Kalau bicara bisnis sebaiknya lepaskan dulu pakem-pakem bahwa bisnis itu sulit, kaku dan juga formal. Sebab kalau pemahaman atau konsep seperti itu yang masih ada di kepala kita, percayalah, aktifitas bisnis sulit terjadi.
Sebab cikal bakal terjadinya bisnis itu justru dari hal-hal yang bisa di kategorikan “Sepele” atau yang tidak terlalu di anggap serius.
Misalnya saat ketemu dengan teman kemudian terjadi obrolan santai. Tukar menukar informasi, berbagi pengalaman sampai pertanyaan maut, “apa profesi anda”. Dari sini saja, kalau kita memiliki communication skill maka peluang-peluang bisnis bisa terjadi.
Itu salah satu contoh saja.
Jadi tak perlu memproteksi hakikat bisnis dengan segala macam symbol kekakuan yang membuat kita justru terpatri dan sulit untuk improfisasi. Jadi, rilex saja dan rasakan kehadirannya.
Ide tulisan ini hadir karena kejadian baru-baru ini.
***
Ceritanya begini……….
Saat mengantar anak saya sekolah, saya bertemu dengan orang tua teman anak saya. Sebut saja namanya si “AA”. Kebetulan saya sudah kenal AA sejak awal pertama anak saya dan anaknya masuk sekolah dulu. Karena jadwal sekolah anak kami berbeda. Maka Kami tidak bertemu setiap hari. Kadang-kadang bukan dia atau saya yang menjemput ke sekolah. Melainkan saudara atau mbak-mbak pengasuhnya.
Baru kemarin saya kebetulan ketemu lagi. Dan dia ajak ngobrol tentang lahan / tanah dia yang mau di olah menjadi lahan bisnis. Tapi dia tidak punya modal untuk membangunnya. Saya berusaha memberikan ide-ide berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya.
Singkat cerita ada beberapa ide yang dia setuju dan ada juga yang tidak. Akhirnya saya setuju untuk “membantunya”.
Setelah itu, obrolan kami, saya bungkus deh. Dan kita berencana untuk bertemu lagi. Dan saya minta agar dia mempersiapkan konsepnya dalam bentuk yang tertulis. Karena kami akan mencari investor untuk membiayai proyek ini. Dan ia menyanggupinya.
Nah.. yang bikin saya kepikiran setelah saya ngobrol dengan istri.
Hasil obrolan tadi, saya obrolin lagi dengan istri. Saya coba ceritakan dengan bahasa yang singkat padat dan terarah. Bahwa ada teman yang minta bantuan untuk cariin investor.
Lalu saya Tanya, “Bun kamu bisa tidak sebarkan issue ini ke bos-bos kamu?”
Hmm….
istri saya tidak langsung menyanggupi. Sebelumnya Ia bertanya, masalah legalitas, lokasi dan pengembalian modal. Lalu saya jelaskan sesuai dengan obrolan saya tadi dengan si AA yang punya lahan itu.
Lalu istri saya bertanya lagi,
trus ayah dapat apa?
Maksudku Ayah dapat apa dari transaksi bisnis ini?
Jujur saya bingung menjawabnya, karena sejak ketemu dengan si AA, saya tidak pernah bertanya masalah kompensasi atau keuntungan material yang akan saya peroleh nantinya. Semuanya hanya mengalir begitu saja. Di dorong oleh rasa suka terhadap wacana bisnis dan aktifitasnya. Semua obrolan saya dengan AA saya nikmati.
Tapi pertanyaan sang istri tercinta tadi, tetap saya jawab dengan smart J saya katakan padanya, bahwa dalam berbisnis itu ada 2 kategori. Yaitu ada bisnis tertulis dan ada bisnis yang tidak tertulis.
Saat menjawab itu, sayapun masih bias maksud bisnis tertulis dan tidak tertulis. Yang jelas saya ingin melukiskan bahwa berbisnis itu bukan semata-mata urusan rupiah. Jadi saat ini, berkaitan dengan rencana saya dengan AA. Konsepnya masih bersifat non tertulis. Belum ada rupiah di depan mata saya. Dan saat obrolan itu terjadipun, belum terlintas di fikiran saya tentang hal itu.
