anda-seperti-apa.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 00:18:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fadlymuin</dc:creator>
				<category><![CDATA[filsafat hidup]]></category>
		<category><![CDATA[konsep hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fadlymuin.com/?p=1140</guid>
		<description><![CDATA[Apa gunanya sih konsep hidup itu? Seberapa pentingkah untuk hidup kita? Penting atau tidaknya, bergantung kepada diri kita masing-masing. Siapapun yang merasa ”ada sesuatu yang perlu dijadikan panutan” yang akan menghantarkannya pada perbaikan hidup, maka konsep hidup itu sangat diperlukan. Tapi kalau sebaliknya yah tentu saja, konsep hidup ini tidak penting! Kalau kita bicara soal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fkonsep-hidup-anda-seperti-apa.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fkonsep-hidup-anda-seperti-apa.html&amp;source=fadlymuin&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Apa gunanya sih konsep hidup itu?</p>
<p>Seberapa pentingkah untuk hidup kita?</p>
<p>Penting atau tidaknya, bergantung kepada diri kita masing-masing. Siapapun yang merasa ”ada sesuatu yang perlu dijadikan panutan” yang akan menghantarkannya pada perbaikan hidup, maka konsep hidup itu sangat diperlukan. Tapi kalau sebaliknya yah tentu saja, konsep hidup ini tidak penting!</p>
<p>Kalau kita bicara soal konsep hidup. Artinya kita akan bicara bagaimana CARA MERANGKAI. Ya merangkai! Karena itu adalah solusi dan jalan yang harus di tempuh jika kita ingin membuat suatu konsep tentang hidup kita sendiri.<span id="more-1140"></span></p>
<p>Merangkai konsep hidup bukanlah perkara sepele. Sebab yang dirangkai adalah Cara Berfikir. Mental dan Kepribadian yang akan disesuaikan dengan jalan dari konsep hidup yang kita buat.</p>
<p>Bisa jadi cara berfikir anda bagus, sesuai dengan cara berfikir orang-orang sukses. Tapi mental dan pribadi anda tidak bisa mengimbangi. Maka konsep yang sudah anda buat belum tentu bisa berjalan. Begitupun kalau mental anda sudah ”<a href="http://www.fadlymuin.com/belajar-bisnis/gagal-dalam-berbisnis.html" target="_blank">berani gagal</a>” dan pribadi anda bisa berempati dan mendukung untuk sukses. Tapi tanpa diimbangi dengan cara berfikir cerdas, maka hasilnya juga akan timpang.</p>
<p>Jadi solusinya sebenarnya, bagaimana kita merangkai ketiga elemen itu agar bisa proporsional dan saling mendukung. Terikat satu sama lain. Sehingga kita bisa memiliki perpaduan diri yang mantap.maka jadilah Konsep Hidup yang ideal milik kita sendiri.</p>
<p>Sekarang, bagaimana ukuran dari ketiga elemen itu yang tepat kita gunakan. Diambil darimanakah bahan baku itu? Tentu saja, bahan mentahnya sudah kita miliki, yaitu diri kita sendiri. Tinggal kita memolesnya saja agar memiliki ciri khas, bahwa itu konsep hidup miliki kita.</p>
<p>Kita perlu memetik cara-cara berfikir orang-orang yang sudah sukses. Cara berfikir simple, produktif dan ekonomis misalnya. Kita bisa petik mental beraninya orang-orang sukses dan kita bisa mengadopsi kepribadian yang elegan, empati dan bisa bergaul dengan cepat. Dan cara-cara lain yang menurut pandangan obyektif kita, itu bagus.</p>
<p>Artinya resep hidupnya sudah ada diluaran, kita juga sudah memiliki bahan mentahnya, tinggal diolah sedemikian rupa agar menghasilkan sajian karakter yang bisa mendukung target kita untuk menjadi orang yang tepat guna. Sesuai dengan rangkaian konsep hidup yang kita idamkan.</p>
<p>Masalah yang mungkin timbul adalah terjadinya distorsi ketika kita akan merangkai ketiga elemen tadi. Cara berfikir, Mental dan kepribadian. Siapapun yang ingin mendapatkan konsep hidupnya,  maka kuncinyaa adalah kemampuan mengakurkan ketiga elemen tadi. Jika gagal disitu, maka konsep hidupnya tak akan diraih.</p>
<p>Bisa jadi ada sebagian, tapi sebagian lagi menguap karena adanya distorsi tadi. Hasilnya tentu tidak maksimal. Dan ini semua bisa diselesaikan dengan waktu. Perjalanan waktu akan membuat kita perlahan bisa meleburkan semua itu.</p>
<p>Kesimpulannya, konsep hidup itu sebenarnya sederhana. Cuma menuntut keahlian merangkai cara berfikir, mental dan kepribadian saja. Siapapun yang berhasil meleburkan itu dalam karakter diri yang utuh, maka dia berhasil mendapatkan konsepnya. Manfaatnya. tentu saja untuk kebahagiaan diri.</p>
<p>Ok, kalau menurut anda konsep hidup itu seperti apa dan apa konsep hidup anda?</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fkonsep-hidup-anda-seperti-apa.html&amp;t=Konsep%20Hidup%20Anda%20Seperti%20Apa%3F" id="facebook_share_button_1140" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; display: -moz-inline-block; display:inline-block; padding:1px 20px 0 5px; margin: 5px 0; height:15px; border:1px solid #d8dfea; color: #3B5998; background: #fff url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top right;">Share</a>
	<script type="text/javascript">
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_1140') || document.getElementById('facebook_share_icon_1140') || document.getElementById('facebook_share_both_1140') || document.getElementById('facebook_share_button_1140');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_1140') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	</script>
	]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/konsep-hidup-anda-seperti-apa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>42</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sukses Hanya Masalah Waktu</title>
