Logika Nakal si Tukang Tambal Ban

by fadlymuin on January 20, 2010

Masih jadi perbincangan dan perdebatan yang melelahkan antara positif dan negative berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas diri. Setidaknya antara logika negative dan positif ini seakan-akan sedang dan selalu berkompetisi merebut hati manusia.

Ide ini tiba-tiba hadir saat kejadian ban motor yang bocor beberapa waktu lalu. Apalagi hujan mengguyur Jakarta begitu deras waktu itu. Bisa anda bayangkan bagaimana rasanya, basah kuyup naik motor, di tambah ban bocor pula. Yang jelas bete abis deh!

Sebelumnya saya ingin berbagi cerita sedikit. Kejadian ini sudah cukup lama terjadi. Namun saya masih ingat sampai sekarang. Karena waktu itu saya mendapat musibah dan pertolongan sekaligus.

Ini masih ada kaitannya sama ban bocor. Kejadiannya terjadi di daerah kuningan, jalan H.R.Rasuna Said. Waktu itu, hujan tidak terlalu lebat, namun cukup lumayan buat jaket dan celana saya lembab dan basah. Apalagi hari sudah cukup malam.

Tak jauh meninggalkan belokan jalan, saya merasa motor jalannya agag ngesot. Walah! ban bocor rupanya. Terpaksa, turun dan menuntunnya sambil celinga celinguk nyari tukang tambal ban. Kira-kira 100 meter meninggalkan belokan, ketemu juga tukang tambal ban. Dan ternyata disitu sudah ada tiga atau empat motor yang antri dengan masalah yang serupa.

Masalahnya di kantong saya Cuma ada uang tunai 10.000 rupiah. Dan vonis yang di jatuhkan kepada motor saya adalah “harus ganti ban”. Kata tukang tambalnya, sudah tidak bisa di akalin pak! Waktu itu harga ban sekitar 25.000. waduh, gawat! Sebenarnya saya ada duit, tapi masih di ATM. Saya tidak kehilangan akal. Saya bilang, “bang, titip sim saya deh, boleh khan?” Tidak bisa pak! Sudah banyak yang begitu, dan mereka semua rata-rata tidak balik lagi. Dalam hati saya fikir, galak banget nih tukang tambal ban. Trus saya tawarin lagi surat yang lebih berharga. Kalau gitu saya titip STNK saya deh, saya mau ambil uang di ATM. Duit saya tidak cukup nih untuk ganti ban. Tidak bisa pak!

Dengan nada emosi, saya bilang, “ya sudah pasang kembali deh ban bocor saya!”. Dalam hati saya bilang, terpaksa deh saya harus mendorong sambil cari ATM. Setelah itu baru cari tukang tambal ban baru. Tapi sebelum di pasang kembali, ada seseorang yang rupanya diam-diam memperhatikan saya. Sebut saja namanya Bapak A. Beliau ini mendekati saya, menanyakan masalahnya, dan tanpa basa-basi beliau lalu menawarkan bantuan. Pertolongan tuhan turun juga seiring dengan turunnya hujan waktu itu.

Akhirnya saya menerima bantuan itu, dan saya janji untuk mengembalikannya besok di kantornya (Sekalian saya janjiin untuk usahain tiket nonton tukul 4 mata. Karena istri saya memang kerja disitu. Dan biasanya ada nyelip tiket gratis untuk nonton). Karena tawarannya itulah, kami terlibat obrolan kecil, sambil menunggu motor selesai dengan masalah ban ini. Usut-punya usut, ternyata semua motor disitu masalahnya sama “terkena Paku yang masih mengkilat di pojokan jalan itu. Dan semuanya di anjurkan ganti ban”. Pikiran negative mulai menguat di benak saya. Ini pasti ulah si tukang tambal ban ini deh. Makanya orderannya jadi rame. Secara tersirat dan suara agag pelan. Obrolan saya dengan Bapak A pun menjurus kepada pembenaran akan pikiran negative saya itu. “ulah si tukang tambal ban yang nakal!”.

