Kesadaranku berkata:
“usia yang terpakai, sebaiknya berguna dan mendapatkan pengakuan dari dunia”. Tapi, itulah manusia. Menjalani hidup dengan fase paling belia, menuju penyempurnaan.
Entah di titik mana ia akan mendapatkan kecerhannya, waktu dan ruanglah yang akan menggiringnya menuju muara ketenangan.
Tanggal 4 kemarin, tepat menunjukkan kegenapan usia saya yang ke sekian. Yang jelas sudah di atas 30-an. Dalam satu periode kepresidenan lagi, usia saya akan masuk ke angka 40.
Fase ini ini cukup rumit hemat saya. Sebab dalam fase ini, boleh dikata, penetapan atas apa yang ingin kita gariskan untuk hidup kedepan.
Walau, segala takdir dan ketentuan, Tuhan tentu memiliki hak yang paling hakiki. Tak aka nada yang mampu menentang soal itu. Kecuali kaum atheis.
Denger punya denger juga nih, usia 40 adalah masa kejaayaan seorang pria. Masa ini adalah titik balik seorang pria menikmati hidupnya. Tapi, saya tidak terlalu yakin soal itu. Yang saya yakini adalah, hidup ini tetap berproses. Dan siapapun yang ada didalamnya, hanya bisa menjalankan hidupnya dengan penuh kesungguhan.
Siapaun tentu tidak ingin mendapatkan pengkotak-kotakan berdasarkan usianya.
Sebenarnya, saya enggan untuk memikir-mikirkan soal umur. Apalagi berkaitan dengan keriaan yang namanya ulang tahun. Makanya, waktu istri nawarin bikin syukuran, saya tolak! Saya pikir cukuplah diri pribadi yang mensyukuri, cukuplah diri pribadi yang merenungi.
“aku bikinin kue deh ayah…”
“Ngga usah bunda!”
Saya yakin, sebagian besar berada dalam satu barisan dengan saya, soal penolakan mensyukuri hari ultah dengan macam-macam acara yang cenderung ke arah memalingkan hakikat rasa syukur yang sebenarnya.
Makanya, saya tidak tertarik sama sekali, dan saya menghabiskan waktu pada detik itu untuk berdiam diri sejenak. Betapa saya sudah semakin dekat dengan alam lain. Dan betapa saya merasa masih banyak hal yang saya tinggalkan dan yang masih perlu saya kejar.
Saya sudah merasa terhibur dengan ucapan selamat, doa dan juga pengharapan dari sahabat dan keluarga lewat media facebook. Terharu dan senang, karena mendapat perhatian yang unik dari masing-masing kalimat yang terlontar.
Untuk itu saya mengucapkan terima kasih..
Lewat tulisan ini pula saya ingin member jedah atau sekedar tanda. Bukan untuk mendapatkan ucapan lagi, bukan. Tapi untuk bahan renungan dan pengingat dilain waktu.
Oh iya, untuk kali ini kolom komentar saya tutup. Mohon maaf. Sebab saya yakin, tanpa komentar kali inipun, hati kita tetap bersalaman. Terima kasih atas kunjungannya…

Comments on this entry are closed.