		<link>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/sukses-hanya-masalah-waktu.html?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=sukses-hanya-masalah-waktu</link>
		<comments>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/sukses-hanya-masalah-waktu.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 02:31:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fadlymuin</dc:creator>
				<category><![CDATA[filsafat hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kelas sukses]]></category>
		<category><![CDATA[waktu sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fadlymuin.com/?p=1018</guid>
		<description><![CDATA[Saya sedang mencoba berimajinasi tentang sebuah kesuksesan. Saya sedang bereksperimen ingin memberi sebuah dukungan bagi siapa saja yang ingin sukses, termasuk daku juga dong…! Jadi jangan mengkerutkan kening yah saat membaca artikel berikut ini. Saya membayangkan bahwa sukses itu ibarat sebuah ruangan kelas. Layaknya kelas yang biasa dipergunakan untuk proses belajar mengajar. Didalam ruangan terdiri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fsukses-hanya-masalah-waktu.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fsukses-hanya-masalah-waktu.html&amp;source=fadlymuin&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<blockquote><p>Saya sedang mencoba berimajinasi tentang sebuah kesuksesan. Saya sedang bereksperimen ingin memberi sebuah dukungan bagi siapa saja yang ingin sukses, termasuk daku juga dong…! Jadi jangan mengkerutkan kening yah saat membaca artikel berikut ini.</p></blockquote>
<p>Saya membayangkan bahwa sukses itu ibarat  sebuah ruangan kelas. Layaknya kelas  yang biasa dipergunakan untuk proses belajar mengajar. Didalam ruangan terdiri dari  orang-orang sukses. Merekalah orang-orang  yang  telah berhasil melakukan ”Perjalanan Panjang”. Hingga akhirnya bisa sampai ke ruangan itu.<span id="more-1018"></span></p>
<p>Saya mengibaratkan, bahwa masing-masing orang ”yang nantinya” ada disitu, adalah mereka yang tercatat sebagai ”murid tetap”.Jadi sampai kapanpun mereka tetaplah sebagai murid disitu. Tidak ada orang lain yang bisa menggantikan posisinya atau statusnya di kelas sukses itu.</p>
<p>Kalau namanya murid tetap, artinya kursi dan letaknya, tata ruangannya semua itu sudah teratur sedemikian rupa, diperuntukkan buat si murid. Walaupun nantinya, ada yang datang terlambat. Yang membedakan hanyalah masalah waktu. Cepat atau lambat!</p>
<p>Tidak akan ada yang namanya saling merebut. Saling sikut, saling menyerang, ribut dan bertengkar karena merebut kursi. Sebab masing-masing sudah disediakan kursinya sendiri-sendiri.</p>
<p>Ringkasnya,</p>
<blockquote><p>Sukses itu adalah sebuah perjalanan. Masing-masing orang, waktunya di tentukan berbeda dalam pencapaian sukses itu. Ada yang cepat ada yang lambat. Tak perlu khawatir. Karena kita tetap di tunggu.Tempat sudah tersedia. Hanya masalahnya, apakah kita mau melakukan perjalanannya atau tidak.</p></blockquote>
<p>Lain halnya jika kita memang tidak pernah terdaftar sebagai murid atau mahasiswa di ruang ”kelas sukses” tersebut. Jangankan untuk sukses, untuk di absen saja nama kita tidak tertera disitu. Bagaimana mau sukses, kalau peluang kita sudah tertutup?</p>
<p>Analogi yang pas untuk mendaftarkan diri sebagai calon sukses yaitu dengan menjernihkan niat dan bertindak dengan serius dan ikhlas. Tetapkan target, kuatkan tekad.</p>
<p>Maka secara otomatis kita akan terkontrol. Segala tindakan kita akan selaras dengan kurikulum sukses yang di tetapkan oleh kelas yang kita ikuti.</p>
<p>Sekarang pertanyaannya, sudahkah anda mendaftarkan diri di kelas yang anda pilih?</p>
<p>Semoga yang singkat ini bisa memperluas imajinasi kita…</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fsukses-hanya-masalah-waktu.html&amp;t=Sukses%20Hanya%20Masalah%20Waktu" id="facebook_share_button_1018" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; display: -moz-inline-block; display:inline-block; padding:1px 20px 0 5px; margin: 5px 0; height:15px; border:1px solid #d8dfea; color: #3B5998; background: #fff url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top right;">Share</a>
	<script type="text/javascript">
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_1018') || document.getElementById('facebook_share_icon_1018') || document.getElementById('facebook_share_both_1018') || document.getElementById('facebook_share_button_1018');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_1018') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	</script>
	]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/sukses-hanya-masalah-waktu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>59</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perihal Menyikapi Rasa Cemas Yang Tak Terdeteksi</title>
		<link>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/perihal-menyikapi-rasa-cemas-yang-tak-terdeteksi.html?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=perihal-menyikapi-rasa-cemas-yang-tak-terdeteksi</link>
		<comments>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/perihal-menyikapi-rasa-cemas-yang-tak-terdeteksi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 17:46:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fadlymuin</dc:creator>
				<category><![CDATA[filsafat hidup]]></category>
		<category><![CDATA[deteksi rasa cemas]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[menyikapi rasa cemas]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab rasa cemas]]></category>