Kasus saya di atas hanya salah satu kasus serupa yang saya alami. Rata-rata kejadian ban bocor, menurut pengalaman saya, entah ini kebetulan atau memang terencana, selalu ada paku tak jauh, sebelum saya ketemu dengan tukang tambal ban. Dan seringnya mereka menawatkan untuk ganti ban. Setiap saya harus mampir ke tukang tambal ban, pikiran negative saya selalu hadir dan berkata, “sial kena lagi deh gue”.

Berkaitan dengan kejahatan tambal ban, sindikat ini pernah di usut oleh salah satu stasiun TV kita. bahwa memang ada kelompok kriminal tertentu yang menawarkan jasa sebar paku di jalan raya. Dan target pasarnya adalah pengendara sepeda motor. Makanya paku yang di siramkan ke jalan raya, selalu mengambil posisi di pinggiran jalan, dengan analisa, motor sukanya nyalip-nyalip lewat pinggir. Pas saya nonton beritu itu, pikiran negative saya makin nancap. Logika saya bekerja dengan baik. Secara berkesinambungan saya membenarkan pengelaman yang saya alami adalah ulah nakal si pengusaha tambal ban.

Apakah logika saya tentang fikiran negative ini salah? Biarlah anda yang menyimpulkannya. Saya hanya ingin tekankan, bahwa pembentukan opini negative tentang tukang tambal ban, adalah hasil dari pengalaman, pengakuan orang lain, di tambah dengan fakta dari pengakuan si tukang tambal ban yang di wawancarai di TV itu. Bagi saya, hal itu tetap pikiran logis tentang prilaku negative. Titik.

Pengalaman baru-baru ini, sungguh menyadarkan saya tentang cara menetralisir fikiran negative. Yaitu menggunakan logika sebaliknya. Apa lagi kalau bukan logika positif.

Dengan kondisi alam yang sama, hujan dan ban yang bocor. Terjadi pagi hari di saat buru-buru berangkat ke kantor beberapa hari sebelum artikel ini terbit. Bukan ngarang yah, ini bener-bener mirip kejadiannya. Terjadi tak jauh dari belokan, dan ketemu dengan tukang tambal ban. Waktu ban motor saya mulai di bongkar, secara seksama saya memperhatikan si tukang tambal ban ini mengerjakan tugasnya. Saya Tanya, kena paku pak? Tidak pak jawab dia. Oohh..

Sambil menunggu tambalannya rekat, si bapak tukang tambal ban ini, memeriksa ban luar motor saya. Sepertinya dia menemukan suatu benda tajam yang menancap di ban motor saya. Dengan susah payah, ia mencabut benda tersebut menggunakan tang. Pas sudah tercabut, ia memperlihatkan kepada saya, ternyata benda itu hanyalah potongan isi streples yang Sangat Kecil. Hmm.. kali ini saya terbebas dari paku.

Di perjalanan saya mikir. Kenapa ada benda sekecil itu tersebar di jalan raya yah? dan kenapa juga bisa nancap di ban motor saya? Saya berusaha mencari persamaan dengan kasus-kasus saya sebelumnya,. tapi tidak ketemu.

Justru yang muncul malahan logika positif saya. Saya mulai berfikir bahwa tidak semua tukang tambal ban itu nakal, tidak semua mereka itu jahat. Dan tidak semua musibah yang menimpa ban motor saya itu, karena ulah nakal sekelompok orang jahat, yang di bayar oleh tukang tambal ban. Ya Allah… betapa naïf cara berfikir saya selama ini. Yang sudah memberi label buruk kepada pencari nafkah di jalur jasa tambal ban motor orang lain.

Cerita tukang tambal ban, asyik juga yah?

Tidak terasa sudah masuk halaman ke tiga.

