Mungkin ini masih merupakan situasi dilematis, kompleks atau kontradiksi. Apakah berbisnis atau bekerja. Atau ingin berbisnis tapi masih sebagai karyawan atau ingin berada di dua dunia.
Untuk menjawab kegelisahaan itu, dalam seminggu ini setidaknya ada tiga artikel yang mampu merespon dengan sangat baik, saya kira.
- Pertama, seorang sahabat menulis bahwa untuk menjadi pebisnis anda jangan terjebak untuk mencari uang. Ingat yah Bisnis bukan berorientasi uang. Tapi berusahalah untuk mempelajari sytem dan menciptakan system anda sendiri kemudian. Sebuah gagasan yang berupaya mengadopsi dari gurunya Robert T Kiyosaki itu. Sangat bagus untuk membakar api semangat orang-orang yang ingin segera berpindah kuadaran.
- Kedua, tulisan saya tentang ”Pemerkosaan Pemikiran”, memberikan respon terhadap tulisan pertama di atas. Bahwa untuk pindah kuadran jangan sampai anda merasa dan mengalami pemerkosaan. Agar keputusan anda tidak menjadi sebuah kondisi yang traumatic. Sebuah keputusan emosional yang kemudian bisa menghantam semangat juang anda jauh kebelakang. Walau pada akhirnya, ada beberapa sahabat yang memberikan ilustrasi, bahwa “terkadang” seseorang justru merasa bahagia dan berhasil setelah mengalami pemerkosaan. Karena adanya sebuah tindakan reflektif untuk menangkal situasi buruk. Sebuah perlawanan wacana yang sangat membangun.
- Ketiga, Pak Hery dalam tulisannya “bisnis atau kerja bung?” mampu menjadi penawar yang netral antara tulisan pertama dan tulisan kedua di atas. Disebutkan disitu. Bahwa anda harus benar-benar paham definisi bisnis itu sendiri. Sehingga walau mungkin selama ini anda merasa sudah berada di jalur bisnis, belum tentu anda itu pebisnis. Walau selama ini anda sudah berbicara bisnis, belum tentu anda paham bisnis. Jadi anda harus benar-benar paham dimana berpijak dan bagaimana anda berwawasan dan memetik poin penting dibalik kontradiksi apakah anda ini seorang “pekerja atau Pebisnis”.
Sekarang, saya akan coba untuk membuat sebuah kesimpulan.
Bahwa ternyata untuk menjadi pekerja atau sebagai pebisnis, kita dituntut untuk benar-benar ikhlas dan paham. Sehingga apapun status dan pilihan kita saat ini adalah sebuah keniscayaan yang harus diterima dengan rasa gembira dan optimistic.
Tak perlu merasa terganggu jika selama ini anda memang berada dijalur E. dan tak perlu merasa terlalu bangga jika merasa sudah berada di Jalur B. sebab semua itu ada konsekuensinya. Ada tuntutan profesi yang harus anda tanggung.
Pun, untuk pindah kuadran bukanlah perkara sepela, seperti membalikkan telapak tangan. Banyak hal yang harus ikut berubah jika pilihan itu sudah ditempuh.
Terlebih lagi, apapun keputusan anda. Setidaknya itu semua terjadi atas dasar suka sama suka. Atas dasar ketertarikan dan memang itu adalah panggilan jiwa terdalam. Dan anda harus membayar semua harganya.
Jadi, mari bergembira dianapun kita berada. Sebab perubahan dan perbaikan hidup bisa dicapai dalam berbagai aspek kehidupan.
“Apakah ini sebuah peleburan makna mas?”
Saya rasa tidak juga. Tapi ini merupakan obat penawar untuk menjawab kegelisahan kita. Dimana sebaiknya kita berada, bagaimana sebaiknya kita memilih dan kenapa semua itu bisa kita lakukan.
Artinya, kita sebagai individu, sudah selayaknya memiliki putusan yang realisits, terukur dan mampu menjawab kegelisahan hidup. Dengan harapan obaat penawar ini, mampu menghibur dan memberikan semangat, apapun aktifitas kita.
Ok segitu dulu deh, semoga bermanfaat!

{ 62 comments… read them below or add one }
Posisinya sekarang masih bekerja sebagai abdi negara. Kapan idealnya memutuskan terjun bisnis menurut pengalamannya Mas..
BTW, saya masih numpang tinggal di puskesmas Poasia, Kendari. Kalau Mas Fadly, domisilinya dimana?. Makasi atas informasinya…
menurutku, keputusan untuk pindah kuadran adalah menjawab keinginan hati dan logika. harus siap dan optimis mas.
ok, kalau saya pulang kampung saya bisa kontak anda mas
selamat bekerja
Silakan dengan senang hati, saya ingin belajar banyak dari Mas Fadly. Semoga saya siap, sigap dan optimis seperti teladannya.