		<category><![CDATA[rasa cemas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fadlymuin.com/?p=1012</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai manusia biasa, kita tak luput dari perasaan cemas. Perasaan cemas, merupakan ciri khas bahwa kita adalah makhluk perasa. Bisa merasakan hal-hal tertentu yang mengganggu perasaan tenang atau ketenteraman hati kita. Hal itu sangat manusiawi! Hanya yang menjadi masalah, ketika rasa cemas itu sudah sampai pada titik kronis. Kita tidak bisa melakukan aktifitas rutin kita. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fperihal-menyikapi-rasa-cemas-yang-tak-terdeteksi.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fperihal-menyikapi-rasa-cemas-yang-tak-terdeteksi.html&amp;source=fadlymuin&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Sebagai manusia biasa, kita tak luput dari perasaan cemas. Perasaan cemas, merupakan ciri khas bahwa kita adalah makhluk perasa. Bisa merasakan hal-hal tertentu yang mengganggu perasaan tenang atau ketenteraman hati kita. Hal itu sangat manusiawi!</p>
<p>Hanya yang menjadi masalah, ketika rasa cemas itu sudah sampai pada titik kronis. Kita tidak bisa melakukan aktifitas rutin kita. Menciptakan instabilitas pada sisi emosional kita. Tidak bisa konsentrasi bekerja apalagi  berbisnis.</p>
<p>Bahkan yang lebih parah, kita mulai melampiaskan rasa cemas itu dalam bentuk amarah yang tak terkendali,  justru kepada orang-orang yang kita cintai. Tentu saja, hal ini tidak boleh di biarkan.<span id="more-1012"></span></p>
<p>Lalu bagaimana cara ideal untuk mengatasi rasa cemas ini. Agar kita bisa kembali normal. Bisa menjalani hari-hari dengan rasa gembira dan berpengharapan tinggi?</p>
<p><em>Mari kita coba sama-sama kupas lebih dalam.</em></p>
<p>Masih ingat khan artikel yang saya beri judul ”<a href="http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/masing-masing-sudah-ada-obatnya.html" target="_blank">masing-masing sudah ada obatnya</a>” khan?. Di dalam artikel itu saya cerita bagaimana cara seorang dokter mengatasi pasiennya?</p>
<p>Ok kita petik saja pesan singkatnya bahwa untuk mengatasi sebuah penyakit. Doker tak bisa menghindari tahapan awal yaitu  ”mencari penyebab” sakit si pasien.</p>
<p>Sama halnya dengan memecahkan masalah. Mengetahui penyebab sebuah masalah, akan mempermudah kita untuk memberikan solusi yang tepat atas masalah yang sedang kita hadapi.</p>
<p>Coba kita kaitkan dengan masalah cemas yang sedang kita cari jalan keluarnya. Kira-kira, jika kita mengetahui penyebab rasa cemas itu, <em><span style="color: #000080;">&#8220;apakah kita bisa lebih mudah mencari obatnya?  Bagaimana kalau ternyata tidak sesuai? Justru saya malah menjadi tambah cemas? Apa anda bisa bertanggung jawab?!&#8221;</span></em> Tenang dulu dong..</p>
<p>Setidaknya, dengan mengetahu penyebabnya, kita akan lebih mudah mencari jalan keluarnya. kita akan lebih mudah menguraikan poin-poin masalah penyebab rasa cemas itu. Kita bisa runut, kita bisa mencari benang merahnya, dan seterusnya..</p>
<p><strong><em>Kita ambil contoh begini..</em></strong></p>
<ul>
<li>Bagaimana jika tiba-tiba seorang teman manghampiri kita. Dengan raut wajah kusut dan langkah tergopoh-gopoh ia menghampiri kita. Tanpa basa-basi ia langusng bicara agag keras kepada kita ”gue bingung banget nih&#8230; bantuin gw dong! Gimana caranya nih?”.</li>
</ul>
<ul>
<li>Saya yakin, jika seorang dokter di datangi seorang pasien dengan rasa takut dan bingung langsung berkata kepadanya  <em>”tolong kasih saya obat dong dok&#8230;. sakit nih!”</em> obat apa yang mau di kasih si dokter? La wong penyakitnya saja belum ketahuan!</li>
</ul>
<p>Sama saja dengan kita, jika teman yang tiba-tiba datang tadi langsung meminta solusi kepada kita tanpa memberi tahukan duduk persoalannya. Apa kita langsung bisa memberikan solusi untuknya? Saya bisa pastikan, kita langsung ikut bingung!</p>
<p>Jadi menurut saya, sebelum sampai ke tahap mengatasi rasa cemas itu, sebaiknya di uraikan dulu penyebabnya. Dengan sendirinya, jika penyebab sudah di ketahui. Itu berarti masalah sudah di tangan. Kita sudah berada selangkah lebih maju. Akan lebih mudah bagi kita, untuk  memecahkan masalahnya.</p>
<p>Ok.</p>
<p>Sekarang yang jadi masalah, bagaimana mengetahui bahwa ”hal itu” adalah penyebab rasa cemas kita? nah loh!</p>
<p>Agag repot juga yah menjawab pertanyaan ini.</p>
<p>Sebab rasa cemas itu adanya di dalam hati. Dan yang mengetahui apa yang terkandung di dalam hati itu adalah diri kita sendiri.</p>
<p>Jadi maksudnya?</p>
<p>Maksudnya, kita di minta untuk jujur, ikhlas dan patuh terhadap apa yang sedang kita rasakan.</p>
<p>Ungkapkan saja semuanya. Jangan di pendam, jangan di sembunyikan. Toh yang mengetahui hanya diri kita sendiri dan Tuhan. Orang lain tidak akan bisa denger isi hati kita.</p>
<p>Yah! Itulah cara paling jitu untuk mengetahu bahwa ”hal itu”lah yang sebenarnya membuat kita merasa cemas. &#8220;Hal itulah&#8221;  yang membuat kita selama ini merasa uring-uringan dan enggan melakukan banyak hal.</p>
<p>Jadi kesimpulannya, rasa cemas itu sangat, sangat manusiawi. Walau demikian cemas cukup mengganggu kita dalam beraktifitas. Jadi sebaiknya ia di babat habis dari dalam diri kita. Di ungkit lalu di dorong keluar.</p>
<p>Caranya? Yah itu tadi!</p>
<p>Ketahuilah apa penyebabnya. Ungkit penyebabnya dengan cara jujur, ikhlas dan patuh terhadap apa yang sedang kita rasakan. Lalu dorong keluar! Mudah khan?</p>