Pesan yang bisa saya petik dan mudah-mudahan anda juga bisa melakukan hal yang sama. yaitu, kita perlu melawan, atau paling tidak menetralisir logika berfikir negative kita dengan logika yang bertolak belakang dengannya. Sebab, manusia ini selalu ingin alasan yang relefan. Tidak bisa hanya di perintah, “hei kamu, berfikir positif dong!”. Cara seperti itu sungguh membuat sebagian orang jadi mual. Termasuk saya di dalamnya. Manusia ini adalah makhluk pemikir. Apapun yang dilakukan harus berdasarkan logika dan rasio yang tepat untuk menggerakkannya.

Semoga pengalaman ban bocor ini bisa menginspirasi anda. Mungkin anda punya pengalaman seputar logika negative – positif ini?

Share

{ 51 comments… read them below or add one }

1 Udin Hamd January 20, 2010 at 22:05

Maaf pertamax nggak ne. . .h?

Reply

2 fadlymuin January 21, 2010 at 02:28

berhasil mas udin..selamat! :D

Reply

3 Udin Hamd January 20, 2010 at 22:08

Pengalaman ban bocor sy lebih serem bang. Tengah malam d kawasan gunung Bromo, ban bocor. Nuntun n manjak . 600 m baru ktemu . Capek dee. . .

Reply

4 fadlymuin January 21, 2010 at 02:29

bisa di bayangkan, tenaga dan emosi yang terbuang mas… capek banget deh..

Reply

5 arkum January 21, 2010 at 04:10

wah, kasihan tuh ms, tapi hebat ya bisa mnerjang alam kayak gitu sambil ban bocor.Salut mas! :cendol

Reply

6 belajar affiliate January 20, 2010 at 22:57

pekerjaan mulia yang sayang sekali ada beberapa oknum yang cenderung nakal, namun hal ini membuat semua yang melakukan pekerjaan tersebut kena getahnya…
yah kalo memang terlalu sering bertemu dengan yg nakal kadang sulit juga untuk tetap berfikiran negatif plus nelongso..
bayangin kalo yang punya motor perempuan dengan membawa 3 anak kecil seperti saya., mengalami kejadian akibat ulah nakal dan mereka dengan semena mena menentukan harga dengan pelayanan yang kasar (subhanallah) seolah saya ini hanya sekedar dompet uang saja bagi mereka… tapi ya sudahlah.. untuk menghibur diri biar ga larut dalam kekesalan saya berulang ulang berdoa saja dan bersyukur bahwa saya tidak seperti itu, tidak melakukan hal buruk seperti itu.
(saya pemarah soale, kalo ga berjuang menghibur diri..oalahh lah bisa perang lokal heheheheh) :batabig

Reply

7 pasutrisatu January 21, 2010 at 01:53

sabar mbak..nanti juga diganti yang lebih baik..Amin.

Reply

8 fadlymuin January 21, 2010 at 02:31

itu juga masalah yang perlu di waspawadai buat ibu-ibu pekerja keras. bisa di bayangkan luapan perasaan saat itu mbak. sebel tapi tak berdaya.. tapi tetap sabar khan??

Reply

9 mashengky.com January 21, 2010 at 00:14

kalo itu sih cerita lama oom.. di casablanca tuh rajanya rampok tambal ban.. makanya saya kalo ke ambasador mendingan naik M44 deh daripada pake motor..

Reply

10 fadlymuin January 21, 2010 at 02:32

pas kejadian itu, saya baru tau mas. ternyata disitu banyak ranjaunya..

