Ini tulisan yang sudah lama ingin saya posting. Ide ini ada karena usulan dari mas Aldy tempo hari, disalah satu artikel saya. kalau tidak salah judulnya tentang kelucuan negeri ini deh.
Terus terang, agag sulit membuat tulisan ini. Sebab memang begitula faktanya. Ternyata menertawakan diri sendiri, jauh lebih sulit daripada menertawakan orang lain.
Mungkin karena mata itu memandang keluar. Menuju obyek yang ada diluaran. Bukan memandang kedalam. Jadilah kita makhluk yang lebih mudah melihat sisi lain di luar sana, ketimbang kepada diri sendiri.
Gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman diseberang lautan tampak. Saya rasa sangat pas untuk pandangan di atas.
Pada umumnya, kita lebih muda menilai orang lain, menilai karyanya, karakternya dan kebiasaan-kebiasaan orang lain. Ketimbang menilai diri sendiri. Betul…?
Ituah sebabnya kita lebih muda ”mencela atau memuji” orang lain. Tapi sangat sukar melakukan untuk diri sendiri. Sebab kita sendiri tidak tau ”apa” yang bisa kita cela atau puji dari diri kita yang keren ini. Terkecuali kita sudah terlatih dan melihat kedalam, tidak hanya keluar, tapi kedalam lubuk diri sendiri.
Mungkin dengan mulai memandang kedalam lubuk hati kita sendiri, kita bisa banyak melakukan perubahan dini. Sebagai bentuk pengembangan diri. Tidak ada salahnya mencoba mengikuti petuah-petuah bijak untuk mulai berbenah, intropeksi dan melakukan hal-hal lain guna melakukan perbaikan.
Termasuk jika ada keganjilan yang terasa aneh. Ada sesuatu yang membuat kita merasa lucu dengan diri sendiri. Lucu terhadap apa yang sudah kita lakukan. Kenapa tidak mencoba menertawai diri sendiri. Mengejek diri sendiri, Susah? Emang iya.
Maksud menertawai diri sendiri, bukan mempermalukan diri sendiri. Atau menjadi pelawak seperti Tukul yang rela menjadi ”korban” tertawaan untuk menciptakan tawa semarak. Bukan itu maksudnya. Melainkan ini bisa menjadi konsumsi pribadi. Hanya kita sendirilah yang tau. Sebab hanya kita yang bisa jujur dengan diri sendiri.
Harapannya, dengan melihat kelucuan yang sudah kita perbuat selama ini, sebisa mungkin bisa menjadi bahan acuan., bahwa masih ada banyak cela yang harus dibenahi dari kita yang selama ini kita anggap hebat. Masih banyak sifat yang perlu di luruskan. Agar prilaku menggelikan itu bisa tereliminir.
Jadi kesimpulannya, pada prinsipnya manusia ini terdapat frekwensi yang aneka ragam. Jika gelombangnya kacau, maka keganjilan akan mempengaruhi cara pandang dan pola fikir yang lebih jauh. Karena gelombangnya sangat halus, hampir dipastikan susah dirasakan. Kecuali dengan cara-cara yang sangat halus.
okelah..udah dulu yah
ini hanya sekilas wacana yang saya tulis dengan cukup berat. Hitung-hitung latihan menulislah
Oh iya Bagaimana menurut anda…? kelucuan apa yang sudah anda perbuat? He he he
*Mas Aldy, makasih yah anda sudah ”menyiksa” saya dengan usulan ini..

{ 70 comments… read them below or add one }
pertamax disini?
batabig di sini gan…
kasihan deh batabignya dah habis diborong ma hantu
Habis diborong hantu blogger atau hantu komen pertama
hantu blau…
di borong hantu kontes .. wakakaka
hip-hop pertamax..
malam ini saya merasa lucu lha kok bisa pertamax lagi disini
btw sharingnya makasih mas, ini adalah model pembelajaran bagi kita untuk selalu introspeksi diri dan mawas diri
iya yah, sudah lama juga tdk beli pertamax yah..
intinya sih, pengenalan diri sendiri, pengakuan dan penyadaran. syukurlah kalau bisa menyentuh
benar-benar pemburu traffic sejati nih…
Kedua deh… hehheh
Lia agak bingung pak maksud lucu disini ? apa itu benar2 gokil atau ketololan kita yang merasa sok pandai?
kalo pertanyaan yang kedua lia pernah pak….dan berakibat sangat fatal.. dari situ lia belajar satu hal bahwa kita gk boleh menganggap remeh orang lain, pertimbangkan juga usulan bawahan…..
Lia yakin saat itu pasti banyak yang menertawakan lia dlm hati dan apakah diriku juga tertawa dgn kebodohan ini ?
Sakit yang pasti
iya Delia, ini termasuk dalam pertanyaan kedua.
kadang-kadang kita emang lupa diri oleh “prestasi kemenangan” kita jadi lupa bahwa masih banyak cela untuk dikoreksi.
tapi syukurlah kalau bisa dapat pembelajarannya Lia.. (jangan sakit lagi yah..