<p>Semoga bermanfaat!</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fperihal-menyikapi-rasa-cemas-yang-tak-terdeteksi.html&amp;t=Perihal%20Menyikapi%20Rasa%20Cemas%20Yang%20Tak%20Terdeteksi" id="facebook_share_button_1012" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; display: -moz-inline-block; display:inline-block; padding:1px 20px 0 5px; margin: 5px 0; height:15px; border:1px solid #d8dfea; color: #3B5998; background: #fff url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top right;">Share</a>
	<script type="text/javascript">
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_1012') || document.getElementById('facebook_share_icon_1012') || document.getElementById('facebook_share_both_1012') || document.getElementById('facebook_share_button_1012');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_1012') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	</script>
	]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/perihal-menyikapi-rasa-cemas-yang-tak-terdeteksi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>52</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masing-Masing Sudah ada Obatnya</title>
		<link>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/masing-masing-sudah-ada-obatnya.html?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=masing-masing-sudah-ada-obatnya</link>
		<comments>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/masing-masing-sudah-ada-obatnya.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 14:35:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fadlymuin</dc:creator>
				<category><![CDATA[filsafat hidup]]></category>
		<category><![CDATA[cara mengatasi masalah]]></category>
		<category><![CDATA[dokter]]></category>
		<category><![CDATA[masalah dan solusinya]]></category>
		<category><![CDATA[memecahkan masalah]]></category>
		<category><![CDATA[mencari solusi]]></category>
		<category><![CDATA[obat mujarab]]></category>
		<category><![CDATA[pil pahit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fadlymuin.com/?p=942</guid>
		<description><![CDATA[Ketika musibah atau masalah menimpah kita. banyak reaksi yang akan bermunculan. Baik itu dalam bentuk penerimaan, maupun dalam bentuk penolakan. Namun apa mau di kata. Berkutat pada reaksi-reaksi saja, tidak akan cukup. Kita perlu solusi. Sebab reaksi sifatnya hanya sementara. Setelah itu, kita akan di hadapkan pada kenyataan. Bahwa masalah ini harus di hadapi dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fmasing-masing-sudah-ada-obatnya.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fmasing-masing-sudah-ada-obatnya.html&amp;source=fadlymuin&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Ketika musibah atau masalah menimpah kita. banyak reaksi yang akan bermunculan. Baik itu dalam bentuk penerimaan, maupun dalam bentuk penolakan. Namun apa mau di kata. Berkutat pada reaksi-reaksi saja, tidak akan cukup. Kita perlu solusi. Sebab reaksi sifatnya hanya sementara. Setelah itu, kita akan di hadapkan pada kenyataan. Bahwa masalah ini harus di hadapi dan perlu jalan keluar yang tepat. Supaya hidup kita kembali stabil.</p>
<p>Masing-masing kita pernah dan sejatinya akan di perhadapkan dengan sebuah masalah. Dan setiap masalah, porsi dan karakternya berbeda-beda. Sebab akibatnya juga beda. Penyelesainnyapun berbeda-beda. Sekali lagi sesuai dengan latar belakang individu masing-masing.<span id="more-942"></span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Kalau sudah seperti itu, yang kita lakukan adalah mencari tahu apa penyebabnya dan bagaimana solusinya.</strong></p>
<p>Dua porsi yang saling melengkapi ini menjadi roda penggerak kita untuk bergerak dan berusaha mencairkan situasi. Mencari solusi lewat buku, artikel sederhana, atau sekedar curhat sama kawan dan tempat-tempat lain yang kita anggap bisa memberikan jawaban atas kegelisahaan kita itu. Pokoknya masalah ini harus beres.</p>
<p><em><strong>Sebagai bahan ilustrasi Coba simak contoh kehidupan berikut ini</strong></em></p>
<blockquote><p>Katakan ada seorang berinisial A sedang terkena musibah. Si A akhirnya resmi jadi <strong>pengangguran</strong> karena ada perampingan karyawan di perusahaan tempat ia bekerja. Semenjak itu rasa cemas menjadi temannya. Ketakuatan tidak punya penghasilan tetap, akibat PHK sangat mengganggu. Cari kerja lagi untuk jaman sekarang sudah  susah. Sementara anaknya masih kecil-kecil. Kegelisahaan semakin menjadi.</p>
<p>Ia pun memikirkan tentang bayaran sekolah anak-anaknya yang terancam nunggag atau bahkan bisa di keluarkan karena tidak bayar spp. Lalu  bagaimana masa depan mereka. Belum lagi cicilan mobil yang baru di bayar beberapa kali cicilan saja. masih tersisa puluhan bulan lagi. Cicilan rumah yang cukup besar, juga harus di bayar, bagaimana nanti kalau rumahnya disita oleh bank,, mau tinggal dimana keluarganya?</p>
<p>Pokoknya fikiran “mengancam” seketika mengamuk di dalam diri si A. ia merasa perjalanan hidupnya begitu tragis dan mencekam. Masa depannya mulai tidak jelas. Karena musibah PHK itu. Lalu bagaimana ia menghadapi semua itu? Saat itu belum ada jawaban,  yang tersisah hanyalah kekecewaan dan rasa putus asa. Hmm…Kira-kira obat apa yang mujarab untuk si A?</p></blockquote>
<p>Apakah dengan memberikan motivasi agar dia tetap action? Atau kita bisa katakan padanya “<em>sudahlah A….  gagal adalah keberhasilan yang tertunda, ayo…  kamu pasti bisa!”</em>. Hmm saya harap itu bisa manjur.</p>
<p>Tapi nanti dulu. Tidak semua orang bisa langsung tergerak dengan resep seperti itu. Mungkin saja dia butuh diagnosa yang lebih dalam. Ia mungkin perlu kisah-kisah  inspiratif. Mungkin dia butuh diam sejenak. Mungkin dia butuh fase untuk merenung, meratapi nasib, sebagai upaya eksplorasi kekecewaan dan penyesalannya. Its ok! “&#8230; seterusnya… dan setersunya.. “</p>
