Saya suka gagap ketika ada yang bertanya, “siapa idola anda?”. Sejak dulu, seingat saya, tidak pernah ada seorangpun yang masuk dalam daftar idola yang membuat saya kesemsem setengah ampun.
Kadang juga saya merasa egois, narsis dan sok pede. Tapi kenyataannya memang saya tidak pernah merasa punya idola. Bukan berarti saya sombong yah.
Tapi ngomong-ngomong apa sih definisi idola itu? kebetulan saya menemukan definisi yang pas. Dari sebuah status di facebook yang disubmit oleh seoang kawab bernama Frans Nadeak, mengambil dari Karya Anthony de Mello, S. J, yang bunyinya seperti ini
“Mengidolakan adalah sebuah ilusi yang menganggap di luar lebih kuat daripada yang di dalam diri kita. Ketika Anda memberikan kekuatan pada seseorang lebih daripada Anda sendiri, Anda menciptakan idola.”
Jika mengacu dari situ, rasanya pantas saja, kalau kita tidak perlu mengidolakan seseorang.
Dalam hal ini konteksnya untuk membangun kredibilitas kita sendiri. Bukan dalam semangat egoistis atau narsisme, ataupun sifat-sifat lain yang unsurnya untuk membanggakan diri sendiri, bukan itu maksud dan arahnya yah.
Tapi, kata-kata Anthony.. Sangat bagus dijadikan semacam bumbu untuk meracik mental percaya diri kita.
Bahwa pada dasarnya semua potensi sudah kita miliki, bahan mentahnya sudah ditangan tinggal kitanya saja, mau jadi koki atau sekedar penikmat masakan? Mau jadi subyek atau obyek? Pilihan ada pada diri kita sendiri.
Agar tidak salah persepsi, walau diatas sudah saya singgung bahwa ini bukan dalam konteks ”pembanggaan diri”. Melainkan sebagai upaya pembangunan karakter.
Jadi jika ada sesorang yang membuat kita simpatik, membuat kita salut, bukan berarti kita mengidolaknnya. Tapi kita, mengakui kehebatannya. Dan kita ingin belajar cara dia melakukannya. Saya rasa itulah poinnya.
Kita tidak akan bisa plek-plek jadi seperti orang yg kita idolakan. Kita hanya bisa belajar bagaiamana cara dia melakukannya.
Setelah itu, tinggal kita menyesuaikan anatara cara dia dengan tindakan nyata yang kita tempuh. Sinergi atau tidak. Hasilnya biarlah waktu dan komitmen anda yang akan menjawab. Setuju?
segitu dulu deh, selanjutnya silahkan anda memberikan pandangan tentang arti seorang idola?

{ 50 comments… read them below or add one }
setidaknya yang kita banggakan, telah terbukti lebih dulu kredibelitasnya daripada kita, sehingga meniru kesuksesannya dengan jalan kita sendiri itu juga boleh kan? dengan kata lain tidak benar2 meniru apa yg telah dikerjakannya, karena setiap orang berbeda jalan hidupnya…
boleh saja mas, itu khan dalam konteks mempelajari. bukan dalam upaya menenggalamkkan diri dalam kekaguman semu
arti seorang idola ? enggak ada artinya tuh mas, kan enggak ada yg dijadikan idola
utk orang2 di jaman modern ini saya kira sebatas kagum dan suka. Terlalu angkuh saya utk mengidolakan seseorang, hehe…
sepertinya sih begitu pak.. ini juga untuk kalangan anak remaja yang terlalu riuh dengan idola2 mereka yang cenderung mengarah ke arti
Dalam konteks membangun kredibilitas, saya rasa peran dari seorang idola masih bisa kita gunakan untuk mentenagai upaya kita membangun karakter yang seutuhnya….
Yang penting kita harus tetap jadi koki nya…
So, mau menu apa nih hari ini
betul mas, sekedar menyerap ilmu dan menciptakan semangat jjuang, bagus-bagus saja kok. asal tidak jadi statis dan sekedar kagum
Jadi jika ada sesorang yang membuat kita simpatik, membuat kita salut, bukan berarti kita mengidolaknnya. Tapi kita, mengakui kehebatannya. Dan kita ingin belajar cara dia melakukannya. Saya rasa itulah poinnya.