*****
Dari pengalaman ini saya bersyukur, karena telah menemukan 3 poin yang sangat bermanfaat dalam berbisnis, yaitu:
- Berbisnis di Mulai dari Pertemanan. Belakangan orang jarang menggunakan konsep pertemanan. Kebanyakan menggunakan konsep koneksi atau networking. Prinsipnya sih sama. Yaitu “jalinan keakraban”. Kalau kita memiliki banyak teman dan selalu menjaga hubungan baik. insyaAllah hubungan bisnis yang bermanfaat bisa kita raih.abaikan dulu konsep bisnis yang tertulis.
- Berbisnis harus di dasari dengan Respon yang Baik. Respon sangat berkaitan dengan mind set kita. karakter kita akan terpancar saat kita terlibat dalam suatu obrolan bisnis. Apakah kita suka atau tidak. Apakah kita buru-buru ingin mendapatkan rupiah atau mengutamakan prosesnya. Semua itu akan terpancar dari bagaimana cara kita meresponnya. Menyikapinya sampai mengeluarkan statement bisnis terhadap calon partner kita.
- Berbisnis juga perlu pemahaman yang Baik terhadap ide. Walau 2 poin di atas sudah kita miliki, rasanya belum lengkap kalau kita tidak memiliki pemahaman dasar akan binis. Setidaknya persoalan-persoalan yang umum saja. seperti misalnya, masalah rugi laba, resiko, legalitas dan hal-hal lain yang berkaitan dengan bisnis. Karena hal ini sangat membantu dalam merumuskan konsep bisnis kedepan. Selainitu, pemahaman atau pengetahuan yang baik akan bisnis, bias memikat calon partnet kita.
OK semoga artikel ini bermanfaat.
Share



{ 15 comments… read them below or add one }
salah satu kunci bisnis adalah silahturahmi… makin sering bersilahturahmi, makin memperbesar peluang kita untuk membuka ladang bisnis baru
Seperti halnya saya mas. Karena silahturahmi di sebuah komunitas, akhirnya menciptakan kerja sama bisnis.
Salam Pertamax,
Octa Dwinannda
silaturahmi salah satu cara membuka rezeki mas. tapi ingat itu hanyalah pembuka jalan, selebihnya, kualitas dan personaltas akan byk menentukan.. stuju mas octa
?
setuju banget
ayah dapat apa dari transaksi itu?
– betul juga.. gak ada makan siang gratis di dunia ini.. –
walopun teman, sodara dsb, kalo bisnis ya bisnis.. ada uang ada barang..
kadang2 prinsip seperti itu memang diperlukan mas.. tapi sebagai pembuka jalan, logika seperti itu terasa kurang fleksible..
menurut saya, bukan dilihat dari nilai uangnya, tapi dari nilai tanggung jawab dan etika sosialnya mas..
kita akan lebih respek sm orang yang tahu diri, ketika minta bantuan kita, dia sudah berpikir untuk memberikan imbalan.
Tuhan pun sudah menyiapkan pahala bagi orang yang berkenan kepada Dia toh?
nah, kalau argument mas hengky yg ini saya sepaham nih. memang, kita akan lebih respek sama orang yang pengertian dan empati terhadap apa yg sudah kita lakukan.
wah kapan neh kita bisa ketemu mas…
hehehhe…
tertarik yah mas candra? boleh mas. nanti saya survey dulu lokasinya, kalau memang bagus, akan saya info. ok?
intinya gunakan segala cara (halal) agar kocek semakin tebal.
Seorang jutawan tetangga saya tidak memiliki latar belakang pendidikan bisnis, bahkan membaca dan menulis pun susah… toh sukses juga berbisnis. So, mas fadly bener banget, dalam bisnis kita kudu fleksibel.
fleksibelitas perlu mas Umar. supaya hidup lebih berwarna.
sukses bukan hanya berpatokan kpd latar belakang pendidikan yg tinggi, melainkan tindakan nyata, karena didalamnya sudah terdapat nilai-nilai pembelajaran yg lebih mantap
Berbisnis di Mulai dari Pertemanan, saya setuju banget sama yang ini, biasanya orang lebih enak beli sesuatu dari kita kalau dia sudah kenal siapa kita.. hehe
yes, banyak teman banyak rejeki.
BEnar sekali mas fadly,menjalankan bisnis itu tidak harus mendapatkan uang sebagai hasilnya.Yang terpenting adalah ilmu yang kita dapatkan dari berbisnis.
TErjadinya bisnis itu bisa karena komunikasi yang baik antara kedua belah pihak atau lebih.