<p><span style="color: #000080;">Saya rasa masih banyak cuplikan kisah yang senada dengan kisah si A. Kalau saya teruskan bisa-bisa artikel ini jadi cerpen melankolis dong?</span></p>
<p>Sekarang bagaimana solusi ideal untuk si A agar bisa cepat-cepat keluar dari permasalahannya itu? Agag rumit sebenarnya untuk menjawab permasalah si A. Tapi saya yakin, setiap masalah pasti ada jawabannya. Masalahnya apakah setiap jawaban itu bisa di terima oleh orang yang bermasalah?</p>
<p>Oleh karena itu, untuk menyikapi saya hanya ingin memberikan sebuah analogi sederhana, begini</p>
<blockquote><p>Coba kita fokus kepada dokter. Jika kita sakit solusinya adalah ke dokter. Atau kalau sakitnya hanya sakit ringan,  kita bisa langsung minum obat yang di jual bebas di apotik atau toko obat biasa juga boleh. Tapi bagaimana kalau sakit itu, tidak kita ketahui sebabnya. Alias sudah komplikasi? Kita batuk, tapi setelah minum obat batuk, justru makin parah, bahkan tambah penyakit. Misalnya malah diare, gatal-gatal  dan seterusnya. Kalau sudah begitu, tak ada pilihan lain. Dokter adalah jawabannya.</p></blockquote>
<p>Lalu apa yang di lakukan seorang dokter? Pertama-tama ia akan memeriksa atau mendiagnosa penyakit kita. bukan serta merta melakukan upaya medis. Tapi dokter akan mengawalinya dengan komunikasi. “sudah berapa lama sakitnya pak?. Sudah pernah minum obat apa pak?” dokter perlu tahu kronologis penyebab kita sakit. sebab itu akan membantunya untuk fokus kepada sakit yang sedang kita derita.  Setelah itu baru ia akan mendiagnosa secara medis. kemudian memberikan “resep”.</p>
<p>Pada tahap “resep” inilah jawabannya. Dokter akan memberikan jenis obat dan dosis yang sesuai dengan penyakit kita.  tidak semua obat atau sembarangan obat yang di berikan dokter. Sebab secara medis, dokter tahu, mana obat yang tidak boleh kita minum, walau fungsinya sama. Sama-sama menyembuhkan batuk misalnya. Tapi antara obat yang satu dengan yang lainnya, memiliki efek yang berbeda-beda. Jadi kalau salah kasih obat bukannya sembuh, malah lebih parah. Karena efek samping bisa membahayakan pasien.  Bisa-bisa dokternya di tuntut karena tidak teliti.</p>
<ul>
<li>Cara mengatasi si A prinsipnya sama dengan dokter mengatasi pasiennya. Perlu komunikasi, perlu diagnosa baru setelah itu ia di beri obat yang tepat yang memiliki daya sembuh yang manjur. Kuncinya, si pasien harus jujur tentang apa yang dirasakannya. Dan ada kemauan untuk sembuh.</li>
</ul>
<ul>
<li>Setelah obatnya sudah di tebus, jangan lupa di minum. Walau obatnya pahit sekalipun. Tapi pil itulah yang di butuhkan oleh penyakit si A. bukan air gula, bukan juga susu sapi.</li>
</ul>
<p>Jika masalah si A di selesaikan dengan analogi “antara dokter dan pasien”. Dengan catatan kemauan si A harus sangat besar dan antusias untuk sembuh  sehingga jika nanti ia sudah menebus obatnya, ia bersedia meminumnya, walau pahit sekalipun.  Maka insyaAllah apapun penyakitnya, semuanya pasti bisa sembuh!</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fmasing-masing-sudah-ada-obatnya.html&amp;t=Masing-Masing%20Sudah%20ada%20Obatnya" id="facebook_share_button_942" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; display: -moz-inline-block; display:inline-block; padding:1px 20px 0 5px; margin: 5px 0; height:15px; border:1px solid #d8dfea; color: #3B5998; background: #fff url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top right;">Share</a>
	<script type="text/javascript">
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_942') || document.getElementById('facebook_share_icon_942') || document.getElementById('facebook_share_both_942') || document.getElementById('facebook_share_button_942');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_942') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	</script>
	]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/masing-masing-sudah-ada-obatnya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>50</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sudahkah Kita Memiliki Cinta?</title>
		<link>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/sudahkah-kita-memiliki-cinta.html?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=sudahkah-kita-memiliki-cinta</link>
		<comments>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/sudahkah-kita-memiliki-cinta.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 04:23:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fadlymuin</dc:creator>
				<category><![CDATA[filsafat hidup]]></category>
		<category><![CDATA[arti cinta]]></category>
		<category><![CDATA[cara mencintai]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[cinta sejati]]></category>
		<category><![CDATA[kata cinta]]></category>
		<category><![CDATA[mencintai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fadlymuin.com/?p=829</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang senja, sepasang kekasih muda-mudi sedang asyik duduk berdua di tepi pantai. Di temani gemuruh ombak yang berkejaran. Mereka asyik bercengkrama, berpandangan dan saling membelai. Sambil mengelus rambut kekasihnya yang halus, sang lelaki berucap, “Sayang, tahu kau betapa aku mencintaimu?”. Mendengar ucapan kekasihnya, si gadis seakan ingin segera membelas perasaan itu. Iapun berucap. “Apakah kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fsudahkah-kita-memiliki-cinta.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fsudahkah-kita-memiliki-cinta.html&amp;source=fadlymuin&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-828" title="cinta" src="http://www.fadlymuin.com/wp-content/uploads/2010/01/cinta.jpg" alt="cinta" width="118" height="118" />Menjelang senja, sepasang kekasih muda-mudi sedang asyik duduk berdua di tepi pantai. Di temani gemuruh ombak yang berkejaran. Mereka asyik bercengkrama, berpandangan dan saling membelai. Sambil mengelus rambut kekasihnya yang halus, sang lelaki berucap, “<em>Sayang, tahu kau betapa aku mencintaimu?</em>”.</p>
