Apapun yang menyangkut keterpinggiran anak-anak, hati saya selalu merasa seperti teriris. Pedih dan nyerih di dada. Apapun yang menyangkut penindasan terhadap kebahagiaan anak selalu membuat hati saya merasa kacau, gelisah dan tak tenang.
Pada suatu ketika, saya bersama istri pergi ke daerah Mangga Dua, tempat saya membeli alat paket sablon Digital untuk Produksi Kaos Anak. Karena printer yang saya beli beberapa bulan tersebut macet, warnanya tidak keluar. Maka datanglah saya ke tempat pembelian sebelumnya.
Sebenarnya saya membeli paket itu via online. Harganya juga lumayanlah, sekitar 4 jutaan. Dan transaksi itu saya lakukan lewat online. Namun karena menyangkut perbaikan fisik, mau tidak mau harus saya bawa kesana. Dan perjalanan kesana saya memilih untuk naik bus way. lebih cepat dan tidak capek nyupir.
Pengalaman menyangkut anak-anak ini saya alami ketika saya baru saja turun dari bus way dan akan naik angkot untuk nyambung perjalanan yang sebenarnya sudah dekat, tapi karena kondisi jalanan disitu, tidak kondusif untuk kita tempuh dengan jalan kaki. Apalagi saya tenteng printer kemana-mana. Bathin saya bilang “kok pebisnis kaos tenteng printer?” ? biarinlah, toh untuk mencapai sukses harus ada pengorbanan bukan?
Eh, malah lupa cerita tentang anak-anak tadi.
Jadi anak-anak yang saya temui itu kondisinya sangat memprihatinkan dimata saya. Ada empat orang yang berkumpul disitu. Tepatnya di bawah jembatan bus way, seorang ibu-ibu paruh baya. Saya menebaknya berusaha 40-an tahun, bahkan mungkin kurang dari itu. Tapi karena fisiknya di terpa cuaca dan tanpa perawatan, mungkin ia mengalami penuaan dini.
Mereka duduk setengah melingkar. Ibu paruh baya itu, di depannya seorang anak laki-laki berusia kira-kira 11 tahun dengan pakaian dinas ala anak jalanan. Di sebelahnya lagi seorang anak laki-laki juga berusaha lebih muda dari lelaki disebelahnya. Kira-kira 9 tahun. Dan yang membuat saya itu merasa miris adalah anak bayi yang kira-kira berusia 9 bulan. “Yah! sembilan bulan”, yang di gendong oleh anak laki-laki kecil yang berusaha 9 tahun itu.
Cukup lama saya menunggu. Makanya saya ada kesempatan untuk mengamati mereka. Saya melihat pemandangan yang sangat memprihatinkan. Saya melihat si bayi yang tak terurus itu, kepalanya berambut seperti landak, pendek tajam-tajam, sepertinya ia anak perempuan, karena dia di pakaikan rok. Saat itu ia tertidur pulas sekali. Anak lelaki yang menggendongnya yang saya prediksi berusia 9 tahun itu, sedang memegang puntung rokok dan di mainkan di mulutnya. Mungkin karena dia belum menemukan korek api, sehingga rokoknya tidak di nyalakan. Sesekali ia menempelkan puntung rokok itu ke mulut si bayi. Tapi karena terlalu pulas, bayi mungil itu tidak merespon sedikitpun. Lehernya sangat lentur, menggoyang kepalanya kesana-kemari. Lunglai!
Dalam keadaan tertidur pulas dalam gendongan. Si bayi perempuan itu tidak terganggu oleh keriuhan suara kendaraan di jalanan. Walau kedua anak laki-laki mencoba mencandainya, tetap saja dia tidak terbangun. Sesekali ia di tidurkan di lantai tentu saja di alasi dengan debu dan tanah kotor. Dari mulutnya keluar busa-busa kecil. Mungkin karena kekurangan cairan, jadi hawa panas di tubuhnya menguap lewat mulut.
Saya tidak sempat mengamatinya lebih jauh lagi atau minimal sampai si bayi perempuan itu terbangun. Karena angkot yang saya tunggu sudah tiba. Maka selesailah pemandangan yang sangat memprihatinkan mata bathin saya. Tapi saya bisa merasakan kepedihan yang membekas saat saya meninggalkan pemandangan yang memprihatinkan itu.