Mengidolakan seseorang berlebih-lebihan bisa jadi akan membuat kita tidak bisa mengeksplore kelebihan diri kita sendiri karena kita cenderung hanya berkaca pada sang idola dan lama2 melupakan sebenarnya diri kita.
semakin dalam kita mengidolakan seseorang, maka semakin lemah kita mempercayai diri sendiri..
mantapss
mengidolakan nabi boleh kan gan? sama seperti saya mengidolakan batu besar dan pohon besar wakakakakakkkk…
kalau MH sih, fleksible. sesuai dengan suara hati aja..
kadang idolanya batu besar, kadang pohon..wahahahaha
benerrr.. kadang kalo ada sumur tua.. semedi juga di sana gan.. hahahah
Setuju mas, tapi kembali kepada keyakinan masing-masing, kalau saya Nabi dan Rasul jarus dijadikan idola, untuk zaman sekarang saya sepakat, tidak ada yang dijadikan idola, hanya sebatas rasa kagum dan suka,,,,
sip, saya rasa seperti itulah layaknya kita berfikir
wah bener juga mas,
saya juga binung kalo ditanya idola…
tapi dulu waktu masih kecil, kalo ditanya siapa idolaku..?
ya Bapakku hehhe…. namanya jg anak kecil
kirain bapak presiden suharto
wah, mimpi orde baru…
yoi.. kadang jawabnya pilot atau insinyur,,, wahahaha
Idola ?? ehmm siapa ya… kalo dulu lia suka banget Winnie the Pooh termasuk gak pak ? wekekekekek….
Yang pertama lia sangat kagum luar biasa itu Nabi Muhammad SAW baru Ibu lia.. karena lia banyak belajar arti hidup dari beliau….
sepertinya saat ini susah ya Pak untuk mengidolakan seseorang… soalnya walaupun seseorang itu hebat.. dia manusia juga ^_^
Ohya maaf pak baru bisa online..
Maksud lia “manusia” yaitu idola pasti memiliki kelemahan juga..
ketika kita mengidolakan seseorang kadang kita tidak melihat kelemahannya sehingga bisa jadi boomerang apalagi ketika idola berbuat salah…. bisa2 jadi kecewa…
Delia bisa aja,.. kalau gitu sama dengan anaku, mengidolakan upin ipin
kalau Nabi Muhammad SAW, beliau adalah Panutan, otomatis menjadi sandaran kepribadian yang luhur setiap anak manusia. itupun sudah tertulis dalam sejarah islam..
sebenarnya saya tidak mengarah kesana Lia.. sebab itu akan memerlukan banyak pemikiran yang rawan kekeliruan kalau lahir dari saya, yg pemikirannya terbatas ini ..:)
kalau orang lain yg kita idolakan dan menyerap energi kita, itu yg saya kritisi..
jadi sebaiknya mulailah mengidolakan diri sendiri..ok?
Mengidolakan seseorang atau sesuatu yang dianggap luar biasa mungkin tidak terlepas dari sisi usia mas, karena ketika usia masih muda kecenderungan kita mencari contoh yang pas ( hmm…mengidolakan ? ) dalam upaya menemukan jati diri.
Semakin banyak kita makan garam, tentu kita semakin tahu walaupun garam itu asin ternyata ada yang mengandung yodium dan tidak. Sehingga sosok idola yang dulunya kita puja perlahan mulai luntur dan tumbuhlah kepercayaan diri dan pada muaranya kita hanya mengakui kehebatannya. Mungkin seperti ini analoginya mas ? CMIIW
ini yg terlewatkan dalam pembahasan di atas mas Aldy, faktor usia dan pengenalan karakter. saya setuju mas,
bahwa dalam proses transisi, biasanya diusia remaja yg paling menonjol, akan banyak sosok-sosok idaman yang menjadi panutan kaum remaja. tercermin dari cara berbicara, gaya berpakaian dan pola fikir..
saya hanya mencoba menyeret, stigma terhadap karakter yg sudah diserap, untuk dilebur kembali dan bisa kembali merunut kepada kepercayaan diri sendiri..
fuih… (selalu dapat tanggapan yg berbobot dari kakang prabu)
He..he… emang mampu melawan sang motifator itu sendiri ?