)
Keduax juga tetap dapat tempat kok ..
Belajar dari pengalaman..kalo udah berikut2nya gak sakit lagi pak..malah imun wakakakakak
artikelnya keren banget ..(siapa dulu dong ^_^ )
siapa dulu dong komentatornya,,, ratu curhat gitu loh :p
mungkin karena kita semua suka dengan memberi komentar, layaknya komentator bola yang hanya bicara tanpa berkontribusi untuk tim yang dikomentarinya…
motivasi yang memang harus di laksanakan
nah, ini perumpamaan yang lebih kritis.
bener seperti itu. banyak orang hanya bisa “bicara” tapi tidak bisa berbuat. tks..
Kalo menertawai diri sendiri waktu ngaca sih saya sering, soalnya waktu ngaca saya sering bilang “ganteng banget ye gue, hehehe”…
Tapi kalo mengejek diri sendiri kayaknya jarang karena kuatir tambah ‘down’
….
narsi dong…? :p
di coba saja di renungkan mas…..
sama mas, saya juga merasa mirip Christian Sugiono lho. emak saya juga bilang begitu. hahaha…
ada satu kesamaannya mas, ibu anak sama-sama narsis
)
memang sulit mas melihat diri sendiri.. tapi apa salahnya kalau pakai “cermin”… hehe..
sering sih menertawai diri sendiri… dan tak jarang pula membodoh2kan diri sendiri ketika mengingat2 ketololan yang pernah diperbuat..
persis kayak orang gila… hahaa..
hal seperti itu biasanya saya rasakan kalau lagi sendirian crit, lagi termenung
yups, sesulit melihat kuping sendiri crit.
Ini yang repot juga ya?
Menertawai diri sendiri. . .
Asalkan jangan tertawa sendirian aja dihadapan orang2. .wkwkwkwkk
sebenarnya ga repot mas. sama-sama tentang “kesadaran” kok.
menertawai diri sendiri : mulai sadar
tertawa sendiri : mulai hilang kesadaran
he he he..
yang saya rasakan ada ciri-ciri yg berbeda antara 2 hal berikut :
menertawai orang lain : manis, meriah, nyaring dan lepas
menertawai diri sendiri : kecut, kalem, fals dan tersendat
dan orang banyak yang suka sama yg manis-manis, apalagi meriah harus lebih di nyaringkan. supaya kita merasa bebas dan lepas
padahal menertawai diri sendiri lebih menambah bumbu. kecut enak kalau di campur sama yang pedas, biar orang kalem yang makannya tetap nendang.
*ciri2nya pas banget Pak Hery
ya..ketawa kecil saat kejadian lucu pernah juga..apalagi kalau melihat photo2 jadul dulu saat smp , sma atau kuliah dulu….
kadang2 apa yg terasa pahit dulu.. setelah kita lewati, jadi terasa manis utk dikenang.
anda mendapat poinnya mas Aas. obat, walau pahit tapi tujuannya menyehatkan.
segala kenangan pahit, walau memalukan tetap menjadi kenangan penyemangat..
tulisannya berat, hehe
singkatnya harus banyak2 introspeksi untuk melihat kesalahan dan kekurangan diri sendiri ya mas
kuranglebih begitu Maksum..
waduh ini bener2 sentilan buat saya.. jadi pengen ketawa nih gan..
apalagi saya gan.. tersentil duluan sebelum nulis..
Hahahahaha…..kalau tertawa tapi tidak tahu apa yg ditertawakan bagaimana tuh mas…..Yang sering liat petinggi tertawa senang dibohongi bawahannya, dan bawahannya tertawa lebiihhhh leeebar mentertawakan tertawa nya petinggi.
ibaratnya berada dalam satu wadah yang semuanya sudah terkontaminasi oleh “virus”. sama-sama tidak tau, pengaruh virusnya sudah meruah cara pandang semuanya. sampai tak tau “siapa menertawakan siapa”.. he he he
Saya menertawai diri saya,, paling tidak bisa edit css atau html nya wordpress,, tiap kali edit html pasti ada yang berubah tapi bukan lebih baik, lebih hancur,,,,
keren..!
proses mencoba telah banyak menggelitik yah..?
semangat terus mas
ini sama saja kalo kita mencaci, memaki, menunjuk dengan jari telunjuk, tapi kita gak boleh lupa sisa jari yang lebih banyak mengarah pada kita sendiri
wouwww….
kek gini nih kalau banyak merenung, sekali ngomong menusuk jantung pertahanan kota.
setuju banget mas.
btw libur panjang nih? full dong?
apanya yang full mas?