Saya yakin, anda pun memiliki pengalaman yang lebih dalam dan tragis di bandingkan dengan apa yang coba saya ceritakan di atas. Ini hanyalah bagian kecil dari potret sosial kita yang sangat memprihatinkan. tapi menurut saya, potret kehidupan anak jalanan itu, cukup memadai untuk kita jadikan renungan kecil.
- Kenapa dan bagaimana semua ini bisa terjadi?
Perjalanan yang sangat panjang jika ingin membahasnya dalam satu momen artikel. Karena untuk merespon kondisi tersebut dalam bentuk-bentuk sikap dan tindakan. Di butuhkan penglihatan yang konfrehensif, menyeluruh kesemua sendi-sendi kehidupan. Karena banyak faktor yang akan ikut terkait. Pemerinah tentu memainkan peranan penting. Masyarakat pasti ada porsi pengaruh didalamnya. Individu sebagai aktor penjaga nilai-nilai dalam sektor yang mikro dan seterusnya. Kesemuanya akhirnya membentuk system dan menjadi dasar tindakan kita.
Kalau kita mencoba untuk merubah semua itu dengan cara kita sendiri. saya yakin, kita akan kehabisan tenaga dan fikiran untuk melakukannya. Merubah system atau merubah banyak orang sekaligus, lebih sulit di bandingkan merubah satu orang. Daripada rasa cemas itu terus kita pelihara, seperti yang saya alami waktu itu. Lebih baik kalau kita mulai dari diri sendiri.
Merubah diri sendiri tentu lebih mudah dibandingkan dengan merubah orang lain. Apapun yang menyangkut diri sendiri. kita memiliki hak penuh, mutlak untuk diri kita sendiri untuk merubahnya. Tak ada seorangpun yang berhak atas diri kita. kecuali Tuhan!
Mengingat pengalaman sekejab itu, saya langsung teringat anak saya di rumah. Tiba-tiba saya melakukan koreksi terhadap diri sendiri. tentu saya tidak ingin mengalami ketidakberuntungan seperti yang di alami anak-anak jalanan itu..
Jadi sebelum semuanya terlambat, mari kita kurangi jumlah penindasan anak-anak di tinjau dari segala aspek. Dan di mulai dari diri sendiri
Mari kita mulai….
Share

{ 38 comments… read them below or add one }
Sedih
mereka terbuang dari dunia ceria anak-anak….mereka terlantar di tangan orangtuanya…..*bagusnya naik kendaraan umum adalah melihat lbh dekat dunia terbuang dan bisa memandang mereka yg ada di dalam kendaraan pribadi……dan itu adlh diri kita sendiri. Melihat diri sendiri dari sisi pandang orang lain…..efeknya buat saya adlh bersyukur….
iya bunda, sesekali bagus untuk kita bersentuhan dengan realitas jalanan. menyehatkan mental
pasti, sama yg aku rasakan waktu itu
Yang kedua….
he he he
Tulisan dr sentuhan tangan sang humanis.
Kasihan mmg jk bnyk anak dnegri ini mnglami ketidakberuntngn sprti diatas.Smoga lambat laun juml anak jalanan smakin brkurang.
dn smoga pula,ktdkberuntngn tdk melanda kt smua
yang paling dekat yg bisa kita perbuat yah mulai dari diri sendiri..
Betul ms fadly.Dan smoga keberadaan kita jg bisa membawa berkah bagi yang lain
Podium trakhir deee. . . .
Dengan melìhat lgsung keadaan spt itu . .kita jadi lebih bersyukur telah lahir dari keluarga yg bisa memberikn penghidupan yg layak walau tidak berlebih
seketika saya memang merasakannya pada saat itu mas. sedih dan langsung merasa “beruntung”.
jadi ingat lagu ebiet.. perjalanan ini, terasa sangat menyedihkan. sayang engkau tak duduk disampingku, kawan..
banyak cerita yang mestinya kau saksikan.. di tanah redup bebatuan..
kawan coba dengar apa jawabnya…
mungkin sekali-kali kita mengajak anak-anak kita untuk melihat kondisi seperti itu, agar mereka bisa lebih menghargai dan mensyukuri hidup.