Wah yang buku nggak berani komen saya, cuma menunggu saja (*… ngumpet )
orang-orang yang diidolakan zaman sekarang ga pantas untuk diidolakan mas, kecuali kedua orang tua
agag skeptis dan emosional nih mas…?
tapi jangan dalam suasana antipati yah.. saya berharap, kita sama-sama menuangkan kekuatan kepada diri kita sendiri. percaya diri sendiri, bahwa kitapun memiliki kemampuan yang kita butuhkan untuk membangun apa yang kita inginkan
yang pantas diidolakan oleh kita ya sejatinya Rasul krn beliau Uswatun Hasanah.
Kalau dalam konteks kehidupan sekarang ga ada tokoh idola yg utuh, yg paling bisa juga mengambil potongan2 mirip puzzle. Ada idola di bidang olahraga, sastra, musik, politik dsb.
sekedar mangagumi dalam konteks hibuan dan motivasi yah mas? saya rasa hal itu umum kita rasakan kok. sebagai efek popularitas seorang tokoh, aktor atau publik figur.
yg jelas, kitapun bisa… mantap!
Mmmm …
hampir sama dengan Pak Fadly …
saya juga terus terang tidak mempunyai tokoh idola yang saya fanatiki setengah mati …
Pada hakikatnya setiap orang (termasu kita sendiri) bisa menjadi idola bagi yang lain … untuk hal-hal spesifik tertentu …
misalnya …
Untuk Musik … idola saya adalah David Foster
Untuk Tontonan TV … idola saya Farah Queen misalnya
Untuk Bicara di depan Audience … Mr Anu
Untuk bepakaian … Si Itu
Untuk Nyetir Mobil … saya suka Bang X
dan seterusnya …
Singkat kata … take the best from others untuk bahan pembelajaran kita
Salam saya Pak Fadly
sayapun rasanya selaras dengan statemn penutup pak NH..
memetik pelajaran terbaik dari siapapun dari orang lain yang tidak kita kenal sekalipun, demi sebuah pembelajaran..
terima kasih untuk statement yang padat makna itu pak NH
Pada dasarnya, menentukan siapa yang diidolakan, berarti kita mencari tokoh panutan yang bisa menjadi motivasi dalam berkarya. Mengidolakan dalam hal ini tergantung dari keyakinan diri, dalam mencermati apa yang telah tercerahkan dari tokoh idolanya.
Secara pribadi saya mengidolakan para pahlawan bangsa yang telah berjasa bagi kemerdekaan. Demikian pula saya sangat mengagumi sosok kepribadian Sri Krisna dalam wiracarita Mahabharata. Terimakasih ya Mas, telah berbagi bersama…
sepertinya, argumen bli tusuda senada dengan pendapat pak NH..
kalau begitu kita seirama bli
Wahh..soal idola semua sangat subyektif, bergantung pada keinginan dan kesungguhan setiap individunya.
Hallo Mas, apa kabar. Saya (tusuda) berkunjung balik juga via blog puskel ini. Terimakasih sudah berbagi informasinya…
wah ini blog baru bli?
kalo di sekolah saya yang lagi jadi idola jastin bibir yang nyanyi bibir bibir wkwkwkk
saya sendiri pusing kalo ditanya idola… sampe sekarang saya masih mengidolakan emak saya…
awas.. kalo nggak gitu, gak dikasih uang jajan tuh
Saya kadang-kadang melihat orang sehebat apapun tidak mempunyai rasa kagum sampai gimana.. gitu, karena menganggap diri saya pasti bisa seperti dia, hanya tinggal keuletan kita lah sebenarnya bisa menggali potensi dahsyat kita, mudah-mudahan ini bukan suatu kesombongan deh. trims
saya suka karakter seperti anda mas Joko,
kalau kata anak sekarang “gue suka gaya elo!”
semestinya, begitulah kita berfikir tentang talenta dan kekuatan yang kita punyai. jika dalam proses sebelumnya kita mengalami kekaguman tertentu, saya rasa sifatnya sebagai pembelajaran dan proses semata. seperti komentar mas Aldy dan pak NH di atas..