*M44 full terus. lagian saya mau ke mampang.. terus ke cijantung..:D

Reply

11 online-business-story.com January 21, 2010 at 00:53

nambahin dikit mas…
memberikan alasan yang rasional untuk mengajak orang dalam kebaikan…. hmmm, ini yang kadang terlupakan oleh kita. ini memang lebih baik dari pada langsung memerintah karena dengan memerintah cenderung orang malah defend

Salam Kreatif,
Octa Dwinanda

Reply

12 fadlymuin January 21, 2010 at 02:34

selain terlupakan. memberikan alasan yang rasional + seni mempengaruhi orang lain itu membutuhkan kualifikasi tersendiri. yang jelas perlu mengasah skill disitu mas Octa.. makasih sarannya mas :)

Reply

13 pasutrisatu January 21, 2010 at 01:59

disini sekali2 komeng yang gak centil ahh..tukang tambal bannya mirip preman blogger gak mas..kwik.kwik.kwik.? :ngacir2

Reply

14 fadlymuin January 21, 2010 at 02:35

waduh.. mirip siapa yah :siul
ga jauh dari mimik tukul deh. cuma ini versi gelap :ngakak

Reply

15 IwanKus January 21, 2010 at 02:01

memang bawaannya curiga melulu kalo berhubungan dengan tambal ban…
selain dengar dari cerita orang lain, juga pernah ngalami sendiri…
masalahnya kita memang butuh, apalagi jika lokasi agak terpencil…
tentu tdk semua begitu, banyak kok yg profesional…

Reply

16 fadlymuin January 21, 2010 at 02:38

iya ada juga kok yg baik.. presentasinya sudah susah di kalkulasi secara statistik.. pokoke “waspada saja,jauhi pinggiran” :afro:

Reply

17 sumartono January 21, 2010 at 02:46

Jadi teringat kembali Mas Fadly…. saya pernah mengalaminya beberapa tahun lalu di tengah malam di daerah bilangan Rawamangun, ban motor bocor….untungnya bersama mantan pacar…wooow

Reply

18 fadlymuin January 21, 2010 at 03:15

jadi mendorong sambil di dorong dong? ;)

Reply

19 sari January 21, 2010 at 08:01

itu mah bukan ga sengaja ban bocor mas sum tp emang disengaja biar pulang k rmh telat gitu… ga ikutan ahh:alay

Reply

20 arkum January 21, 2010 at 04:17

Berpikir positif dan negatif mnrt sy itu sah2 saja ms. Slama smuanya bisa dipertanggungjawabkan secara rasional, maka siapapun berhak berpikir +/-.Intinya pertanggungjwbn pemikiran, kalo begini kn orang pasti hati2 mengatakan/memutuskan sebuah penilaian.Tuk ban bocornya ms, sy jg punya pengalaman yg sama sih diSby, ya gitu ms, ranjau paku disebar sembarang….akhirnya…eh kena dech sy.Pdhl uang halal itu kn banyak jalannya.Nggak habis pikir, kelak diakherat, disuruh pertanggungjawaban didepan smua umat manusia, cuman mslh tebar ranjau paku gimana ya malunya.. :cd: :cd:

Reply

21 fadlymuin January 21, 2010 at 06:16

pokoknya kalau masalah akhirat. ntar pilih jalur yang tepat aja mas. jangan sampai nyasar ke n….ka :berduka

Reply

22 arkum January 21, 2010 at 06:38

OK, ndak boleh nyasar :cendol

Reply

23 Cara Cari Duit January 21, 2010 at 05:58

Kasihanilah yang miskin mas fadly.Apa mau dikata lagi kalau sudah sifat tukang tambal ban kayak gitu.Yang terpenting kita harus hati2.

Reply

24 fadlymuin January 21, 2010 at 06:18

hmmm… miskin bukan berarti jahat khan mas..:D
memberi porsi toleransi yang pas, bisa jadi itu sebagai rongga untuk berbenah dan memperbaiki diri.. yah sambil berhati-hati tentunya

Reply

25 iskandaria January 21, 2010 at 06:08

Akumulasi dari berbagai pengalaman, persepsi yang diterima dari orang yang dinilai punya otoritas, dan rentetan fakta yang menguatkan memang bisa membentuk suatu persepsi/opini tertentu dalam mindset kita.

Lama-lama akhirnya jadi mengkristal dan membentuk sebuah pola pikir atau cara merespon sesuatu yang sulit untuk diubah. Itulah proses “pemrograman pikiran” akibat akumulasi yang beruntun.