untuk para blogger, memang sekali-kali kita harus menampilkan tulisan-tulisan seperti ini…
terima kasih mas fadly, sudah mengingatkan betapa beruntungnya kita dan seharusnya kita mensyukuri apa yang sudah kita dapatkan…
Salam Kreatif,
Octa Dwinanda
yah mas Octa! menyentuh manusia, tidak melulu dari teori dan perspektif orang-orang sukses. tapi kita juga bisa bersentuhan langsung dengan melihat kenyataan yang ada. turun ke jalan. dan petik pesan moral di dalamnya. kapan nih mas octa posting pengalaman kek gitu?
kalau posting seperti ini di OBS ga bisa mas… nanti keluar dari tema dong.
saya punya blog satu lagi yang berbicara diluar tema bisnis online. mampir ke sini mas fadly : http://f3ihung.wordpress.com. ini blog waktu pertama-tama blogging. Sekali-kali aja saya update. soalnya waktunya banyak tersita untuk update OBS
iya juga yah..
ok nanti saya mampir mas
Salam super..
berbaikhatilah pada setiap orang yang kau temui.karena sesungguhnya mereka sedang dalam perjuangan yang lebih berat dari pada kamu…
kata-kata muriara yang sangat bijak mas andry.. salam super! (dengan intonasi mirip mario teguh)
salam kenal mas Fadly…
ikutan nimbrung neh…sangat memprihatinkan memang dan kjadian2 sprti itu sring sy temui di pasar jeddah,mski sy sngat jauh dr kaya ttpi jika mlht mereka sy menundukan kepala smbl mengucap “Alhamdulillah”
mari kita berbagi…
salam kenal juga mbak sari.
pengalaman di jeddah tentu lebih berkesan, apalagi dengan selalu menyelimuti diri dengan perasaan syukur
silahkan nimbrung, dengan senang hati saya sambut
tidak usah salahkan siapa2..kalau kita belum bisa bantu mereka, atau merubah sistem yang ada, minimal mari kita tetap doakan kebaikan yang banyak untuk seluruh komponen bangsa dan negara Indonesia Tercinta!
bijaksana dan realistis! setuju!
realita kehidupan di kota-kota besar di indonesia. pengamen, pengemis, gelandangan, dan pencopet adalah keseharian dari seragam wajah ibukota dan kota-kota besar lainnya.
yups benar. makanya untuk merubah wajah perkotaan yang kumuh seperti itu, bukan hanya menggusur dan membangun bangunan baru. tapi menggusur kemiskinan itu sendiri.
Anak harus dilindungi mulai sejak dini karena melalui anaklah akan ada generasi penerus yang mewakili kita dikemudian hari nanti.
setuju…
Mengharukan sekali mas Fadly, membaca tulisan anda begitu menggugah pemikiran saya. Anak sebagai generasi penerus seharusnya di didik dengan baik.
Bagus sekali pemikiran mas Fadly, membuat saya semakin dan semakin lebih menghargai tentang kehidupan sesama.
sesekali melihat kehidupan orang lain. akan membantu kita mengasah ketulusan akan rasa syukur mas
Dimana para anggota Komnas Perlindungan Anak?
saya yakin, separuh hidup mereka di dedikasikan untuk melakukan usaha untuk memperbaiki tarah hidup anak2 jalanan. tapi tentu, mengharapkan mereka melakukan semuanya, akan semakin mempertajam rasa individualitas kita.
mereka ada…..dan dekat. Mereka sdh mencurahkan seluruh pemikirannya. Dan hal ini bkn tgjwb mereka semata. Masyarakat yg hrs aktif, mereka yg akan membantu advokasi. Kepedulian dan nurani yg telah hilang,,,melirik pun tidak…
bersyukur kita ya mas… punya anak… jadi anak yang terawat penuh kasih sayang…. tapi kenapa kita tidak pernah sadar akan hal itu? masih aja merasa kurang…. kurang… dan kurang….
iya bener mas.ironis yah
mas, saya dengan beberapa orang teman di Bandung pernah punya gerakan untuk tidak memberikan anak jalanan itu uang, tetapi makanan dan minuman bergizi. Makanya sekarang di mobil saya selalu tersimpan susu botol, biskuit, dan makanan ringan. Setiap ketemu anak jalanan (baik pengamen, peminta-minta, atau yang lain) saya selalu membagikan itu ke mereka.
Paling tidak ini memberikan asupan gizi ke mereka daripada memberi uang yang otomatis hanya masuk ke kantong orang dewasa. Sebab mereka itu cuma objek
Salam
saya rasa itu adalah aksi realisis mas Bud. tepat sasaran. perlu di contoh tuh mas
kasihan bayinya…