<p>Mendengar ucapan kekasihnya, si gadis seakan ingin segera membelas perasaan itu. Iapun berucap. “<em>Apakah kamu tau, bahwa cintaku melebihi dari apapun di dunia ini. Mungkin kamu tidak pernah tau, bahwa cintaku melebihi dari yang pernah kau duga</em>”<span id="more-829"></span></p>
<p>Sementara itu, di tempat dan waktu yang berbeda. Seorang ibu separuh baya sedang duduk menemani anaknya sarapan pagi, yang siap untuk berangkat ke sekolah. Sang ibu dengan penuh perhatian menyiapkan perlengkapan yang akan di bawah anaknya. Mulai dari sepatu sampai tas, semua tak luput dari perhatian sang ibu. Sebelum anaknya benar-benar siap dan ia yakin semuanya sudah beres, ia sepertinya belum puas.</p>
<p>Sampai anaknya benar-benar menghilang di ujung jalan, sang ibu baru merasa tenang, karena merasa semua perlengkapan anaknya sudah beres. Sekaligus mulai di serang rasa cemas dan rindu akan anaknya. Dalam hati  sempat terlintas di fikirannya,</p>
<p><em>Seandainya bisa. Mungkin aku tak ingin melepaskanmu nak. Biarkan saja engkau tetap berada dalam pelukan hangatku. Sembari menghibur perasaannya ia berucap, “<strong>nak.. ibu sangat mencintaimu</strong>”.</em></p>
<p>Lain halnya dengan seorang yang ahli ibadah. Sepanjang hidupnya, perasaannya selalu di isi dengan rasa rindu mendalam terhadap Sang Ilahi. Seakan-akan ada rasa menyesal berada di dunia ini. Satu-satunya alasan ia masih bertahan di dunia ini, karena takdir ilahi yang menetapkan ia harus berada di dunia ini sampai ajal menjemputnya. Kalau saja  boleh ia meminta agar umurnya di perpendek, dan perjumpaannya dengan Kekasihnya di percepat. Baginya tak ada lagi alasan untuk berlama-lama berada di dunia ini.</p>
<p>Sahabatku,…</p>
<p>Apa makna cinta menurut anda?</p>
<p>Apakah cinta sebatas perasaan dua kekasih, atau cinta itu idealnya seperti perasaan ibu kepada anaknya, atau cinta itu seharusnya sakral, layaknya seorang hamba yang mencintai Tuhannya?</p>
<p><em>Mari kita renungkan sejenak…</em></p>
<p>Apakah selama ini kita sudah memaknai cinta dengan arti yang sebenarnya. apakah kita mengenal cinta selama ini sebatas pengertian rasa ingin memiliki? Sesungguhnya cinta itu memberi makna yang jauh lebih luas dari apa yang kita duga sebelumnya. “<strong>Karena Cinta adalah soal hasrat kerinduan yang dalam”.</strong></p>
<p>Betapa sang kekasih merindukan dan menginginkan untuk tetap bersama dengan kekasihnya. Betapa sang ibu sangat mengasihi anaknya melebihi apapun di dunia ini. Betapa sang ahli ibadah merindukan perjumpaan dengan Sang Pencipta. Semua itu karena ada cinta didalamnya.</p>
<p>Pengorbanan dan air mata sang ibu demi membesarkan anaknya, karena di selimuti nilai-nilai cinta yang murni jauh di dalam lubuk hatinya.  Tak ada seorangpun yang mampu memecah perasaan cinta ibu kepada anaknya.</p>
<p>Perasaan syukur yang berlimpah kepada sang ilahi, seorang hamba begitu mengagungkan sang Ilahi. Merasakan kasih sayang Tuhan, membuatnya kehilangan perasaan lain selain Cinta yang bersemi terhadap pencipta alam semesta ini.</p>
<p>Mungkin dalam kehidupan kita masing-masing, kita begitu terlena dengan pemuasan hawa nafsu. Mengutamakan kepentingan ego di atas segala-galanya. Kita seakan sudah kehilangan perasaan lemah lembut kita sebagai seorang manusia.</p>
<p>Arus perubahan modernisasi, telah meyeret kita kepada pemahaman yang individualistis. Rasionalitas selalu menjadi pemimpin bagi diri kita. seakan segala sesuatu hanya bisa diselesaikan dengan logika yang rasional. Seorang pengemis tua, bias kita cela dengan pertimbangan rasionalitas. Bahwa kenapa semenjak muda ia tidak berusaha agar menjadi orang sukses dan tidak perlu menjadi pengemis seperti sekarang ini.</p>
<p>Kita mungkin bisa berkata tegas, kepada saudara kita yang lemah. Dengan pertimbangan rasionalitas. Tapi bagi mereka, perkataan kita itu bisa terasa pahit dan menyakitkan hati. Mereka merasakan perkataan kita ibarat pedang yang mengiris kulit mereka. Sakit dan perih!</p>
<p>Tanpa terasa waktu terus bergulir. Sekarang sudah masuk ke tahun 2010. kita bisa renungkan sudah berapa lama kita berdomisili berapa lama lagi kita akan tinggal di dunia ini. Sudahkah kita memiliki Cinta?. Sudahkah kita menyelimuti hati ini dengan segenap cinta? Apakah kita  bisa memberikan kesejukan bagi orang lain? Semua itu hanya bisa di jawab dengan waktu!</p>
<p>Begitu banyak perilaku – perilaku yang berbenturan dengan nilai-nilai cinta.akankah kita ikut sebagai bagian dari mereka. Sekaranglah saatnya untuk menjawab…</p>
<p>Salam Hangat Penuh Cinta!</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fsudahkah-kita-memiliki-cinta.html&amp;t=Sudahkah%20Kita%20Memiliki%20Cinta%3F" id="facebook_share_button_829" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; display: -moz-inline-block; display:inline-block; padding:1px 20px 0 5px; margin: 5px 0; height:15px; border:1px solid #d8dfea; color: #3B5998; background: #fff url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top right;">Share</a>