Semuanya harus kita kembalikan pada kondisi yang netral ya mas. Namun tidak perlu atau akan cukup berbahaya juga kalau kita terlalu memaksakan diri untuk “berpikir positif” melulu. Semuanya harus seimbang dan realistis.

Reply

26 fadlymuin January 21, 2010 at 06:24

inilah yang suka menggugah rasio saya. sebab, siraman motivasi untuk berfikir positif semakin kuat dan tajam dengan logika yang bisa di terima. tentu ini pertanda baik buat kita dan sebagian orang lain. namun saya tetap merasa kurang puas akan hal itu. sebab. sebelum masalah berfikir positif itu, hanyalah pilihan tentang suatu cara menyikapi sesuatu untuk berikutnya mengambil tindakan. dan rasanya tidak adil, jika kita membatasi diri hanya berada di satu jalur cara berfikir.

contoh yang paling ideal adalah “melarang anak melakukan sesuatu” terkadang anak bingung kenapa saya dilarang? anak perlu tahu letak alasan-alasan kongkrit, walau ia tidak bisa menterjemahkan maksud dan tujuannya secara jelas.

*diskusi yg menyenangkan mas iskandar :D

Reply

27 LearningPTC January 21, 2010 at 07:42

Saya dulu punya pengalaman yang lebih pahit di jalan daan mogot … pernah sehari ganti ban dua kali … tapi menurut hemat saya tukang tambal ban juga manusia …. iadi ada yang baik dan jahat

Reply

28 fadlymuin January 21, 2010 at 10:36

lebih parah lagi tuh :D iya “tukang tambal ban juga manusia”. setuju.

Reply

29 Suarakelana January 21, 2010 at 08:22

Sebaiknya sih latihan berfikir bersih aja sebelum faktanya jelas (ada istilahnya, zero apa gitu…). Dulu saya pernah menangani karyawan2 yg indisipliner, sangat sulit untuk tidak berfikir negatif di saat banyak pihak sudah cenderung menjatuhkan ‘vonis’ yg memberatkan. Padahal kadang fakta obyektifnya tidak demikian setelah diperiksa lebih seksama.
Ada kalimat bijak yg kalo gak salah berbunyi : “sesuatu tidak selalu seperti yg terlihat”. Jadi kalo sulit untuk berfikir positif, ya berusaha netral aja.

Reply

30 fadlymuin January 21, 2010 at 11:07

berlatih berfikir seimbang, butuh yang namanya kejernihan emosional. supaya pandangan kita lebih pas..

“sesuatu tidak seperti yang terlihat” sama dengan melihat foto tidak sama dengan melihat film.

makasih diskusinya suara kelana ;)

Reply

31 T. Wahyudi January 21, 2010 at 08:22

wah…. tukang tambal ban kurang ajar ya mas…. :D

Reply

32 fadlymuin January 21, 2010 at 11:08

boleh di bilang begitu, tapi tidak semua mas :D

Reply

33 Belajar Bisnis Online dan SEO | Arief Rizky Ramadhan January 21, 2010 at 09:14

ada yang salah ketik mas… beritu harusnya berita hehehe kembali ke topik.. weh weh berarti itu jalan keramat mas fadly n satu pelajaran yang diambil “jangan asal nyalip” :cendol

Reply

34 fadlymuin January 21, 2010 at 11:11

ga tau nih word kompiku… kok ejaannya agag ngaco yah. kadang bisa jadi bias, berita jadi beritu, ntar fikir jadi fakir dan seterusnya… (nanti aku benerin rief, tks)

boleh nyalip tapi dari kanan, jangan dari kiri… makanya saya agag males kalau nyalip di tikungan jalur kiri, trauma alias waspada! :cendol

Reply

35 Arief Rizky Ramadhan January 21, 2010 at 11:42

wkwkwkwk.. saya malah lebih seneng nyalip dari kiri… soalnya kalo dari kanan ngeri :takut

Reply

36 MasterClickCom January 21, 2010 at 14:46

Wow… ga nyangka sy bacanya ampel selesai… Justru dgn pikiran positif.. kita menjadi tdk terbebani.