full jaga arkas maksudnya
he he he
Itu seharusnya yang kita lakukan sebelum mentertawai orang lain
betul sekali mas Joko,
apa khabar nih? baru bersua lagi kita
Pertanyaan di akhir tulisan kayaknya nggak perlu saya jawab ya mas
Terkadang saya juga suka menertawakan kekonyolan diri sendiri. Geli aja kenapa bisa berbuat konyol seperti itu. Ketimbang stress memikirkannya, saya pikir memang lebih baik ditertawakan saja. Toh, kalo dibikin serius juga gak ada gunanya kan mas.
ternyata banyak pengalaman bathn juga disitu yah mas is?
untuk konsumsi pribadi bagus juga kok mas. itung2 buat pengenalan kepribadian kita sendiri..
santai tapi bermanfaat, semoga…
Kalau saya kadang menertawakan diri sendiri ketika mengingat masa lalu. Entah itu ketika saya mengingat kebahagiaan dan ketika mengingat kesalahan saya.
Hehehe
berarti pepatah di atas tak cocok buat anda mas
selamat yah
Terima kasih kalau sudah tersiksa
(*ngumpet…*)
Dan sepertinya akan serialnya nih, sayang saya datang agak terlambat.
Logika sederhananya, jika kita mampu mentertawakan orang lain seharusnya kita lebih mampu mentertawakan diri sendiri. Tetapi seperti yang Mas uraikan, mayoritas diantara kita sangat mampu mentertawakan orang lain tetapi ketika berbalik kepada diri sendiri, sekeranjang alasan siap disodorkan. Padahal gajah yang ada dipelupuk mata itu besar bahkan sudah berbau busuk, entah tidak melihat atau tidak mau melihat atau tidak mampu, mungkin disitulah pangkal masalahnya.
predatornya telat datangnya nih. biasanya sih masih di hutan. betul..?
sekarang tinggal melatih selera humor kita yah mas Aldy. obyek kelucuan kita pindahkan dari luar kedalam. simple sebenarnya, api kompleks pada aplikasinya.
intinya harus banyak latihan sih..
rajin nonton tukul bisa jadi pemicu ga yah..
He…he…he…
biasalah mas, kalau nggak masuk hutan bukan rimbawan namanya.
Menonton tukul mungkin tidak masuk hitungan, ntar kalau kitanya yang justru berlaku seperti tukul bisa ciloko
wahahahaha…
mas, saya sering dan sangat gampang menertawakan orang lain, tpi ketika sya menertawakan diri sendiri , saya berusaha agar orang lain tidak tau. hihihihihihi….
khan tidak perlu dipamerin untuk jadi palawak khan?
kalau bisa membawa manfaat, di umpetin aja dulu. he he he
Mungkin harus sering-sering melihat di cermin ya Pak he he. Cara lain adalah mencari sahabat yang bisa memberikan masukan dan kritikan bukan hanya bisa memuji. Sukses terus Pak.
betul mbak, cermin kehidupan tentunya..
sukses juga yah mbak Yanti..
WAh….kalau menertawakan diri sendiri ya sering sekali mas,,,,
asal tidak ada yg liat aja
iya memang kita seringnya menertawakan kekurangan atau kesalahan orang lain, pada saat kita ditertawakan , maka kita marah atau malu.
sulit utk menertawakan diri sendiri, hanya orang2 bijak yg mampu menertawakan kekurangan atau kesalahan diri .
bunda mau belajar utk melihat kekurangan diri, lalu menertawakannya.
salam
mudah-mudahan sih kita bisa melangkah ke arah pribadi2 bijak yah bunda..:)
Mentertawai diri sendiri???? suka kayanya kalo lagi mengingat hal2 yang nyeleneh di masa lalu hehe…
tapi memang terkadang seringnya mentertawakan kekurangan orang lain yah, dan hal ini terkadang susah sekali untuk di berantas dari kita sendiri
Menertawai diri sendiri atau merasa malu sendiri dengan apa yang telah kita perbuat sering kali memang kita alami di kala berupaya untuk “bermuhasabah” tentang diri kita. Namun, kadang memang terjadi secara sepontan saat sadar akan kelucuan apa yang telah diperbuat.
nice article…thanks
betul betul betul,,, dari pada ditertawai orang!! lebih baik ditertawai diri sendiri (koreksi, mawas diri), suwun
sepakat mas suwune..:)
Benar kak, alau ada orang yang salah kita sering mentertawakan mereka, padahal belum tentu kita juga bisa berbuat lebih baik.
Salam manis dari Batam
Ada kalimat bijak : tertawa terakhir adalah yan terbaik. artinya jangan kita mentertawakan orang lain karena mungkin orang lain akan mentertawakan juga kebodohan kita
salam manis dari Batam
ketinggalan kereta nich gan, cerita agan dan semua koment tman2 bener buanget, tp yg perlu diingat bgm dg implementasinya. mudah2an tdk hny utk dimengerti ttp dpt dilakoni dlm kehidupan kt sehari2. makasih masukannya. saya ijin copypas ya gan. teruskan niat baiknya.