Dilihat dari sudut pandang pertama, bekerja memang tidak selayaknya hanya didsarai dengan uang. Belajar memang sebaiknya dijadikan dasar untuk bekerja, agar nantinya menjadi bekal untuk membangun bisnis sendiri. Selain itu, dasar yang paling utama “Jihad”, karena bekerja itu anjuran Tuhan dan apalagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, nilai kerja itu sama dengan “jihad” di medan perang.
Dari sudut pandang kedua, berada di mana pun –sebagai pekerja atau pebisnis– tidak selayaknya kita membiarkan diri menjadi korban “perkosaan”. Tentunya Mas Fadly sudah memiliki tips dan trik agar kita terhindar dari “tindak perkosaan” tersebut.
Sementara sudut pandang ketiga, menurut saya sebenarnya intinya sama dengan sudut pandang pertama–berkaitan dengan pembelajaran sistem, termasuk investasi–, namun di sudut pandang ketiga ini tidak mempersalahkan posisi pekerja selama terbebas dari “pemerkosaan” seperti dijelasakn dalam sudut pandang kedua.
Di manakah saya? Hehehe… saya berada di posisi ketiga– dimana saya berusaha tidak mempersalahkan diri sebagai pekerja, yang sedang berusaha mendalami ajaran dari sudut pandang pertama, dan berusaha untuk tidak menjadi “korban” seperti yang diajarkan sudut pandang kedua.
Berliku ya Mas? Hehehe… itulah liku-liku kehidupan
kalau sudah mengambil kesimpulan seperti ini, saya mau ngomong apa lagi mas?
sepertinya mas erdien lebih tajam menyimak artikel saya.
saya hanya ingin mengomentari pendapat anda yang “mempersalahkan diri sendiri” please deh! fikiran seperti itu tak perlu dipertahankan.
semoga sukses mas
tulisannya bagus mas! cocok untuk menaikkan pagerank!
semoga sukses selalu 0_0
salam kenal
salam kenal dan terima kasih..
saya suka yg satu ini mas : mari bergembira dimanapun kita berada. Sikap ini saya kira lebih menyehatkan jiwa, lebih bertanggungjawab, dan tampak lebih profesional. Hati-hati jangan sampai terkena sindrom “rumput tetangga”.
Agar tidak terlalu terlena di zona nyamannya, sesekali bolehlah nengok rumput tetangga, hehe… barangkali saja ada hal menarik disana dan bisa dicontoh.
setuju pak….
Kalo bisa jangan hanya nengok rumput tetangga..
jika dihalaman tetangga ada bunga yang bagus.. mintalah sedikit bibitnya…. tanamkan dihalaman kita…….
Dan halaman kita semakin nyaman untuk dilihat….
hati-hati Lia…
ada peribahasa : rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri…..hihihi
tanya mas Fadly, apa beliau berani lirik2 rumput tetangga ?
hehehe iya pak.. Biasanya begitulah kelihatannya rumput tetangga…… ( ini benar2 rumput kan pak
)
Pak Fadly bisa bantu jawab ?
hati-hati mbak lia, kalimat-kalimat Pak hery mengandung umpan wakakakaka…..:)
pertanyaan pak Hery ini bermakna ganda. ada tanah dibalik rumput.. he he he
“melirik” saja boleh, alamiah khan jika kita melirik sesuatu yang indah. tapi berniat untuk melirik itu yang perlu diwaspadai
andaikata hal itu umum dilakukan, tentu saja banyak orang sukses mbak lia.
yang terjadi adalah, mengaku dalam hati bahwa rumput tetangga memang hijau. tapi tidak ingin mengakuinya secara nyata.
pesannya adalah, kebanyakan kita hanya bisa ber-iri hati tapi tak mampu membuat perubahan. (mudah-mudahan saya terhindar dari itu)
mudah2an sih ide mbak lia bisa terjadi secara merata
Judulnya adalah: “IRI TANDA TAK MAMPU”, betul?
begitu kira-kira pak guru..:)
inilah pak..
jangan sampai kita berada di dua dunia. atau malah berada di alam lain. realistis sangat penting dalam menghadapi kondisi yang dilematis ini. diperlukan kesenangan, kesejukan dan kegembiraan penuh.
apalagi kalau sudah melirik – lirik rumput tetangga..
biasanya kalau itu sudah terjadi, perlu disadari bahwa kita sudah mulai terkontaminasi sebuah virus atau bakteri yang tak dikenali
yang paling enak berbisnis dengan Allah ,gak akan rugi deh,modalnya aja kita udah dipinjemin,eh balasannya berlipat ganda
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, ” (QS 35 :29)
terima kasih mas Didot atas tambahan pengetahuannya..
jika semua kita serahkan kepada Sang Kuasa, rasa-rasanya kita tak punya sesuatu lagi yang bisa mengganggu langkah-langkah menuju kebaikan.