	<script type="text/javascript">
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_829') || document.getElementById('facebook_share_icon_829') || document.getElementById('facebook_share_both_829') || document.getElementById('facebook_share_button_829');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_829') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	</script>
	]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/sudahkah-kita-memiliki-cinta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Syarat Untuk Bahagia Selamanya?</title>
		<link>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/apa-syarat-untuk-bahagia-selamanya.html?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=apa-syarat-untuk-bahagia-selamanya</link>
		<comments>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/apa-syarat-untuk-bahagia-selamanya.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 15:28:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fadlymuin</dc:creator>
				<category><![CDATA[filsafat hidup]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[kepuasaan rohani]]></category>
		<category><![CDATA[kepuasan bathin]]></category>
		<category><![CDATA[kunci bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[syarat bahagia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fadlymuin.com/?p=721</guid>
		<description><![CDATA[Saya fikir, semua orang menginginkan kebahagiaan yang hakiki. Tapi faktanya keinginan dan realitas seakan berada dalam ruang dan waktu yang berbeda. Sehingga Rasa Bahagia yang diinginkan tak pernah kunjung datang. Jika parameter kebahagiaan masih bersifat kebendaan. Atau yang bersifat jasmani. Artinya rasa bahagia itu benar-benar bisa di sentuh. Itu artinya kita semestinya bisa dan harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fapa-syarat-untuk-bahagia-selamanya.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fapa-syarat-untuk-bahagia-selamanya.html&amp;source=fadlymuin&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-722" title="cinta dan bahagia" src="http://www.fadlymuin.com/wp-content/uploads/2009/11/lop-125x98.jpg" alt="cinta dan bahagia" width="125" height="98" />Saya fikir, semua orang menginginkan <strong>kebahagiaan yang hakiki</strong>. Tapi faktanya keinginan dan realitas seakan berada dalam ruang dan waktu yang berbeda. Sehingga <strong>Rasa</strong> <strong>Bahagia</strong> yang diinginkan tak pernah kunjung datang.<span id="more-721"></span></p>
<p>Jika parameter kebahagiaan masih bersifat kebendaan. Atau yang bersifat jasmani. Artinya rasa bahagia itu benar-benar bisa di sentuh. Itu artinya kita semestinya bisa dan harus memiliki target kondisi yang harus di capai. Kondisi yang bisa  dirasakan secara nyata.</p>
<p>Artinya dengan pencapaian terhadap situasi, yang kita idamkan tersebut, maka kebahagiaan pasti akan di rasakan.</p>
<p>Sayangnya, prediksi seperti itu tidak selalu benar. Karena fakta social mengatakan “manusia tidak akan pernah puas”. Apapun hasil yang telah di capai ia tidak akan pernah merasa puas.</p>
<p><strong>Lalu kemanakah perasaan bahagia itu?</strong></p>
<p><em>Apa syarat agar rasa bahagia itu benar-benar menjadi milik kita dan merupakan bagian dari kepribadian kita?</em></p>
<p><em>Bagi saya……….,</em></p>
<p>Kebahagiaan itu adalah <strong>Soal Rasa!</strong></p>
<p><strong>Manusia itu adalah makhluk unik, adaptif dan fleksible.</strong> Dengan karakter itu, semestinya rasa bahagia itu sudah inhern di dalam diri kita masing-masing.</p>
<p>Rasa bahagia itu sudah ada dan sudah kita miliki. Tapi kita selalu saja membubuhi kata Tidak di depan Kata Bahagia. Sehingga rasa Bahagia, benar-benar tidak pernah bisa kita rasakan.</p>
<p>Tapi sebagai manusia biasa, saya sadar bahwa kesadaran untuk bisa merasakan kebahagiaan itu perlu kemampuan rohani yang jernih. Kepekaan rasa untuk bisa mengolah perasaan yang bercampur baur di dalam jiwa kita.</p>
<p>Dan semua itu perlu waktu untuk belajar “menyadari”.</p>
<p>Yah! Sadar akan kenyataan yang harus kita jalani. Belajar menerima segala ketetapan yang sudah di buat oleh Sang Pencipta.</p>
<p>Belajar menyadari bahwa realitas ini tidak bisa di genggam sebagai kondisi statis yang bisa kita bentuk sesuai dengan keinginaan kita semata. Tidak!</p>
<p>Tapi realitas ini adalah kondisi social yang terdiri dari beraneka ragam keinginan. Termasuk didalamnya keinginan kita.</p>
<p>Jadi kesimpulan sementara, syarat untuk menjadi bahagia menurut saya adalah  simple saja, yaitu  “belajar menyadari”.</p>
<p>Semakin pandai kita menyadari kenyataan social ini, maka semakin besar perasaan bahagia yang kita miliki.</p>
<p>Kalau menurut anda bagaimana?</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fapa-syarat-untuk-bahagia-selamanya.html&amp;t=Apa%20Syarat%20Untuk%20Bahagia%20Selamanya%3F" id="facebook_share_button_721" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; display: -moz-inline-block; display:inline-block; padding:1px 20px 0 5px; margin: 5px 0; height:15px; border:1px solid #d8dfea; color: #3B5998; background: #fff url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top right;">Share</a>
	<script type="text/javascript">
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_721') || document.getElementById('facebook_share_icon_721') || document.getElementById('facebook_share_both_721') || document.getElementById('facebook_share_button_721');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_721') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	</script>
