by Fadly Muin on March 2, 2012
Suatu ketika, saya pernah hampir akan mendapatkan rejeki yang bagus. Cukup besarlah kalau dilihat dari sisi rupiahnya. Kejadian itu kira-kira berselang beberapa tahun lalu, kalau tidak salah hitung, 7 tahun lalu deh. Cukup lamalah. Tapi masih hangat dalam ingatan saya.
Saat tiba waktunya, ternyata rejeki yang saya maksud itu tidak hadir sesuai dengan apa yang diharapkan. Alias partner atau orang yang saya ajak kerjasama, komitmentnya berubah. Tidak sesuai lagi dengan omongan awal.
Alhasil kekecewaanku bertumpuk di hati. rasa benci, jengkel, marah dengan emosional tingkat tinggi mulai terlihat dalam hari-hari menjalankan rutinitas. Hidup rasanya tidak nyaman. Berasa ada sesuatu yang menjadi miliku yang telah dirampas oleh orang lain.
Selang beberapa bulan, rasa itu tak juga beranjak dalam hati. masih saja menusuk-nusuk menyakitkan. Sampai akhirnya saya mendengarkan satu kalimat bijak dari orang yang saya anggap terbelakang dari sisi pendidikan (maaf). Dari sisi etika juga termasuk terbelakang, karna orangnya termasuk urakan. Tapi saya berteman baik dengan siapa saja. Termasuk dengan orang yang urakan seperti teman saya itu.
Apa pesannya? Dia bilang begini, Lanjut…
by Fadly Muin on February 6, 2012
Sudah berapa kali saya bermaksud gantung diri untuk ngeblog. Namun setiap kali saya hendak serius dan benar-benar lenyap dari peredaran online. Ketika itu pula saya selalu terhentak dan ada semacam tarikan halus yang belum teridientifikasi. Ia selalu menarik saya untuk tetap eksis. Tidak peduli, seberapa lama saya fakum. Yang penting saya tidak berhenti.
Rasa yang tak rela berhenti itu membuat saya juga penasaran. Darimana dan bagaimana cara kerjanya? Kenapa saya harus tetap menghidupkan blog ini. Toh tidak pernah ada resiko mutlak kalau saya benar-benar meninggalkannya. Lanjut…
by Fadly Muin on January 31, 2012
“Jika anda ingin menjadi orang terpercaya, berarti anda harus berani memikul apapun resikonya”
Kalimat itu saya dapat dari seseorang yang saya temui di Manado. Namanya Pak Hans, usianya sudah 60-an. Kalimatnya tidak persis seperti itu, tapi maknanya tidak jauh berbeda.
Beliau adalah tokoh masyarakat, sekaligus dianggap sebagai tokoh agama oleh warga sekitarnya. Mungkin karena sikap beliau yang bersahaja, mau menolong dan humanis dalam bergaul.
Semenjak pertemuan pertama saya sewaktu survey lokasi. Sampai dengan pertemuan-pertemuan berikutnya. Saya merasakan atmosfir positif dari obrolan kami.
Sempat saya renungkan sejenak. Apa makna dibalik rasa percaya itu? Lanjut…
by Fadly Muin on January 30, 2012
Akhirnya saya dapat juga jadwal kunjungan ke Manado. Ini salah satu wilayah Sulawesi yang belum pernah saya jajaki. Seperti biasa, maksud dan tujuan saya ke Manado adalah untuk kepentingan survey lokasi. (wah ganti profesi lagi gan? ) ini profesi sudah lama.
Saya hanya ingin berbagi cerita kecil saja seputar Manado.
Bagi saya Manado adalah kota yang elok. Menurut saya Manado termasuk kota yang bersih, dibandingkan Jakarta, yang tidak sulit menemukan tumpukan sampah. Di Manado, sepanjang perjalanan saya berkeliling kota, karena GPS yang menuntut perjalanan kami, saya hampir tidak menemukan tumpukan sampah. Apalagi truk sampah yang parkir sembarangan. Lanjut…
by Fadly Muin on January 18, 2012
Hallo Apa khabar Teman?
Seperti seorang pemula rasanya, memulai menulis lagi setelah lama terdiam, membuat saya merasa sangat kikuk. Apakah seperti itu adanya, jika sesuatu yang dulu sering kita lakukan, tanpa merasa aneh. Kini harus merasa ganjil ketika memulainya kembali?
Celakanya, yang saya rasakan memang seperti itu. Setelah sekian lama tertidur dari ektifitas blogging dan menulis, ada rasa enggan untuk memulai lagi. Mungkin karena efek cuaca bathin dari kefakuman itu, membuat inspirasi ide begitu terasa kelabu.
Setiap kali hendak menulis, selalu terhenti oleh perasaan yang tak karuan. Seperti seorang perjaka yang akan menemui seorang gadis impiannya. Deg-degan campur rasa yang nano-nano. Maka otak yang biasa mengkritik mulai bekerja dengan sempurna. Semua kosa kata yang sudah tertuang tidak lahir berdasarkan seleksi intelktual yang dirasa ideal. Rasanya kita seperti berkata, bahwa ’itu bukan tulisan yang saya inginkan’. Lanjut…
by Fadly Muin on August 18, 2011
Maaf. Saya baru muncul. Dan satu judul kalimat yang ingin kusampaikan adalah, selamat tinggal. Pergulatan bathin selama entah untuk berapa ratus waktu, yang sudah kulewatkan tanpa sepatah kata di blog ini. Saya menyesal atas kejadian ini.sungguh !!
Tapi, saya juga harus mengakui, bahwa sulit sekali bagi saya untuk tunduk dan patuh terhadap kesetian untuk hadir di blog ini dalam bentuk tulisan. Waktu saya sudah terjerat oleh pemikiran dan perhatian yang lain. Resiko yang saya tanggung atas ulah saya ini terlalu banyak. Kehilangan banyak sekali input yang senantiasa menyegarkan saya dalam mendengar, membaca, merasa dan terlibat dalam suasana romantic di dunia kata dan makna. Lanjut…