Hmmm…
Kalau hanya berserah diri kepadaNya tanpa ada upaya dari masing-masing personal apabisa ?
tentu saja setelah menjalankan proses “upaya” mas Aldy. maaf kalau kurang jelas..
bagaimana kabar masih menelusuri hutan mas?
Kalau bekerja sambil berbisnis kan bisa juga tuh mas?
Kalo saya sih simpel saja, berbisnis bagi saya yaitu bekerja secara mandiri dengan harapan memperoleh keuntungan. Nah, untung bagi saya yaitu ketika hasil yang saya peroleh sudah melebihi modal/pengeluaran awal yang saya lakukan.
Masalah pindah kuadran, menurut saya harus dipikirkan secara matang-matang agar tidak terjadi hal yang di luar perkiraan. Bukan berarti takut mengambil resiko sih, tapi lebih kepada pertimbangan realistis dan logis. Bukan sekadar dorongan sesaat yang menggebu
Dan bener banget kata mas fadly, bahwa itu semestinya Atas dasar ketertarikan dan memang itu adalah panggilan jiwa terdalam.
Itulah yang pernah lia coba ..
bekerja sambil berbisnis….. walaupun coba2 saja waktu itu …
tantangan nya lumayan lebih berat…
apapun yang kita kerjakan setengah2.. kadang hasilnya kurang maksimal….
dari pendapat mas Is, saya bisa merasakan dan membayangkan konsep bisnis yang simple dan sederhana. realisits dan normatif.
saya rasa pandangan seperti itu, cukup bagus sebagai pondasi awal. setidaknya sudah ada kerangka berfikir yang menunjang untuk mengambil langkah yang lebih progresif. Ispiratif!
jika cara-cara itu semakin disempurnakan, saya yakin soal pindah kuadran dengan sendirinya akan terjadi mas
pokoke, kita paham dan sadar apa yg sudah kita lakukan..
bekerja atau berbisnis sama halnya dengan memilih pasangan hidup harus bener2 kita cintai..jangan sampai menyesal ditengah jalan dan akhirnya bercerai
memang mirip-mirip begitu.
saya pernah mendapat wejangan waktu muda dulu dari paman saya. katanya begini, “Fadly, saat ini tidak masalah kamu mau pacaran berapa kali, mau pacarin berapa orang sekaligus. tapi ingat, saat menikah, cukuplah 1 orang yang paling kamu cintai”
pesannya dalam hal ini. melanglang buana dalam hal mencoba bisnis, tidak masalah, pada akhirnya kita akan bertemu dengan pasangan bisnis yang cocok di hati dan cocok di kantong
Wahhh hakim sangat bijak ya…
menyambung omomgan pak Fadly…
kalo ibu lia lain lagi… katanya : ketika masih belum bekeluarga .. lakukan apa yang kamu mau, pergilah kemana kamu suka, Nikmati sepuas2nya… jadi…ketika kamu bekeluarga nanti…kamu tidak akan lagi iri dengan apa yang dibuat orang lain ….ketika keputusan sudah dipilih kita tidak akan pernah menyesalinya…
wekekekek.. jadi OOT nih…
maaf Pak
tulisan yang cakap, pak cik.. menurut hukum tuhan, kapanpun, dimanapun, apapun pekerjaan kita, selama masih jujur dan rajin, rejeki pasti ada..
kalo mau maju, saya punya motto untuk anda nih: yang penting “siapa” yang anda tahu, bukan “apa” yang anda ketahui..
Tumben nih kalimat pengantar komentarnya pake bahasa Malay Gan?
kita masih satu rumpun pak cik.. hilangkan saling curiga hihihi
terima kasih pakde, memang sederhana sekali konsep hidup ini dimata Tuhan. kitalah yang terkadang merumuskannya dengan makana yang kompleks..
trims Mottonya mas.
Bagus sekali artikelnya…
dari ketiga artikel diatas sangat banyak hal yang lia pelajari….
kemarin sempat komen di artikel pak MH cuma ketangkep… wekkekek
Berbahagialah dengan apa yang ada..
lebih bagus rasakan dua2nya dulu…
yakin kan hati dan tetapkan pilhan mu…..^_^
saya sudah merasakan dua-duanya mbak lia.gonta-ganti. pasang surut. tapi penggilan hati selalu mengarah ke “usaha sendiri”
trims respon2nya yang sangat interaktif ini mbak Lia..
nikmati saja apa yang ada…
kalo pengen pindah kuadran, ya persiapkan senjatanya terlebih dahulu biar siap tempur, terutama niat dan motivasi kuat sebagai modal dasarnya, lalu pengetahuan dasar tentang bisnis yang akan digelutinya….
jangan sampai gara2 terburu nafsu pengen berbisnis, tapi kandas di tengah jalan, dan paling parahnya mental pejuangnya tidak di persiapkan, bisa2 kalo gak kuat bisa stres dan jadi gila!
sekali lagi, nikmati saja apa yang ada di depan kita, sembari terus mempersiapkan segalanya tentang bisnis yang kita minati
tumben nih komentarnya serius mas?
tajam dan terpercaya.
terutama soal motivasi dan mental baja untuk maju ke medan pertempuran.
trims mas, tambahan pendapatnya
maklum mas..otak ma perut lagi nyambung neh, artinya, kalo perut saya lagi lapar, biasanya komentarnya awut2an gak keruan
mudah-mudahan sering kenyang yah.. supaya makin yahud
Kalau saya masih proses dimana saya sekarang berada. Karena kadang saya berpikir, saya sudah menjadi seorang pebisnis, tapi disisi lain koq malah seperti pekerja dalam kegiatannya.
Tapi, semoga saya cepat mempunyai mental pebisnis.
dimanapun kita berada, pokoke kita paham dan sangat mengerti konsekuensinya. itu saja sudah bisa menghibur hati kok. dan tak membuat kita tunggang langgang mengejar sesuatu yang membingungkan
mudah-mudahan saja impiannya bisa segera terealisasi mas Agy.. (sekarang ganti nick name nih?)
Iya mas, kemarin nick saya di forum. Tapi sekarang nama alsi. Hehehe
Kalau meurut Saya berbisnis itu termasuk bekerja…….
Dalam definisinya bekerja adalah melakukan sesuatu yang dapat menghasilkan keuntungan baik buat diri sendiri maupun buwat orang lain….
betul. dalam berbisnis tentu diperlukan kinerja yang sesuai dengan target pencapaian.
saya terkesan dgn tulisan Mas Fadly ini, sangat rapi dan analitis. kalau melihat kesimpulannya , saya kira inilah pilihan yang teraman bagi para pekerja namun di sisi lain masih “kurang aman” bagi pebisnis.
terima kasih mas..
mudah-mudahan bisa jadi obat penawar..
memang agak buram sekarang batasan antara bisnis dengan self employee. Seperti banyak kasus para pebisnis internet yang baru-baru, sebenernya lebih tepat dikatakan self employee.
Karena kalau bilang punya bisnis tentu punya ;
1. Sistem yang bekerja sendiri
2. Orang lain yang mengerjakan systemnya.
Intinya walau pebisnis bisa lepas dari system, bisnis tetap jalan. Itu baru bener2 pebisnis. Saya sendiri masih self employee.
intinya kita harus banyak belajar lagi dan berani mencoba. sebab keyakinan dan ilmu yang kita peroleh biasanya akan teruji oleh tindakan kita dilapangan, sebelum benar-benar menjadi sebuah asumsi keyakinan di dalam hati
soal kebingungan itu, sebenarnya sdh dibahas di bukunya om Robert khan mas? hanya mungkin kita masih mencoba menggabungkan secara utuh kuadran kanan dan kiri saja. padahal di sisi itu terbagi lagi masing-masing kuadran.
daripada bingung, jalankan dulu apa yang ada, setuju mas?
betul mas… detil sekali dipaparkan di buku itu.
Yang penting memang lakukan dulu, masalah nanti pindahnya bagaimana pelan tapi pasti bisa diatur… hehehe
wah, pembahasannya terasa banget aroma Kiyosakinya… biasanya orang menjawabnya secara diplomatis aja: “kita kerja sambil berbisnis, kalau bisnisnya sukses baru keluar dari kerjaan, kalau bisnisnya biasa-biasa aja atau stagnan ya nggak apa2 , toh masih punya kerjaan utama … ” dan kalau saya pribadi masih dalam kuadran karyawan yang waktu dan tenaganya dibeli oleh perusahaan … dan seperti yang mas fadly katakan bahwa selalu ada konsekuensi logis untuk setiap kuadran yang dijalani. Jadi, mari bergembira dimanapun kita berada. Sebab perubahan dan perbaikan hidup bisa dicapai dalam berbagai aspek kehidupan. (kalimat terakhir saya copas dr artikel ya mas, soalnya mantep banget tuh kalimat sebagai kata penutup!!)
iya mas Evan, saya banyak menemukan pemikiran seperti itu. masih ada rasa “was-was” kalau kalau meninggalkan kerjaan utama, artinya membiarkan dirinya masuk ke perangkap ganas.
padahal sih, kalau sudah menetapkan hati, memantapkan pilihan rasa-rasanya hal itu bisa kok memberikan jalan menuju target impian kita.
satu hal yg kita sepakati mas evan, mari bergembira dimanapun kita berada..
Jika bisa dijalankan keduanya tentu akan bagus ya mas.
yang penting luruskan niat dulu yaitu untuk ibadah agar mendapat ridho dan bimbingan Allah dan hasilnya barokah.
Salam hangat dari Plesiran – media untuk mempromosikan pariwisata daerah anda secara gratis. Pengirim artikenya bahkan akan mendapatkan tali asih berupa sebuah buku yang menarik dan bermanfaat.
saya sepakat dengan anjuran meluruskan niat.
kalau niat sudah lurus dan terarah, atas dasar ridho-Nya, insyaAllah kita akan terbimbing.
salam hangat juga pak. artikel-ertikel pariwisatanya sangat inspiratif. jika saya menemukan informasi seputar wisata, saya akan share ke web anda. trims
Saya masih berada ditengah-tengah.
Masih nyaman dengan pekerjaan sekarang dan bersiap-siap untuk berpindah kuadran.
Ibarat mobil, tidak mungkin tiba-tiba berbelok 90 derajat kecuali ingin jungkir balik.
iyalah, itu berbahaya mas, kalau tedeng aling-aling langsung belok kanan 90 derajad
tentu saja kita perlu membaca rambu-rambu, mengurangi kecepatan dan memberi tanda agar tidak tertabrak.
intinya, diperlukan kesiapan untuk mengambil langkah baru
Sekali lagi saya menemukan sifat moderat dari mas Fadly. Bukan menyanjung ataupun merendahkan satu kelompok kuadran. Tapi menyajikan secara berimbang antar kepentingan.
Berada di kuadran B adalah impian setiap orang. Namun menjadi the best we can do adalah lebih baik daripada memaksakan diri memasuki dunia yang sebenarnya belum waktunya kita tempati.
Seperti kata mas Fadly, pertimbangan diri, realita dan target yang terukur adalah jawaban terbaik.
terkadang kita malu atau bangga berada di kuadran tertentu. padahal posisi itu belum tentu menunjang kualitas hidup kita.
yah begitulah mas manusia. kita hanya perlu obat penawar agar hidup ini makin ikhlas dan tenang melangkah menuju orientasi yang baik..
trims atas label moderatnya
kalo aku seh dikuadran manapun ga masalah, asalkan bisa membuat hidup lebih hidup alias nyaman… hehehe
sampe sekarang masih nyaman jadi karyawan, sambil colong-2 ilmu (dlm hal yg positif loh) buat bisnis sendiri…. pasti ada dong keinginan buat pindah kuadran, tapi selagi masih bisa dua-2nya, kenapa gak dijalani dulu…. jadi karyawan ngumpulin duit buat modal bisnis pribadi, setelah kuat n mantabana… baru pindah deh… gitu mas impian aku kedepannya… btw, aku suka banget artikel yang ini
wah yang berulang tahun akhirnya komen juga disini. tks yah mbak
dimanapun posisi kuadrannya, yang penting happy dan mantap melangkah.
Melakukan yang terbaik dalam segala hal yang kita geluti, bagi saya adalah pilihan yang bagus, memang sih ada keinginan pindah kuadran, tp harus lbh bijak menyikapinya, karena banyak yag hrs ditanggung….hehehehe…tapi tetap semangat menjalaninya…Learn to live, live to learn.
kadang banyak orang yang setelah pindah kuadran, malah ga kuat, dan akhirnya menjelek jelekkan kuadran yang baru saja dia tinggalkan .
karena dia tidak sanggup di perkosa. Hehehe
Ah, terima kasih atas artikelnya.
Saya jadi semakin ingin berbisnis. Mau menelusuri artikel di tautan yang ada di atas dulu. ^__^
kedua-duanya sangat menguntungkan
saya suka keduanya karena menurut saya bekerja adalah proses belajar menumbuhkan karakter dan skill sementara berbisnis adalah proses mempraktekkan apa yang sudah dipelajari.