	]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/apa-syarat-untuk-bahagia-selamanya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidup itu Bagai Cermin</title>
		<link>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/hidup-itu-bagai-cermin.html?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=hidup-itu-bagai-cermin</link>
		<comments>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/hidup-itu-bagai-cermin.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 May 2009 01:50:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fadlymuin</dc:creator>
				<category><![CDATA[filsafat hidup]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum timbal balik]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran sosial]]></category>
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fadlymuin.com/?p=506</guid>
		<description><![CDATA[Kalau anda percaya perkataan orang-orang tua kita dahulu. bahwa terlalu sering bercermin nanti cakepnya di ambil cermin. hmm menakutkan sekali. kadang-kadang saya ga mau juga dong, ganteng saya di ambil cermin.. ha ha ha.. Bagaimana, apa anda setuju dengan perkataan orang tua kita itu? kalau saya sih tidak percaya 100%. bagi saya, cermin yah cermin. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fhidup-itu-bagai-cermin.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fhidup-itu-bagai-cermin.html&amp;source=fadlymuin&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><img class="size-thumbnail wp-image-507 alignleft" title="cermin kehidupan" src="http://www.fadlymuin.com/wp-content/uploads/2009/05/sdfg-125x88.jpg" alt="cermin kehidupan" width="125" height="88" />Kalau anda percaya perkataan orang-orang tua kita dahulu. bahwa terlalu sering bercermin nanti cakepnya di ambil cermin.</p>
<p>hmm menakutkan sekali. kadang-kadang saya ga mau juga dong, ganteng saya di ambil cermin.. ha ha ha..</p>
<p>Bagaimana, apa anda setuju dengan perkataan orang tua kita itu? kalau saya sih tidak percaya 100%.<br />
bagi saya, cermin yah cermin. alat yang bisa memantulkan gambar atau cahaya yang ada di hadapan cermin. betul tidak?<span id="more-506"></span></p>
<p>Justru kita sepatutunya harus sering-sering bercermin. dengan begitu, kita semakin sering mengontrol perkembangan diri kita. adakah sesuatu yang berubah. mungkin mata kita terlihat lelah, karena keseringan plototin monitor komputer. atau rambut sudah mulai panjang, perlu ke salon dulu. begitulah fungsi cermin yang sebenarnya. alat untuk melihat diri kita.</p>
<p>Kira-kira anda bisa membaca arah pembicaraan saya bukan?</p>
<p>Anda benar, bercermin adalah sarana kontrol diri!</p>
<p>Anda bisa belajar dari filosofi cermin ini. melalu fungsi cermin yang sebenarnya. yang bisa memantulkan apapun yang terjadi di hadapan cermin tersebut. jika anda bercermin pada saat anda belum mandi dan rambut belum tersisir rapih, begitu pula yang anda lihat di dalam cermin.</p>
<p>Tidak mungkin sebaliknya. justru kalau yang anda lihat adalah yang sebaliknya. anda akan kaget dan lari terbirit-birit. (semoga itu tidak terjadi&#8230;)</p>
<p><em>Sobat..</em></p>
<p>Sadar atau tidak sadar. Pantulan kehidupan sudah kita alami selama ini. Hanya saja, karena tidak adanya perhatian khusus terhadap kenyataan seperti itu. Makanya cenderungan untuk di abaikan.</p>
<p>lalu pelajaran penting apa yang bisa sama-sama kita petik dan diterapkan dalam kehidupan nyata yang sesungguhnya?</p>
<p>Pelajarannya, jika ingin mendapatkan pantulan yang baik, maka berbuatlah yang baik. jika ingin mendapatkan kehidupan yang teratur, maka atur diri anda. begitu seterusnya.</p>
<p>Apapun pantulan kehidupan yang anda inginkan. maka ingatlah baik-baik. hukum timbal balik pasti berlaku.</p>
<p>Jika anda pernah berbuat baik kepada seseorang, maka orang tersebut pasti akan membalas kebaikan anda.  kalaupun ia belum bisa membalas kebaikan anda. maka niatan untuk berbuat baik, tetap tersimpan dalam hatinya. dan suatu saat akan dibalasnya. begitupun sebaliknya.</p>
<p>Jika anda berbuat buruk kepada orang lain, pasti orang lain akan merasa sakit hati kepada anda. dan rasa sakit hati itu adalah doa yang paling di kabulkan.<br />
Sekali lagi, apapun perbuatan anda di dunia ini. begitupula reaksi yang akan anda dapatkan di kemudian hari.</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>ingat, hukum timbal balik pasti berlaku!</strong></span></p>
<p>Atau anda punya pengalaman lain?<br />
silahkan berbagi disini.</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fwww.fadlymuin.com%2Ffilsafat-hidup%2Fhidup-itu-bagai-cermin.html&amp;t=Hidup%20itu%20Bagai%20Cermin" id="facebook_share_button_506" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; display: -moz-inline-block; display:inline-block; padding:1px 20px 0 5px; margin: 5px 0; height:15px; border:1px solid #d8dfea; color: #3B5998; background: #fff url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top right;">Share</a>
	<script type="text/javascript">
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_506') || document.getElementById('facebook_share_icon_506') || document.getElementById('facebook_share_both_506') || document.getElementById('facebook_share_button_506');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_506') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	</script>
	]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fadlymuin.com/filsafat-hidup/hidup-itu-bagai-cermin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>54</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