Seorang idola semestinya membawa efek manfaat bagi yg mengidolakan. Bukan malah merasuki dgn ide-ide yg menjungkirbalikkan aturan. Dan secara pribadi, dalam dunia blogging saya mengidolakan mas Fadly sebagai salah satu pemikir yang berkompeten dibidangnya.
wuih..ini ngeri komentarnya mas.
mudah-mudahan saya tidak jadi besar kepala dibuatnya. terima kasih atas supportnya mas Agus
Jika merunut pada defenisi Anthony de Mello tadi, dengan menggarisbawahi bahwa mengidolakan itu adalah ilusi, maka mengidolakan itu adalah pekerjaan yang diluar konteks rasionalitas. Namun, bila mengidolakan itu berdasarkan fakta dan data, maka saya setuju dengan MH, yang pantas diposisikan sebagai idola itu hanya Nabi saja. Selebihnya, tidak tidak ada.
Walau membawa avatar dengan foto Valentino Rossi saat blogwalking kemana2, tidak berarti saya mengidolakan Valentino Rossi, apalagi dalam konteks defenisi Mello.
Untuk point Valentino Rossi ini, saya mungkin menempatkannya seperti yang abang katakan “jika ada sesorang yang membuat kita simpatik, membuat kita salut, bukan berarti kita mengidolakannya. Tapi, kita mengakui kehebatannya. Dan kita ingin belajar cara dia melakukannya”.
Point yang paling saya sorot pada Rossi adalah semangat dan daya juangnya yang tinggi, tidak suka mengeluh, dan tidak ada kata putus asa dalam kamus hidup seorang Rossi. Mungkin demikian…
hmm…gitu yah mas Khery…:)
kalau penempatan Nabi Muhammad SAW, saya sudah singgung di komentarnya Delia. bahwasanya, sulit rasanya menempatkan Nabi dalam konteks idola. saya rasa lebih pantas menempatkannya dalam konteks Panutan, Rujukan dan Cermin kepribadian yang sempurna.
tapi kalau kita lebarkan ke “pribadi-pribadi lain” seperti misalnya Rossi atau aktor atau tokoh lainnya. maka kita akan berada pada dualisme mas Khery. apakah kita menyorot dalam konteks idola benar-benar idola, atau idola dalam konteks kagum atas prestasi dibidang yang digelutinya.. inilah yang membuat saya merasa terpanggil untuk mengutak-atik makna tentang Idola.
tapi saya yakin, pendapat mas Khery sudah menggambarkan, penempatan Rossi sebagai aktor pembelajaran.
Menjadi sangat menarik.
Mengidolakan, kalau bisa kita mengambil kekuatannya menjadi kekuatan kita.
Defenisi idola bagi saya kagum dan terpesona. Mengidolakan seseorang itu lumayan penting untuk membantu memotivasi diri. Sehingga ada gairah ketika melakukan sesuatu.
Awalnya orang-orang sukses juga mempunyai idola. Bahkan Erbe Sentanu (penulis Teknologi Quantum Ikhlas) kagum oleh sikap seorang penjual burung yang beraktivitas penuh ke-ikhlas-an sehingga bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga keperguruan tinggi, menikmati hidupnya dan lain-lain tanpa ada keluh kesah.
kalau defenisinya seperti itu, saya rasa positif. sebagai “gaya” menyerap energi positif.
trims opininya Agy..:)
saya gak punya idola apalagi mengkultuskannya.
apa yang kita lihat baik belum tentu baik dimata Allah.
Jadi ya biasa-biasa saja.
salam manis dari Batam kak
Rasululllah saw juga tidak mau di kultuskan lho.
Salam manis dari Batam
wah bicara masalah idola ya, saya kira hampir semua orang punya idola tak terkecuali saya mas, saya sering mencontoh prilaku kehidupan dia, yang baik tentunya biar kita bisa sesukses seperti mereka
Idola saya kedua orang tua saya gan,gimana gk jadi idola klo beliau berdualah yg menghidupi saya
inspiratif sekali mas..
berarti ketika kita mengidolakan sosok tsb berarti kita salut akan kehebatannya bukan karena hanya menyukai sosok tsb..
Menjadi semakin menarik!
{ 1 trackback }