Reply

37 fadlymuin January 21, 2010 at 15:32

emang biasanya ga selesai mas? :D
tapi saya tertarik tuh dengan kalimat tidak terbebani.

Reply

38 MasterClickCom January 22, 2010 at 01:40

Betul mas. . . Klo terbebani seolah-olah menjadi beban pikiran tiap hari , rasanya spt hrs “mikir” terus menerus mslh tsb. Nah… klo bisa positif… terasa Plong bngt pikiran kita.

nb :Tiap kali bacanya ampe tuntas kok.

Reply

39 fadlymuin January 22, 2010 at 02:21

iya..iya… memang perlu dan harus segera di netralisir mas.. ikut kontes yah…!

Reply

40 Bundapreneur January 22, 2010 at 04:10

Kalau sy mlh beneran diuber sm penjahat yg nyebar paku……krn berhsil ngeles, jd dia napsyuu, makin diuber….n akhirnya kena juga, untung ga panik n dia ga berhasil ngrampok, mana sendiri plus 3 anak kecil

Reply

41 fadlymuin January 22, 2010 at 08:06

wah kalau itu sih parah bunda… tp yg kepikiran, kok sampai bawa 3 anak bunda?? bahaya loh..

Reply

42 Bakrie January 22, 2010 at 04:26

kalo kejadian ban bocor sih belum… tapi kalo pikiran negatif-positif itu selalu seliweran di otak….

Reply

43 fadlymuin January 22, 2010 at 08:08

nyikapin yang seliweran itu bagaimana mas?

Reply

44 Haris_DokterBisnis.Net January 22, 2010 at 15:45

Betul mas…tapi intinya, kalau kita selalu bersyukur, pertolongan dari Sang Pencipta pasti ada…karena dibalik kesulitan ada kemudahan…

eniweisalam kenal dan hangat mas, kunjungan pertama neh…thanks..Haris

Reply

45 fadlymuin January 24, 2010 at 15:06

sepakat mas haris :) pokoke, berprasangka baik, berpotensi lebih nyaman di hati. walaupun faktanya tidak semuanya menjamin umpan balik yang baik. namun dengan memelihara prasangka baik. setidaknya kita sudah menciptakan aura bagus di diri kita.. semoga saja bisa berkembang lebih baik.

salam kenal juga mas Haris :D

Reply

46 Blogspreneur January 23, 2010 at 08:56

Pertolongan Tuhan tidak dapat ditebak… :)

Reply

47 fadlymuin January 24, 2010 at 15:11

betul mas. kita hanya perlu mengasah ketajaman spirtual untuk bisa menyadari itu:)

Reply

48 Alfred January 29, 2010 at 09:33

Yang penting bagaimana menjaga diri kita agar tetep mampu berpikir logis, tanpa menggeneralisir seseorang ke arah negatif. Dalam hal ini si tukang ban…^_^
salam mas fadly

Reply

49 fadlymuin January 29, 2010 at 09:54

nah itu dia fred.. menjaga diri dari lingkaran negatif itu dia yang perlu tantangan… mantap!

Reply

50 Khalid Abdullah March 18, 2010 at 00:01

gak salah dah nyemeptin baca2 gudangnya artikel blog panutan ini…. mantap-mantap ceritanya…btw, saya juga pernah bocor, terus dibantu gara-gara gak bawa uang… dibalik betenya, ada juga rasa haru, karena dibantu oleh orang yang bahkan kenal aja gak…

Reply

51 Akbar cah stan May 18, 2010 at 18:29

Ketahuilah saudara saudara! Trik tambal ban: melepas ban dalem dengan alat yang tajem utk mencongkel + mur pentil dalam keadaan tetap terpasang agar pentil robek sehingga harus ganti ban dalem baru . Waspadalah!

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: